Kanaya Tabitha adalah definisi wanita sempurna. Cantik, pintar, dan mandiri, dia sukses membangun bisnisnya dari nol. Di balik keanggunannya, Kanaya adalah sosok wanita tangguh yang menguasai seni bela diri tingkat tinggi, dan jangan harap ada pria yang bisa mendekatinya dan mengusik hidup tenang nya, hubungan dan cinta tidak ada di dalam daftar hidup nya.
Namun, dunia indahnya runtuh saat sebuah rahasia besar mendadak memutarbalikkan hidupnya. Tubuhnya mengalami perubahan aneh yang tak masuk akal. Bagaimana bisa dia hamil tanpa pernah disentuh pria mana pun?
Kanaya tidak tahu bahwa setiap malam, rahimnya telah diklaim oleh Alexander Giorge, Raja Vampir yang posesif dan berbahaya di balik kegelapan.
"Kamu milik ku, Kanaya. Berlari lah sejauh apa pun, darah daging ku akan selalu membimbingku kembali ke tempat tidurmu. Jika ada pria lain yang berani menyentuhmu, ku pastikan namanya tinggal sejarah."_ Alexander Giorge.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon hofi03, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
HADIAH UNTUK NAYA
"Takdir memang tidak pernah bertanya apakah kita siap atau tidak, Nona," jawab James bijak.
Tiba-tiba, suara deru mesin mobil terdengar dari arah gerbang depan, tak lama kemudian, sebuah mobil mewah berwarna hitam masuk dan berhenti tepat di depan pintu utama mansion.
"Itu Alexander?" tanya Naya menoleh ke arah pintu utama.
"Benar, Nona. Itu Yang Mulia," jawab James ikut menoleh, lalu mengangguk.
Naya merasakan jantungnya berdegup lebih kencang dari biasanya, dia merasa gugup, bukan karena takut lagi, tapi karena bingung harus bereaksi bagaimana saat berhadapan langsung dengan pria itu setelah obrolan mereka di kamar tadi.
Alexander turun dari mobil, penampilannya masih terlihat sangat rapi dengan kemeja putihnya.
Begitu matanya menangkap sosok Naya di taman, raut wajahnya yang tadinya datar dan tegas langsung berubah menjadi lebih teduh.
Pria itu berjalan menghampiri Naya dengan langkah yang lebar dan pasti.
"Baru saja ditinggal sebentar, sudah jalan-jalan ke taman?" sapa Alexander dengan suara beratnya saat sampai di depan Naya.
"Iya, daripada di kamar terus kayak tahanan. Lagian tadi aku ditemenin James kok, aman aku tidak akan kabur," jawab Naya menatap Alexander, lalu mendengus pelan.
Alexander melirik James sekilas, lalu mengalihkan tatapannya kembali ke Naya, mengulurkan tangannya, menawarkan bantuan agar Naya berdiri.
"Sudah puas jalan-jalannya? Cuacanya mulai terasa agak panas," ucap Alexander, suaranya terdengar seperti sedang membujuk anak kecil, tapi tetap dengan aura dominan yang kental.
Naya menyambut uluran tangan Alexander, dan begitu tangannya bersentuhan dengan pria itu, ada aliran hangat yang menjalar di kulitnya.
"Aku masih mau di sini sebentar," jawab Naya mencoba menolak secara halus.
"Tidak sekarang," ucap Alexander lembut, melingkarkan tangannya di pinggang Naya.
Aku sudah membawakan sesuatu untukmu di dalam. Ayo kita masuk," lanjut Alexander.
"Membawa sesuatu? Apa?" tanya Naya menatap Alexander dengan dahi berkerut.
Alexander tertawa rendah, sebuah suara yang terdengar sangat menyenangkan di pendengaran Naya.
"Sesuatu yang mungkin akan membuatmu lebih betah tinggal di sini. Ayo," jawab Alexander, lembut.
Dengan posesif, Alexander menuntun Naya masuk kembali ke dalam mansion, mengabaikan tatapan James yang kini kembali ke posisi nya, menjaga jarak dengan setia.
Naya berjalan dengan langkah pelan, mengikuti langkah Alexander yang sengaja memperlambat langkahnya.
Sesampainya di ruang tengah yang luas, Naya celingukan mencari apa yang dimaksud Alexander, ruangan itu terlihat sama saja, bersih dan sangat megah.
"Mana? Katanya ada sesuatu yang bikin aku betah? Perasaan dari tadi aku gak liat apapun yang menarik disini," ucap Naya sambil melipat tangan di depan dada, menatap Alexander dengan tatapan menantang.
Alexander terkekeh, dia menuntun Naya menuju sebuah ruangan di sisi barat yang pintu nya besarnya tertutup rapat.
Pria itu melepaskan lengannya dari pinggang Naya dan membuka pintu tersebut.
"Masuklah," ucap Alexander sambil tersenyum tipis.
Naya melangkah masuk dengan ragu, namun sedetik kemudian matanya membelalak lebar.
Ruangan itu adalah sebuah perpustakaan mini sekaligus ruang santai yang sangat nyaman.
Di sana ada rak-rak buku setinggi langit-langit, sofa besar yang empuk, dan yang paling menarik perhatian Naya adalah beberapa tumpukan majalah fashion terbaru dan koleksi buku tentang ibu hamil yang berserakan di atas meja kaca.
"Ini... kamu yang nyiapin?" tanya Naya pelan, suaranya sedikit bergetar karena terkejut.
"Aku minta orang-orang ku mencari tahu apa yang biasanya disukai wanita hamil. Aku dengar kalian suka membaca untuk membunuh bosan, jadi kupikir ini tempat yang tepat," jawab Alexander sambil bersandar di pintu, menatap Naya dengan binar mata yang sulit diartikan.
Naya mendekati meja dan mengambil salah satu majalah fashion yang paling dia sukai.
Dia tidak menyangka pria sedingin Alexander George bisa memikirkan hal detail seperti ini.
"Kamu tau dari mana aku suka majalah ini? Jangan bilang kamu mengintai aku selama ini?" tanya Naya curiga, matanya menyipit ke arah Alexander.
Alexander berjalan mendekat, lalu berdiri tepat di belakang Naya, membuat hawa panas dari tubuhnya terasa menempel di punggung wanita itu, membungkuk dan membisikkan sesuatu tepat di dekat telinga Naya.
"Aku sudah memperhatikanmu jauh sebelum malam panas kita terjadi, Naya. Jadi, tidak sulit untuk tahu apa yang membuatmu tersenyum," bisik Alexander dengan suara yang membuat bulu kuduk Naya meremang.
Naya refleks memutar tubuhnya, tapi karena jarak mereka yang sangat dekat, dadanya hampir menabrak dada bidang Alexander.
Naya mendongak, menatap mata hitam pria itu yang kini terlihat sangat intens.
"Berhenti bikin aku salting dengan kata-kata menggelikan mu itu! Ini tidak mengubah fakta kalau kamu itu tetap monster, ya," ucap Naya dengan wajah yang sudah memerah padam, meski hatinya merasa aneh karena ada rasa senang yang tidak bisa dia bohongi.
Alexander tertawa pelan, tangannya terulur untuk menyelipkan anak rambut Naya ke belakang telinga.
"Panggil aku monster atau apa pun yang kamu mau, tapi kamu nggak bisa menyangkal kalau perhatianku ini memang dibutuhkan olehmu, kan?" ucap Alexander tersenyum miring.
Naya mengalihkan pandangannya, enggan menatap mata pria itu lebih lama.
"Ya... ya, terserah kamu lah, tapi kalau aku bosen, jangan salahin aku kalau aku bikin keributan di rumah ini," jawab Naya ketus.
Alexander tersenyum lebar, terlihat sangat menikmati kekesalan Naya yang menurutnya justru sangat menggemaskan.
"Silakan saja. Lagipula, mansion ini memang butuh sedikit keramaian agar tidak terasa seperti kuburan," ucap Alexander santai.
Kemudian Alexander menarik kursi kayu yang nyaman dan mengisyaratkan Naya untuk duduk.
"Duduklah. Aku akan memanggil pelayan untuk membawakan camilan sehat buatmu. Aku harus pergi lagi mengurus urusan bisnis yang tadi, tapi aku janji akan kembali sebelum makan malam," ucap Alessandro, lembut.
Naya duduk di kursi itu dengan kesal, tapi jemarinya sudah mulai membalik halaman majalah yang dia pegang.
"Pergi sana. Jangan balik kalau nggak bawa cokelat, aku lagi pengen banget yang manis-manis," ucap Naya dengan nada menuntut.
Alexander menghentikan langkahnya di ambang pintu, lalu berbalik menatap Naya dengan seringai tipis.
"Satu kilogram cokelat kualitas terbaik akan ada di mejamu satu jam lagi" janji Alexander, mencium kening Naya sebelum keluar dari perpustakaan mini itu.
Naya menatap punggung tegap Alexander yang menjauh hingga pintu tertutup rapat, dia menghela napas panjang, lalu mengusap perut buncitnya yang terasa tenang.
"Dia itu aneh banget, ya? Katanya Raja Vampir, tapi mau aku suruh-suruh," gumam Naya, tertawa kecil.
Dug
Tiba-tiba, perutnya berkedut lagi, kali ini lebih keras, membuat Naya tersenyum kecil, merasa seperti bayinya sedang setuju dengan ucapannya.
Naya mulai fokus membaca majalahnya, menikmati kesendirian yang mendadak terasa jauh lebih menyenangkan dari yang dia bayangkan sebelumnya.
makasih ka author, semangat terus sehat selalu. 🙏🙏
semangat ka 💪💪💪💪