NovelToon NovelToon
Wild, Wicked, Livia !!!

Wild, Wicked, Livia !!!

Status: sedang berlangsung
Genre:Gadis nakal / CEO / Selingkuh / Cinta Terlarang / Mengubah Takdir
Popularitas:4.4k
Nilai: 5
Nama Author: Fauzi rema

Livia hidup dengan satu aturan: jangan pernah jatuh cinta.
Cinta itu rumit, menyakitkan, dan selalu berakhir dengan pengkhianatan — dia sudah belajar itu dengan cara paling pahit.

Malam-malamnya diisi dengan tawa, kebebasan, dan sedikit kekacauan.
Tidak ada aturan, tidak ada ikatan, tidak ada penyesalan.
Sampai seseorang datang dan mengacaukan segalanya — pria yang terlalu tenang, terlalu dewasa, dan terlalu berbahaya untuk didekati.

Dia, Narendra Himawan
Dan yang lebih parah… dia sudah beristri.

Tapi semakin Livia mencoba menjauh, semakin dalam dia terseret.
Dalam permainan rahasia, godaan, dan rasa bersalah yang membuatnya bertanya:
apakah kebebasan seindah itu jika akhirnya membuatnya terjebak dalam dosa?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fauzi rema, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 28

Basement apartemen terasa lengang malam itu. Cahaya lampu putih memantul di lantai beton ketika mobil Narendra berhenti perlahan. Mesin dimatikan, keheningan langsung menyergap.

Livia membuka sabuk pengamannya, meraih tasnya, lalu menoleh.

“Terima kasih sudah mengantarku pulang,” ucapnya lembut. “Hati-hati di jalan, ya.”

Ia membuka pintu dan turun, melangkah beberapa langkah menjauh. Namun belum sempat ia menekan tombol lift, terdengar suara pintu mobil kembali terbuka.

Langkah kaki menyusulnya cepat, Livia berhenti dan menoleh, sedikit terkejut saat melihat Narendra berdiri di belakangnya.

“Kamu… kenapa ikut turun?” tanyanya, alisnya berkerut.

Narendra tidak menjawab. Ia hanya melangkah mendekat, terlalu dekat hingga Livia refleks mundur setengah langkah. Sebelum ia sempat mengatakan apa pun, lengan Narendra sudah melingkar di tubuhnya, menariknya ke dalam pelukan yang hangat dan erat.

“Aku rindu,” gumam Narendra, wajahnya bersandar di pundak Livia. Suaranya terdengar rendah, terdengar manja, sisi yang tak pernah ia tunjukkan pada siapa pun, sekalipun pada veronica.

“Seharian aku tidak lihat kamu. Rasanya… aneh.”

Livia terdiam. Jantungnya berdetak lebih cepat, tubuhnya kaku beberapa detik sebelum akhirnya mengendur. Ia tidak langsung membalas pelukan itu, tapi juga tidak mendorongnya menjauh.

“Kamu berlebihan,” bisiknya, meski suaranya tak setegas yang ia inginkan.

Narendra tersenyum kecil di pundaknya. “Biarkan sekali ini saja.”

Pelukannya sedikit mengencang, seolah meminta izin tanpa kata. Livia akhirnya mengangkat tangan, meletakkannya di punggung Narendra dengan pelan, ragu, namun nyata.

“Kita di basement,” ingatnya lirih.

“Aku tahu,” jawab Narendra. “Makanya sebentar saja.”

Mereka terdiam, hanya berdiri dalam pelukan singkat yang terasa terlalu intim untuk disebut kebetulan, namun terlalu aman untuk ditolak. Bagi Livia, pelukan itu seperti jeda, ruang kecil di mana ia boleh bernapas tanpa berpikir tentang batas, risiko, atau besok yang akan terjadi.

Narendra akhirnya melepaskan pelukannya perlahan, namun tangannya masih tertinggal di lengan Livia.

“Masuklah,” katanya pelan. “Istirahat. Jangan kemana-mana lagi.”

Livia mengangguk, menatapnya sesaat sebelum berbalik menuju lift. Saat pintu lift menutup, ia menyadari satu hal, perasaan ini tidak lagi bisa ia sebut sekadar permainan berbahaya.

Dan Narendra, berdiri sendiri di basement menatap pintu lift dengan perasaan yang sama, ia sudah terlalu jauh untuk mundur.

Mesin mobil Narendra kembali menyala. Ia sempat menatap ke arah lift yang sudah tertutup rapat sekali lagi, seolah berharap pintu itu terbuka lagi, namun tidak. Dengan satu tarikan napas panjang, ia melajukan mobil keluar dari basement, membawa pulang perasaan yang masih menggantung dan dada yang terasa lebih ringan sekaligus penuh.

Narendra dan Livia tidak tahu atau mungkin tidak menyadari bahwa sejak tadi, dari sudut yang sedikit gelap di basement itu, ada dua pasang mata yang menangkap seluruh adegan yang terjadi.

Sebuah mobil terparkir tidak jauh dari sana. Mesinnya mati. Kacanya sedikit terbuka. Reno menggenggam setir dengan rahang mengeras. Daffa duduk di kursi penumpang, tubuhnya condong ke depan, tatapannya tajam. Mereka melihat semuanya. Bagaimana Narendra turun dari mobil. Bagaimana ia mengejar langkah Livia.

Bagaimana lengan pria itu melingkar di tubuh gadis yang selama ini mereka jaga seperti adik mereka sendiri.

Tak ada kata yang keluar di antara mereka selama beberapa detik. Hanya keheningan yang berat.

Daffa menghembuskan napas kasar lebih dulu. “Itu… siapa?”

Reno tidak menjawab langsung. Matanya masih tertuju ke arah lift yang sudah menelan Livia. “Kalau aku tidak salah lihat… itu CEO-nya.”

Daffa menoleh cepat. “Atasannya yang sudah beristri itu?”

Reno mengangguk pelan.

Sunyi kembali jatuh, kali ini lebih tegang. Reno menunduk sebentar, menekan dahinya ke setir. Tangannya mengepal kuat.

“Kurang ajar,” gumamnya. “Dia tahu nggak siapa Livia?”

Reno menatap ke depan, ekspresinya dingin. “Justru itu yang bikin gue khawatir.”

Mobil Narendra sudah menghilang. Basement kembali terasa lengang, seolah tak pernah terjadi apa-apa. Namun bagi Reno dan Daffa, udara di sana terasa berat, seperti menyimpan sesuatu yang salah.

Reno akhirnya membuka pintu mobil dan turun. Daffa mengikutinya tanpa perlu diajak. Mereka saling pandang singkat, tak perlu kata-kata. Pikiran mereka sama.

Livia harus ditanya. Malam ini juga.

Langkah mereka mantap menuju lift. Reno menekan tombol dengan keras, rahangnya kembali mengeras saat lampu lift menyala. Di dalam kepalanya, bayangan masa lalu Livia berkelebat, Dimas, kekerasan, luka yang tak pernah sepenuhnya sembuh.

“Kalau dia lagi terjebak di hubungan yang salah lagi…” kata Reno pelan, tapi nadanya berbahaya.

Daffa menoleh. “Kita nggak boleh marah dulu. Kita dengerin penjelasan dia dulu.”

Reno tertawa hambar. “Gampang buat lo bilang gitu.”

Pintu lift terbuka. Mereka masuk, berdiri berdampingan. Angka lantai bergerak naik perlahan.

Di lantai apartemen Livia, koridor tampak sepi. Lampu temaram menyinari langkah mereka yang terdengar jelas di kesunyian malam. Reno berhenti tepat di depan pintu unit Livia, tangannya terangkat, namun terhenti sesaat. Ia menarik napas.

Daffa menatapnya. “Siap?”

Reno mengangguk. “Nggak ada yang siap buat lihat orang yang kita lindungi jalan ke jurang.”

Ketukan pun terdengar, pelan tapi tegas.

Di dalam unit, Livia yang baru saja meletakkan tasnya terdiam. Jantungnya berdetak lebih cepat. Ia berpikir apakah Narendra nekat menyusulnya ke atas.

Pintu unit itu akhirnya terbuka.

Livia berdiri di ambang pintu dengan rambut masih tergerai, wajahnya terlihat lelah namun tenang. Begitu matanya menangkap dua sosok di depannya, alisnya sedikit terangkat, bukan terkejut, lebih seperti heran.

“Tumben malam-malam begini,” katanya santai, bahkan tersenyum tipis. “Masuk aja.”

Reno dan Daffa sama-sama terpaku sejenak. Wajah Livia terlalu biasa. Terlalu tenang. Seolah apa yang mereka lihat di basement tadi hanyalah bayangan yang salah.

Reno yang sejak tadi menahan diri langsung ingin bicara, namun Daffa lebih cepat meraih lengannya, menggenggam kuat sebagai peringatan diam-diam.

“Tenang,” bisik Daffa rendah. “Jangan kayak gitu.”

Livia berbalik dan berjalan masuk ke dalam unit tanpa menunggu jawaban. “Kalian mau minum? Air putih atau kopi? Tapi jangan lama-lama, aku capek.”

Nada suaranya tetap ringan, hampir acuh. Reno menatap punggungnya dengan emosi yang bergejolak. Tangannya mengepal, rahangnya mengeras. Ia ingin bertanya, ingin marah, ingin memastikan apa yang ia lihat bukan mimpi buruk yang terulang.

Namun Daffa kembali menepuk bahunya pelan seolah peringatan kedua. Mereka akhirnya masuk. Pintu tertutup perlahan di belakang mereka.

Di ruang tamu, Livia menjatuhkan dirinya ke sofa lalu menyandarkan tubuh, menyilangkan tangan di dada. Sikapnya defensif tapi terselubung rapi.

“Kenapa?” tanyanya akhirnya. “Kalian datang dengan muka kayak mau sidang gue.”

Reno membuka mulut, napasnya berat. “Liv—”

“Reno,” potong Daffa cepat sambil menoleh tajam. “Biar gue dulu.”

Daffa melangkah sedikit ke depan, suaranya dibuat serendah mungkin. “Kita lihat sesuatu tadi di basement.”

Livia menegakkan tubuhnya. Wajah santainya tak langsung runtuh, tapi sorot matanya berubah, lebih waspada.

“Terus?” jawabnya datar.

Reno tak tahan lagi. “Lo pikir kita buta?” suaranya naik satu tingkat. “Kita lihat dia peluk lo. CEO itu. Yang sudah beristri.”

Livia menghela napas pelan, lalu tersenyum kecil, senyum yang membuat dada Reno makin panas.

“Itu bukan urusan kalian,” katanya ringan, tapi jelas.

Reno melangkah maju satu langkah, emosinya hampir meledak. “Lo mau jatuh ke lubang yang sama lagi, Liv?!”

“Reno!” Daffa langsung berdiri di depan Livia, memisahkan jarak. “Pelan. Jangan begitu.”

Ia menoleh ke Reno, matanya tegas. “Kalau lo tekan dia sekarang, yang ada dia nutup diri. Kita ke sini bukan buat nyerang.”

Livia menatap Daffa lama, lalu mengalihkan pandangan ke Reno. Kali ini nada suaranya sedikit berubah, tidak lagi santai, tapi masih terkendali.

“Gue nggak bodoh,” ucapnya pelan. “Dan gue nggak minta dijagain seumur hidup sama kalian.”

Keheningan jatuh berat di ruangan itu.

Reno menunduk, mengusap wajahnya kasar. “Gue cuma… takut lo kenapa-kenapa lagi.”

Livia terdiam sesaat. Matanya melunak, namun hanya sebentar. “Gue hargai itu,” katanya. “Tapi ini hidup gue.”

Daffa mengangguk pelan, mencoba menengahi. “Kita cuma mau lo aman, Liv. Apa pun yang lo jalanin… jangan sampai lo jatuh lagi, lebih dalam. Hidup lo terlalu berharga untuk itu.”

Livia menatap kedua sahabatnya, dua orang yang selalu ada, bahkan saat dunia terasa paling kejam. Dadanya terasa sesak, tapi ia tetap berdiri tegak.

“Lihat, Gue masih berdiri di sini,” katanya lirih. “Gue tahu batasan.”

Namun jauh di dalam dirinya, Livia tahu satu hal yang tidak ia katakan pada mereka, bahwa batas itu mulai kabur, dan perasaan yang ia mainkan kali ini jauh lebih berbahaya daripada yang pernah ia bayangkan.

...🥂...

...🥂...

...🥂...

...Bersambung......

1
kalea rizuky
jangan jd pelakor
septi fahrozi
semakin penasaran jadinya ngapain mereka... 🤣🤣
Priyatin
ho ho ho kok semakin rumit hubungannya othor😰😰😰
Priyatin
lama kali nunggu up nya thor.
lanjut dong🙏🙏🙏
Wita S
kerennn
Wita S
ayoo up kak...ceritanya kerennnn
Mian Fauzi: thankyou 🫶 tp sabar yaa...aku masih selesain novelku yg lain hehe
total 1 replies
Siti Naimah
ampun deh...belum apa2 Livia sudah mendapat kekerasan dari dimas.sebaiknya sampai disini saja livia.gak usah diterusin
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!