Anya Clarissa, seorang Arsitek Lanskap yang terbiasa menata keteraturan dari kekacauan tanaman, menemukan hidupnya sendiri berantakan. Ibunya, Mama Clarissa, terjerat hutang miliaran setelah ditipu oleh rekan bisnis butiknya. Di tengah keputusasaan, sebuah tawaran datang dari Keluarga Arkatama, penguasa industri logistik laut yang legendaris.Devan Arkatama, CEO muda yang dingin, angkuh, dan efisien, sedang dalam posisi terhimpit. Sang ayah, Papa Arkatama, mengancam akan mencopot jabatannya dan mengalihkan warisan kepada sepupunya jika Devan tidak segera menikah dan memperbaiki citranya yang dikenal sebagai "Playboy Tak Berperasaan."Pertemuan pertama mereka di sebuah acara peresmian taman kota berakhir dengan bencana. Anya menganggap Devan adalah pria sombong yang tidak menghargai seni, sementara Devan menganggap Anya adalah wanita kelas menengah yang mencoba mencari perhatian.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cut Asmaul Husna, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
EPISODE 20 : TEPAT DI BALIK DOA DAN DAN DEBURAN KEBAGIAN
Langit di atas Uluwatu, Bali, sore itu seolah sedang memamerkan kemahakaryaannya. Warna biru pirus laut perlahan-lahan bertabrakan dengan gradasi jingga, ungu, dan merah jambu yang dramatis di ufuk barat. Di atas tebing karang yang menjulang tinggi, di sebuah resor privat yang seluruhnya telah dipesan oleh keluarga Arkatama, sebuah panggung kayu estetik bertabur ribuan kelopak melati dan mawar putih didirikan menghadap langsung ke arah Samudera Hindia yang tak berujung.
Ini bukan sekadar pesta kemewahan. Ini adalah acara syukuran dan Pembaruan Janji Pernikahan—sebuah penebusan dari Devan Arkatama untuk Anya Clarissa. Jika pernikahan pertama mereka di Jakarta di hadapan penghulu terasa kaku, dingin, dan penuh dengan sandiwara di atas kertas kontrak, maka malam ini udara Bali dipenuhi oleh aroma wewangian alami dan ketulusan yang begitu murni hingga terasa di setiap hembusan angin lautnya.
Anya Clarissa berdiri di depan cermin besar di dalam vila riasnya yang mewah. Detak jantungnya kali ini tidak lagi berpacu karena ketakutan, amarah, atau kebencian. Ada rasa hangat yang menjalar di dadanya, sebuah perasaan aman yang belum pernah ia rasakan seumur hidupnya. Ia mengenakan kebaya modern berwarna putih gading dengan ekor brokat panjang yang menjuntai anggun. Rambut cokelatnya disanggul modern dengan selipan ronce melati kecil yang menebarkan keharuman lembut setiap kali ia bergerak.
"Anya sayang, kamu benar-benar cantik sekali malam ini," bisik Mama Clarissa yang masuk dengan gaun elegan berwarna pastel. Ia memegang bahu putrinya, menatap pantulan Anya di cermin dengan mata yang berkaca-kaca. "Mama minta maaf karena dulu mendorongmu ke dalam situasi ini. Tapi melihat senyummu sekarang, Mama tahu bahwa Allah punya rencana yang lebih besar di balik semua kesulitan kita."
Anya berbalik dan memeluk mamanya erat. "Tidak apa-apa, Ma. Kalau bukan karena kejadian itu, Anya tidak akan pernah tahu bahwa di balik sikap dingin Mas Devan, ada pria paling tulus yang pernah Anya temui. Anya bahagia, Ma. Sangat bahagia."
Alunan musik hadroh modern dan petikan kecapi yang lembut mulai mengalun, menciptakan suasana Islami yang sangat syahdu namun tetap terasa elegan di tepi pantai. Devan Arkatama sudah berdiri di tengah panggung kayu tersebut. Pria yang biasanya hanya mau mengenakan setelan jas kaku seharga ratusan juta itu, kini tampil berbeda dan memukau. Ia mengenakan baju koko premium custom-made berwarna putih gading dengan bordir benang perak halus di bagian dada, dipadukan dengan celana kain formal yang senada. Wajahnya yang biasanya sedingin es kini memancarkan kelembutan yang luar biasa.
Saat Anya muncul dituntun oleh sang paman menuju panggung, Devan seolah lupa cara bernapas. Matanya tidak lepas dari sosok wanita yang kini berjalan perlahan ke arahnya. Di matanya, Anya bukan lagi arsitek lanskap yang galak atau rekan dalam kontrak bisnisnya; Anya adalah takdir nyata yang dikirimkan untuk melunakkan kerasnya hatinya.
Devan mengambil tangan Anya saat wanita itu sampai di hadapannya. Berbeda dengan pernikahan pertama mereka yang dipenuhi ketegangan di depan penghulu, kali ini Devan meminta seorang ustaz keluarga untuk memimpin doa syukuran, sebelum ia sendiri mengucapkan ikrar pribadinya di depan para tamu.
Devan menggenggam kedua tangan Anya, menatap lurus ke dalam sepasang mata cokelat istrinya yang berkilau terkena cahaya matahari terbenam.
"Anya," suara Devan terdengar berat dan sedikit bergetar karena emosi yang meluap. "Dulu, di depan penghulu di Jakarta, aku mengucapkan ijab kabul dengan pikiran yang dipenuhi oleh angka-angka kontrak dan kewajiban bisnis. Malam ini, di bawah langit Bali dan di hadapan keluarga kita, aku ingin mengulang janji itu dari lubuk hatiku yang paling dalam. Aku tidak berjanji bahwa hidup bersamaku akan selalu tenang tanpa badai. Aku tahu aku pria yang kaku dan menyebalkan. Tapi aku bersumpah, demi Allah, di setiap kesulitan yang menghantam, akulah yang akan berdiri paling depan untuk melindungimu. Aku mencintaimu, Anya Clarissa. Kamu adalah pelabuhan terakhirku."
Anya menangis, air mata kebahagiaan membasahi pipinya yang kemerahan. Ia tidak bisa berkata-kata, hanya mampu mengangguk dalam tangisnya saat Devan perlahan mengecup keningnya dengan sangat lama dan penuh takzim. Para tamu—yang hanya terdiri dari sahabat dan keluarga yang benar-benar peduli—berdiri dan memberikan tepuk tangan yang meriah disertai seruan "Alhamdulillah" yang menggema di sepanjang tebing Uluwatu.
Setelah prosesi syukuran yang mengharukan, acara berlanjut ke pesta kebun makan malam yang lebih santai di sekitar kolam renang. Lampu-lampu fairy light digantung di antara pepohonan kelapa, menciptakan suasana magis. Di sinilah kekonyolan keluarga Arkatama kembali pecah.
Mama Sarah (Nyonya Sarah Arkatama) dan Mama Clarissa tampak sangat kompak malam ini. Mereka berdua memegang ponsel masing-masing dengan tongkat narsis, mengikuti Anya dan Devan ke mana pun mereka pergi layaknya paparazzi profesional yang haus akan berita eksklusif.
"Aduh, Devan! Cium pipi Anya dong! Jangan kaku begitu kayak kanebo kering! Mama mau foto buat dikirim ke grup WhatsApp pengajian!" seru Mama Sarah sambil naik ke atas kursi rotan demi mendapatkan sudut foto yang bagus.
"Ma, tolong... Devan malu sama teman-teman direksi," keluh Devan sambil berusaha menutupi wajahnya yang memerah karena tingkah ibunya.
Anya tiba-tiba merasa mual saat mencium aroma ikan bakar bumbu Bali yang sangat kuat. Perutnya bergejolak karena seharian belum makan akibat gugup, dan ia terpaksa menutup mulutnya dengan tisu sambil menjauh sedikit dari meja makan.
Devan, yang ingat betul dengan "ramuan madu rahasia" dan jamu kesuburan yang dipaksakan Mamanya seminggu lalu, langsung bereaksi dengan kecepatan cahaya. Wajahnya yang tadi tenang seketika berubah pucat pasi. Ia menghampiri Anya dengan wajah penuh kepanikan yang konyol.
"Anya?! Kamu mual? Kamu pusing? Kamu merasa mau muntah?!" tanya Devan dengan suara yang cukup keras hingga membuat beberapa tamu berhenti mengunyah.
"Hanya sedikit mual, Devan. Mungkin karena perutku kosong," jawab Anya mencoba menenangkan.
"Papa! Mama! Anya mual! Apa ini berarti ramuan madu kemarin langsung berhasil?!" Devan berteriak ke arah Papa Arkatama yang sedang mengobrol di pojok.
Papa Arkatama yang sedang menyesap tehnya langsung berdiri dengan semangat yang luar biasa, seolah ia baru saja memenangkan tender triliunan rupiah. "Apa?! Sudah jadi?! Cucu pertama Arkatama?! Dokter! Di mana dokter resor ini? Cepat periksa menantuku!"
Seluruh tamu mendadak heboh. Mama Sarah langsung menyodorkan biskuit jahe dan mulai menghitung kalender dengan jari-jarinya di depan umum. "Wah, waktu di Maldives itu... ditambah seminggu di Jakarta... lalu sekarang di Bali... pas! Pa, kita bakal punya cucu tahun depan!"
Anya menarik baju Devan dengan gemas, wajahnya sudah semerah kepiting rebus karena menanggung malu di depan para tamu. "Devan! Diam! Aku mual karena aku terlalu gugup untuk acara ini dan perutku kosong sejak siang! Bukan karena aku hamil! Kamu ini benar-benar tidak bisa membedakan mual karena lapar dan mual karena hamil ya?!"
Devan yang sudah terlanjur bersemangat hanya bisa melongo kaku di tempat. "Oh... jadi... jadi belum ya, Sayang?"
"Belum, Tuan CEO! Sabar sedikit!" ucap Anya sambil mencubit pinggang suaminya dengan gemas.
Seluruh tamu tertawa terbahak-bahak melihat ekspresi kecewa Devan yang sangat konyol. Pria paling ditakuti di industri pelayaran nasional itu kini terlihat seperti bocah kecil yang kehilangan mainannya hanya karena salah menduga kondisi istrinya.
...****************...
Malam semakin larut, kembang api mulai menghiasi langit malam Uluwatu dengan warna-warna yang gemerlap, meledak indah di atas permukaan laut. Anya dan Devan duduk di pinggir tebing, kaki mereka berayun bebas di udara, jauh dari kebisingan musik pesta. Mereka hanya berdua, menikmati kebersamaan mereka yang kini telah sah secara batin, bukan lagi sekadar di atas kertas.
"Terima kasih untuk malam ini, Devan. Terima kasih karena sudah memberikan pernikahan yang nyata untukku," ucap Anya sambil menyandarkan kepalanya di bahu kokoh Devan.
"Ini baru permulaan. Kita masih punya jalan yang panjang untuk dijalani bersama," Devan mencium hubungan ronce melati di rambut Anya dengan lembut. "Dan soal 'salah sangka' kehamilan tadi... mungkin kita harus mulai mengerjakannya dengan lebih rajin malam ini supaya Papa dan Mama tidak kecewa."
Anya tertawa kecil, memukul dada Devan dengan manja. "Dasar beruang kutub! Pikirannya langsung ke sana!"
Di bawah cahaya jutaan bintang Bali, mereka menyadari bahwa tekanan keluarga yang dulu mereka kutuk sebagai penjara, ternyata adalah jalan yang menuntun mereka pada kebahagiaan abadi ini. Kontrak telah menjadi sejarah yang terkubur, namun cinta yang tumbuh di antara mereka baru saja membuka lembaran pertamanya yang suci.