NovelToon NovelToon
Luka Yang Menyala

Luka Yang Menyala

Status: sedang berlangsung
Genre:Mafia / Balas Dendam / Bullying dan Balas Dendam
Popularitas:2.5k
Nilai: 5
Nama Author: Ama Apr

Mereka merampas segalanya dari Galuh Astamaya.

Harga dirinya, keluarganya, dan bahkan tempat tinggalnya.

Ketika keadilan tak berpihak padanya, dan doa hanya berbalas sunyi.

Galuh memilih jalan yang berbeda. Ia tidak lagi mencari keadilan itu.

Ia menciptakannya sendiri ... dengan tangan yang pernah gemetar. Dengan hati yang sudah remuk. Kini dalam dirinya, luka itu menyala, siap melalap orang-orang yang telah menghancurkannya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ama Apr, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 24

Lingga dan Freya berjalan berdampingan. Sesekali Lingga mencuri-curi pandang ke arah Freya.

"Oh God ... bibir Freya mungil sekali. Merah muda dan pastinya sangat lembut. Aku sudah tidak kuat ingin menyesapnya." Lingga membatin resah. Hasratnya selalu tidak bisa dikendalikan ketika dekat dengan Freya.

"Mas ..." Lingga tersentak, mengerjapkan mata dengan cepat.

"Eh, iya. Ada apa?"

"Pita dan Safwan itu sudah lama ya berpacarannya?"

Wajah Lingga langsung kelihatan masam, tapi ia tetap menjawab pertanyaan Freya. "Sudah hampir satu tahun, Freya. Dan adikku itu ... cinta banget sama Safwan. Bisa dibilang, kalau Safwan adalah cinta pertamanya Pitaloka. Tapi dulu ... Safwan tidak pernah menanggapi perasaan Pita, karena ada seorang gadis yang dicintai Safwan. Baru sekarang Safwan menanggapi perasaan Pita."

Kata-kata itu berhasil menyentil hati Freya. Gadis yang dimaksud Lingga pasti dirinya. "Mm ... kalau boleh tahu, siapa gadis itu? Orang sini atau ..." Freya menggantungkan ucapannya.

"Dia asli orang sini, Freya. Namanya Galuh Astamaya. Dia gadis yang cantik, dan manis."

Terhenyak batin Freya, tubuhnya nyaris  ambruk kalau saja ia tak menguatkan hati. "Lalu ... di mana gadis itu sekarang?"

Lingga mengedikkan bahu. "Entah lah. Ada yang bilang ... dia sudah meninggal. Dan ada yang bilang lagi ... dia pergi jauh dari desa ini. Entah mana yang benar. Aku juga nggak tahu, dan aku juga nggak peduli."

Napas Freya tertahan, bergemuruh melihat ekspresi wajah Lingga yang seolah tak punya dosa. "Mm ... kok bisa gitu sih, Mas? Memangnya apa yang terjadi pada gadis bernama Galuh itu, sampai keberadaannya tidak diketahui seperti itu?"

"Ah, maaf, Freya. Aku nggak mau bahas dia. Lagian nggak penting juga. Mending kita segera pulang. Bukannya kamu mau ke rumah sunyi."

Freya mengangguk, "Ayo, Mas."

Mereka kembali melanjutkan langkah dengan sedikit lebar.

Sampai di rumah keluarga Buana, Freya langsung berkemas. Berpamitan pada Lastri.

Dia dan Nova diantar ke rumah sunyi oleh Lingga.

Ingatan malam kelam itu berkelebatan ketika kaki Freya mulai menginjak teras depan rumah sunyi, dan nyaris meruntuhkan ketegarannya. "Kuat, Freya! Kamu harus kuat!" batinnya berusaha memberikan semangat.

"Freya ..." Tepukan halus dari Nova mendarat di bahunya.

"Ah, ya, Mbak Nova ..." Ia melirik cepat.

Nova mengedipkan matanya samar, seolah menyuruh Freya untuk fokus, jangan melamun.

"Ayo masuk, Freya. Mbak Nova!" ajak Lingga setelah membuka pintu.

Mereka bertiga pun masuk ke dalam rumah berlantai dua itu.

Sekuat tenaga, Freya mengenyahkan bayangan kelam yang mendadak tersaji di depannya. Bagai adegan drama yang dipertunjukkan secara live.

Nova yang menangkap kegelisahan di wajah Freya lekas menepuk lagi pundak wanita berusia sembilan belas tahun itu, sambil berbisik pelan. "Fokus."

Freya mengangguk berat, memfokuskan pikirannya pada tujuan utamanya, yaitu ... balas dendam.

"Freya, silakan pilih kamar yang kamu suka. Mau di lantai atas, atau di lantai bawah. Terserah kamu saja." Suara Lingga memecah kecamuk di dalam batin Freya.

"Iya, Mas. Aku lihat-lihat dulu ya. Yuk Mbak!" ajaknya sambil menggandeng tangan Nova.

"Ya, silakan. Aku tunggu di luar ya, mau nyebat," kata Lingga sambil mengeluarkan sebungkus rokok.

"Silakan, Mas."

Freya dan Nova melihat-lihat, dan pilihan Freya jatuh pada kamar yang ada di ruang tengah, sedangkan Nova memilih kamar yang ada di dekat tangga, masih di ruang tengah juga.

"Mas Gopal gimana, Mbak?" tanya Freya, rekan satu timnya itu memang tidak ikut karena tadi izin pergi ke kota.

Nova mesem, "Gopal? Gampang. Biar dia tidur di lantai atas."

"Iya, Mbak. Di lantai atas ada dua kamar. Yang salah satu kamarnya adalah tempat Lingga dulu mengambil kehormatanku," kata Freya dengan suara bergetar.

"Relaks, Fre. Jangan ingat masa kelam itu lagi. Kamu harus ingat pesan Tuan Bira ... fokus pada tujuan utama kita."

"Iya, Mbak. Aku akan fokus."

Mereka pun mulai berbenah di kamar masing-masing.

Ketukan di pintu kamar yang dipilih Freya terdengar, gadis itu menoleh cepat.

Lingga berdiri di ambang pintu, melempar senyum kecil pada gadis yang ia dambakan itu. "Boleh aku masuk?" izinnya.

"Boleh, Mas."

Senyum Lingga melebar. Kakinya mengayun dengan semangat. "Kenapa nggak pilih kamar yang di lantai atas? Kamarnya jauh lebih besar dari ini loh," ujarnya.

"Di sini saja, Mas. Biar dekat dengan Mbak Nova. Kamar yang di atas buat Mas Gopal saja," jawab Freya.

"Hm, ya, ya ..." Kepala Lingga angguk-anggukkan. "Ada yang bisa aku bantu?" lanjutnya bertanya.

"Nggak ada, Mas. Beres-beresnya udah selesai kok."

"Syukurlah."

"Iya."

Suasana hening sejenak, sebelum dering ponsel Lingga membuyarkan kesunyian itu. "Maaf, ya ... aku mau angkat telepon dulu," pamitnya.

"Silakan, Mas."

Freya duduk di tepi ranjang, menatap punggung Lingga yang membelakanginya. Lelaki itu bersandar di kusen pintu kamarnya. Berbicara serius di balik telepon entah dengan siapa.

Lalu tak lama, ia kembali menghampiri Freya. "Fre ... aku harus kembali ke Jakarta. Ada kasus baru yang harus aku tangani."

"Oh ... ya, Mas. Hati-hati ya, semoga pekerjaan Mas Lingga lancar," kata Freya mendoakan. Padahal hatinya berkata sebaliknya.

"Makasih, Freya. Aku akan segera kembali. Bye ..." Sebenarnya, Lingga berat sekali jauh dari Freya, tapi mau bagaimana lagi ... profesi yang ia geluti tidak bisa dianggap sepele.

"Bye, Mas." Freya mengantar Lingga sampai pintu depan.

Mobil Lingga pun berlalu meninggalkan rumah sunyi dan Freya langsung masuk kembali ke dalam rumah. Ia akan istirahat sebentar, sebelum nanti sore kembali ke rumah utama Zainal Buana untuk melanjutkan rencana selanjutnya.

_______

Sore itu, langit di atas rumah besar keluarga Buana tampak muram. Awan kelabu menggantung rendah, seolah ikut menampung kegelisahan yang mengendap di dalam dada Lastri.

Ia mondar-mandir di ruang tengah, jemarinya tak henti memainkan ujung blouse yang dipakainya.

Jam dinding berdetak pelan, namun setiap detiknya terasa seperti palu yang mengetuk sarafnya.

Zainal belum juga pulang.

Biasanya, meski sibuk dengan urusan politik dan pertemuan ini-itu, lelaki itu selalu memberi kabar. Sebuah pesan singkat, atau setidaknya panggilan singkat sebelum malam turun. Tapi hari ini, ponsel Lastri sunyi. Terlalu sunyi. Tadi malam, adalah terakhir kalinya sang suami mengirim pesan.

Ia berhenti di depan jendela, menyingkap gorden tipis, menatap halaman rumah yang mulai gelap. Hanya lampu taman yang menyala, menciptakan bayangan panjang di tanah. Tak ada tanda-tanda mobil suaminya akan masuk. "Kenapa Mas Zain belum pulang juga?" gumamnya pelan.

Rasa cemas yang sejak tadi malam  menggelitik, kini berubah menjadi gelombang gelap yang menekan dada.

Bayangan-bayangan buruk berkelebat lagi di pikirannya ... bayangan yang selama ini ia coba kubur rapat-rapat.

Tentang perempuan-perempuan yang mungkin menempel pada suaminya. Tentang senyum ramah Zainal pada banyak orang, termasuk para perempuan muda yang mengaguminya.

Lastri menggigit bibir. Ia membenci dirinya sendiri karena berpikir sejauh itu, namun nalurinya berkata lain. "Tidak ... Mas Zainal nggak mungkin begitu," bisiknya, mencoba menenangkan diri. Tapi suaranya terdengar rapuh.

Dari kejauhan, langkah kaki terdengar mendekat. Freya muncul dari ruang tamu. Ia tersenyum lembut, mulai memainkan peran dengan sempurna. "Selamat sore, Bu Lastri. Maaf saya datang lagi. Ada barang saya yang tertinggal di kamar tamu. Ibu kenapa terlihat gelisah sekali?" tanyanya pelan, seolah tak ingin mengganggu.

Lastri menoleh, sedikit terkejut. "Oh, Freya. Iya, saya sedikit gelisah karena menunggu suami saya yang tak kunjung pulang."

Freya melangkah mendekat, "Memangnya Pak Dewan sedang ada acara apa sampai nyaris dua hari tidak pulang?"

Lastri tersenyum tipis, "Saya juga tidak tahu, Freya. Tadi malam, dia cuma bilang nggak akan pulang karena ada urusan mendadak. Dia tidak menjelaskan secara detail. Pas tadi subuh saya telepon dia, nomornya tidak aktif. Pas siang saya coba lagi ... eh, masih tidak aktif juga. Pikiran saya kan jadi berlarian ke mana-mana, Freya. Kamu pasti tahu lah apa yang saya maksudkan ..."

Freya mengangguk, mengerti. "Tentu saja Bu. Saya sangat mengerti. Meskipun saya belum punya pasangan resmi, tapi saya juga pernah menjalin hubungan ... dan ketika pasangan sulit dihubungi ... maka pikiran buruk tentang pengkhianatan itu timbul begitu saja."

Kalimat itu terdengar sederhana, tapi seperti kunci yang membuka pintu keresahan Lastri. Ia menghela napas panjang. "Saya setuju dengan kamu, Freya. Apalagi belakangan ini ... Mas Zainal sedikit berubah. Dia jadi sering pegang ponsel terus. Malah pas ke kamar mandi pun, ponselnya selalu dibawa. Saya kan jadi overthinking, Freya."

Freya menatapnya penuh perhatian. Dalam hati, ia tersenyum tipis. Teruskan ... ceritakan semuanya.

Lastri melanjutkan keluh kesahnya. "Kadang saya berpikir ..." suara Lastri mengecil, nyaris berbisik, "Apa mungkin dia punya simpanan?"

Freya sedikit mengernyit, berpura-pura terkejut. "Ibu jangan berpikir begitu."

"Tapi feeling saya mengatakan ... kalau suami saya sedang menyembunyikan sesuatu, Freya ..." kesah Lastri.

"Bu Lastri ... kalau boleh saya memberi saran ... sesekali ... periksalah ponsel Pak Zainal untuk memastikan sangkaan Ibu."

Ketika Lastri menganggukkan kepala ... Freya menyeringai lebar di dalam hatinya. "Kehancuran keluarga Buana tidak datang dari orang luar. Tapi kehancuran itu akan datang dari kalian sendiri."

1
partini
potong aja burung nya ,kan bagus nafsu membara tapi tidak bisa
Ama Apr: haha iya
total 1 replies
partini
hemmmm tuh lobang ndowerr ya Thor 🤣🤣🤣🤣
Ama Apr: haha, kayaknya sih kk
total 1 replies
partini
waduh
Ama Apr: 😵😵😵 Wkwk
total 1 replies
partini
lanjut
Ama Apr: Siap, makasih kk Parti😘
total 1 replies
partini
tadi dapat notif belum ku buka
Ama Apr: makasih kk🫰
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!