NovelToon NovelToon
Suami Rahasiaku Cowok Tengil

Suami Rahasiaku Cowok Tengil

Status: sedang berlangsung
Genre:Kehidupan di Sekolah/Kampus / BTS / Pernikahan Kilat / Nikahmuda / Diam-Diam Cinta / Cintapertama
Popularitas:8.1k
Nilai: 5
Nama Author: yuningsih titin

Langit Sterling, remaja Jakarta yang bermasalah akibat balap liar, dikirim ke Pondok Pesantren Mambaul Ulum Yogyakarta untuk dibina. Usaha kaburnya justru berujung petaka ketika ia tertangkap di asrama putri bersama Senja Ardhani, putri Kyai Danardi, hingga dipaksa menikah demi menjaga kehormatan pesantren.
Pernikahan itu harus dirahasiakan karena mereka masih bersekolah di SMA yang sama. Di sekolah, Langit dan Senja berpura-pura menjadi musuh, sementara di pesantren Langit berjuang hidup sebagai santri di bawah pengawasan mertuanya, sambil menjaga rapat identitasnya sebagai suami rahasia.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon yuningsih titin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Cinta setelah Badai

Hari ketujuh setelah wafatnya KH. Raden Mas Danardi Kusumo, acara tahlilan kembali digelar di ndalem pesantren. Suasana penuh doa, lantunan ayat suci bergema, santri dan keluarga larut dalam khidmat. 

Usai doa bersama, para pengasuh, ustadz senior, dan keluarga besar berkumpul untuk bermusyawarah. Pesantren Mambaul Ulum kini kehilangan sosok pemimpin, sementara Muhammad Fatih Danardi, putra kedua Kyai, masih remaja dan belum siap memikul amanah besar itu. 

Langit berdiri, suaranya mantap meski penuh rasa hormat. “Pesantren ini tidak boleh kosong dari kepemimpinan. Abah sudah tiada, Fatih masih muda. Saya mengusulkan agar Ustadz Hasan menjadi pengganti sementara, sampai Fatih dewasa dan siap meneruskan amanah Abah.” 

Ruangan hening. Semua mata tertuju pada Ustadz Hasan, yang tampak terkejut. Ia menunduk, wajahnya penuh kerendahan hati. “Saya… saya tidak layak. Semua ini harus diputuskan bersama. Saya serahkan kepada para pengasuh dan pengajar.” 

Para ustadz senior saling berpandangan, lalu satu per satu mengangguk. “Ustadz Hasan memang pantas. Beliau sudah lama mengabdi, dididik langsung oleh Abah Kyai sejak kecil. Beliau bisa menjaga pesantren sementara, hingga Fatih siap.” 

Suasana musyawarah berubah menjadi penuh keteguhan. Akhirnya, semua sepakat: Ustadz Hasan ditunjuk sebagai pengganti sementara, pemimpin pesantren Mambaul Ulum, menjaga amanah Abah Kyai dan mendampingi keluarga besar. 

Langit menatap Fatih, yang duduk di samping ibunya, dr. Siti Aminah, Sp.A. “Fatih, jangan khawatir. Kamu akan tetap belajar, tetap dibimbing. Saat waktunya tiba, kamu akan meneruskan jejak Abah.” 

Fatih mengangguk pelan, matanya berkaca-kaca. Malam itu, keputusan besar diambil. Pesantren Mambaul Ulum tidak lagi kosong, kepemimpinan sementara jatuh pada Ustadz Hasan, dengan harapan kelak Fatih akan tumbuh menjadi penerus yang siap memimpin. 

Malam makin larut. Setelah musyawarah selesai, semua kembali ke tempatnya masing-masing. Pesantren mulai tenang, hanya suara jangkrik dan desiran angin malam yang terdengar. 

Langit, yang sejak kedatangannya belum banyak bicara dengan istrinya, merasa malam itu adalah waktunya. Ia ingin bicara dari hati ke hati dengan Senja Ardhani. 

Dengan langkah pelan, Langit masuk ke kamar. Dilihatnya Senja sedang duduk di tepi ranjang, membaca Alquran dengan suara lirih. Begitu melihat suaminya, Senja menghentikan bacaannya, lalu menyalami Langit dengan penuh takdzim. 

Langit duduk di sampingnya. Senja menunduk, wajahnya pucat, jemarinya gemetar. Sejak kejadian itu, ia tak berani menatap wajah suaminya. Rasa bersalah masih menjerat hatinya. 

Langit menatap Senja lama, lalu berkata dengan suara lembut, “Senja… sudah cukup kamu menyiksa dirimu dengan rasa bersalah. Aku tahu kamu tidak sadar waktu itu. Aku tahu semua ini bukan salahmu.” 

Air mata Senja jatuh, ia masih menunduk. “Tapi, Mas… aku tetap merasa bersalah. Abah meninggal, pesantren jadi bahan fitnah… semua karena aku.” 

Langit menghela napas panjang, lalu menggenggam tangan Senja. “Abah pergi karena takdir Allah, bukan karena kamu. Jangan salahkan dirimu lagi. Yang penting sekarang, kita harus kuat. Kita harus menjaga pesantren, menjaga keluarga, menjaga amanah Abah.” 

Senja terisak, akhirnya berani menatap wajah suaminya. Mata mereka bertemu, penuh luka namun juga penuh cinta. Malam itu, di tepi ranjang, mereka bicara dari hati ke hati. 

Langit menutup percakapan dengan kalimat lirih, “Aku masih di sini, Senja. Aku suamimu. Aku akan selalu mendampingi kamu.” 

Senja menangis dalam pelukan Langit, merasakan kehangatan yang selama ini ia takutkan hilang. Malam itu menjadi awal baru bagi keduanya, untuk bangkit dari luka dan menata kembali kehidupan. 

“Senja… kamu tahu, aku kembali ke Indonesia untuk liburan. Dengan semangat aku langsung menuju pesantren. Abah menyambutku di depan, wajahnya senang melihatku datang. Beliau bahkan menyuruhku segera menemui kamu,” ucap Langit lirih, menatap istrinya. 

Namun kenyataannya, saat itu ia melihat Senja bersama Azka. Emosi yang tak tertahan membuatnya melakukan hal yang tak seharusnya. “Maaf, sayang… Mas telah menamparmu waktu itu,” kata Langit dengan mata berkaca-kaca. 

Senja tersenyum tipis, menunduk. “Mas tidak salah. Senja pantas mendapat tamparan itu. Semua ini salah Senja.” 

Senja lalu menjelaskan dengan suara bergetar. “Waktu membantu Umi masak, Senja tiba-tiba batuk. Ada minuman, katanya titipan Mas. Senja langsung minum sampai habis. Setelah itu kepala Senja pusing. Senja pun ke kamar, mau ambil wudhu. Tapi di tangga Senja oleng, Mas… dan Azka menangkap tubuh Senja. Saat itu Senja seperti melihat Mas, makanya Senja hilang kesadaran.” 

Senja mengeratkan pelukannya pada suaminya. “Maafkan Senja, Mas…” bisiknya lirih. 

Langit mengusap rambut istrinya dengan lembut. “Sudah, sayang. Jangan bahas lagi. Yang penting semua itu di luar kesadaranmu.” Suaranya mesra, penuh ketulusan. 

Senja menatapnya dengan mata basah. “Senja kira Mas bakal menceraikan Senja sejak kejadian itu. Waktu itu Senja pasrah…” 

Langit menggeleng, senyumnya hangat. “Tidak akan, sayang. Mas tidak akan menceraikan kamu. Mas sangat sayang sama kamu.” 

Air mata Senja jatuh, namun kali ini bukan karena penyesalan, melainkan kelegaan. “Senja juga sayang Mas Langit…” bisiknya di telinga suaminya. 

Langit menatap istrinya penuh cinta, mengusap dan membelai wajah Senja. Malam itu, ia mencium bibir Senja yang telah lama dirindukannya. Dalam pelukan, luka yang sempat mengoyak hati mereka perlahan terobati, digantikan oleh cinta yang semakin kuat. 

Keheningan malam itu segera digantikan oleh deru napas yang saling memburu. Langit menatap dalam ke netra Senja, seolah ingin memastikan bahwa wanita di hadapannya ini benar-benar miliknya, utuh tanpa celah. Rasa sayang dan gairah yang sempat membeku akibat kesalahpahaman, kini mencair dan mengalir deras memenuhi rongga dadanya.

Sentuhan Langit yang awalnya ragu, kini berubah menjadi belaian yang menuntut dan penuh damba. Ia mengecup kening Senja lama, lalu turun ke kedua matanya, seolah ingin menghapus setiap jejak air mata yang pernah tumpah karena ulahnya. Saat bibir mereka bertemu, segala kerinduan yang tertahan selama enam bulan perpisahan meledak menjadi satu.

Senja merasa tubuhnya seringan kapas, seolah sedang melayang di antara awan. Ciuman Langit bukan sekadar pemuas gairah, melainkan sebuah pernyataan janji bahwa ia tidak akan pernah dilepaskan lagi. Sentuhan tangan suaminya di pipi dan punggungnya memberikan rasa aman yang selama ini hilang.

Dalam dekapan itu, Senja merasakan kehangatan yang menjalar hingga ke relung jiwanya, membasuh semua rasa bersalah dan trauma yang sempat menyiksanya.

Malam itu, mereka tidak lagi bicara tentang fitnah, tentang Azka, atau tentang duka kepergian Abah. Yang ada hanyalah persatuan dua raga yang telah lama merindu. Langit melepaskan seluruh gairah yang selama ini ia kunci rapat di negeri seberang, sementara Senja menyerahkan seluruh jiwa dan raganya sebagai bentuk pengabdian dan cinta yang tulus.

Di atas peraduan itu, badai yang sempat mengguncang hebat pondasi rumah tangga mereka akhirnya reda. Di dalam kamar yang temaram, mereka melebur menjadi satu dalam kemesraan yang sakral. Setiap sentuhan menjadi obat, dan setiap desah napas menjadi doa bahwa cinta mereka akan tetap kokoh meski dunia mencoba meruntuhkannya.

Semuanya terasa begitu nyata, begitu nikmat, dan begitu benar. Setelah badai yang menyakitkan, mereka akhirnya menemukan pelabuhan terakhir di pelukan satu sama lain. Malam itu, cinta mereka menang.

Setelah badai gairah itu perlahan mereda, menyisakan napas yang masih sedikit tersengal dan detak jantung yang beradu cepat, Langit menarik selimut untuk menutupi tubuh mereka berdua.

Ia merengkuh Senja ke dalam pelukan posesif, seolah tak membiarkan udara barang satu senti pun memisahkan mereka.

Senja, dengan sisa-sisa kelelahan yang terasa nikmat, menyandarkan kepalanya di dada bidang Langit. Ia memejamkan mata, mendengarkan detak jantung suaminya yang perlahan mulai stabil—sebuah irama yang menjadi musik paling menenangkan bagi jiwanya.

Langit mengusap bahu polos Senja, lalu mengecup puncak kepala istrinya dengan sayang. Sifat tengil yang menjadi ciri khasnya sebelum konflik menerjang, perlahan mulai muncul kembali.

"Kamu tahu tidak, Sayang?" bisik Langit, suaranya terdengar berat dan serak, namun mengandung nada usil.

"Tahu apa, Mas?" sahut Senja lirih tanpa membuka mata.

"Ternyata enam bulan di luar negeri itu sia-sia," gumam Langit.

Senja mengernyitkan dahi, ia mendongak sedikit untuk menatap wajah suaminya. "Sia-sia bagaimana? Mas kan belajar di sana."

Langit menyeringai nakal, ujung telunjuknya mencolek hidung Senja. "Iya, belajar teori memang sukses. Tapi belajar menahan rindu sama kamu itu nilainya nol besar. Terbukti malam ini, aku langsung 'tewas' di tangan kamu. Kamu pakai jampi-jampi apa, sih, bisa bikin singa macam aku jadi kucing penurut begini?"

Pipi Senja bersemu merah hebat. "Mas Langit! Gombalannya nggak bermutu banget, ih!"

Langit justru tertawa kecil, ia semakin gencar melancarkan serangan rayuannya. "Ini bukan gombal, Senja Ardhani. Ini fakta lapangan. Sepertinya aku harus lapor ke Abah—eh, maksudku, aku harus syukuran karena ternyata istriku ini kalau sedang manja jauh lebih berbahaya daripada ujian skripsi."

Ia menatap mata Senja dalam-dalam, lalu berbisik tepat di telinga istrinya, "Terima kasih ya, sudah tetap cantik. Padahal aku sudah coba cari yang lebih cantik di sana, tapi ternyata standarnya sudah macet di kamu."

"Mas!" Senja reflek menepuk dada bidang Langit dengan gemas. Plak! Suara tepukan itu pelan, namun cukup untuk menunjukkan rasa malunya yang membuncah.

Langit mengaduh manja, pura-pura kesakitan sembari menangkap tangan Senja dan mencium jemarinya satu per satu.

"Galak banget, sih. Tapi tidak apa-apa, galak-galak begini tadi juga sayang banget sama aku, kan?"

Senja menyembunyikan wajahnya yang panas di ceruk leher Langit, tak sanggup membalas perkataan suaminya yang semakin berani. Namun di balik rasa malunya, ada kebahagiaan yang membuncah. Ia tahu, Langit yang tengil dan penuh canda telah kembali. Luka itu memang belum sembuh total, tapi malam ini, cinta mereka telah meletakkan perban yang paling nyaman.

1
Miramira Kalapung
Alurnya cerita nya sangat bagus
yuningsih titin: makasih kak semoga suka
total 1 replies
Siti Amyati
akhirnya lanjut kak
kalea rizuky
senja np di buat bloon bgt sih heran
kalea rizuky
senja aja goblok
Siti Amyati
lanjut kak
Siti Amyati
kasihan ujian nya kok senja di lecehin gitu smoga langit ngga lansung ambil keputusan yg bikin berpisah tpi bisa buktiin siapa dalang semuanya
Kurman
👍👍👍
Julidarwati
BHSnya baku x dan g eris sebut nm thor
yuningsih titin: makasih koreksinya dan komentar nya
total 1 replies
Anto D Cotto
menarik
Anto D Cotto
lanjut crazy up Thor
yuningsih titin: siap👍
total 1 replies
yuningsih titin
makasih masukannya kak
ndah_rmdhani0510
Senja yng di gombalin, kok aku yang meleleh🤭
Bulan Benderang
bahasanya masih sedikit kaku kak,🙏🙏
Ai Nurlaela Jm
Karyamu luar biasa kereen Thor, lanjutkan💪
rinn
semangat thor
yuningsih titin: makasih kak
total 1 replies
Dri Andri
lanjut kan berkarya tetap semangat
Dri Andri
lanjutkan thour
Dri Andri
awwsshh ceritanya bikin.... 😁😁😁😁
yuningsih titin
ngga kuat deh langit sama senja romantis banget
ndah_rmdhani0510
Benci apa benci Langit? Ntar kamu bucin lho ama Senja🤭
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!