Anindya Maheswari, menikah dengan Raditya Wicaksono tanpa restu dari orang tua Radit karena Anindya hanya seorang yatim piatu dan besar di panti asuhan.
Cinta tulus dari Radit membuat Anindya bertahan, berjuang bersama, banting tulang, memeras otak dan keringat. Memulai segalanya dari nol hingga akhirnya sukses.
Namun, siapa sangka setelah sukses Radit malah berkhianat? Menjalin hubungan dengan gadis yang lebih muda, memiliki seorang anak, dan bahkan selingkuhan itu sedang hamil lagi.
Membawa amarahnya yang membara, Anindya bertekad mengembalikan Radit dan keluarga nya ke keadaan semula.
“Kamu lupa satu hal. Jika aku bisa membuatmu sukses, aku juga bisa membuatnu hancur!”
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mama Mia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
34
.
Anindya mendorong kursinya ke belakang dengan gerakan santai, lalu berdiri dan melangkah pergi tanpa menoleh lagi ke arah Raditya, meninggalkan pria itu yang masih terduduk lemas di lantai.
Raditya baru tersadar ketika Anindya sudah melangkah jauh. Matanya yang tadinya kosong seketika kembali menyala.
"Tidak... Aku tidak boleh melepaskannya begitu saja! Aku harus mendapatkan maaf dari Anindya!" teriaknya dalam hati.
Segera ia bangkit dan bergerak cepat mengejar langkah wanita itu yang sudah hampir mencapai pintu utama restoran.
"Tunggu! Sayang, tunggu sebentar!" seru Raditya sambil berlari secepat yang ia bisa. Begitu sampai di belakang Anindya, ia segera mencekal erat pergelangan tangan Anindya, hinggap membuat langkah Anindya terhenti.
Anindya diam, menunggu, namun enggan menoleh. “Apa lagi?” tanyanya datar, tangannya yang bergerak cepat menghempaskan tangan Raditya yang melingkar di pergelangan tangannya. “Jangan panggil aku ‘sayang’. Aku jijik mendengarnya.”
"Aku tahu semua yang terjadi belakangan ini adalah kesalahanku," ucap Raditya dengan suara memelas dan penuh penyesalan. "Tapi tolong... berikan aku kesempatan sekali lagi saja untuk memperbaiki semuanya. Aku janji akan berubah, aku akan menjadi suami yang baik, aku akan membuktikannya padamu!"
“Berubah? Kesempatan?” tanya Anindya sambil perlahan bergerak memutar tubuhnya hingga kini mereka kembali berhadapan. Tatapannya dingin, tajam, dan sama sekali tak ada raut iba.
"Aku sudah pernah bilang di awal kita menjalin hubungan. Aku paling benci pengkhianatan, dan sekarang aku katakan, Tidak Ada Kesempatan Kedua Bagi Seorang Penghianat," ucapnya tegas lalu kembali berbalik untuk melanjutkan langkah
Namun, lagi-lagi Raditya mencekal nya. “Tunggu! Kamu mau ke mana? Kamu tinggal di mana? Apakah jangan-jangan benar kecurigaan ku? Kamu memiliki uang tabungan lain yang kamu sembunyikan? Kamu mencurangiku?” pertanyaan beruntung meluncur dari mulut Raditya.
Anindya kembali menoleh dan menatap sinis. Memindai penampilan Raditya dari atas sampai bawah. Benar-benar mengenaskan. Dan dia tersenyum puas.
“Kamu lupa lagi, ya?” tanya Anindya santai. “Aku memang tidak punya uang. Tapi aku punya sahabat yang royal dan setia, aku juga punya kakak yang akan memberikan apa yang aku minta. Dan satu lagi, aku punya banyak koneksi yang akan bersedia menolongku dengan senang hati.”
Raditya terbungkam. Semua jawaban yang diucapkan Anindya memang fakta, dan dia mengakui itu.
“Daripada kamu sibuk berpikir aku mau ke mana dan tinggal di mana, lebih baik pikirkan selingkuhanmu? Bukankah sebentar lagi dia akan melahirkan?” ucap Anindya. “Saat itu tiba nanti, aku akan memberikan hadiah istimewa untuk kalian!” lanjutnya yang hanya diucap dalam hati.
Anindya membalikkan badannya dan bersiap melangkah pergi. Tapi baru beberapa langkah, ia berhenti dan berkata…
"Dan satu lagi... kalau kamu ingin memberiku bunga, jangan berikan bunga yang bisa layu, kering, atau membusuk dan berakhir di tempat sampah. Aku tidak suka! Satu-satunya bunga yang aku suka adalah bunga bank. Yang warnanya merah, yang jumlahnya banyak!”
Lalu tanpa menunggu reaksi dari Raditya, Anindya melanjutkan langkah, pergi dengan anggun.
Raditya menatap kepergian Anindya dengan pandangan nanar, seolah jiwanya ikut terbawa pergi bersama wanita itu. Ia masih berdiri terpaku di tempatnya, sampai Anindya mencapai area parkir di mana mobilnya berada.
Raditya memicingkan matanya. Di samping mobil mewah milik Anindya, sudah menunggu seorang pria tampan dengan penampilan rapi dan berwibawa. Pria yang beberapa waktunya ketahui sebagai Kak Rian, itu tersenyum lebar begitu melihat kedatangan Anindya. Tubuhnya yang semula bersandar pada badan mobil seketika berdiri tegak, lalu membuka pintu dan mempersilakan Anindya masuk dengan gaya pria gentle. Sesuatu yang selama ini tak pernah ia lakukan. Karena biasanya, meskipun mereka pergi dengan satu mobil, Raditya membiarkan Anindya membuka pintu untuk dirinya sendiri.
Raditya berdiri kaku di tempatnya, menyadari betapa bodohnya dirinya. Hal-hal kecil yang dulu ia abaikan, kini menjadi sesaknya. Saat ia ingin melakukan hal yang romantis untuk istrinya, wanita itu sudah melangkah begitu jauh.
Raditya keluar dari restoran dengan gontai. Kedua bahunya yang dulu selalu tegak, kini luruh ke bawah seakan tak lagi sanggup menopang beban hidupnya. Rasa takut dan kebingungan bercampur menjadi satu, hingga tanpa sadar butiran air mata perlahan menetes membasahi pipinya. Air mata keputusasaan. Ia benar-benar tak tahu lagi harus berbuat apa atau minta tolong pada siapa.
Dengan tangan gemetar, ia menyalakan mesin mobil dan mengemudikan kendaraannya kembali menuju RA Group. Perjalanan terasa begitu panjang dan menyiksa, seakan setiap detik hanya membawa ia semakin dekat ke jurang kehancuran.
*
Beberapa menit kemudian, mobil yang dikendarai Raditya tiba di halaman parkir perusahaan. Darius yang sudah sejak lama menunggu sambil berjalan mondar-mandir, segera bergegas menghampiri.
"Bagaimana, Tuan? Apakah Ibu Anindya bersedia menolong?" tanyanya dengan suara bergetar, berharap mendengar kabar baik yang bisa menyelamatkan mereka semua.
Namun, Raditya sama sekali tidak menjawab. Ia hanya melangkah terus ke depan dengan tatapan yang kosong, diiringi oleh pandangan penasaran dari para karyawan yang berseliweran di sepanjang lorong. Jiwanya seolah tertinggal di tempat pertemuannya tadi.
Darius yang dilewati begitu saja tertegun kebingungan.
Raditya terus berjalan hingga tiba di depan pintu lift, menekan tombol buka, lalu masuk ke dalamnya sendirian. Saat pintu lift perlahan tertutup rapat, barulah tubuhnya merosot bersandar ke dinding besi yang dingin. Di dalam keheningan itu, isak tangisnya akhirnya meledak, menandakan bahwa pria yang dulu begitu sombong dan berkuasa itu kini benar-benar jatuh ke titik terendah.
Raditya melangkah masuk dengan tatapan yang masih kosong hampa, lalu menghempaskan seluruh berat tubuhnya ke atas kursi kebesarannya dengan punggung bersandar lemas dan kepala terkulai, kedua tangannya terkenal erat di atas pegangan kursi. Perlahan matanya terbuka lalu menatap sekeliling. Ruang kerja mewahh, yang dulu menjadi lambang kejayaannya, kini terasa seperti sangkar pengadilan yang menanti untuk menjatuhkan vonis kehancuran atas dirinya.
Beberapa menit kemudian, pintu kembali terbuka. Darius masuk perlahan, lalu menutup kembali pintu rapat-rapat. Wajah asisten itu terlihat cemas, saat menatap tuannya yang tampak lebih buruk dibandingkan saat berangkat tadi. Darius mendekat perlahan, dan memberanikan diri bertanya.
“Apa yang terjadi, Tuan? Bagaimana pertemuan dengan Ibu Anindya?” tanyanya pelan dengan harapan yang masih tersisa, meski hatinya sudah mulai merasakan jawaban yang tak diinginkan.
Raditya masih diam. Suasana menjadi begitu hening. Hanya suara mesin pendingin ruangan dan detak jarum jam yang terdengar. Hingga akhirnya beberapa saat kemudian terdengar gumaman pelan dari mulutnya
“Hancur… semuanya hancur. Tak ada lagi yang tersisa… Tak ada harapan, tak ada jalan keluar. Segala yang pernah kumiliki, akan segera runtuh. Bagaimana cara aku menyelamatkan semuanya?”
sekali jadi penghianat
pasti akan jadi penghianat lagi
kan emang penyakit itu
tapi...gimana y sof
lu aja ngambilnya ga pake Suwon dulu
jadi ..ga boleh marah 🤣🤣🤣
cuman ati ati,cewek kaya WC umum itu bisa bawa penyakit
hiss..gw yg merinding mom
sekali jadi penghianat
pasti akan jadi penghianat lagi
kan emang penyakit itu
tapi...gimana y sof
lu aja ngambilnya ga pake Suwon dulu
jadi ..ga boleh marah 🤣🤣🤣
ulet bulu atu lagi 🤣🤣
ga bisa liat yg bening dikit
langsung menggatal dia
definisi laki laki mokondo
🥶
mending pulang cuci muka cuci kaki sikat Gigi ,,
bobo deh kelonan sama Sofia ,,
jgn trus2an bikin harga diri mu jatuh makin dalam ,,
klo gx da yg mau trima km di perusahaan ,,
udh dgaang tahu bulat aj kalo gx cimol bojot ,, gx bakal ad tu acara meeting2 ,, gx bakal ad acaraa bayar pajak2 ,, cocok kn buat km dit
👍👍👍👍🤭🤭🤭🤭🤣🤣🤣
suami yg teladan selalu mengikuti apa pun yg di ucap kan istri ny ,,
👍👍👍👍🤭🤭🤭🤭🤭
inget kata2 mu ,,
legowooo ,, legowooo ,, 🤭🤭🤭🤭
nmanya jg pnyesalan....mau jngkir blik jg anin mna mau pduli,yg ada dia mkin muak....biar aja lh mreka mrsakn yg nmanya hkum krma,kl mkir brrti bkln tobat....tp kl ga,brrti otaknya udh pndh k dengkul.....