NovelToon NovelToon
Berjodoh Dengan CEO Cantik

Berjodoh Dengan CEO Cantik

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / CEO / Romantis / Cintamanis
Popularitas:519
Nilai: 5
Nama Author: anjarthvk

Seorang wanita cantik memiliki jabatan CEO di Perusahaan Berlian milik Papahnya. Rania Queenzhi yang ceria memiliki ketertarikan dengan asisten juga merangkap sekaligus sekretarisnya, seorang pria tampan.

Boris William, Sekretaris sekaligus Asisten yang mengabdi di Perusahaan, karena membalas budi akan hidupnya. Diam-diam juga memiliki ketertarikan dengan Atasannya di Perusahaan. Tapi, dirinya masih mempertimbangkan segala hal yang membuatnya tidak percaya diri.

"Aku menjodohkan putriku denganmu, Boris. Tapi, aku tidak memaksa dan membuatmu terburu-buru. Santai dan belajarlah semua hal mengenai Perusahaan. Cari tahu sedikit demi sedikit dari Rania. Dia tahu sepenuhnya."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon anjarthvk, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 18 : Dasar Pencuri

...Selamat membaca semuanya.. ...

...-----------...

...-----------...

Boris melirik Lily yang menghembuskan napas panjang, Justin merangkul tubuh Lily memberi kode bahwa wanita itu aman dengannya.

Setelah itu langkahnya berjalan menuju ke depan Kafe menghampiri Rania yang duduk sambil meniup telapak tangannya sendiri.

"Ayo Nona masuk lagi ke dalam, ada saya," Rania tidak banyak berbicara, walau sedang kesal dia juga tahu bahwa dirinya membutuhkan kehangatan.

Rania duduk kembali ke bangku yang awal tadi, tersenyum menatap kedua pria yang sedang tersenyum melihatnya, mengabaikan wanita yang bersama dengan mereka.

"Pesan saja, nanti aku yang bayar," Boris duduk di sampingnya melirik ke arah Rania yang sudah tersenyum tipis.

"Kenalin-Aku Rania Queenzhi, calon istrinya Boris," dia memperkenalkan dirinya dengan menekat kalimat 'calon istrinya Boris', pria yang berada di sampingnya berubah memerah padam.

"Victor."

"Justin, dan ini Lily."

"Kami sahabat Boris waktu di Kampus, jangan terlalu diambil hati sikap Lily. Anaknya ini memang terlalu dimanjakan oleh kami dari dulu, termasuk Boris. Dia selalu menurutinya dan membelanya walaupun salah," setelah penjelasan dari Victor, Rania beradu tatap dengan Lily yang tatapannya berubah melunak.

"Aku sudah memiliki anak, jadi tenang saja. Aku tidak akan merebutnya," pengakuan dari Lily membuat Rania membulatkan matanya. Dia kira wanita tadi masih sendiri, karena diawal sikapnya terlalu berlebihan ke Boris. Jadi, bukan salah dia berprasangka buruk pada orang baru itu.

"Maaf sudah berprasangka buruk padamu." Rania bersuara, ketiga pria itu terkejut karena baru kali ini wanita yang menurunkan egonya dan mau mengakui kesalahan seperti Rania lakukan saat ini.

"Jadi bagaimana kabar keluargamu, Li?" Boris bertanya dengan hati-hati.

"Noah mencarimu terus. Sesekali kau harus bertemu dengannya."

"Noah?" Rania kembali meminta penjelasan.

"Noah putraku berumur lima tahun. Dia lengket sekali dengan Omnya satu itu, karena selalu mendapat mainan dari dia," Lily tersenyum menatap Boris, tapi detik berikutnya melihat sengit kedua sahabatnya yang lain. "Tidak seperti Omnya yang lain, pelit sekali hanya untuk memberi jajan kepada ponakan," lanjutnya menyindir Victor dan Justin.

"Aku pikir hanya Victor yang datang." Boris memotong pembahasan Lily. Rania ikut menyimak obrolan mereka.

"Kami datang bersama, karena kebetulan ada urusan di sini, kecuali si Lily. Katanya liburan sesekali." Justin menjelaskan.

"Aku datang ada urusan bisnis, Ris. Bertemu kolega dari sini. Negara yang memiliki pasar paling banyak untuk penjualan smartpone brand milikku." Victor memiliki alasan sendiri selain menyusul sahabatnya ke Negara ini.

"Biasa.. Lily pergi, aku juga akan ikut." Justin yang memiliki alasan tidak jelas, Rania menoleh menatap Boris. Mendapat anggukkan dari pria itu, dan Rania paham akan maksud darinya.

Akhirnya mereka memesan minuman dan beberapa makanan, berbincang-bincang hingga melupakan satu hal. Minuman mereka sepertinya memiliki kadar alkohol walaupun tidak terlalu tinggi.

"Jika kamu bertemu dengan Do Woo, ajak aku bertemu dengannya Rania," celotehan Lily diambang kesadaran Rania tersenyum kecil dan mengangguk pelan.

"Aku berjanji akan mengajakmu bertemu dengannya. Kita harus datang ke konsernya," jawab Rania dengan berseru semangat dengan keadaannya yang sudah menipis.

Boris melihat Rania yang sudah tidak kondusif, mengajak sahabatnya untuk pulang dan kembali bertemu lagi lain kali.

"Jika butuh apa-apa kabari saja kita, Ris. Kita pulang masih dua minggu lagi. Kecuali jika Lily ada urusan mendadak soal Noah. Dia bersama Kakek Neneknya." Justin bersuara, Boris hanya mengangguk.

Mereka memutuskan kembali ke Hotel mereka masing-masing. Boris bersama dengan Rania, Victor sendiri, sedangkan Justin bersama dengan Lily.

...******...

Boris menggendong Rania di punggungnya sampai di Hotel. Dia telaten melepaskan sepatu dan mantelnya. Menyelimuti tubuh wanita itu, tapi detik berikutnya justru Rania meloloskan tubuhnya dari dalam selimut.

"Panas! Selimutnya buang saja.." rancu Rania sambil mencari posisi tidur yang nyaman.

Boris mengabaikannya, dia melepaskan baju dan celana panjangnya. Menyisakan celana pendek saja dengan tubuh atas tanpa pakaian.

Tiba-tiba Rania serasa ingin muntah, dia bangkit dan beranjak dari ranjang bergegas ke kamar mandi. Suara muntahan Rania terdengar jelas. Boris menghampiri wanita itu dan memijat tengkuk lehernya.

"Akhhh.. minumannya bikin mabuk. Dadaku rasanya tidak nyaman." Rania menepuk-nepuk dadanya yang terasa tidak nyaman.

Boris menghela napas, "sudah puas belum muntahnya?" Rania mengangguk, Boris meraih tubuh Rania digendongnya di depan, tubuh mereka berhadapan, dia bawa kembali tidur di atas ranjang.

"Boris.." Rania menahan lengan tangan Boris. "Jangan menikahiku karena kasihan ya. Aku suka padamu," dengan mata yang terpejam, bibir pucat, Rania mengatakan perasaannya yang sesungguhnya. "Aku lelah.. " terakhir kali Rania merancu malam ini, dengan pelukan ke guling yang wanita itu lakukan.

Boris membelai surai lembut Rania, menatap wajah polos yang sedang tertidur. Kecupan dia berikan lagi ke kening Rania. Tiba-tiba, mata Rania terbuka pelan hingga mereka saling tatap.

"Dasar pencuri." Boris membulatkan matanya panik.

...Bersambung......

Terima kasih yang sudah mampir, jangan lupa like dan komen ya. Maaf kalau bahasanya masih berantakan .. Xixixi..

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!