Riski seorang Fans Sepak bola fanatic saat pulang nonton pertandingan di tabrak mobil dan akhirnya terlempar Ke Dunia Lain
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon RRS, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 14: Duel Raksasa dan Takdir Sang GOAT
Kemenangan tipis atas Myanmar di laga pembuka telah menyalakan api harapan di seluruh pelosok Indonesia, namun bagi Riski, itu barulah pemanasan yang melelahkan. Di turnamen Piala AFF U-19 2016 ini, jadwal pertandingan sangat mencekam—bermain setiap dua hari sekali di bawah terik matahari Vietnam. Di hadapan mereka, raksasa-raksasa grup sudah mengasah taji: Thailand yang teknis dan Australia yang memiliki fisik layaknya pemain dewasa Eropa.
Riski duduk di ruang fisioterapi hotel, membiarkan kakinya direndam dalam bak es. Di layar ponselnya, ia melihat berita nasional yang meledak; cuplikan gol tendangan bebasnya diputar berulang kali di televisi Jakarta. Namun, konsentrasinya terpecah ketika layar sistem berwarna emas—warna yang belum pernah ia lihat sebelumnya—muncul di depannya dengan pendaran cahaya yang menyilaukan.
[Ding! Misi Skala Epik Terdeteksi!]
[Nama Misi: Dominasi Asia Tenggara]
[Tujuan: Menangkan SEMUA pertandingan sisa di fase grup dan cetak minimal 5 gol serta 3 assist tambahan!]
[Hadiah Misi:]
Seluruh Statistik meningkat 5 Poin
Membuka Atribut Khusus: 'GOAT' (Greatest of All Time) – Efek: Memberikan ketenangan 100% di situasi krusial dan meningkatkan akurasi tendangan di menit-menit akhir pertandingan secara signifikan.
Riski tertegun. Atribut 'GOAT'. Ini adalah gelar yang hanya dimiliki oleh segelintir manusia dalam sejarah sepak bola. Jika ia berhasil mendapatkannya sekarang, di usia 16 tahun, batas kemampuannya akan menghilang. Namun, memenangkan semua sisa pertandingan melawan Thailand dan Australia dengan tim yang pertahanannya masih sering bocor adalah tugas yang nyaris mustahil.
Laga Kedua: Indonesia vs Thailand (Ujian Teknik)
Thailand masuk ke lapangan dengan kepercayaan diri tinggi. Mereka menguasai bola, memainkan umpan-umpan pendek yang rapi. Riski sadar bahwa jika ia hanya diam menunggu bola, Indonesia akan habis. Ia pun turun ke belakang, berperan sebagai deep-lying playmaker.
Menit ke-35, Riski menunjukkan mengapa ia berasal dari Barcelona. Ia merebut bola di garis tengah, melakukan marseille turn untuk menghindari dua gelandang Thailand, dan mengirimkan umpan diagonal sejauh 40 meter yang mendarat tepat di kaki penyerang sayap. Penyerang tersebut melepaskan umpan tarik yang diselesaikan dengan gol. Assist ke-1 terkunci.
Memasuki babak kedua, skor imbang 2-2. Thailand menekan hebat. Namun, di menit ke-80, Riski melakukan aksi individu. Ia melewati tiga pemain Thailand di area sempit kotak penalti menggunakan teknik La Croqueta. Dengan satu sentuhan dingin, ia menempatkan bola ke tiang jauh. Gol ke-1 terkunci. Skor berakhir 3-2. Langkah pertama misi emas berhasil dilewati.
Laga Ketiga: Indonesia vs Australia (Benturan Fisik)
Inilah ujian sesungguhnya. Pemain-pemain Australia bertubuh tinggi besar, rata-rata 180 cm ke atas. Mereka bermain kasar dan mengandalkan kecepatan lari yang luar biasa. Riski tampak seperti kurcaci di antara raksasa.
"Hei kecil, kamu tersesat?" ejek bek tengah Australia saat mereka berbaris di lorong. Riski hanya diam, matanya menatap tajam ke depan.
Di lapangan, Australia mencoba mengintimidasi Riski dengan kontak fisik. Namun, Riski yang memiliki Phy: 65 ternyata lebih kuat dari yang mereka duga. Menit ke-15, dalam sebuah kemelut, Riski melepaskan tendangan voli dari luar kotak penalti. Bola meluncur seperti peluru dan mengoyak jaring gawang Australia. Gol ke-2 terkunci.
Australia membalas dengan dua gol sundulan. Skor 1-2 untuk Australia hingga menit ke-70. Indonesia terancam gagal dalam misi. Riski berteriak memotivasi rekan-rekannya—'National Hero Aura' mulai bekerja. Rekan-rekannya yang kelelahan tiba-tiba mendapatkan tenaga baru.
Menit ke-75, Riski memberikan assist melalui sepak pojok yang melengkung tajam. Assist ke-2 terkunci. Skor 2-2.
Menit ke-88, keajaiban terjadi. Riski mendapatkan bola di lingkaran tengah. Ia berlari kencang (Pac: 60), melewati dua pemain Australia yang mencoba menjatuhkannya. Dari jarak 25 meter, ia melepaskan tembakan knuckle ball yang berbelok arah secara ekstrem di udara. Gol! Gol ke-3 terkunci. Indonesia menang 3-2 atas Australia.
Laga Sisa: Menghancurkan Laos dan Kamboja
Dengan mentalitas yang sudah di atas angin, dua laga sisa melawan Laos dan Kamboja menjadi panggung pembantaian. Riski bermain sangat efektif untuk menjaga staminanya namun tetap memburu target sistem.
Melawan Laos, Riski mencetak 1 gol lewat penalti dan memberikan 1 assist melalui umpan terobosan. (Total: 4 Gol, 3 Assist).
Melawan Kamboja, Riski hanya butuh satu gol lagi untuk menyelesaikan misi. Namun, ia tidak egois. Ia bermain kolektif hingga menit ke-60 saat ia mendapatkan ruang tembak bebas. Tanpa ampun, ia melepaskan tembakan keras yang merobek pojok gawang. Gol ke-5 terkunci.
Peluit panjang ditiup. Indonesia menyapu bersih semua kemenangan di fase grup. Sebuah rekor yang tak terbayangkan sebelumnya di kancah AFF U-19 tahun itu.
[Ding! Misi 'Dominasi Asia Tenggara' SELESAI!]
[Mengkalkulasi Hadiah Legendaris...]
Seketika, sebuah cahaya keemasan masuk ke dalam dada Riski. Ia merasakan ketenangan yang belum pernah ia alami sebelumnya. Suara bising penonton di stadion seolah menghilang, digantikan oleh fokus yang begitu tajam sehingga ia bisa merasakan detak jantungnya sendiri secara ritmis.
[Atribut 'GOAT' Telah Aktif!]
[Seluruh Statistik Meningkat 5 Poin!]
Statistik Riski (Usia: 16 Tahun - Pasca Fase Grup AFF):
Pac (Speed): 65 (+5)
Sho (Shooting): 77 (+5)
Pas (Passing): 69 (+5)
Dri (Dribbling): 72 (+5)
Def (Defending): 67 (+5)
Phy (Physical): 70 (+5)
Overall: 70.0
Informasi Keuangan & Aset (Inventory):
Total Saldo: Rp 250.000.000
Status Aset: 1 Jet Pribadi, 1 Rumah di Catalunya, 1 Apartemen di Barcelona.
Pencapaian Baru: Atribut 'GOAT' (Level 1).
Riski berdiri di tengah lapangan, menatap tribun yang dipenuhi warna Merah Putih. Ia telah melampaui target sistem, ia telah membawa timnya memuncaki grup neraka, dan ia kini memiliki aura seorang legenda di usia yang baru saja legal memiliki KTP.
Namun, ia tahu semifinal sudah menanti. Di babak gugur, kesalahan kecil bisa menghancurkan segalanya. Dengan statistik Overall: 70, Riski kini setara dengan pemain papan atas di liga-liga menengah Eropa. Ia bukan lagi sekadar pemain berbakat; ia adalah pusat gravitasi sepak bola Asia Tenggara.
"Semua orang ingin melihat sang GOAT jatuh," gumam Riski sambil menyeka keringatnya. "Tapi aku di sini untuk membuktikan bahwa mereka salah."