NovelToon NovelToon
Penyesalan Zenaya

Penyesalan Zenaya

Status: tamat
Genre:Romantis / Cintapertama / Perjodohan / Tamat
Popularitas:1.4M
Nilai: 4.8
Nama Author: Kim O

Kehidupan Zenaya berubah menyenangkan saat Reagen, teman satu kelas yang disukainya sejak dulu, tiba-tiba meminta gadis itu untuk menjadi kekasihnya.

Ia pikir, Reagen adalah pria terbaik yang datang mengisi hidupnya. Namun, ternyata tidak demikian.

Bagi Reagen, perasaan Zenaya tak lebih dari seonggok sampah tak berarti. Dia dengan tega mempermainkan hati Zenaya dan menginjak-injak harga dirinya dalam sebuah pertaruhan konyol.

Luka yang diberikan Reagen membuat Zenaya berbalik membencinya. Rasa trauma yang diberikan pria itu membuat Zenaya bersumpah untuk tak pernah lagi membuka hatinya pada seorang pria mana pun.

Lalu, apa jadinya bila Zenaya tiba-tiba dipertemukan kembali dengan Reagen setelah 10 tahun berpisah? Terlebih, sebuah peristiwa pahit membuat dirinya terpaksa harus menerima pinangan pria itu, demi menjaga nama baik keluarga.

(REVISI BERTAHAP)

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kim O, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 35 : Posesif.

Aku akan datang sedikit terlambat. Tunggulah di sana, jangan ke mana-mana.

Itulah sebaris kalimat yang Reagen kirimkan pada Zenaya beberapa menit lalu, yang belum juga muncul di hadapannya sampai saat ini. Zenaya memang sengaja mengambil lembur hari ini agar bisa langsung tidur sesampainya di rumah. Sebab setelah kejadian semalam, ia terlalu malu untuk berhadapan dengan sang suami.

Zenaya menggosok kedua lengannya demi mengurangi rasa dingin yang mulai merambat ke sekujur tubuhnya.

Di lain sisi, David yang sedang berjalan menuju ke luar gedung tanpa sengaja melihat Zenaya yang tengah berdiri di luar.

"Zen!" Tanpa pikir panjang, David memutuskan untuk menghampiri Zenaya.

Zenaya kemudian menoleh ke arah sumber suara. "Dav, kamu baru mau pulang?" tanyanya.

David mengangguk. "Kamu sendiri belum pulang? Mana suamimu?" tanya David sembari menoleh ke sana kemari.

Zenaya menggeleng. "Dia datang terlambat," jawab wanita itu sambil terus menggosok-gosok kedua lengannya yang tidak terlapisi kain.

"Mana mantelmu?" tanya David lagi.

Zenaya mengangkat kedua bahunya tanpa menjawab. Namun, saat David menawarkan mantelnya untuk Zenaya, ia dengan sopan menolak.

"Kalau begitu aku antar saja. Malam semakin dingin dan kamu bisa menghubungi suamimu nanti," ucap David sembari menunjukkan raut kekhawatirannya.

"Tidak perlu, dia akan datang sebentar lagi." Zenaya kembali menolak halus tawaran pria itu.

David mengembuskan napas, sedikit terluka dengan penolakan itu, tetapi tetap berusaha terlihat baik-baik saja. "Baiklah, aku akan menemanimu selama sepuluh menit di sini, dan kalau dia belum datang juga mau tidak mau kamu harus ikut denganku."

Zenaya nampak menimbang-nimbang tawaran David sebelum akhirnya menyetujui tawaran tersebut, dan David tanpa persetujuan Zenaya segera membuka mantelnya lalu menyelimuti tubuh wanita itu.

Zenaya sontak terkejut. Namun, sebelum ia mulai bicara, David sudah memotongnya terlebih dahulu. "Hanya sampai kamu di jemput."

Keduanya pun terdiam sembari menunggu kedatangan Reagen, hingga sampai sepuluh menit kemudian pria itu belum juga muncul di sana.

Zenaya baru saja hendak mengambil ponselnya, ketika David tiba-tiba menarik tangan wanita itu. "Sudah lebih dari sepuluh menit, sebaiknya kamu ikut denganku. Udara malam seperti ini tidak baik bagi wanita hamil," ujar David tanpa memperdulikan protes Zenaya.

David pun membawa Zenaya menuju mobilnya yang terparkir tak jauh dari sana.

...***...

"Terima kasih, Dav. Maaf sudah merepotkanmu," ucap Zenaya saat mobil yang ditumpanginya tiba di lobi apartemen.

"Tidak perlu begitu, sesama teman harus saling membantu, kan? " David mengulas senyum ramah. "Sampaikan salamku untuk suamimu. Kuharap dia masih mengingatku," sambungnya.

Zenaya mengangguk dan bergegas keluar dari mobil. Setelah David benar-benar pergi ia pun segera masuk dan naik ke dalam lift menuju unitnya.

Akan tetapi, sesampainya di sana Zenaya mendapati unit apartemen tersebut dalam keadaan gelap dan kosong.

"Astaga!" Zenaya memekik kecil. Asyik mengobrol di jalan membuat wanita itu lupa mengabari kepulangannya pada Reagen.

Beberapa detik kemudian suara gebrakan pintu terdengar. Zenaya berjengit kaget ketika mendapati Reagen masuk ke dalam apartemen dengan raut wajah dingin.

"Bukankah sudah kubilang untuk tetap berada di sana dan jangan ke manapun sebelum aku datang!" seru pria itu.

"Kamu terlalu lama. Salah seorang teman menawariku pulang bersama dan aku lupa mengabarimu," jawab Zenaya jujur.

"Lupa karena terlalu asyik mengobrol di mobil dengan David?" Reagen memasang senyum dingin.

Zenaya mengernyitkan dahinya. "Kamu tahu?" tanya wanita itu heran.

"Saat mobil pria itu keluar, aku baru saja datang. Kita sebenarnya berpapasan, tapi kamu terlalu asyik melempar tawa padanya hingga tidak menyadari keberadaanku." Reagen berusaha mengontrol emosinya. Bayang-bayang wajah sang istri yang tampak bahagia saat bersama David tadi masih terus bergentayangan di dalam ingatannya.

Kenyataan bahwa Zenaya tak pernah sekalipun memberikan senyuman itu padanya, menambah luka lain di hati Reagen.

Reagen kemudian mengalihkan pandangannya pada mantel tebal yang masih tersampir di bahu Zenaya.

"Aku tak pernah ingat kamu memiliki mantel itu!" ujar Reagen.

Zenaya tersentak. Ia baru menyadari bahwa mantel milik David masih berada di tubuhnya.

"Ini milik David, aku akan mengembalikannya besok." Zenaya berbalik badan untuk masuk ke dalam kamar mandi.

"Aku tidak pernah mempermasalahkan siapapun yang pulang bersamamu selama bukan pria. Terlebih pria seperti David!" Reagen memberi ultimatum tegas.

Zenaya sontak menghentikan langkahnya. "Memang ada apa dengan David? Kamu tak bisa melarangku bergaul dengan siapapun. Aku sudah mengenal David lumayan lama dan kami berteman baik hingga kini."

Mendengar pembelaan Zenaya, Reagen tertawa sinis. "Teman apa yang memberikan ciuman di kening saat mengantar pulang."

Reagen ternyata sedang mengungkit kejadian beberapa bulan lalu, saat David mengantarnya pulang sehabis makan malam di taman. Pria itu mendaratkan sebuah kecupan ringan di dahi Zenaya dan Reagen melihatnya jelas dari dalam mobil.

"Itu dulu. Sekarang dia tahu aku sudah menikah." Zenaya mencoba memberi alasan, walau jauh di dalam lubuk hatinya, entah mengapa ia merasa bersalah pada Reagen.

"Tidak semudah itu seorang pria melupakan wanita yang dicintainya." Ada sorot mata lain yang tampak saat Reagen mengatakan hal demikian.

"Aku tak ingin bertengkar denganmu, dan dia tidak mencintaiku!" tegas Zenaya.

"Dia jelas menyukaimu, mengagumimu, mencintaimu!" Reagen tampak frustrasi saat berkata demikian.

"Itu tidak benar!" sentak Zenaya. Ia tidak terima teman baiknya difitnah sedemikian rupa. David jelas-jelas hanya menganggap Zenaya tak lebih dari seorang teman baik sekaligus adik.

"Apa buktinya? Berikan sedikit contoh saja atas sikapnya selama ini yang tidak menunjukkan perasaannya padamu?" Reagen mengajukan pertanyaan telak yang langsung membuat Zenaya bungkam seketika.

"Semua yang dia lakukan padamu adalah bentuk perasaan cintanya, Zenaya Walker!" Reagen menekan nama wanita itu untuk memberi penegasan padanya.

Zenaya tertunduk sejenak. Sebenarnya ia bukan tidak menyadari hal tersebut. Akan tetapi, bagaimanapun juga Zenaya tetap ingin berteman baik dengan David, dan ia yakin David tidak akan berbuat lebih. Apa lagi kini dirinya telah bersuami.

"Kamu terlalu banyak ikut campur urusanku. Sikap lunak yang aku tunjukan ternyata membuatmu merasa memiliki hak atas aku." Zenaya mencoba tetap bersikap jahat seperti biasa.

"Aku memang memiliki hak atas dirimu, Zenaya!" seru Reagen.

"Kamu tidak memiliki itu! Aku bukan bonekamu!" pekik wanita itu sembari menatap Reagen tajam. Perasaan marah tiba-tiba meluap dalam dirinya.

"Aku memilikinya!" Reagen berjalan menghampiri Zenaya.

Sorot matanya yang dingin sontak membuat ketakutan hadir mengusik relung Zenaya. Wanita itupun memundurkan langkahnya. "Menjauh dariku!"

"Aku suamimu!" Bentak pria itu tanpa sadar. Refleks ia menarik Zenaya dan mencium bibirnya.

Zenaya terbelalak. Ingatan akan peristiwa beberapa waktu lalu tiba-tiba kembali berlalu-lalang di benaknya. Dengan sisa-sisa tenaga yang ada ia mendorong Reagan karena takut pria itu akan berlaku kasar kembali. Namun, ternyata tidak demikian. Alih-alih kasar, Reagen malah dengan memeluk lembut pinggang Zenaya sembari melempar mantel David yang masih tersampir di bahunya tanpa melepaskan ciuman.

Jantung Zenaya berdegup keras.

Tak lama, Reagen pun melepaskan ciuman mereka setelah memagut sedikit bibir Zenaya. Kening pria itupun menempel pada keningnya.

"Aku mencintaimu, Zenaya. Tak bisakah kamu melihatnya sekarang? Semua salah yang kulakukan karena aku sangat mencintaimu," ucap Reagen lirih sembari memejamkan matanya.

Zenaya bungkam. Jangankan membuka mulut, bergerak sedikit saja ia tak mampu melakukannya.

"Hilangkan traumamu, Zen. Aku akan menebusnya dengan cara apa pun." Mata Reagen perlahan terbuka.

Zenaya menatap lurus-lurus pria itu dan baru menyadari keindahan warna mata sang suami dari jarak yang sangat dekat ini.

Reagen perlahan memegang perut Zenaya yang masih tampak rata lalu mengelusnya lembut. Dengan hati berdebar ia kini benar-benar menyadari bahwa ada kehidupan lain yang sedang tumbuh di sana.

Detak jantung Zenaya mendadak tak karuan. Ia ingin sekali bergerak untuk menolak perbuatan Reagan. Namun, tubuhnya sama sekali enggan menurut.

Reagen pun kembali menempelkan bibirnya pada wanita itu. "Aku mencintaimu, Zenaya. Kamu milikku seutuhnya dan aku tidak akan pernah membiarkanmu lepas dari sisiku."

Zenaya terlena, terlebih pada rasa manis dari bibir suaminya yang kini semakin berani menjelajahi mulutnya. Namun, kesadaran Zenaya tiba-tiba bangkit, saat Reagen secara posesif memeluk tubuh wanita itu dan mulai meraihnya lebih dalam.

Seolah mendapatkan kembali kekuatannya, Zenaya pun mendorong tubuh dari Reagen hingga nyaris terjatuh lalu pergi meninggalkan apartemen setelah mengambil jaketnya sendiri.

"Biarkan aku sendiri. Jangan cari aku!"

"Sial" Seolah sadar akan perbuatannya, Reagen pun memaki dirinya sendiri.

1
Rahma Sari
awal baca ceritanya emosi oas mau ending gak kuat aku mewek...
Mei Saroha
loh. bukannya zenaya anak kelas 1 ? koq sebulan pacaran lgs kelulusan??
Hiatus: pelan coba ka diulang bacanya😊
total 1 replies
🤎𝙏𝙚́𝙩𝙚̇𝙝 𝙎𝙪𝙣𝙙@✿︎シ︎
lah udh tamat aja padahal belum lahiran.
🤎𝙏𝙚́𝙩𝙚̇𝙝 𝙎𝙪𝙣𝙙@✿︎シ︎
kenapa selalu maen rahasia²an segala sh, kalau mau gitu lbh baik ga usah menikah drpd terbuka jg takut krn alasan menyakiti itu konyol justru krn rahasia kamu nanti bakal jd semua orang lbh trsakiti rey bahkan mgkn saling menyalahkan... ini bkn hanya tntg hidupmu sendiri tp jg istri n jg klwrgamu yg harus kamu pikirkan..
🤎𝙏𝙚́𝙩𝙚̇𝙝 𝙎𝙪𝙣𝙙@✿︎シ︎
aduuhh thor baru jg bahagia kok malah ditambah lg ujiannya baru sedikit brnafas lega padahal kehidupan zen, rey
🤎𝙏𝙚́𝙩𝙚̇𝙝 𝙎𝙪𝙣𝙙@✿︎シ︎
akhirnya kebahagiaan datang lg pd kalian berdua, semoga langgeng trs jdkan pelajaran kedepannya utk lbh waspada n saling terbuka.
🤎𝙏𝙚́𝙩𝙚̇𝙝 𝙎𝙪𝙣𝙙@✿︎シ︎
𝙙𝙪𝙪𝙝𝙝𝙝 𝙠𝙖𝙣𝙙𝙪𝙣𝙜𝙖𝙣 𝙯𝙚𝙣 𝙜𝙞𝙢𝙖𝙣𝙖 𝙩𝙪𝙝 𝙙𝙞 𝙩𝙞𝙢𝙥𝙖 𝙩𝙧𝙨 𝙢𝙖𝙨𝙖𝙡𝙖𝙝 𝙟𝙙 𝙠𝙖𝙨𝙞𝙖𝙣... 𝙢𝙜 𝙖𝙟𝙖 𝙜𝙖 𝙖𝙥𝙖2
🤎𝙏𝙚́𝙩𝙚̇𝙝 𝙎𝙪𝙣𝙙@✿︎シ︎
𝙨𝙚𝙩𝙪𝙟𝙪 𝙠𝙖𝙩𝙖 𝙯𝙚𝙣𝙖𝙮𝙖, 𝙝𝙖𝙧𝙪𝙨𝙣𝙮𝙖 𝙧𝙚𝙮 𝙜𝙖 𝙙𝙞𝙖𝙢 𝙨𝙟 𝙗𝙚𝙧𝙖𝙚𝙣𝙩𝙪𝙝𝙖𝙣 𝙙𝙜𝙣 𝙡𝙚𝙖 𝙙𝙜𝙣 𝙖𝙡𝙖𝙨𝙖𝙣 𝙙𝙞 𝙖𝙣𝙘𝙖𝙢 𝙠𝙧𝙣 𝙩𝙖𝙠𝙪𝙩 𝙠𝙚𝙨𝙖𝙡𝙖𝙝𝙣𝙣𝙮𝙖 𝙙𝙞𝙗𝙤𝙣𝙜𝙠𝙖𝙧 𝙩𝙥 𝙠𝙖𝙢𝙪 𝙨𝙚𝙣𝙙𝙞𝙧𝙞 𝙟𝙪𝙨𝙩𝙧𝙪 𝙢𝙖𝙡𝙖𝙝 𝙢𝙚𝙣𝙖𝙢𝙗𝙖𝙝 𝙢𝙖𝙨𝙖𝙡𝙖𝙝 𝙢𝙖𝙠𝙞𝙣 𝙗𝙚𝙨𝙖𝙧 𝙙𝙜𝙣 𝙢𝙚𝙣𝙚𝙧𝙞𝙢𝙖 𝙗𝙚𝙜𝙞𝙩𝙪 𝙨𝙟 𝙙𝙞 𝙨𝙚𝙣𝙩𝙪𝙝 𝙛𝙞𝙨𝙞𝙠 𝙨𝙢 𝙡𝙚𝙖 𝙗𝙪𝙠𝙖𝙣𝙣𝙮𝙖 𝙢𝙖𝙡𝙖𝙝 𝙨𝙚𝙢𝙖𝙠𝙞𝙣 𝙢𝙚𝙣𝙤𝙡𝙖𝙠 𝙠𝙧𝙣 𝙨𝙖𝙩𝙪 𝙠𝙚𝙖𝙖𝙡𝙖𝙝𝙖𝙣 𝙩𝙥 𝙢𝙖𝙡𝙖𝙝 𝙩𝙧𝙨 𝙢𝙚𝙣𝙖𝙢𝙗𝙖𝙝 𝙠𝙚𝙨𝙖𝙡𝙖𝙝𝙖𝙣 𝙡𝙖𝙞𝙣 𝙨𝙚𝙙𝙖𝙣𝙜𝙠𝙖𝙣 𝙙𝙜𝙣 𝙞𝙖𝙩𝙧𝙞𝙢𝙪 𝙠𝙢 𝙢𝙚𝙣𝙟𝙖𝙪𝙝 𝙨𝙜𝙣 𝙖𝙡𝙖𝙨𝙖𝙣 𝙧𝙨 𝙗𝙚𝙧𝙨𝙖𝙡𝙖𝙝 𝙜𝙖 𝙢𝙖𝙪 𝙣𝙮𝙚𝙣𝙩𝙪𝙝 𝙙𝙖𝙣 𝙢𝙚𝙢𝙗𝙚𝙣𝙩𝙖𝙠𝙣𝙮𝙖 𝙠𝙖𝙣 𝙜𝙖 𝙢𝙖𝙨𝙪𝙠 𝙖𝙠𝙖𝙡 𝙖𝙡𝙖𝙨𝙖𝙣𝙣𝙮𝙖
🤎𝙏𝙚́𝙩𝙚̇𝙝 𝙎𝙪𝙣𝙙@✿︎シ︎
𝙝𝙖𝙙𝙚𝙪𝙪𝙝𝙝 𝙗𝙖𝙧𝙪 𝙟𝙜 𝙗𝙖𝙞𝙠𝙖𝙣 𝙨𝙪𝙙𝙖𝙝 𝙡𝙚𝙣𝙖 𝙟𝙚𝙗𝙖𝙠𝙖𝙣 𝙡𝙚𝙖 𝙨𝙖𝙟𝙖 𝙧𝙚𝙮
🤎𝙏𝙚́𝙩𝙚̇𝙝 𝙎𝙪𝙣𝙙@✿︎シ︎
𝙬𝙖𝙙𝙪𝙪𝙝𝙝 𝙠𝙖𝙮𝙖𝙠𝙣𝙮𝙖 𝙡𝙚𝙖 𝙗𝙞𝙠𝙞𝙣 𝙪𝙡𝙖𝙝 𝙙𝙚𝙝 𝙙𝙜𝙣 𝙨𝙚𝙣𝙜𝙖𝙟𝙖 𝙢𝙚𝙣𝙟𝙚𝙗𝙖𝙠 𝙧𝙬𝙖𝙜𝙚𝙣 𝙩𝙙𝙧 𝙢𝙜𝙠𝙣🤔
🤎𝙏𝙚́𝙩𝙚̇𝙝 𝙎𝙪𝙣𝙙@✿︎シ︎
𝙝𝙢𝙢𝙢 𝙪𝙣𝙩𝙪𝙣𝙜 𝙛𝙧𝙖𝙣𝙨 𝙗𝙚𝙧𝙩𝙚𝙢𝙪 𝙤𝙧𝙖𝙣𝙜 𝙗𝙖𝙞𝙠.👍
🤎𝙏𝙚́𝙩𝙚̇𝙝 𝙎𝙪𝙣𝙙@✿︎シ︎
𝙖𝙥𝙖𝙠𝙖𝙝 𝙞𝙩𝙪 𝙮𝙜 𝙖𝙠𝙖𝙣 𝙟𝙙 𝙟𝙤𝙙𝙤𝙝𝙣𝙮𝙖 𝙛𝙧𝙖𝙣𝙨.🤭
🤎𝙏𝙚́𝙩𝙚̇𝙝 𝙎𝙪𝙣𝙙@✿︎シ︎
𝙖𝙮𝙤𝙤 𝙛𝙧𝙖𝙣𝙨 𝙗𝙚𝙧𝙟𝙪𝙖𝙣𝙜 𝙗𝙪𝙖𝙩 𝙠𝙖𝙗𝙪𝙧 𝙗𝙞𝙖𝙧 𝙗𝙨 𝙣𝙜𝙪𝙣𝙜𝙠𝙖𝙥𝙞𝙣 𝙟𝙜 𝙨𝙞𝙖𝙥𝙖 𝙙𝙖𝙡𝙖𝙣𝙜 𝙥𝙚𝙢𝙗𝙪𝙖𝙩 𝙢𝙖𝙨𝙖𝙡𝙖𝙝
🤎𝙏𝙚́𝙩𝙚̇𝙝 𝙎𝙪𝙣𝙙@✿︎シ︎
𝙯𝙚𝙣𝙖𝙮𝙖 𝙠𝙚𝙗𝙞𝙖𝙨𝙖𝙖𝙣 𝙨𝙪𝙙𝙖𝙝 𝙩𝙖𝙪 𝙙𝙡𝙢 𝙣𝙖𝙝𝙖𝙮𝙖 𝙢𝙨𝙝 𝙗𝙨 𝙗𝙞𝙡𝙖𝙣𝙜 𝙟𝙜𝙣 𝙠𝙖𝙨𝙞𝙝 𝙩𝙖𝙪 𝙨𝙪𝙖𝙢𝙞𝙢𝙪 𝙮𝙜 𝙗𝙣𝙧 𝙨𝙟 𝙯𝙚𝙣 𝙠𝙚𝙨𝙚𝙡𝙖𝙢𝙖𝙩𝙖𝙣 𝙢𝙪 𝙙𝙡𝙢 𝙗𝙖𝙝𝙖𝙮𝙖
🤎𝙏𝙚́𝙩𝙚̇𝙝 𝙎𝙪𝙣𝙙@✿︎シ︎
𝙣𝙖𝙝 𝙠𝙖𝙣 𝙜𝙖𝙧𝙖2 𝙠𝙚 𝙚𝙜𝙤𝙞𝙨𝙖𝙣 𝙠𝙖𝙢𝙪 𝙧𝙚𝙮, 𝙯𝙚𝙣 𝙙𝙖𝙣 𝙗𝙖𝙮𝙞𝙣𝙮𝙖 𝙟𝙙 𝙙𝙖𝙡𝙖𝙢 𝙗𝙖𝙝𝙖𝙮𝙖 𝙠𝙧𝙣 𝙨𝙩𝙚𝙧𝙨𝙨
🤎𝙏𝙚́𝙩𝙚̇𝙝 𝙎𝙪𝙣𝙙@✿︎シ︎
𝙡𝙖𝙜𝙞𝙖𝙣 𝙙𝙧 𝙖𝙬𝙖𝙡 𝙝𝙖𝙧𝙪𝙨𝙣𝙮𝙖 𝙠𝙖𝙢𝙪 𝙩𝙚𝙧𝙗𝙪𝙡𝙖 𝙨𝙢 𝙧𝙚𝙮, 𝙯𝙚𝙣 𝙖𝙥𝙖 𝙡𝙜 𝙢𝙖𝙨𝙖𝙡𝙖𝙝 𝙥𝙞𝙝𝙖𝙠 𝙠𝙚𝙩𝙞𝙜𝙖 𝙮𝙜 𝙩𝙚𝙧𝙤𝙗𝙨𝙚𝙨𝙞 𝙥𝙖𝙙𝙖𝙢𝙞
🤎𝙏𝙚́𝙩𝙚̇𝙝 𝙎𝙪𝙣𝙙@✿︎シ︎
𝙠𝙚𝙣𝙖𝙥𝙖 𝙜𝙖 𝙟𝙪𝙟𝙪𝙧 𝙨𝙟 𝙯𝙚𝙣, 𝙠𝙖𝙢𝙪 𝙨𝙪𝙙𝙖𝙝 𝙢𝙚𝙣𝙞𝙠𝙖𝙝 𝙝𝙖𝙧𝙞𝙖𝙣𝙮𝙖 𝙩𝙚𝙧𝙗𝙪𝙠𝙖 𝙨𝙢 𝙨𝙪𝙖𝙢𝙞 𝙠𝙧𝙣 𝙠𝙖𝙡𝙖𝙪 𝙩𝙚𝙧𝙟𝙖𝙙𝙞 𝙨𝙚𝙖𝙪𝙖𝙩𝙪 𝙨𝙢 𝙠𝙖𝙢𝙪 𝙥𝙖𝙨𝙩𝙞 𝙧𝙚𝙖𝙜𝙚𝙣 𝙮𝙜 𝙗𝙖𝙠𝙖𝙡 𝙙𝙞𝙨𝙖𝙡𝙖𝙝𝙠𝙖𝙣
🤎𝙏𝙚́𝙩𝙚̇𝙝 𝙎𝙪𝙣𝙙@✿︎シ︎
𝙮𝙖 𝙖𝙢𝙥𝙮𝙮𝙪𝙪𝙪𝙪𝙣𝙣𝙣 𝙩𝙚𝙧𝙣𝙮𝙖𝙩𝙖 𝙚𝙝 𝙩𝙚𝙧𝙣𝙮𝙖𝙩𝙖 𝙘𝙞𝙣𝙩𝙖 𝙥𝙙 𝙥𝙖𝙣𝙙𝙖𝙣𝙜𝙖𝙣 𝙥𝙚𝙧𝙩𝙖𝙢𝙖 𝙙𝙞 𝙥𝙖𝙣𝙩𝙞 𝙩𝙤𝙤𝙝𝙝 𝙧𝙚𝙖𝙜𝙚𝙣 𝙥𝙙 𝙯𝙚𝙖𝙣 𝙨𝙖𝙢𝙖 𝙨𝙚𝙥𝙚𝙧𝙩𝙞 𝙖𝙡𝙚𝙭... 𝙘𝙞𝙣𝙩𝙖 𝙩𝙪𝙢𝙗𝙪𝙝 𝙙𝙞𝙖𝙣𝙩𝙞 𝙖𝙨𝙪𝙝𝙖𝙣.🤭🤭
🤎𝙏𝙚́𝙩𝙚̇𝙝 𝙎𝙪𝙣𝙙@✿︎シ︎
𝙬𝙖𝙙𝙪𝙪𝙝𝙝 𝙟𝙜𝙣2 𝙣𝙖𝙩𝙖𝙡𝙞𝙚 𝙟𝙤𝙙𝙤𝙝𝙣𝙮𝙖 𝙖𝙣𝙙𝙧𝙮𝙖𝙣.😄
🤎𝙏𝙚́𝙩𝙚̇𝙝 𝙎𝙪𝙣𝙙@✿︎シ︎
𝙨𝙖𝙙𝙖𝙧𝙡𝙖𝙝 𝙖𝙡𝙚𝙭 , 𝙯𝙚𝙣𝙖𝙮𝙖 𝙨𝙪𝙙𝙖𝙝 𝙢𝙚𝙣𝙞𝙠𝙖𝙝 𝙟𝙙 𝙡𝙖𝙥𝙖𝙣𝙜𝙠𝙖𝙣 𝙝𝙖𝙩𝙞𝙢𝙪 𝙪𝙩𝙠 𝙜𝙖 𝙣𝙜𝙚𝙜𝙖𝙣𝙜𝙜𝙪𝙣𝙮𝙖 𝙨𝙪𝙖𝙩𝙪 𝙨𝙖𝙖𝙩 𝙠𝙖𝙢𝙪 𝙥𝙖𝙨𝙩𝙞 𝙢𝙚𝙣𝙙𝙖𝙥𝙖𝙩𝙠𝙖𝙣 𝙥𝙚𝙣𝙜𝙜𝙖𝙣𝙩𝙞𝙣𝙮𝙖
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!