Dia hanyalah sekretaris tak menarik dan berkacamata yang selalu terlihat sibuk dengan tugasnya.
Tapi di balik penampilannya yang polos, Cassia Manon diam-diam menyimpan rasa pada bos playboy, Maxence Kingsford.
Sayangnya, Maxence tak pernah menggodanya meskipun dia seorang playboy karena mungkin di matanya—Cassia sama sekali tak menarik.
Sampai suatu malam dalam sebuah pesta bisnis, Max dijebak dengan minuman perangsang oleh seorang wanita yang menginginkan dirinya.
Cassia Manon yang selalu bersamanya—akhirnya menyelamatkannya, tapi konsekuensinya berat, satu malam menjadi pelampiasan hasrat bosnya. Dan Cassia justru menyerahkan tubuhnya dengan sukarela.
Pagi harinya, Cassia mengira semuanya selesai. Tapi ternyata Maxence tak ingin berhenti.
Bagaimana hubungan mereka selanjutnya? Apakah tetap tanpa ikatan dan hanya sekadar pelampiasan semata? Ataukah akan ada benih-benih cinta di hati Max untuk Cassia yang semakin lama cintanya semakin besar?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon zarin.violetta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Masa Lalu Yang Menyedihkan
Cassia menghela napas panjang, kemudian kembali berjalan. Ponselnya masih tergenggam erat di tangan. Nama ayahnya—Bobby Manon—masih terbayang di layar meski panggilan telah berakhir.
Ada rasa hangat sekaligus perih yang menusuk di dadanya. Hangat karena suara ayahnya yang selalu lembut dan penuh kasih. Perih karena di balik undangan itu, selalu ada harga yang harus dibayar.
Bobby Manon. Nama itu cukup ternama di kalangan pengusaha properti kelas menengah. Tidak sekaya Kingsford tentu saja, tetapi cukup mapan dengan beberapa ruko dan apartemen yang disewakan.
Cassia kecil pernah hidup dalam kemewahan itu. Sejak usia lima tahun, dia tinggal bersama pelayan dan pengasuh setelah ibunya meninggal, menjauh dari rumah besar ayahnya karena terusir
Bukan karena ayahnya jahat. Bobby Manon adalah pria baik yang hanya memiliki satu kesalahan, berselingkuh dengan seorang wanita penghibur dan akhirnya memiliki anak haram bersama, yaitu Cassia.
Nenek Cassia—dari pihak ayah—tidak pernah menyukai ibunya, bahkan membencinya, termasuk Cassia.
Ayahnya punya istri sebelumnya, yang berasal dari keluarga pengusaha tekstil. Dari pernikahan pertama itu, Bobby memiliki dua orang anak, yaitu kakak tiri Cassia yang bahkan belum pernah diajaknya bicara sejak kecil karena dilarang.
Tapi Bobby tetap bertanggung jawab atas Cassia. Setiap bulan, ada transfer uang yang selalu dikembalikan Cassia sejak Cassia sudah bekerja di Kingsford Corp.
Setiap tahun, di hari ulang tahunnya, ayahnya akan menelepon. Dan setiap kali ada acara keluarga, undangan selalu diberikan.
Meskipun Cassia tahu bahwa kedatangannya hanya akan disambut dengan muka masam dari nenek dan keluarga tirinya.
*
Tepat pukul lima sore, Cassia keluar dari gedung Kingsford Corp. Dia memilih naik kereta menuju kawasan rumah ayahnya. Bukan karena tidak mampu naik taksi, tapi karena dia butuh waktu untuk menenangkan diri.
Di dalam kereta yang agak lengang, Cassia duduk dekat jendela. Ponselnya bergetar lagi. Ada pesan singkat dari ayahnya. [Cia, jangan lupa. Kau masih ingat rumahnya, kan?]
Cassia tersenyum tipis membaca pesan itu. Dia masih ingat saat awal kakinya melangkah masuk ke rumah itu—setelah ibunya meninggal.
Tapi itu tak bertahan lama karena sang nenek dan ibu tirinya tak mengharapkan kehadirannya di sana. Hingga akhirnya dia diusir keluar dan tinggal bersama para pelayan yang disediakan oleh ayahnya.
Meskipun sejak kecil ayahnya memfasilitasinya dengan hal-hal mewah, tapi Cassia merasa kosong. Dia melampiaskannya pada pendidikan saja agar menjadi yang terbaik.
Tujuannya hanya satu, yaitu ingin dilihat oleh Keluarga Manon bahwa dia begitu membanggakan. Tapi, ternyata tidak. Dia tetap dianggap aib yang menjijikkan.
"Aku sangat menyanyangimu, Cia. Selamanya. Maafkan aku. Ini karena kesalahanku," kata ayahnya saat itu.
Cassia berusia lima tahun waktu itu, tapi dia sudah mengerti bahwa selamanya tidak selalu berarti bersama.
*
*
Rumah itu tampak sama seperti yang dia ingat. Angkuh.
Cassia berdiri di depan halaman selama beberapa menit. Tangannya memegang gantungan kunci di tasnya karena gugup. Dia hampir saja menekan bel ketika pintu utama terbuka dari dalam.
Seorang perempuan paruh baya berdiri di ambang pintu dengan wajah dingin yang tidak pernah berubah selama bertahun-tahun.
Neneknya. Nyonya Imelda Manon. Rambutnya tetap pirang menyala, dan matanya tetap tajam. Tatapan yang sama yang dulu membuat dirinya menangis tanpa suara karena takut.
Tatapan yang sama yang membuat Bobby Manon tak berani membantah saat diminta mengusir dirinya dari sana.
yuk semangatt cassia bentengi hati km yaa!
suka boleh, tapi dalam batas wajar.
biar kedepannya km tidak merasakan sakit mendalam.
ehh aku yakin cassia bukan type cwe yg bakal terpuruk oleh percintaan sii hihi
tpi untuk visual max disini bikin aku sedikit 🤏 salting 🤭