Menceritakan Jihan seorang pemuda berusia 14 tahun, lahir dengan akar spiritualnya yang rusak. Demi ibunya yang sakit, ia menentang takdir dan menapaki jalan kultivasinya sendiri, sebuah jalan yang tak pernah terbayangkan bahkan oleh langit sekalipun.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ohmyzan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 35
Mentari condong ke ufuk barat, melukis langit senja dengan semburat jingga keemasan. Di bawah cahaya yang temaram itu, Jihan duduk bersila di atas batu datar di tepi sungai, membiarkan semilir angin sore menyapu wajahnya.
Ia memejamkan mata. Di dalam benaknya, dua kepingan nasihat kini menyatu.
Gambaran samar Kakek Danu yang duduk tenang di tepi air terjun, dan kata-kata Kepala Desa Arya Jaya yang bergema di telinganya:
‘Bagaimana jika kau bisa menemukannya dari setiap tarikan napasmu?’
Maka, Jihan mulai menarik napas. Dalam, perlahan, dan teratur. Ia mencoba merasakan denyut kehidupan di sekelilingnya… gemericik air sungai yang abadi, desau angin yang menyapu dedaunan, dan sahutan pertama burung hantu dari kedalaman hutan.
Namun, menit demi menit berlalu dalam kehampaan. Tak ada energi yang bangkit, tak ada getaran yang terasa dalam tubuhnya. Yang tersisa hanyalah kesunyian pekat di dalam dirinya, kian menekan, seolah berdiri kontras dengan hiruk-pikuk kehidupan di sekelilingnya.
Jihan membuka mata, dahinya berkerut dalam frustrasi.
Dalam hening yang menyesakkan itu, pikirannya mulai berkelana, menelusuri kembali setiap momen ketika kemampuan itu muncul. Saat ia nyaris tumbang karena beban tugas berat dari kepala desa. Saat napasnya tercekat, dikejar Serigala Taring Panjang. Dan saat pertarungannya dengan kelompok Gading.
Potongan demi potongan itu menyatu, membentuk pola yang tak bisa ia abaikan.
‘Kekuatan itu tidak pernah datang saat aku tenang… ia hanya muncul ketika aku terdesak. Saat napasku memburu, saat tubuhku terhimpit keadaan.’
Mata Jihan melebar, seolah baru saja menemukan pencerahan yang selama ini ia tidak sadari.
‘Jadi bukan ketenangan yang aku butuhkan… melainkan sebuah pemicu’
Pandangan matanya kemudian tertuju pada sebuah pohon besar di tepi sungai. Tanpa ragu, ia melangkah mendekat dan mengambil posisi. Pohon itu bukan kayu keras, melainkan batang semu yang tersusun dari lapisan pelapah daun yang saling menutupi, cocok sebagai sasaran latihan pertamanya. Tujuannya sederhana: menumbangkan pohon itu.
Bukan dengan tinju, setidaknya belum. Ia memilih menggunakan pangkal telapak tangannya, gerakan yang sudah mendarah daging, sama seperti saat ia membelah kayu… dan ketika menghantam ulu hati Rama.
BRUK!
Seketika, rasa sakit yang menyengat meledak dari pergelangan tangannya, menjalar seperti api hingga ke bahu. Batang semu itu memang lunak di permukaan, namun intinya padat dan liat, sama sekali tidak bergeming.
Namun Jihan tidak berhenti. Gelombang rasa sakit itu justru memicu geraman buas dari tenggorokannya. Sambil menahan perih, ia menatap tangannya yang memerah, lalu kembali mengepalkannya dengan erat, seakan menantang rasa sakit itu untuk datang lagi.
Sambil berdesis, ia mulai menggumamkan racun yang telah meresap ke dalam jiwanya,
“Jalan tertutup…”
BUK!
“…Akar spiritual rusak…”
BUK!
“…Pembawa Kutukan!”
BUK! BUK! BUK!
Entah sudah berapa lama, dengan kepalan tangan yang mati rasa dan bengkak, hantaman terakhirnya akhirnya merobohkan pohon itu, disertai suara gedebuk berat yang lembap.
Malam pun turun lebih cepat dari yang ia sadari, tapi Jihan tetap tak mengizinkan dirinya berhenti. Tanpa jeda, ia langsung beralih ke latihan berikutnya… ujian untuk menempa daya tahan tubuhnya.
Ia melangkah masuk ke Sungai Batu. Airnya kini lebih surut dari biasanya, di beberapa tempat hanya sebatas mata kaki, memperlihatkan dasar sungai yang dipenuhi bebatuan licin dan lumpur.
Jihan tidak mencari bagian yang dangkal. Ia berjalan ke tengah, di mana sisa aliran sungai berkumpul, menciptakan arus yang terkonsentrasi, deras, dan kuat. Airnya yang sedingin es langsung menyengat kulitnya, tetapi ia mengabaikannya.
Di sana, dengan air yang kini hanya mencapai pinggangnya, ia menancapkan kakinya di antara bebatuan licin, mengambil posisi kuda-kuda rendah. Di bawah langit malam yang berbintang, arus deras itu langsung menghantam tubuhnya. Setiap detik adalah perjuangan untuk tidak terpeleset di atas lumut, untuk menahan tekanan air yang tanpa henti berusaha merobohkannya.
Namun, kuda-kudanya yang telah ditempa oleh beban pikulan selama bertahun-tahun membuatnya tetap berdiri kokoh laksana batu karang. Otot-otot kakinya menjerit memprotes, terbakar karena harus terus-menerus menyesuaikan pijakan. Dinginnya air merayap naik, membekukan tubuhnya, dan setiap tarikan napas terasa seperti menghirup serpihan es yang membakar paru-parunya.
Lalu, sebuah ide gila tersbesit dibenaknya.
‘Tidak… ini tidaklah cukup! Aku ingin memaksa tubuhku hingga batasnya!’
Ia menarik napas dalam-dalam, lalu menenggelamkan seluruh tubuhnya ke bawah permukaan air yang membekukan. Awalnya terasa tenang. Hanya ada suara air yang teredam dan desingan samar di telinganya.
Sepuluh detik. Dua puluh detik.
Paru-parunya mulai memberontak, menuntut udara dengan rasa sakit yang membakar.
Tiga puluh detik.
Rasa panik yang primal mulai mencakar-cakar benaknya. Otaknya berteriak untuk naik ke permukaan. Tapi Jihan memaksa dirinya untuk bertahan, memanggil kembali vonis Penatua Wira dan tawa mengejek Gading. Ia harus melampaui batas ini.
Empat puluh detik.
Pandangannya mulai menggelap di tepian. Dadanya terasa seperti akan meledak.
Akhirnya, tubuhnya bergerak sendiri di luar kendalinya. Ia meledak ke permukaan, mulutnya terbuka rakus, napasnya tersengal hebat. Batuk keras mengguncang tubuhnya, mengeluarkan air dari paru-parunya saat ia dengan liar menghirup udara malam yang dingin dan menusuk.
Ia bersandar pada batu licin, tubuhnya gemetar hebat karena dingin dan kelelahan. Tetapi di tengah kegelapan, matanya justru menyala terang, memantulkan cahaya bintang. Sambil terengah-engah, sebuah bisikan serak lolos dari bibirnya yang membiru.
“Lagi.”
Dan ia melakukannya lagi. Dan lagi. Malam menjadi saksi bisu atas siksaan yang ia timpakan pada dirinya sendiri. Meledak ke permukaan, terbatuk, menghirup udara dengan rakus, lalu kembali menenggelamkan diri ke dalam air yang membekukan sebelum tubuhnya sempat pulih.
Hingga akhirnya, tubuhnya benar-benar mencapai batas. Kelelahan yang mendera, dingin yang menusuk tulang, dan nyeri yang merambat di setiap serat ototnya berteriak, memaksanya untuk menyerah.
Dengan sisa tenaga terakhir, Jihan menyeret dirinya keluar dari air dan merosot duduk di atas sebuah batu yang dingin. Tubuhnya gemetar hebat tak terkendali, setiap ototnya terasa seperti disayat-sayat.
Ia mencoba sekali lagi… memejamkan mata, berusaha mengabaikan gigitan dingin yang menusuk tulang dan rasa sakit yang membakar di sekujur tubuhnya. Seluruh kesadarannya ia paksa untuk fokus hanya pada satu hal: napasnya yang pendek dan tersengal. Ia mencoba merasakan kembali energi alam, berharap siksaan fisik yang baru saja ia lalui bisa menjadi pemicu yang ia butuhkan.
Namun, yang Jihan temukan hanyalah kehampaan.
Tidak ada apa-apa. Energi alam yang ia cari tetap membisu, dan aliran di dalam tubuhnya seolah terhalang oleh sebuah dinding tak kasat mata.
Di tengah keputusasaan yang kembali mencekik benaknya, sebuah suara memecah lamunannya. Bukan gemericik air, bukan desau angin, melainkan bunyi ranting kering yang patah, diinjak oleh sesuatu yang berat. Jihan mengangkat kepalanya yang pening, berusaha menajamkan pendengarannya.
Tak lama, terdengar geraman rendah dan serak, penuh kebencian yang terasa tidak wajar. Dari balik kegelapan pekat pepohonan di seberang sungai, sepasang titik merah menyala menatap lurus ke arahnya.
Seekor binatang buas…
Siap menerjang dirinya yang lemah.