NovelToon NovelToon
Legenda Pedang Abadi : Jalan Darah Dan Takdir

Legenda Pedang Abadi : Jalan Darah Dan Takdir

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Fantasi / Fantasi Timur / Perperangan / Ahli Bela Diri Kuno / Penyelamat
Popularitas:1.9k
Nilai: 5
Nama Author: Aku Pemula

Di dunia di mana sekte-sekte besar bersaing demi kekuasaan, lahirlah seorang pemuda bernama Lin Feng. Tidak memiliki latar belakang mulia, tubuhnya justru menyimpan rahasia unik yang membuatnya diburu sekaligus ditakuti.

Sejak hari pertama masuk sekte, Lin Feng harus menghadapi hinaan, pertarungan mematikan, hingga pengkhianatan dari mereka yang dekat dengannya. Namun di balik tekanan itulah, jiwanya ditempa—membawanya menapaki jalan darah yang penuh luka dan kebencian.

Ketika Pedang Abadi bangkit, takdir dunia pun terguncang.
Akankah Lin Feng bertahan dan menjadi legenda, atau justru hancur ditelan ambisinya sendiri?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aku Pemula, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 33 - Jalan Kultivasi yang Terbentang

Langit pagi di Sekte Langit Biru diselimuti kabut tipis. Burung-burung hutan berterbangan di kejauhan, menyambut fajar dengan kicauan nyaring. Di sebuah aula latihan pribadi yang tenang, Yun Hai berdiri dengan tangan bersedekap, sementara Lin Feng duduk bersila di hadapannya.

Udara di ruangan itu terasa berat, bukan karena panas atau dingin, melainkan karena aura yang dipancarkan Yun Hai. Hanya berdiri di dekatnya saja, Lin Feng merasa seakan seluruh tubuhnya ditekan oleh gunung besar.

“Lin Feng,” suara Yun Hai tegas namun dalam, “sekarang kau sudah resmi menjadi murid inti. Jika kau ingin melangkah lebih jauh, kau harus memahami jalan kultivasi dengan benar. Tanpa dasar yang jelas, semua kekuatanmu akan berakhir menjadi racun bagi tubuhmu sendiri.”

Lin Feng membuka matanya, menatap serius. “Mohon bimbingannya, Guru.”

Yun Hai berjalan pelan mendekat, lalu berhenti tepat di hadapannya.

“Jalan para pendekar terbentang panjang dan penuh rintangan. Setiap langkah naik sama saja dengan melawan langit itu sendiri. Jika hatimu goyah, kau akan hancur sebelum sempat menyentuh puncak.”

Ia mengangkat tangannya, menorehkan simbol sederhana di udara menggunakan energi spiritual. Simbol itu berkilau biru, membentuk sebuah lingkaran dengan lima titik besar.

“Dengarkan baik-baik. Dalam jalan kultivasi yang diajarkan di Kekaisaran Han, ada lima tingkatan utama.”

Lima Tingkatan Pendekar

Pendekar Biasa

“Tingkatan pertama adalah Pendekar Biasa. Di tahap ini, seseorang baru saja mengolah energi spiritual. Mereka hanya mampu memperkuat tubuh, memperlancar pernapasan, dan menyalurkan sedikit energi pada serangan. Kebanyakan murid baru berhenti di sini.”

Yun Hai menatap Lin Feng dengan tajam. “Mereka yang hanya ingin hidup damai, cukup berada di tahap ini seumur hidup. Tapi bagi yang ingin melawan takdir, mereka harus melangkah lebih jauh.”

Pendekar Ahli

“Setingkat lebih tinggi adalah Pendekar Ahli. Di tahap ini, energi spiritual sudah mampu dilepaskan keluar tubuh. Serangan mereka bisa menghancurkan batu besar, gerakan mereka jauh melampaui manusia biasa. Pendekar ahli biasanya menjadi tulang punggung sekte-sekte kecil.”

Pendekar Bergelar

“Lalu ada Pendekar Bergelar. Julukan ini diberikan karena kekuatan mereka sudah cukup untuk diakui secara resmi oleh Kekaisaran. Mereka mampu menguasai satu jurus inti secara penuh, dan setiap tebasan pedang atau hantaman telapak bisa memecah puluhan meter tanah. Pendekar Bergelar banyak ditemukan di sekte menengah hingga sekte besar.”

Pendekar Raja

Yun Hai menghela napas, matanya berkilau. “Berikutnya, adalah Pendekar Raja. Mereka yang berada di tingkat ini sudah bisa menguasai wilayah kekuatan. Kehadirannya saja mampu menekan ratusan orang lemah. Mereka seperti raja kecil yang berdiri di atas manusia biasa. Pendekar Raja banyak di temukan di sekte besar, sekte menengah hanya beberapa termasuk di sekte kita hanya ada lima pendekar raja termasuk diriku”

Lin Feng mendengarkan dengan serius, tangannya terkepal erat.

Pendekar Suci

Suara Yun Hai menjadi lebih dalam, seakan membawa bobot sejarah. “Puncak dari jalan yang diketahui orang-orang adalah Pendekar Suci. Mereka telah menembus delapan gerbang tubuh dan jiwa. Setiap gerbang yang terbuka memperluas kekuatan, menghubungkan manusia dengan langit dan bumi.

Ada delapan tingkatan dalam Pendekar Suci, dari Gerbang Pertama hingga Gerbang Kedelapan. Hanya sedikit yang mampu mencapai Gerbang Ketujuh, dan mereka sudah dianggap legenda hidup.”

Yun Hai terdiam sejenak, lalu menatap Lin Feng.

“Namun, di atas Pendekar Suci… ada tingkatan yang belum pernah dicapai siapa pun dalam ratusan tahun. Tingkatan itu disebut oleh catatan kuno sebagai Pendekar Dewa. Sebagian orang menganggapnya hanya mitos. Tapi aku percaya, jalan itu nyata. Dan suatu hari, mungkin ada orang yang mampu menggapainya.”

Lin Feng terdiam. Kata-kata itu bagai petir menyambar pikirannya. Jalan kultivasi yang ia jalani selama ini ternyata hanya permulaan kecil dari perjalanan tak berujung.

Yun Hai kembali menorehkan simbol lain di udara. Kali ini, lingkaran-lingkaran kecil mengelilingi tiap titik.

“Lin Feng, di setiap tingkatan—kecuali Pendekar Suci—ada tiga tahap: awal, menengah, dan akhir. Hanya dengan melewati tiga tahap itu seseorang bisa menembus ke tingkatan berikutnya.

Sedangkan Pendekar Suci… berbeda. Mereka memiliki delapan tingkatan yang harus ditempuh. Setiap gerbang yang dibuka akan menambah kekuatan sekaligus membawa risiko besar.”

Lin Feng mengangguk perlahan. “Jadi setiap langkah adalah ujian, bukan sekadar peningkatan kekuatan.”

“Benar,” Yun Hai mengangguk. “Semakin tinggi kau melangkah, semakin berat pula harga yang harus kau bayar. Jangan pernah melupakan itu.”

Yun Hai kemudian berjalan ke jendela aula, menatap pegunungan luas yang terbentang di kejauhan.

“Lin Feng, ada hal lain yang harus kau pahami. Dunia tidak hanya terbatas pada Sekte Langit Biru atau bahkan Kekaisaran Han ini. Ada tiga kekaisaran besar yang membagi daratan luas ini.”

Ia menoleh, tatapannya serius.

“Pertama adalah Kekaisaran Han, tempat kita berada sekarang. Kekaisaran ini terkenal dengan sekte-sekte yang menjunjung disiplin, tradisi, dan kehormatan. Namun, beberapa sekte juga mengabaikan nilai-nilai tersebut.”

“Kedua adalah Kekaisaran Tang. Mereka dikenal lebih kuat, penuh dengan sekte-sekte besar. Banyak pendekar tangguh lahir dari sana, dan peperangan sering kali mewarnai wilayahnya.”

“Ketiga adalah Kekaisaran Song. Kekaisaran ini penuh intrik politik. Mereka memiliki banyak ahli strategi dan sekte-sekte misterius. Meski kekuatan militer mereka tidak sebesar Tang, kelicikan mereka membuat siapa pun segan berhadapan langsung dengan mereka.”

Lin Feng mendengarkan dengan mata terbelalak. Selama ini ia hanya tahu sekte-sektenya, dan sesekali mendengar nama Kekaisaran Han. Kini ia sadar betapa luasnya dunia di luar sana.

“Ketiga kekaisaran ini sudah lama berdiri berdampingan,” lanjut Yun Hai, “kadang bersekutu, kadang berperang. Di atas semua itu, para pendekar besar dari berbagai sekte saling berlomba untuk menguasai puncak jalan kultivasi.”

Ia menatap Lin Feng tajam.

“Dan kau, Lin Feng… suatu hari akan berdiri di antara mereka. Jalanmu tidak akan berhenti hanya di dalam sekte ini.”

***

Yun Hai mengibaskan lengan bajunya, dan sebuah pedang berkilau biru muncul di tangannya. Aura pedang itu langsung membuat udara di sekitar bergetar.

“Sekarang, aku akan mulai mengajarkanmu teknik warisan sekte—Tiga Tebasan Langit Biru. Ini adalah jurus inti yang hanya boleh diajarkan pada murid inti terpilih. Setiap tebasannya membawa kekuatan berbeda, dan bila digabungkan bisa menembus hampir segala pertahanan.”

Lin Feng menatap pedang itu dengan sorot mata membara.

“Aku siap, Guru.”

Yun Hai mengangguk tipis. “Ingat, jurus ini bukan sekedar ayunan pedang. Ia adalah jalan untuk menyatukan tubuh, jiwa, dan langit. Jika kau gagal mengendalikannya, pedang ini akan berbalik melukai dirimu sendiri.”

Udara di aula seketika berubah. Lin Feng merasa jantungnya berdegup kencang. Ia tahu, apa yang akan ia pelajari mulai hari ini akan menentukan jalannya di masa depan.

Di luar, kabut perlahan tersibak, dan cahaya matahari menembus masuk ke dalam aula latihan. Jalan kultivasi Lin Feng baru saja dimulai—jalan penuh darah, tekad, dan pertaruhan hidup.

1
Dian Pravita Sari
bosen selalu gak tamat cerita jgn mau bc noveltoooon krn gak jelas ceritanya
Aku Pemula: Terimakasih Kak atas kritikan nya

semoga novel ini bisa selesai ya, bantu terus dukung
total 1 replies
Aku Pemula
Hai kak, terimakasih sudah kasih komentar.

bantu doa ya semoga novel yang ini bisa selesai sesuai dengan jalan ceritanya /Pray/
Dian Pravita Sari
percuma kolom komentar
entar tp gak pernah di gubris
Aku Pemula: terimakasih ya kak sudah kasih komentar /Pray/
total 1 replies
Dian Pravita Sari
s
arahmu jgn nonton novel tolong krn ceritanya selalu putus tengah jalan gak tsmat fan quality control naskah gak afa
Dian Pravita Sari
sudah ku duga cerita selalu gak tsmatmsnaktedibilitssn
Penggemar Pendekar
go go
Aku Pemula: terimakasih sudah mampir
total 1 replies
Rohmat Ibn Sidik
lanjut
Aku Pemula: terimakasih sudah mampir
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!