Annisa rela meninggalkan statusnya sebagai putri tunggal keluarga terpandang demi menikahi Haikal, pria yang ia cintai. Bahkan, ia menolak perjodohan dengan Emran Richard, pria sukses yang sejak lama berjanji akan membahagiakannya.
Namun, setelah menikah, hidup Annisa berubah menjadi penderitaan. Dihina ibu mertua, divonis mandul, hingga akhirnya ditalak tiga oleh Haikal di malam hujan saat suaminya berada di puncak karier. Haikal merasa semua keberhasilannya hasil kerja kerasnya sendiri. Padahal, tanpa ia sadari, karier dan hidup mewahnya berdiri di atas satu nama, Annisa Wijaya.
Saat kebenaran terungkap dan penyesalan datang, Annisa sudah berubah. Akankah, Annisa kembali pada suaminya, atau justru menghancurkan suaminya tanpa ampun!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aisyah Alfatih, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 10
Haikal kembali masuk ke rumah dengan wajah penuh amarah.
"Annisa!"
Pintu ditutup keras hingga membuat Annisa yang masih berada di dekat dapur tersentak. Lasmi langsung berdiri dan menunjuk Annisa dengan wajah kesal.
“Lihat tuh!” bentaknya. “Karena kamu, Dokter Emeli jadi sakit hati!”
Annisa menggigit bibirnya pelan. “Aku cuma bilang yang sebenarnya.”
Haikal menghantam meja ruang tamu keras hingga gelas di atasnya bergetar.
“Kamu puas sekarang?!” bentaknya marah.
Annisa menatap suaminya dengan mata memerah.
“Mas lebih peduli sama dia daripada aku?”
“Karena kamu yang mulai cari masalah!”
“Aku istri mu Mas!” suara Annisa akhirnya meninggi penuh luka. “Wajar kalau aku nggak suka ada perempuan lain dekat sama suamiku!”
Haikal tertawa sinis.
“Istri?” Tatapannya tajam penuh emosi. “Istri macam apa yang kerjanya cuma bikin malu?”
Kalimat itu menusuk hati Annisa. Namun, untuk pertama kalinya, dirinya tak ingin diam lagi.
“Aku bikin malu?” Air matanya jatuh. “Mas yang bawa perempuan lain ke rumah dan mempermalukan aku di depan ibu!”
“Jaga mulutmu!”
“Kenapa? Takut kenyataan?” Annisa menatap Haikal penuh kecewa. “Atau memang Mas selingkuh sama Dokter Emeli?”
Plak!
Haikal kembali menampar Annisa lebih keras dari sebelumnya. Tubuh wanita itu hampir jatuh kalau tidak berpegangan pada kursi.
“Jangan fitnah aku!” bentak Haikal.
Lasmi malah menimpali dengan sinis, “Perempuan nggak tahu diri!”
Annisa menangis sambil memegangi pipinya.
“Aku cuma mempertahankan rumah tanggaku…”
Haikal yang sudah dikuasai emosi justru semakin kasar.
“Kamu memang harus dikasih pelajaran.”
Annisa menatap suaminya tak percaya. “Maksud mu apa, Mas?”
Haikal langsung menarik kasar lengan Annisa. “Mas, sakit!”
“Diam!” Pria itu menyeret Annisa melewati dapur menuju bagian belakang rumah.
Mata Annisa langsung membesar panik saat melihat pintu gudang tua di belakang rumah mulai dibuka.
“Mas … jangan…”
Haikal sama sekali tidak peduli. “Kamu di sini sampai sadar diri!”
“Mas, tolong…” tangis Annisa pecah. “Aku takut…”
Tetapi Haikal justru mendorong tubuh istrinya masuk ke dalam gudang yang gelap dan pengap itu.
Pintu ditutup keras dari luar.
Annisa langsung mengetuk pintu panik. “Mas! Buka! Tolong buka!”
Namun, yang terdengar hanya suara langkah kaki Haikal menjauh.
Gudang itu gelap.
Sangat gelap, hanya ada sedikit cahaya redup yang masuk dari celah kecil di atas pintu. Bau debu dan udara pengap membuat Annisa semakin sulit bernapas.
“Mas! Tolong buka!” Annisa memukul pintu keras-keras sambil menangis panik.
Tubuhnya mulai gemetar hebat. “Mas Haikal … aku takut…”
Namun, tak ada jawaban dari luar. Langkah kaki Haikal benar-benar menjauh. Dan saat itu juga trauma lama yang selama ini berusaha Annisa kubur perlahan muncul kembali.
Waktu kecil, Annisa pernah terkunci berjam-jam di ruang bawah tanah rumah lamanya saat listrik mati. Saat itu dirinya masih sangat kecil dan terus menangis ketakutan dalam gelap sampai akhirnya jatuh sakit selama beberapa hari.
Sejak kejadian itu, Annisa selalu takut berada di tempat gelap dan sempit sendirian. Namun, tak banyak orang yang tahu tentang trauma itu kecuali ayahnya. Dan Haikal, karena dulu saat masih pacaran, Annisa pernah menceritakannya sambil menangis di pelukan pria itu.
Tubuh Annisa langsung melemas mengingat semuanya. Artinya Haikal tahu dirinya sangat takut gelap. Tapi pria itu tetap mengurungnya di sini.
“Mas … tolong…” suara Annisa mulai pecah histeris. “Aku nggak kuat…” Tangannya terus menggedor pintu tanpa henti. Air matanya mengalir deras, napasnya mulai memburu tak beraturan.
“Ayah…” lirihnya mulai kacau. “Ayah … tolong Nisa…”
Di luar gudang, Lasmi yang mendengar teriakan Annisa justru mendecak kesal.
“Lebay sekali.”
Haikal berdiri diam dengan wajah dingin, meski samar-samar suara tangisan Annisa terdengar begitu menyayat dari balik pintu.
“Biarin saja,” katanya dingin. “Biar dia kapok.”
Namun, tanpa Haikal sadari, tangisan Annisa di dalam gudang perlahan berubah menjadi suara sesak napas dan kepanikan yang semakin parah.
Di luar gudang, suara tangisan Annisa masih terdengar samar-samar.
“Mas … tolong…”
Lasmi justru duduk santai di sofa sambil mendecak tidak peduli.
“Perempuan itu memang suka cari perhatian.”
Haikal berdiri diam sambil memijat pelipisnya yang terasa pening. Entah kenapa hatinya sedikit gelisah mendengar suara tangisan Annisa yang semakin melemah.
Namun, sebelum pria itu sempat bergerak, Lasmi kembali bicara,
“Sudah, Haikal. Ceraikan saja dia.”
Haikal langsung menoleh. “Ibu…”
“Buat apa dipertahankan?” Lasmi bersandar santai. “Nggak bisa kasih anak, kerjaannya bikin masalah terus.”
Haikal menghela napas panjang. “Aku juga capek…”
“Tuh kan.” Lasmi langsung memanfaatkan keraguan anaknya. “Dokter Emeli jauh lebih cocok buat kamu.”
Nama itu membuat Haikal kembali diam. Jujur saja, pikirannya memang mulai goyah sejak lama. Apalagi dibanding Annisa yang sekarang sering menangis dan membantah, Emeli terasa jauh lebih lembut dan menyenangkan di matanya.
“Tapi…” Haikal mengerutkan kening pelan. “Rumah ini…”
Lasmi menatap anaknya bingung. “Kenapa dengan rumah?”
Haikal terlihat ragu beberapa saat sebelum akhirnya berkata pelan, “Dulu waktu beli rumah ini … banyak pakai tabungan Annisa.”
Bahkan, sertifikat rumah itu juga atas nama Annisa. Selama ini Haikal tak terlalu memikirkan hal itu karena dirinya yakin Annisa tidak akan pernah meninggalkannya.
Lasmi langsung mendecak sebal. “Itu saja dipikirin.”
“Ibu nggak ngerti—”
“Bikin saja dia menyerahkan rumah ini ke kamu,” potong Lasmi cepat. “Annisa itu cinta mati sama kamu. Pasti nurut.”
Haikal terdiam, ucapan ibunya memang ada benarnya. Selama lima tahun ini, Annisa selalu mengalah demi dirinya. Bahkan, rela hidup susah dan diperlakukan buruk tanpa pernah pergi. Dan satu hal yang nggak pernah mengerti, siapa orang tua Annisa, kenapa Annisa tidak mah bercerita. Haikal, hanya tahu orang tua Annisa tak pernah setuju sama pernikahan mereka.
Dalam pikiran Haikal, Annisa mungkin memang tidak akan berani melawan.
“Kalau perlu,” lanjut Lasmi penuh licik, “buat dia tanda tangan sebelum kamu ceraikan.”
Haikal kembali diam. Diamnya, Haikal sudah cukup menjadi jawaban bahwa dirinya mulai mempertimbangkan hal tersebut.
bahwa kehadirannya sungguh berharga