NovelToon NovelToon
Satu Nama, Selamanya

Satu Nama, Selamanya

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Fantasi / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:2.8k
Nilai: 5
Nama Author: Rea Sayne

Mencintai sahabat Hazel adalah tantangan terbesar dalam hidup Andrea. Sejak kecil, Luq selalu ada di sana, begitu dekat namun terasa sulit digapai. Kini, saat masa SMA menuntut mereka untuk memilih jalan hidup masing-masing, rintangan mulai bermunculan satu per satu.
Antara janji yang belum terucap dan cita-cita yang harus diraih, Andrea harus belajar bahwa cinta terkadang berarti harus berani melepaskan... atau justru berjuang lebih keras. Sanggupkah mereka mempertahankan ikatan itu saat jarak dan waktu mulai menguji?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rea Sayne, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 34: Dekripsi di Koridor Sunyi

Pagi di Universitas Zhejiang tampak seperti pagi biasa. Mahasiswa berlalu-lalang dengan terburu-buru, aroma kopi dari kantin tercium di udara, dan suara diskusi ilmiah terdengar dari bangku-bangku taman. Namun bagiku, segalanya terasa berbeda. Email anonim tadi malam masih menghantui pikiranku seperti virus yang merusak sistem operasi.

"Selamat datang kembali di Hangzhou, Rea. Permainan baru saja dimulai."

Aku memutuskan untuk tidak memberi tahu Lukas dulu. Aku tahu dia sedang berada di kantor pusat Arkan Tech, berjuang memulihkan harga saham yang anjlok. Jika aku memberitahunya tentang email itu, dia akan mengurungku di apartemen dengan sepuluh pengawal, dan aku tidak bisa menyelesaikan proyek akhirku.

"Fokus, Rea. Fokus," gumamku sambil melangkah masuk ke gedung Fakultas Ilmu Komputer.

Hari ini aku harus mengambil data dari server laboratorium untuk tugas Big Data. Lorong laboratorium di lantai empat sangat sepi karena sebagian besar mahasiswa sedang mengikuti kuliah umum di aula utama. Aku menempelkan kartu mahasiswaku ke sensor pintu lab.

Pip. Lampu hijau menyala, dan pintu terbuka dengan desisan pelan.

Di dalam lab, hanya ada deru kipas dari puluhan komputer yang menyala. Aku segera duduk di meja favoritku di pojok ruangan, menghubungkan laptopku ke server lokal. Jariku menari di atas tuts, melakukan dekripsi pada data mentah yang kuperlukan.

Tiba-tiba, layar laptopku berkedip. Satu kali. Dua kali.

Kursor di layarku mulai bergerak sendiri. Sebuah jendela command prompt terbuka secara otomatis. Seseorang sedang melakukan remote access ke laptopku melalui jaringan kampus.

"Apa-apaan ini?" bisikku panik.

Aku mencoba memutus koneksi Wi-Fi, tapi sistem terkunci. Di layar, baris-baris perintah muncul dengan kecepatan luar biasa. Mereka tidak sedang mencuri dataku—mereka sedang mengunggah sesuatu ke server laboratorium menggunakan akun mahasiswaku.

FILE UPLOAD: ARKAN_EXPLOIT_V2.EXE – 85% COMPLETED...

Jantungku hampir copot. Jika file itu berhasil diunggah, server kampus akan menyebarkan virus ke sistem Arkan Tech melalui jalur back door yang biasa digunakan mahasiswa magang. Dan namaku akan tercatat sebagai pelakunya. Sabotase ini dirancang untuk menghancurkan Lukas sekaligus menjebloskanku ke penjara.

Aku harus bertindak cepat. Aku mencoba mematikan paksa laptopku, tapi tidak bisa. Tombol power tidak merespons.

Tiba-tiba, lampu di laboratorium padam.

Kegelapan total menyergap. Hanya cahaya biru dari layar laptopku yang tersisa, memantulkan wajahku yang pucat. Di balik keheningan, aku mendengar suara langkah kaki. Pelan, berirama, dan mendekat dari arah pintu keluar yang sekarang terkunci secara otomatis karena sistem lockdown.

Step. Step. Step.

"Siapa di sana?" teriakku, suaraku bergema di ruangan yang luas itu.

Tidak ada jawaban. Hanya suara langkah yang semakin dekat.

Aku teringat pelajaran dari Lukas. "Jika sistemmu dikuasai lawan secara digital, gunakan intervensi fisik"

Aku meraba-raba di bawah meja, mencari kabel LAN utama yang menghubungkan baris mejaku ke switch pusat. Tanganku gemetar, keringat dingin membasahi keningku. Di layar, persentase unggahan sudah mencapai 98%.

99%...

Srak! Aku menarik kabel itu dengan sekuat tenaga hingga terputus dari soketnya.

Layar laptopku langsung mati. Unggahan gagal. Aku menghela napas lega, tapi kelegaan itu hanya bertahan satu detik.

Sebuah bayangan tinggi berdiri tepat di depan mejaku. Sosok itu mengenakan hoodie gelap dan masker. Di tangannya, dia memegang sebuah benda tumpul—sebuah tongkat besi kecil.

Sosok itu tidak bicara. Dia langsung mengayunkan tongkatnya ke arah kepalaku. Aku menghindar secara refleks, berguling ke bawah meja. Bunyi besi yang menghantam meja kayu terdengar sangat keras di tengah kesunyian.

"Tolong! Siapa saja!" teriakku sambil merangkak menuju pintu darurat.

Aku berhasil berdiri dan berlari di antara deretan komputer. Sosok itu mengejarku dengan kecepatan yang tidak manusiawi. Dia sangat terlatih. Aku melempar kursi-kursi lab ke arahnya untuk menghambat gerakannya, tapi dia melompatinya dengan mudah.

Aku terjepit di sudut ruangan. Pintu darurat tidak bisa dibuka tanpa kunci fisik. Sosok itu mendekat perlahan, mengetuk-ngetukkan tongkat besinya ke telapak tangannya.

"Siapa yang mengirimmu?" tanyaku, berusaha mengulur waktu sambil meraba saku jaket, mencari ponselku.

Sosok itu akhirnya bersuara, suaranya terdistorsi oleh alat pengubah suara. "Lukas Arkan seharusnya memilih lawan yang sepadan, bukan gadis kecil sepertimu. Kamu adalah bug dalam sistemnya, dan tugas kami adalah menghapus bug itu."

Dia mengangkat tongkatnya tinggi-tinggi. Aku memejamkan mata, bersiap untuk dampak hantaman.

BRAAAKK!

Pintu laboratorium utama jebol. Bukan terbuka, tapi benar-benar hancur seolah ditabrak oleh sesuatu yang sangat besar.

Tiga pria bersetelan taktis hitam menyerbu masuk dengan senter tactical yang menyilaukan. Di tengah mereka, Lukas melangkah masuk. Wajahnya yang biasanya tenang kini terlihat seperti iblis yang sedang murka. Matanya terlihat tajam karena amarah yang tak terkendali.

"Jangan. Sentuh. Dia," desis Lukas.

Sosok ber-hoodie itu mencoba melarikan diri melalui jendela, tapi pengawal Lukas jauh lebih cepat. Dalam hitungan detik, pengacau itu sudah tersungkur di lantai dengan tangan terborgol.

Lukas berlari menghampiriku. Dia menarikku ke dalam pelukannya begitu erat hingga aku sulit bernapas. Dia memeriksa setiap inci wajahku dan tanganku dengan panik. "Rea! Kamu terluka? Katakan padaku kamu baik-baik saja!"

"Aku... aku tidak apa-apa, Luq," bisikku, tubuhku mulai gemetar hebat karena syok.

"Dia mencoba mengunggah virus ke servermu... aku memutus kabelnya..."

Lukas menatap laptopku yang kabelnya menjuntai, lalu menatapku kembali dengan rasa bangga yang bercampur dengan rasa bersalah yang amat dalam. Dia mengecup keningku berkali-kali. "Maafkan aku. Aku terlambat. Aku melihat peringatan intrusi di server pusat dan langsung tahu mereka mengincarmu lewat jaringan kampus."

Salah satu pengawal mendekat. "Pak, pelakunya adalah tentara bayaran. Dia punya akses kartu mahasiswa palsu."

Lukas menoleh ke arah pelaku yang sedang diseret keluar. Sorot matanya sangat dingin. "Bawa dia ke fasilitas kita. Jangan serahkan ke polisi dulu. Aku ingin tahu siapa yang membayar mereka."

Lukas kemudian menggendongku keluar dari laboratorium yang berantakan itu. Sepanjang koridor kampus yang mulai ramai karena petugas keamanan universitas berdatangan, Lukas tidak mempedulikan tatapan mata orang-orang.

"Aku akan membawamu pulang," katanya tegas. "Dan mulai sekarang, tidak ada lagi rahasia. Jika mereka mengirim email padamu lagi, kamu harus memberitahuku dalam detik yang sama."

Aku menyandarkan kepalaku di bahunya yang kokoh. "Bagaimana kamu tahu aku di sini?"

"Aku memasang tracker pasif di jam tangan yang kamu gunakan, Rea," jawabnya pelan. "Maaf jika itu melanggar privasimu, tapi hari ini... itu menyelamatkan nyawamu."

Aku terdiam. Di dunia yang penuh dengan kode rahasia dan serangan siber ini, privasi mungkin adalah harga yang harus dibayar untuk keselamatan. Saat kami masuk ke dalam mobil, aku melihat gedung fakultasku yang menjauh. Aku sadar bahwa masa kuliahku yang damai sudah berakhir.

"Luq," panggilku saat mobil mulai melaju.

"Ya?"

"Permainan ini... siapa yang memulainya?"

Lukas menggenggam tanganku erat, matanya menatap lurus ke depan, ke arah gedung-gedung pencakar langit Hangzhou yang berkilau namun terasa mengancam.

"Orang-orang dari masa laluku di China, Rea. Orang-orang yang dulu meremehkan Luqman sang tukang bengkel, dan kini takut pada Lukas Arkan sang bos teknologi. Tapi mereka membuat satu kesalahan besar."

"Apa?" tanya ku.

"Mereka melibatkanmu."

Episode 34 berakhir dengan suasana hening di dalam mobil, sementara di luar, hujan mulai turun membasahi Hangzhou. Rea menyadari bahwa pertarungan sesungguhnya baru saja dimulai, dan musuh mereka kali ini tidak akan berhenti sampai salah satu dari mereka hancur.

1
viandranovel
kak saling support yok🤭
Andrea Imut: boleh banget kak! tapi untuk sekarang hingga besok aku sedang sibuk kakak, enggak megang ponsel. mungkin hari Minggu kita bisa saling support dan saling mampir😄
total 1 replies
Andrea Imut
alurnya Menginspirasi remaja
Andrea Zye
Duh Kelass banget si Luq
Andrea Zye
yayyy Merekaa berdua happy ending kann
Andrea Zye
Duhh takut kakk Lukas kenapa kenapa deh =x
Andrea Zye
Semangatt upload nyaap yaam thorr😍
Andrea Zye
noo my LUKASS
Anonim
semangatt author
Andrea Zye
Lucu banget Luq
Andrea Zye
nooo Dia Berubah.
Andrea Zye
LUQ APAKAH ITU KAMUU? :(
Andrea Zye
Duh Mau jadi Reaaa
Andrea Zye
Kasian banget... luq nya
Andrea Imut: iyaa kak, tapi karena penderitaan itu... seseorang jadi orang yang kuat, Dan sukses
total 1 replies
Andrea Zye
semangatt Kak luq yang gantengg
Andrea Zye
Keren kakk, Aku sukaaa
Andrea Zye
seruu banget alurnyaa
Rea
cerita remaja menginspirasi, semangat othor
Andrea Zye: Terimakasih authorr sudah Membuat novel Ini, Saya sangat sukak
total 2 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!