NovelToon NovelToon
Ibu Susu Yang Tak Pernah Dipilih

Ibu Susu Yang Tak Pernah Dipilih

Status: sedang berlangsung
Genre:Ibu susu / Duda / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:4.2k
Nilai: 5
Nama Author: Puji170

Empat tahun Inara menjadi ibu susu bagi Zidan. Selama itu pula, ia mendapatkan cinta dari Reno, ayah Zidan, bahkan mereka berencana untuk menikah.

Namun semuanya berubah saat Zoya, mantan istri Reno sekaligus ibu kandung Zidan, kembali dengan niat menebus kesalahan. Sejak saat itu, kehidupan Reno dan Zidan perlahan berpusat pada Zoya. Sementara Inara justru merasa tersisih dan selalu menjadi pihak yang disalahkan.

Inara tidak pernah tahu di mana letak kesalahannya, hingga membuat Reno yang dulu mencintainya kini berubah dingin.

Apa yang sebenarnya terjadi? Akankah Inara memilih bertahan atau justru akan pergi karena merasa sudah tidak dipilih lagi?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Puji170, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 5

Inara berjalan tanpa semangat saat meninggalkan rumah sakit. Langkahnya terasa berat, sementara pikirannya dipenuhi bayangan masa lalu yang terus berputar di kepalanya, terutama saat ia pernah berjanji pada Zidan.

"Mama janji, kalau Zidan sakit, Mama akan selalu ada di sisi Zidan. Jadi Zidan tidak perlu khawatir dan takut, ya."

"Janji ya, Mama. Idan cayang Mama."

Potongan janji itu kembali terngiang, membuat langkah Inara perlahan terhenti. Dadanya terasa sesak, namun di saat yang sama, sesuatu dalam dirinya kembali bangkit. Ia tidak bisa pergi begitu saja, tidak bisa meninggalkan Zidan dalam keadaan seperti itu.

Entah ini kebodohan atau memang karena ia sudah terlalu menyayangi anak itu, yang jelas ia tidak sanggup mengabaikannya.

"Aku pulang dulu, buat bubur kesukaannya. Zidan pasti mau makan kalau itu," gumamnya pelan. Semangat yang tadi sempat hilang kini perlahan kembali, meski tidak sepenuhnya utuh.

Ia tidak lagi memikirkan bagaimana reaksi Reno nanti, apakah ia akan diusir lagi atau tidak. Kali ini, semua yang ia lakukan bukan untuk siapa pun, melainkan hanya untuk Zidan.

Jika ditanya apakah cintanya pada Reno masih ada, Inara sendiri tidak tahu jawabannya. Namun jika tentang Zidan, ia tidak perlu berpikir lama. Perasaannya masih utuh, bahkan mungkin lebih dari itu.

Tanpa terasa, Inara sudah sampai di rumah. Ia langsung bergegas masuk dan menuju dapur, bersiap membuat bubur kesukaan Zidan.

Tangannya bergerak otomatis, mengambil beras lalu mencucinya hingga bersih. Air mengalir pelan di sela jemarinya, sementara pikirannya kembali dipenuhi bayangan wajah kecil itu. Ia menyalakan kompor, menuangkan air, lalu mulai memasak dengan gerakan yang sudah sangat ia hafal.

Ini bukan pertama kalinya. Sudah terlalu sering ia melakukan hal yang sama setiap kali Zidan sakit. Menunggu bubur matang sambil sesekali mengaduk, memastikan teksturnya lembut, tidak terlalu kental, tidak juga terlalu cair. Semua harus pas, seperti yang Zidan suka.

Sesekali ia terdiam, sendok di tangannya berhenti bergerak.

Ingatannya kembali melayang pada kejadian di rumah sakit, pada ucapan Reno yang masih terasa menusuk, pada tatapan Zoya yang penuh kemenangan. Dadanya kembali terasa sesak, namun kali ini ia tidak membiarkan dirinya larut terlalu lama.

Ia menghela napas pelan, lalu kembali mengaduk bubur itu.

“Aku cuma perlu fokus ke Zidan,” gumamnya lirih.

Tak lama, aroma bubur mulai memenuhi dapur. Inara menambahkan sedikit garam dan kaldu, lalu mencicipinya. Rasa yang familiar itu membuatnya sedikit tenang. Setelah dirasa pas, ia mematikan kompor dan menuangkan bubur ke dalam wadah.

Ia mengambil termos makanan, memasukkan bubur hangat itu dengan hati-hati, lalu menutupnya rapat. Tangannya sempat berhenti sejenak di atas tutup termos, seolah menenangkan diri sebelum kembali pergi.

“Aku harus cepat,” bisiknya pelan karena hari semakin larut.

***

Di rumah sakit, Reno dan Zoya berada di dalam ruang rawat Zidan. Reno duduk di sisi ranjang, sesekali menatap wajah anak itu yang masih terbaring lemah, lalu pandangannya beralih ke Zoya. Ada kekhawatiran yang belum sepenuhnya hilang sejak wanita itu sempat pingsan tadi.

"Kamu pulang saja dan istirahat. Aku yang jaga Zidan," ucap Reno akhirnya.

Zoya menggeleng pelan. "Aku sudah baikan, tenang saja. Aku juga mau jaga Zidan. Kamu tahu, selama empat tahun aku tidak ada di sisinya saat dia sakit seperti ini. Jadi… aku rasa ini kesempatan aku untuk menebus semuanya," jawabnya lembut.

Reno tidak langsung menanggapi. Ia hanya menarik napas pelan dan kembali menatap Zidan. Ia tidak ingin memperpanjang pembicaraan, apalagi berdebat dalam keadaan seperti ini.

Namun tanpa sadar, pikirannya justru melayang pada Inara. Pada bagaimana wanita itu selama ini menjaga Zidan setiap kali sakit, bahkan tanpa diminta. Bahkan saat dirinya sendiri tidak ada, Inara selalu ada. Ingatan itu seharusnya hangat, tetapi entah kenapa sekarang terasa hambar.

"Kamu kepikiran Inara, Mas?" tanya Zoya tiba-tiba, membuat Reno sedikit tersentak.

Reno terdiam sejenak, lalu hanya menghela napas pendek. "Hmm…"

"Kamu sudah kasih kabar ke dia soal Zidan?" lanjut Zoya.

Reno menggeleng. "Tidak perlu. Dokter bilang Zidan syok, dan aku tahu penyebabnya siapa. Aku tidak mau dia makin merasa bersalah. Nanti kalau Zidan sudah membaik, baru aku kabari," jelasnya datar.

Di sisi lain, tangan Zoya perlahan mengepal. Ia menunduk sebentar, menahan ekspresi yang hampir saja berubah. Ternyata, di balik sikap dingin Reno, Inara tetap punya tempat yang tidak bisa ia singkirkan begitu saja.

Padahal sebelumnya, Zoya sudah menyuap dokter yang menangani Zidan agar hasil pemeriksaan disampaikan dengan cara yang menyudutkan Inara. Ia pikir Reno akan langsung marah besar dan menyalahkan Inara sepenuhnya.

Namun kenyataannya tidak seperti itu.

"Kamu sangat mencintainya, ya, Mas?" ucap Zoya pelan, lalu menatap Reno. "Tapi bagaimanapun juga, Zidan bukan anaknya. Kamu tahu sendiri, ibu tiri tidak akan pernah sama seperti ibu kandung. Sekarang mungkin dia baik… tapi ke depannya tidak ada yang tahu."

Kalimat itu meluncur pelan, namun cukup tajam untuk mencoba mengompori Reno.

Reno terdiam, mencerna setiap kata yang baru saja diucapkan Zoya. Tatapannya sempat jatuh pada Zidan, lalu kembali kosong, seolah pikirannya sedang berjalan ke arah yang tidak ingin ia akui. Saat ia hendak membuka mulut, ponselnya tiba-tiba berdering. Ia segera mengangkatnya, menjauh sedikit dari ranjang, dan berbicara singkat dengan nada serius. Tidak lama, panggilan itu berakhir.

"Zo, tadi rekan kerjaku menelepon. Ada dokumen penting yang harus aku urus malam ini juga. Kamu bisa jaga Zidan?" ucap Reno sambil menyimpan ponselnya.

"Tentu saja. Kamu pergi saja, aku yang jaga Zidan," sahut Zoya tanpa ragu.

"Kalau begitu… terima kasih."

Zoya tersenyum tipis. "Tidak perlu begitu. Zidan anakku."

Reno mengangguk pelan, lalu sekali lagi menatap Zidan sebelum akhirnya bergegas pergi meninggalkan ruangan.

Begitu pintu tertutup, Zoya menarik napas dalam-dalam, seolah baru benar-benar bisa melepas peran yang sejak tadi ia mainkan. Ia kemudian duduk di kursi yang sebelumnya diduduki Reno, menatap anak yang pernah ia kandung selama sembilan bulan itu.

"Baru kali ini aku merasa kamu benar-benar berguna, sayang," ucapnya pelan, sudut bibirnya terangkat tipis. "Maafkan Bunda, ya. Semua ini Bunda lakukan supaya nanti kita bisa bersama lagi."

Zidan tidak bergerak, masih terbaring lemah dengan alat medis yang terpasang.

Zoya memiringkan kepala, menatapnya sejenak sebelum kembali berbicara, kali ini dengan nada yang jauh lebih santai.

"Tapi, jadi ibu ternyata bukan pilihan terbaik juga. Kamu istirahat saja di sini. Bunda mau ke spa yang ada di rumah sakit ini. Habis capek berakting, enaknya memang langsung dimanjakan."

Ia berdiri sambil merapikan pakaiannya.

"Kamu tenang saja, nanti Bunda panggil perawat untuk jagain kamu," tambahnya ringan.

Tanpa menoleh lagi, Zoya melangkah keluar dari ruang rawat, meninggalkan Zidan sendirian di dalam ruangan yang kembali sunyi. Hanya suara alat monitor yang terdengar pelan menemani Zidan yang masih terbaring lemah.

Beberapa menit berlalu, hingga tiba-tiba nafas Zidan mulai tidak teratur. Keningnya kembali panas, tubuh kecilnya bergerak gelisah, lalu tanpa peringatan, kejang itu datang lagi.

Beep… beep… beep…

Suara monitor berubah cepat.

Di saat yang sama, Inara sampai di depan ruang rawat. Tanpa banyak pikir, ia langsung membuka pintu. Dan detik itu juga langkahnya terhenti.

"Zidan!"

1
Anonim
Ambil aja reno sama kamu zoya,inara mah sama altaf aja.buat inara sama altaf thor biar bisa bareng baba
Anonim
Semangat inara tinggalkan reno,ayo gas altaf pepet terus inara
Anonim
Lanjut up thor banyakan dong seru ,semangat thor
𝐇⃟⃝ᵧꕥ📴𝓗𝓪𝔂𝓾𝓻𝓪𝓹𝓾𝓳𝓲: siap kak, masih satu bab 1 lagi tapi review
total 1 replies
Dew666
🩵🩵🩵🩵
Anonim
Dih jangan mau inara emang maaf doang bakal kelar gitu aja laki g jelas
Anonim
Lah emang si zoya belum cerai sama di reno?aneh banget si reno mau ngawinin si inara tapi belum cerai laki laki g jelas
𝐇⃟⃝ᵧꕥ📴𝓗𝓪𝔂𝓾𝓻𝓪𝓹𝓾𝓳𝓲: nah iya, 4 th pergi jadi udh cerai belum ya 🤭
total 1 replies
Anonim
Jangan bikin inara balik sama reno y thor biarin aja si szidan sama emak bapak nya
A'ra
Cepet up lagi yah kak dan semangat nulisny 🥰🫶🏻💪🏻💪🏻
Anonim
Jangan sampe inara balik sama reno ya thor g iklas aku,biar inara jadi ibu sambung baba aja
𝐇⃟⃝ᵧꕥ📴𝓗𝓪𝔂𝓾𝓻𝓪𝓹𝓾𝓳𝓲: 🤭🤭🤭 coba tanya inara apa dia mau atau gak kak
total 1 replies
Dew666
💝💝💝
Anonim
Inara ko bloon sih menye menye banget jadi cewe,laki masih demen ama mantan ko masih aja di pikirin
𝐇⃟⃝ᵧꕥ📴𝓗𝓪𝔂𝓾𝓻𝓪𝓹𝓾𝓳𝓲: sabar kak, dia gak bodoh, hanya terbawa perasaan🤭
total 1 replies
Dew666
👄👄👄👄
Dew666
Pigi aja drpd jd bulan bulanan mereka huffff
𝐇⃟⃝ᵧꕥ📴𝓗𝓪𝔂𝓾𝓻𝓪𝓹𝓾𝓳𝓲: hooh, mending pergi ya kak
total 1 replies
Dew666
☀️☀️☀️
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!