Dua keluarga dan satu janji masa lalu. Ach. Valen Adiwangsa dan Milana Stefani Hardianto adalah potret anak muda sempurna; mengelola perusahaan, membangun usaha mandiri, sambil berjuang di semester akhir kuliah mereka. Namun, harmoni yang mereka bangun lewat denting unik Gitar Piano terancam pecah saat sebuah perjodohan direncanakan secara sepihak oleh orang tua mereka.
Segalanya menjadi rumit ketika Oma Soimah, pemegang kekuasaan tertinggi keluarga Hardianto, pulang dengan sejuta prinsip dan penolakan. Baginya, cinta tidak bisa didikte oleh janji dua sahabat lama. Di tengah tekanan skripsi dan ambisi keluarga, Valen harus membuktikan bahwa dirinya lebih dari sekadar "pilihan orang tua".
Mampukah nada-nada yang ia petik meluluhkan hati sang Oma yang tak mengenal kata kompromi?
Ataukah perjodohan ini justru menjadi akhir dari melodi yang baru saja dimulai?
Yuk kisah cinta Mila dan Valen🥰❤️
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Awan Tulis, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Part 34 - Pedoman Istri Selalu Benar
Arbil duduk di sisi Tante Wika sedang duduk bersama Oma dan Bunda Selfi, sementara Zahra duduk di sisi Tante Dewi. Mila baru saja tiba dari dapur dan duduk di sebelah Zahra.
Tak lama, Ayah Faul dan Valen turun dari ruang kerja ayah Faul.
"Nah ini dia, pangeran Mila," celetuk Zahra.
"Ohooo! Jadi... ini Bang Valen?" Arbil memulai percakapan dengan nada menyelidik yang dibuat-buat. "Ganteng sih, tapi kayaknya lebih galak dari dosen pembimbingku di kampus ya?"
Zahra langsung memukul lengan Arbil keras-keras. "Heh, emang dia itu pembimbing privatnya Mila, Bil! Kamu kudet banget sih. Gue yang di luar negeri aja denger beritanya."
Arbil terbelalak, lalu tertawa renyah. "Waduh! Serius? Wah, Kak Mila... kamu beneran strong ya. Bisa-bisanya mau tunangan sama orang yang hobinya nyoret-nyoret skripsi kamu. Apa nggak takut pas nanti sudah sah, tiap mau makan ditanya dulu, 'Nasi ini sudah sesuai pedoman umum atau belum?'"
Mila langsung melempar bantal kursi ke arah Arbil. "Arbil! Mulutnya ya, minta dikasih cabe deh lo!"
Valen hanya tersenyum tipis, ia melipat tangan di dada dengan tenang. "Tenang aja, Bil. Kalau urusan rumah, saya nggak pakai pedoman skripsi. Saya pakai pedoman 'istri selalu benar'."
"GOKILLL!" teriak Zahra heboh sambil bertepuk tangan. "Kak Valen ternyata sudah lulus mata kuliah Merayu Wanita ya!"
"Ekhm. Oma, Ayah, Bunda, Tante, kalau begitu Valen mau pamit pulang dulu, ya. Papa dan Mama pasti sudah nunggu di rumah," ucap Valen sopan sambil menyalami satu per satu orang tua yang ada di sana.
Mila mengantar Valen sampai ke depan teras. Namun, baru saja mereka berdiri berdua di bawah lampu teras, Zahra dan Arbil sudah nongol di balik jendela kaca, menempelkan wajah mereka ke kaca seolah-olah sedang menonton siaran langsung.
"Duh, Kak... mereka berdua bener-bener ya," keluh Mila malu.
Valen menoleh ke belakang, melihat Arbil yang memberikan gerakan jempol ke arahnya, sementara Zahra sibuk membentuk simbol hati dengan jari-jarinya.
"Nggak apa-apa, Mil. Justru seru," balas Valen. Ia meraih tangan Mila, mengusapnya lembut dengan ibu jari. "Malam ini tidur yang nyenyak. Jangan begadang cuma buat nanggepin hal receh dari Zahra atau Arbil. Simpan tenaga buat lusa."
"Iya, Kak. Kakak juga hati-hati di jalan ya," jawab Mila tulus.
Saat Valen sudah masuk ke dalam mobil dan perlahan keluar dari pagar, Arbil langsung berlari keluar teras dan berteriak, "BANG VALEN! HATI-HATI! JANGAN SAMPAI KANGEN MILA SEPANJANG JALAN YA! NTAR NABRAK!"
Zahra ikut keluar sambil tertawa terbahak-bahak. "KAK VALEN! JANGAN LUPA MIMPIIN MILA YANG LAGI KANGEN KAMU YA!"
Mila hanya bisa menutup wajahnya dengan kedua tangan, merasa sangat malu tapi di saat yang sama hatinya terasa hangat. Ia tidak menyangka kehadiran Zahra dan Arbil akan membuat suasana malam ini menjadi sedemikian ceria.
Sementara di dalam rumah, Oma Soimah memperhatikan ketiga cucunya yang sedang saling goda itu dari kejauhan. Sebuah senyum puas terukir di wajahnya.
"Wika, Selfi, Faul, Dewi... lihat mereka," bisik Oma. "Sudah lama rumah ini tidak seramai ini karena tawa anak-anak. Besok malam, tawa itu akan berubah jadi tangis haru. Pastikan semuanya siap tanpa ada yang bocor sedikit pun."
"Aman, Bu," jawab Bunda Selfi mantap. "Semua persiapan sudah rapi. Besok pagi Mila akan kami bawa ke spa seharian supaya dia tidak curiga dengan dekorasi di dalam yang akan mulai berubah jadi pelaminan."
_________
Ditunggu part selanjutnya ya Guys
Love you All ❤️