NovelToon NovelToon
Mari Bercerai, Mas!

Mari Bercerai, Mas!

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Crazy Rich/Konglomerat / Penyesalan Suami
Popularitas:32.4k
Nilai: 5
Nama Author: Senja

“Mari bercerai, Mas!”

Rania menatap lurus ke mata suaminya tanpa gentar, meski hatinya terasa hancur perlahan.

Harsa membeku. Kata cerai tak pernah ada dalam hidupnya. Baginya, Rania adalah miliknya selamanya, takdir yang tak bisa diubah siapa pun.

“Apa katamu?!”

Rania menggigit bibir, menahan sesak di dada sebelum akhirnya berkata pelan namun tegas, “Aku ingin bercerai. Aku sudah lelah menjadi istrimu!”

Selama tiga tahun pernikahan mereka, semuanya baik-baik saja. Harsa mencintainya dengan cara yang hangat. Sampai kematian sang adik mengubah segalanya.

Sejak saat itu, Harsa seolah perlahan menjauh darinya. Semua waktunya habis untuk menjaga janda adiknya dan keponakan kecil mereka. Sedangkan Rania, hanya menjadi bayangan di rumahnya sendiri.

Tak ada yang tahu, di balik senyum tenangnya, Rania sedang berjuang melawan penyakit yang mematikan.

Akankah Harsa setuju dengan perceraian itu? Ataukah Rania memilih pergi?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Senja, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab. 8

Mobil melaju pelan meninggalkan kawasan rumah Wulan. Sementara di luar jendela, langit siang terlihat mendung. Awan abu-abu menggantung rendah seolah ikut menekan suasana hati Rania yang sejak tadi terasa sesak.

Perempuan itu duduk diam di kursi belakang sambil menyandarkan kepala ke kaca mobil. Tubuhnya benar-benar terasa lelah hari ini.

Bukan hanya karena penyakitnya yang semakin parah, tapi juga karena hatinya terus dipaksa menerima kenyataan yang tidak ingin ia lihat.

Tentang Harsa, tentang perhatian lelaki itu pada Wulan dan Gavin. Tntang senyum hangat yang tak lagi menjadi miliknya.

Rania memejamkan mata perlahan. emakin mencoba tenang, dadanya justru terasa makin berat. Napasnya mulai sesak dan tenggorokannya gatal.

Lalu beberapa detik kemudian,

“Uhuk! Uhuk!” Rania langsung terbatuk keras sambil membekap mulutnya.

Pak Darto refleks melihat ke kaca spion. “Nona Rania?”

Batuk Rania semakin menjadi. Tubuhnya sampai sedikit membungkuk menahan sesak dan rasa hangat itu kembali muncul.

Darah segar mengalir dari hidungnya. Tetes demi tetes jatuh ke punggung tangannya.

Deg!

Pak Darto langsung panik.

“Ya Allah, Non!” pria itu buru-buru menepikan mobil ke sisi jalan. “Hidung Nona berdarah?!”

Rania cepat mengambil tisu dari tasnya lalu menutupi hidungnya buru-buru. “Saya nggak apa-apa, Pak…”

“Nggak apa-apa gimana? Darahnya banyak begitu!” Suara Pak Darto terdengar benar-benar khawatir sekarang.

Pria paruh baya itu bahkan sampai turun dari kursi kemudi lalu membuka pintu belakang mobil dengan wajah panik.

“Non pusing? Sesak? Kita ke rumah sakit aja ya?”

Rania langsung menggeleng cepat. “Nggak usah.”

“Tapi wajah Nona pucat banget.”

“Saya cuma kecapekan.” Jawaban itu terdengar lemah bahkan di telinga Rania sendiri.

Pak Darto menatapnya tidak yakin. Karena ini bukan pertama kalinya. Beberapa minggu terakhir, ia mulai sering melihat Rania terlihat lemas. Kadang wanita itu tiba-tiba diam di mobil sambil memejamkan mata. Kadang wajahnya pucat sekali seperti orang sakit.

Dan sekarang mimisan begini…

Mana mungkin hanya karena lelah biasa?

“Nggak enak badan jangan dipaksa terus, Non,” ucap Pak Darto pelan. “Saya takut Nona sakit serius.”

Kalimat itu membuat jantung Rania berdegup pelan.

Sakit serius? Kalau saja Pak Darto tahu…

Rania tersenyum kecil sambil menghapus darah di hidungnya perlahan. “Bapak lebay deh.”

“Nggak lebay, Non.” Pak Darto terlihat sungguh-sungguh khawatir. “Kalau kenapa-kenapa gimana?”

Rania memalingkan wajah ke arah jendela. Matanya mulai panas lagi. Kadang perhatian sederhana dari orang lain justru terasa lebih hangat dibanding perhatian suaminya sendiri.

“Kita langsung ke rumah sakit aja ya, Non?” bujuk Pak Darto lagi. “Biar saya yang jemput Ibu di terminal.”

“Nggak usah, Pak.”

“Tapi—”

“Saya sudah bilang, saya nggak apa-apa,” potong Rania cepat. Nada suaranya sedikit meninggi tanpa sadar.

Pak Darto langsung diam.

Rania mengembuskan napas pelan lalu menunduk. “Maaf…” Ia terlalu sensitif akhir-akhir ini.

Tubuhnya sakit, hatinya juga.

“Saya cuma capek,” lanjutnya lirih. “Nanti juga sembuh sendiri.”

Pak Darto menatap majikannya lama. Perempuan itu tersenyum, tapi matanya terlihat sangat lelah.

Dan entah kenapa, hati kecil Pak Darto merasa ada sesuatu yang disembunyikan Rania.

“Nona yakin nggak mau periksa?” tanyanya hati-hati sekali lagi.

Rania mengangguk kecil. “Iya.”

Padahal sebenarnya ia baru saja dari rumah sakit. Baru saja mendengar sisa hidupnya mungkin tinggal beberapa bulan.

Namun anehnya, Rania justru lebih takut orang lain tahu dirinya sakit daripada menghadapi penyakit itu sendiri.

Ia tidak mau dikasihani. Tidak mau dianggap beban. Terutama oleh Harsa. Membayangkan suaminya menatapnya dengan rasa iba saja sudah membuat dada Rania terasa sakit.

Pak Darto akhirnya menghela napas panjang.

“Kalau begitu kita jemput Ibu dulu ya, Non.”

“Iya, Pak.”

Pria itu kembali masuk ke kursi kemudi lalu menjalankan mobil perlahan. Sepanjang perjalanan setelah itu, Pak Darto terus beberapa kali melihat ke kaca spion. Mengawasi Rania diam-diam.

Dan semakin dilihat, semakin terlihat jelas kalau perempuan itu sedang tidak baik-baik saja.

Sementara Rania sendiri hanya menatap kosong ke luar jendela.

Tisu di tangannya masih dipenuhi bercak darah merah. Tangannya gemetar kecil. Tubuhnya perlahan benar-benar mulai menyerah.

Tapi yang paling menyakitkan, orang yang paling ingin ia jadikan tempat bersandar justru sedang sibuk menjaga orang lain.

Rania memejamkan mata perlahan. Satu tetes air mata jatuh tanpa suara. Ia buru-buru menghapusnya sebelum Pak Darto melihat.

“Aku harus segera memberitahu tuan Harsa,” batin Pak Darto.

******

Terminal siang itu ramai dan bising.

Suara klakson kendaraan bercampur dengan teriakan para kernet memenuhi udara yang panas dan pengap. Rania turun perlahan dari mobil sambil memegangi tasnya erat. Tubuhnya masih terasa lemas setelah mimisan tadi di perjalanan.

Namun begitu matanya menemukan sosok ibu mertuanya berdiri di dekat tiang terminal dengan wajah kesal, Rania langsung mencoba tersenyum sopan.

“Ibu…”

Belum sempat mendekat, suara Ratna sudah lebih dulu terdengar tajam.

“Kamu kemana saja?!” bentak Ratna.

Rania langsung diam.

“Astaga, kenapa lama sekali?!” Ratna mengomel sambil menghentakkan tasnya kesal. “Ibu sampai mau jamuran nunggu di sini kayak orang bodoh!”

“Ibu, maaf tadi—”

“Sengaja bikin ibu berdiri hampir satu jam, hmm?!” potongnya ketus.

Rania menunduk cepat. Padahal mereka tidak terlambat selama itu. Namun Ratna memang selalu seperti ini padanya. Sedikit salah saja, semuanya jadi besar.

“Maaf, Bu,” ucap Rania pelan. “Tadi aku sempat ke rumah Gavin dulu.”

Mendengar nama itu, ekspresi Ratna langsung berubah.

“Oh, Gavin?” nada suaranya mendadak melunak.

Rania mengangguk kecil.

“Dia demam sedikit.”

“Aduh kasihan cucu ganteng nenek.” Ratna langsung terlihat khawatir. “Wulan pasti kerepotan sendirian.”

Rania hanya diam. Dadanya terasa semakin sesak.

“Untung Wulan perempuan cekatan,” lanjut Ratna tanpa sadar menusuk hati menantunya sendiri. “Belum lama nikah udah cepat kasih keturunan buat keluarga.”

Kalimat itu sukses membuat senyum tipis di wajah Rania perlahan memudar. Tangannya tanpa sadar mengepal kecil.

“Tuh kan, untung masih ada peninggalan Bima.” Ratna menghela napas panjang. “Coba kalau nggak ada Gavin. Kamu juga sampai sekarang belum ngasih cucu ke Ibu!”

Rania cepat menunduk agar ekspresi matanya tidak terlihat.

Lagi-lagi soal anak. Pasti setelah ini dirinya dibandingkan dengan Wulan.

Padahal Ratna tidak tahu, bahwa Rania mungkin bahkan tidak akan pernah punya kesempatan menjadi seorang ibu. Dan kenyataan itu jauh lebih menyakitkan daripada semua sindiran ibu mertuanya.

“Ya sudah, ayo pulang,” ucap Ratna akhirnya sambil menyerahkan tasnya begitu saja pada Rania. “Ibu capek.”

Rania menerimanya pelan meski tubuhnya sendiri terasa lelah.

“Iya, Bu.”

Ratna sudah lebih dulu berjalan menuju mobil tanpa menoleh lagi. Sementara Rania berdiri beberapa detik di belakangnya. Menarik napas panjang sambil menahan air mata yang hampir jatuh.

Seperti biasa, ia tetap memilih diam. Tetap tersenyum sopan. Dan tetap menjadi menantu baik meski hatinya perlahan hancur sedikit demi sedikit.

1
Lilik24
ORANG GILA CARI GARA2 DIA, jadi gembel baru tau
Mita Paramita
pecat aja sih harsa jadi mantu dan karyawan ga guna udh mendua sama janda licik🤨🤨🤨 kesel ngeliat sikap harsa redflag
Mita Paramita
harsa emang suami sialan ...sih Wulan bukannya diusir aja kayak benalu tinggal dirumah rania🤨🤨🤨
deeRa
Wait, aku curiga Harsa anak tiri wkwkwk

Harsa kalo Masih mau sama Rania sok aku dukung selama mau berubah yak! anggap aja perjuanganmu itu ganti 1 tahun kebelakang💪

selama no making love, dungu sedikit it's okay 👌😄
tinie
kena kau go block
sebentar sebentar saja kamu menikmati fasilitas kemewahan itu
iya iya siap siap sebelum didepak
dari rumah mewah ituu
vj'z tri
go to the blok ..../Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm/yang punya perusahaan malah di maki sikat bersih papa
Senja: wkwkwk
total 1 replies
Ma Em
Sedih Thor aku sama nangis , Rania minta maaf pada pak Aditya padahal pak Aditya juga sakit melihat Rania cuma egonya terlalu besar , semoga Rania penyakitnya bisa disembuhkan dan sehat kembali tinggalkan saja Harsa utamakan kesehatan Rania .
Syarifah
langsung aja pak keruangan Harsa atau langsung panggil k,ruangan anda, langsung minta penjelasan sama Harsa pak bos
Syarifah
itu kata yang tepat buat qm Wulan,suka barang bekas 🤣🤣🤣
Anonim
tau tau Rania dah mati
Uthie
Lagi seruuuu niii.. lanjuuttttt 😍😍😍👍
Kinara Widya
siap2 jadi gembel...Wulan...Harsa..Ratna..🤣🤣🤣
Senja: Gembel ga tuh😭
total 1 replies
Nice1808
nah loh harsa bentar lagi kena pecat, kau menyakiti rania anak boss mu😃😃secepatnya surat cerai selesai ya tasya biar makin seru harsa dan ibunya jd gembel dan wulan melayang tinggi mendapatkan harsa si gembel🤣🤣
Nice1808
hahhaa kan bener kau suka barang bekas dr rania buktinya aja lingeri rania yg kau pakai, salahnya dimnz😀😀😀
Al Fatih
Wulan mempercepat azab utk si Karso 😂
Senja: Wkwk🤣😭
total 1 replies
ollyooliver
jengg..jeng...jenggggg
ollyooliver
pecat?..hahahahahhahahhahahhahahha gk kebalik? laki orng noh, mokondo doang..lo nya yg sombong..idiiii😏 nih ya kaalau harsa masih bela nih janda gatel, bener" otaknya mmng sdh digeser. bisa"nya ya diterima dioerusahaann..meskipun jalur ordal sekalipun tapi kemampuan, kepintaran itu gk bisa bohong. masa orng yg gk bisa berpikir mana baik dan tdk...bisa"nya diterima mana mau naik pangkat lagi..haduhhh salah diberi jabatan nih orng.
ollyooliver
kehancuranmu sedang berjalan harsa....jangan mencari" rania ya habis ini karena giliran pekerjaan lu cari, giliran istrinya pergi..gelisah doang habis wulan dan ibu laknatmu datang jadi anak dibawah ketek dan selangakangan mereka😌
Listiyawati Rinda
lanjut kak
ollyooliver
menang lagi deh..dah brp kosong nih rania..eh menang rania satu ya. yg gagal menggatal pake baju lingeria rania...tapi wulan kebanyakan sih menangnya
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!