Nayra Lovarisa, 32 tahun, seorang influencer sukses dengan kehidupan yang sudah sempurna, karier mapan, bisnis berkembang, dan memiliki putra yang menjadi dunianya.
Selama empat tahun, hanya mereka berdua. Tanpa kekurangan, sampai sosok Om Rara muncul menjadi penolong baik hingga tanpa sadar membuat anaknya menyukainya.
Awalnya Nayra tidak terganggu malah terbantu dengan sang tetangga sampai kemudian anaknya punya harapan lebih, ingin menjadikan pria itu sebagai ayah sambungnya.
Bagaimana kisah ini selanjutnya? Nayra yang punya banyak pertimbangan, Rayyan yang tidak menyerah menjodohkan sang Mama dan Om Rara yang menyadari perasaannya apa mampu meluluhkan hati janda satu anak itu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Larasa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 28. Orang tua Rayyan
Gatra memacu kendaraannya menelusuri jalan menuju ke tempat Rayyan menempuh pendidikan Sekolah Menengah Pertama dengan perasaan tak menentu, senang karna hari ini adalah sesi konseling terakhirnya, sedikit kecewa karna tiba-tiba saja di tengah konseling, Guru di sekolah Rayyan menghubunginya.
Rayyan anak yang terkenal baik, penurut dan berpikir dewasa dari usianya baru saja mendapatkan masalah di sekolahnya. Gatra tak sempat bertanya apa masalahnya, tapi ia yakin sangat parah hingga orang tua harus di panggil.
Setelah dua puluh menit berkendara akhirnya ia sampai di parkiran sekolah, tapi tak langsung menemui Guru malah merogoh ponselnya.
Gatra kembali menghubungi Nayra yang sebelumnya sudah di kabarinya, wanita yang sedang dekat dengannya itu juga terdengar kaget, bingung karna Guru tak menghubunginya dan secara kebetulan Nayra ada pekerjaan yang tak jauh dari sekolah hingga mereka memutuskan untuk bertemu di sana sana saja.
"Kamu di mana? Aku udah di parkiran nih," kata Gatra begitu panggilannya di terima.
"Aku baru saja turun dari taksi."
Gatra itu masih menahan ponsel dengan tangan di telinga, keluar dari mobil lalu mengedarkan pandangan hingga melihat Nayra yang ada di seberang jalan.
Pria itu tersenyum kala pandangan mereka bertemu. "Masih cantik banget," puji Gatra.
Nayra masih menunggu jalan sepi dengan sesekali menatap kiri dan kanan mendengus "Perasaan kayak gini aja setiap harinya."
"Beda, kalau hari kerja kamu jauh lebih... Nay, itu jalannya udah ko... song." Gatra menghela nafas kasar karna Nayra tak kunjung menyeberang sampai jalan sudah penuh dengan kendaraan lain.
"Sorry, tapi aku ngelihat ada motor yang melaju kencang jadi aku takut kalau tiba-tiba nyeberang."ungkapnya.
"Aku jemput kamu aja," kata Gatra lalu memutuskan sambungannya.
Pria itu sedikit berlari mendekati wanita itu dengan menggerakkan tangan sambil menyeberangi jalan dan berdiri di depan Nayra.
"Kamu ngga perlu sampai jemput aku ke sini," kata Nayra.
"Aku yang khawatir, kamu kelihatan ngga fokus." Ungkap Gatra lalu menautkan salah satu telapak tangan mereka dan menyeberang bersama. "Ruangan bimbingan konselingnya di mana?"
"Belok kanan terus lurus terus sampai ketemu tulisan ruangan BK." Jelas Nayra membuat Gatra mengangguk lalu tanpa melepaskan tautan melangkah untuk mencari tempat yang di tuju.
Sekolah sudah sepi karna kejadiannya pas di jam pulang sekolah. Beruntungnya beberapa Guru dan satpam belum pulang hingga mereka cepat menghentikan perkelahian.
Saat ini juga Guru BK bersama orang tua murid yang menjadi pelaku atau korban di minta kesekolahan untuk menyelesaikan masalahnya. Tak peduli para orang tua itu sibuk tapi kalau berhubungan tentang masalah anaknya pasti meninggalkan pekerjaannya. Setidaknya itu yang akan di lakukan Gatra nantinya.
"Kayaknya aku ngerepotin kamu lagi," kata Nayra menghentikan keheningan yang tercipta di antara mereka. "Aku juga mau minta maaf, harusnya Rayyan kasih nomorku tapi entah kenapa malah nomor kamu yang di hubungi Guru."
"Aku suka di repotin," balas Gatra. "Ini ya ruangannya?"
Nayra mengangguk lalu tiba-tiba saja merasa kehilangan karna pria di sampingnya mendadak melepaskan tautan tangan mereka. Tanpa menunggu persetujuan ibu dari Rayyan, Gatra mengetuk pelan pintu ruangan di depannya dan terdengar seruan dari dalam menyuruhnya untuk masuk.
Pintu terbuka yang membuat pandangan Gatra langsung tertuju pada Rayyan yang sempat mengangkat kepala lalu buru-buru menunduk lagi berhasil membuatnya menghela nafas kasar.
Pria itu lalu mengalihkan mata pada satu persatu orang di dalam ruangan yang penuh sesak ini, tapi demi privasi serta masalah ini tidak tersebar luas tapi harus di selesaikan hari ini juga mereka terpaksa bertahan di sini.
"Akhirnya orang tuanya Rayyan datang, ayo, Ibu Bapak duduk." Seorang wanita, Guru BK, menyadarkan Gatra yang langsung mengikuti Nayra yang mendekati kursi kosong. "Jadi karna semua orang tua sudah lengkap jadi kita bisa dengar pengakuan anak-anak kita di mulai dari kamu Raffa dulu."
"Septian sama Alvin orangnya emang suka becanda, Bu. Saya ngga–"
"Becanda apaan kalau udah hina kesehatan seseorang!" sela seorang anak yang paling kecil berpakaian merah putih sambil menatap tiga anak lainnya termasuk Rayyan yang duduk di samping kursi Guru tepat di depan dua anak lainnya. Jarak mereka hanya terpisah oleh meja. Sementara para orang tua berada di belakang dua anak itu dengan posisi memanjang ke samping.
"Gama, aku udah sering bilang, mereka bercandanya emang gitu. Aku ngga pernah tersing–"
"Mas Raffa jangan baik banget deh, terus coba mikir jauh lagi, ngga ada becanda kayak gitu! Udah sering aku bilang mereka itu menghina bukan bercanda!"
"Gama, kamu salah paham."
"Gama, biarin Mas Raffa jelasin semuanya!"
"Ngga bisa, Ma. Mas Raffa itu baik bangat jadi ngga pantas di perlakukan kayak gitu! Aku ngga terima sama yang Mereka lakukan dan aku ngga nyesel udah bikin mereka bau! Karna mereka mendapatkan balasannya!"
"Gama, cukup! Belum saatnya kamu bicara!" Kata seorang wanita yang sama kali ini membuat anak itu langsung terdiam. "Maaf, Bu Guru dan semuanya karna anak saya tidak sopan. Ayo, lanjutkan penjelasannya, nak."