'Betapa kejamnya dunia pada seorang wanita yang belum bergelar ibu.'
Zahra sudah menikah dengan Aditya selama tiga tahun. Namun masih belum dipercaya memiliki seorang anak.
Meskipun belum juga hamil, tapi Zahra bersyukur Aditya dan keluarganya tidak mempermasalahkan hal itu. Zahra merasa hidupnya sempurna dikelilingi oleh orang-orang yang menyayanginya.
Tapi takdir berkata lain, suatu hari ia mengetahui bahwa Aditya akan menikah dengan Nadia, teman masa kecil Aditya karena Nadia hamil.
Rasa marah dan kecewa melebur jadi satu dalam hati Zahra. Ia mulai mempertanyakan keadilan dunia.
Mampukah Zahra mengobati hatinya dan menata lagi hidupnya atau ia tetap menggenggam cinta yang menyakitkan tersebut ?
..
Hay readers kesayangan Author, Author kembali lagi nih dengan tema berbeda dari novel sebelumnya. Terus kasih dukungan buat Author ya. Silahkan dikoreksi jika ada salah.
Mohon bacanya tidak di skip-skip ya. Makasih 🙏🫶🤩
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aida, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Periksa kandungan
Hampir tiga puluh menit Nadia menghabiskan waktu dengan menangis. Melupakan jika ia sedang hamil dan tidak boleh terlalu stres. Perempuan itu meraung dengan sengaja agar Aditya mendengarnya dan keluar dari kamar. Berharap meminta maaf padanya, memeluknya dan mengatakan jika ia menyesal sudah bersikap dingin selama ini.
Namun semua itu hanya bayangannya semata. Tidak terjadi apa-apa bahkan hingga air matanya mengering.
Dengan hati hancur Nadia mengambil ponselnya dan menelfon mamanya untuk mengantarnya ke Rumah Sakit.
"Bahkan tangis kesedihan ku sekarang sudah tidak berharga lagi dimata kamu, Aditya. Aku sungguh tidak berharga," kata Nadia lirih. Tenggorokannya terasa kering, dadanya sesak memendam marah yang begitu besarnya.
Dengan perlahan Nadia bangkit menuju dapur sekedar mengambil air untuk membasahi tenggorokan nya. Menangisi Aditya sama sekali tidak ada hasilnya.
"Apa Aditya pingsan ? aku menangis dengan keras tapi sama sekali tidak membukakan pintu," katanya masih bersedih.
Lalu ia memutuskan menunggu mamanya di teras saja agar segera berangkat. Sepertinya ia sudah melewati nomor antriannya.
Dua puluh menit menunggu akhirnya Mama Rosa datang bersama sopir. Tanpa bertanya apapun ia sudah mengerti apa yang terjadi pada putri semata wayangnya itu. Mata yang sembab sudah menjelaskan apa yang baru saja terjadi.
"Apa Aditya memarahi kamu lagi ?" tanya Mama Rosa dengan lembut seraya mengangkat dagu Nadia.
Nadia tidak menjawab. Ia hanya menggeleng pelan. Rasanya ia lelah namun ia tidak tau apa yang membuatnya lelah.
"Dia tidak mau mengantar kamu ke Rumah Sakit ?" tanya Mama Rosa lagi dan kali ini dijawab dengan anggukan kepala.
Terdengar helaan nafas berat dari Mama Rosa. Ia tidak heran jika hal seperti ini akan sering terjadi pada pernikahan putrinya. Penolakan akan selalu di dapatkan nya sebab menjadi orang ketiga dalam hubungan Aditya dan Zahra sebelumnya.
Mulut Mama Rosa terkunci rapat. Tidak mau membahas hal yang sama seperti sebelumnya. Ia selalu menasehati Nadia untuk tidak mengganggu rumah tangga Aditya dan Zahra sebab ia tau jika Nadia memendam cinta pada Aditya sejak lama.
Dan hamilnya Nadia pun, ia menduga karena disengaja. Tapi ungkapan itu masih terkunci di hatinya. Tidak sampai hati untuk menanyakan secara langsung pada Nadia.
"Tidak apa-apa. Tidak usah sedih. Mama bisa menemani kamu. Dulu kan Mama bilang hal seperti ini pasti akan terjadi jika kamu menikah dengan Aditya. Dan akhirnya.."
"Ma, sudahlah. Aku pusing. Tolong Mama jangan menambah sakit kepalaku lagi," kata Nadia dengan nada tinggi.
Mama Rosa menghentikan ucapannya. Menatap Nadia dengan kesal juga tapi akhirnya ia diam tidak bicara lagi.
"Ma, maafin aku. Aku tidak bermaksud marah ke Mama. Aku cuma lelah," kata Nadia merasa menyesal. Ia menggenggam kedua tangan Mama Rosa dan menciumnya. Kemudian menangis di pelukan Mama Rosa.
"Hiks..hiks..hiks.. Aku lelah, Ma. Aditya tidak pernah mempedulikan ku. Setiap hari dia hanya bekerja dan pulang malam dalam keadaan mabuk. Jarang makan masakan ku dan selalu berteriak memanggil-manggil Zahra. Aku harus apa Ma..." tangis Nadia tidak bisa dibendung lagi.
Sekesal-kesalnya Mama Rosa ia tetap menerima Nadia dalam pelukannya. Tak urung juga ia ikut menangis seolah bisa merasakan kesedihan yang Nadia alami.
"Mama tidak tau, sayang. Sejak awal kita semua tau kalau Aditya begitu mencintai Zahra meskipun mereka belum diberi keturunan. Bukannya mengecilkan hati kamu, tapi kalau memang Aditya mencintai kamu atau setidaknya sedikit saja menyukai kamu dia pasti sudah mengungkapkannya sejak lama," kata Mama Rosa.
Ia ingin membuka mata Nadia jika apa yang ia lakukan tidak sepenuhnya benar. Meminta pertanggungjawaban Aditya memang harus tapi itu juga menyakiti hati Zahra.
"Lalu, apa aku harus diam saja menanggung aib ini dan melihat Aditya tertawa bersama wanita lain. Begitu ?" tanya Nadia dengan nada tinggi lagi sembari menunjuk perutnya.
"Astaghfirullah, sayang. Jangan menyebut anak kamu aib. Itu tidak baik," tegur Mama Rosa hingga membuat Nadia semakin kencang menangis nya.
Melihat Nadia yang tidak bisa diajak bicara baik-baik akhirnya membuat Mama Rosa memilih diam. Percuma juga menasehati orang yang merasa selalu benar.
..
Nadia harus menunggu satu pasien lagi yang berada di dalam ruang pemeriksaan sebab ia sudah tertinggal satu nomor.
"Ma, kira-kira anakku laki-laki atau perempuan ya. Dua kali USG tidak kelihatan jenis kelaminnya," kata Nadia. Kini wajahnya mulai dihiasi sedikit senyum dan Mama Rosa suka itu.
"Eemm kalau dilihat dari bentuk perut kamu kayaknya perempuan deh. Soalnya dulu Mama juga bulat seperti ini saat hamil kamu," balas Mama Rosa.
"Yang benar ma ? tapi apapun itu, aku berharap dia selalu sehat," ungkap Nadia.
Tidak lama pasien yang di dalam sudah keluar. Nama Nadia dipanggil dan ia masuk bersama dengan Mama Rosa.
Seorang Dokter wanita mengajaknya bicara lebih dan bertanya apa ada keluhan yang Nadia rasakan. Setelah menjawab beberapa pertanyaan Dokter, Nadia dibantu oleh perawat naik keatas ranjang untuk melakukan USG.
"Semoga kali ini si dedek tidak malu-malu ya, bunda" kata Dokter.
"Iya, Dokter. Semoga kali ini terlihat," kata Nadia sangat antusias.
Mama Rosa. Tersenyum kecil melihat kebahagiaan Nadia yang tidak bisa disembunyikan. Ia berharap putrinya selalu bahagia dan ini adalah terakhir kali ia melakukan kesalahan pada orang lain.
"Dedek nya perempuan ya, bunda. Dia sudah tidak malu lagi. Semua organnya lengkap dan sedang berkembang. Konsumsi vitamin dan makanan sehat serta hindari stres agar bayi lahir selamat dan sempurna," pesan Dokter.
"Iya, Dokter. Terima kasih"
Nadia keluar bersama Mama Rosa setelah semua pemeriksaan selesai.
"Kamu mau kemana lagi ? mumpung kita lagi diluar," tanya Mama Rosa.
"Aku mau makan sushi Ma.." jawab Nadia.
"Hei tidak boleh. Wanita hamil tidak boleh makan sushi," kata Mama Rosa tegas.
"Tapi aku benar-benar ingin, Ma. Sudah lama aku tidak makan itu," rengek Nadia. Tapi Mama Rosa bersikeras agar Nadia tidak memakannya Dan menjelaskan bahaya nya. Bahkan Mama Rosa sampai mencarikan informasi di internet agar Nadia percaya.
Hingga akhirnya Nadia menurut dengan wajah yang di tekuk. Begitulah Nadia, dia terbiasa menerima semua keinginannya sejak dulu. Hingga merasa apa yang diinginkannya berhak dimilikinya.
"Baiklah, aku tidak akan makan sushi selama hamil," katanya cemberut.
Mama Rosa hanya bisa terdiam lagi dan lagi. Lalu ia menawarkan makanan lain barangkali Nadia mau.
Diperjalanan Mama Rosa mengatakan sesuatu yang membuat Nadia ingin marah. Tapi ia mencoba menahannya sebab tidak mau bersikap durhaka pada Mamanya.
"Mama ingin sekali kamu minta maaf sama Zahra. Sedikit banyak, kamu sudah menyakitinya sayang. Jangan sampai karena rasa sakit hati perempuan lain, bisa membuat langkah kamu berat suatu hari nanti," kata Mama Rosa.
"Nanti saja lah Ma aku pikirkan," balas Nadia dengan memalingkan wajahnya ke jendela. Enggan menanggapi ucapan Mama Rosa yang membahas tentang Zahra.
...
Up banyak nih. Kasih bintang lima nya dong..🥰🫶
penasaran siapa itu.. smngt up ny Thor
sempet kirain genre BL novelnya gegara cover ternyata bukan hehehe
Semangat thor 💪