Xu Natalia, wanita yang diam-diam mengangkat keluarga Li dari rakyat biasa menjadi bangsawan, justru dihina saat suaminya, Li Adrian, pulang dari perang membawa istri lain. Tanpa banyak kata, ia memilih bercerai dan pergi hanya dengan harga dirinya.
Tak ada yang tahu wanita yang mereka remehkan adalah putri kaisar dari negeri seberang sekaligus ahli pengobatan yang mampu mengubah takdir.
Bagaimanakah saat keluarga Li tahu identitas Natalia?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yulianti Azis, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Mulai Tertarik
Pagi itu, cahaya matahari perlahan menyapu Desa Lino yang semalam dipenuhi keputusasaan. Udara terasa lebih segar, seolah wabah yang mencekik mulai kehilangan cengkeramannya.
Di tepi sungai, Natalia duduk di bawah pohon besar. Tubuhnya sedikit bersandar pada batang kayu, napasnya panjang setelah semalaman bekerja tanpa henti.
Di sampingnya, air sungai yang sebelumnya keruh kini tampak jernih. Obat pemurni yang ia gunakan perlahan bekerja, menghapus sumber penyakit dari desa itu.
Natalia mencelupkan tangannya ke air. Ia lalu membasuh wajahnya yang lelah, menghapus sisa keringat dan debu.
Saat ia mengangkat wajahnya, cahaya matahari pagi menyinari kulitnya. Wajah cantiknya tampak bersih dan bercahaya, membuat siapa pun yang melihatnya sejenak terdiam.
Tak jauh dari sana, Yuhuang Tian berdiri diam. Meski setengah wajahnya tertutup topeng, sorot matanya begitu jelas tertuju pada Natalia.
Wu Reno yang berdiri di sampingnya melirik pelan. Ia ragu-ragu membuka suara.
“Yang Mulia,” panggilnya hati-hati.
Yuhuang Tian tidak menoleh. “Apa?”
Wu Reno menelan ludah. “Apa … Anda benar-benar tertarik dengan Nona Natalia?”
Hening beberapa detik.
Yuhuang Tian akhirnya menoleh sedikit. “Apa sejelas itu?”
Wu Reno menggaruk tengkuknya canggung. “Sedikit, eh, sangat jelas, Yang Mulia.”
Yuhuang Tian kembali menatap Natalia. Nada suaranya tetap datar. “Aku tertarik,” katanya singkat.
Wu Reno langsung menegakkan badan. “Karena dia menyelamatkan desa ini?”
Yuhuang Tian menggeleng pelan. “Bukan.”
Wu Reno berkedip. “Lalu karena apa?”
Yuhuang Tian menjawab tanpa ragu. “Karena dia satu-satunya wanita yang pernah melihat tubuhku.”
Wu Reno langsung tersedak. “A–apa?!”
Ia batuk-batuk, hampir kehilangan napas. Wajahnya memerah menahan keterkejutan.
“Jadi,” lanjut Yuhuang Tian santai, “selamanya harus dia melihatnya.”
Wu Reno menatapnya dengan ekspresi tak percaya. “Peraturan macam apa itu?” batinnya menjerit.
Ia berusaha mengumpulkan kewarasan. “Yang Mulia ada satu masalah kecil.”
Yuhuang Tian melirik. “Katakan.”
Wu Reno menarik napas. “Nona Natalia adalah wanita bersuami.”
Hening sesaat.
“Dan mereka belum bercerai,” tambah Wu Reno pelan.
Yuhuang Tian tampak berpikir sebentar. Lalu ia mengangkat bahu ringan. “Memangnya kenapa belum bercerai?” katanya datar.
Wu Reno membeku. “Maksud Anda?”
“Tinggal kita buat mereka bercerai,” jawab Yuhuang Tian santai. “Gampang, bukan?”
Wu Reno benar-benar tidak bisa berkata-kata. Ia hanya bisa meringis dalam hati.n“Ini bukan menculik kuda, Yang Mulia,” gumamnya pelan.
Namun sebelum ia sempat menambahkan apa pun, Yuhuang Tian sudah melangkah pergi.
Langkahnya tenang ndan pasti, langsung menuju ke arah Natalia.
Wu Reno hanya bisa memijat pelipisnya. “Aku harus pura-pura tidak tahu.”
Di bawah pohon, Natalia baru saja selesai merapikan rambutnya. Ia tampak sedikit lebih segar, meski kelelahan masih tersisa di wajahnya.
Tiba-tiba, suara dehem terdengar di belakangnya.
“Ehem.”
Natalia langsung menoleh. Tatapannya bertemu dengan sosok tinggi yang berdiri beberapa langkah darinya.
“Pangeran Kedua,” ucapnya singkat sambil berdiri.
Yuhuang Tian menatapnya beberapa detik. Seolah mencari kata yang tepat.
“Terima kasih sudah menyelamatkan desa ini,” katanya akhirnya, mencoba melembutkan suaranya.
Natalia sedikit terkejut, namun segera mengangguk. “Itu tugas saya.”
Hening sejenak.
Angin pagi berhembus pelan, menggoyangkan daun-daun di atas mereka.
Yuhuang Tian masih berdiri di tempat. Ia tidak pergi.
Natalia mulai merasa aneh. “Apakah ada hal lain, Yang Mulia?”
Yuhuang Tian menatapnya serius. “Ada.”
Natalia mengangkat alis. “Silakan.”
Pangeran itu terdiam sejenak, lalu berkata dengan nada datar, “Aku ingin menikahimu.”
Hah?
Suasana langsung membeku. Burung yang tadi berkicau seakan ikut diam.
Natalia menatapnya tanpa berkedip. “Maaf apa?”
Di kejauhan, Wu Reno menepuk wajahnya pelan. “Sudah kuduga.”
Yuhuang Tian tetap tenang. “Aku serius.”
Natalia menghela napas panjang. “Pangeran, saya baru saja menyelamatkan desa dari wabah, bukan membuka layanan perjodohan.”
Wu Reno hampir tertawa, tapi segera menutup mulutnya.
Yuhuang Tian tidak tersinggung. “Tidak ada hubungan.”
“Jelas ada,” balas Natalia datar. “Waktu Anda sangat tidak tepat.”
Pangeran itu sedikit mengernyit. “Lalu kapan waktu yang tepat?”
Natalia menatapnya lama. “Tidak ada.”
Hening lagi.
Namun tiba-tiba, sudut bibir Yuhuang Tian sedikit terangkat. Senyum tipis yang jarang terlihat.
“Baik,” katanya. “Aku akan menunggu waktu yang ‘tidak ada’ itu.”
Natalia memijat pelipisnya. “Pangeran.”
Natalia berpikir sepertinya pria di depannya ini terbentur sesuatu.
Namun sebelum ia melanjutkan, Yuhuang Tian sudah berbalik.
“Beristirahatlah,” ucapnya singkat. “Kau terlihat seperti akan pingsan.”
Natalia terpaku sejenak. Lalu tanpa sadar, ia menyentuh dahinya sendiri.
Wu Reno mendekat perlahan setelah sang pangeran pergi. Ia menatap Natalia dengan ekspresi campur aduk.
“Nona … saya minta maaf,” katanya tulus.
Natalia menghela napas. “Untuk apa?”
Wu Reno tersenyum kaku. “Untuk masa depan Anda. Dan meminta maaf karena sikap saya semalam.”
Natalia menatapnya datar. “Saya juga. Dan tolong, coba periksa kepala tuanmu itu, sepertinya dia terbentur atau sedang mimpi.”
Wu Reno hanya bisa meringis, bagaimana bisa sang pangeran tidak kenal, bahkan tidak dekat lamgsung mengajak seorang gadis menikah. Sungguh aneh! 🤣🤣
*
*
Keesokan paginya, suasana desa sudah jauh lebih tenang. Namun ketenangan itu tidak berlaku bagi Yuhuang Tian yang tampak berdiri kaku sejak tadi, seolah memikirkan sesuatu yang jauh lebih rumit daripada wabah.
Ia menatap ke arah kejauhan. Alisnya sedikit berkerut, pertanda pikirannya benar-benar serius. Pria tampan itu berpikir, kenapa Natalia tidak menerima ajakan pernikahannya? Apa dia kurang tampan atau kurang merayu?
“Reno,” panggilnya tiba-tiba.
Wu Reno yang sedang memeriksa barisan prajurit langsung menoleh. “Ya, Yang Mulia?”
Yuhuang Tian menatapnya serius. “Bagaimana cara merayu wanita?”
Wu Reno membeku. “A–apa?!” tanyanya, berharap ia salah dengar.
“Merayu wanita,” ulang Yuhuang Tian datar. “Agar dia tertarik.”
Wu Reno menelan ludah. Wajahnya mulai kaku. “Yang Mulia kenapa bertanya pada saya?” ucapnya hati-hati.
Yuhuang Tian mengernyit. “Kau laki-laki. Seharusnya kau tahu.”
Wu Reno hampir ingin menangis. “Masalahnya … saya jga tidak tahu, Yang Mulia.”
Hening sejenak.
“Baik,” lanjut Yuhuang Tian, “kalau begitu kita pikirkan bersama.”
Wu Reno berkedip cepat. “Kita?”
Yuhuang Tian mengangguk mantap. “Ya.”
Wu Reno mulai panik. Ia menggaruk kepalanya, mencoba mengingat sesuatu, apa saja tentang percintaan.
“A–aku pernah dengar,” gumamnya.
Yuhuang Tian langsung fokus. “Apa?”
Wu Reno menegakkan badan. “Wanita suka … perhatian kecil.”
“Perhatian kecil?” ulang Yuhuang Tian.
Wu Reno mengangguk cepat, meski ia sendiri tidak yakin. “Ya. Misalnya Anda harus memuji mereka.”
Yuhuang Tian berpikir. “Memuji? Baik.”
“Dan .…” Wu Reno mulai asal bicara. “Tatap matanya dalam-dalam. Jangan berkedip.”
Yuhuang Tian mengangguk lagi. “Mengerti.”
Wu Reno semakin terjebak. “Lalu … katakan sesuatu yang … romantis.”
“Apa contohnya?” tanya Yuhuang Tian serius.
Wu Reno berkeringat. “Seperti … ‘kau lebih indah dari lebah’ atau … ‘aku tidak bisa hidup tanpamu’.”
Yuhuang Tian mencerna semua itu. Wajahnya tetap datar, tapi jelas ia mengingat setiap kata.
“Baik,” katanya singkat.
Wu Reno tersenyum canggung. “Mungkin … itu cukup?”
Yuhuang Tian langsung berbalik. “Aku akan mencobanya sekarang.”
“Sekarang?!” Wu Reno hampir tersedak lagi.
Namun sang pangeran sudah melangkah pergi tanpa ragu.
Wu Reno mematung. “Kenapa aku merasa baru saja menghancurkan sesuatu.”
Di bawah pohon yang sama, Natalia sedang duduk sambil memeriksa catatan. Wulan berdiri di sampingnya, membantu mencatat kondisi pasien.
“Nona, pasien nomor tiga sudah bisa makan, Nona,” lapor Wulan.
Natalia mengangguk. “Bagus. Pastikan dia minum air yang sudah dimurnikan.”
Belum sempat percakapan mereka berlanjut, bayangan seseorang jatuh di hadapan mereka.
Natalia mendongak. Yuhuang Tian berdiri di sana.
“Pangeran?” ucap Natalia.
Wulan langsung mundur pelan. “Saya … ke sana dulu, Nona.”
Natalia menghela napas kecil. Ia sudah bisa menebak sesuatu akan terjadi.
Yuhuang Tian menatapnya sangat lama.
Natalia mulai merasa aneh. “Pangeran?”
Yuhuang Tian masih menatap, tanpa berkedip.
Natalia mengernyit. “Apakah ada sesuatu di wajah saya?”
“Tidak,” jawab Yuhuang Tian cepat. “Aku hanya … menatap matamu.”
Hening.
Natalia berkedip. “Baik.”
Yuhuang Tian melangkah lebih dekat. Tatapannya masih sama intens dan tanpa kedipan.
“Kau … lebih indah dari lebah,” katanya datar.
Wulan yang menguping dari jauh langsung menutup mulutnya.
Natalia mematung. “Maaf?”
“Aku tidak bisa hidup tanpamu,” lanjut Yuhuang Tian tanpa ekspresi.
Natalia menatapnya lama, cukup lama.
Lalu ia menghela napas. “Pangeran Anda sakit?”
Wu Reno yang berdiri jauh langsung menepuk wajahnya sendiri. “Habis sudah.”
Yuhuang Tian mengernyit. “Tidak. Ini disebut merayu.”
Natalia menahan diri beberapa detik. Namun akhirnya ia tertawa. Tawa kecil, tapi jelas terdengar.
Yuhuang Tian terdiam. “Apa yang lucu?”
Natalia menatapnya sambil masih tersenyum. “Siapa yang mengajari Anda?”
Yuhuang Tian menjawab jujur. “Reno.”
Wulan langsung menoleh ke arah Wu Reno dengan tatapan tajam.
Wu Reno pura-pura melihat langit. “Aku tidak ada di sini.”
Natalia menggeleng pelan. “Pantas saja.”
Yuhuang Tian tampak tidak mengerti. “Apa itu salah?”
Natalia berdiri. Ia menepuk ringan bahu jubahnya.
“Bukan salah,” katanya. “Hanya sangat buruk.”
Hening sejenak.
Yuhuang Tian berpikir. “Jadi aku gagal?”
Natalia menatapnya. Kali ini dengan senyum tipis yang sulit ditebak.
“Jika tujuan Anda membuat saya tertawa,” katanya, “maka Anda berhasil.”
Yuhuang Tian terdiam. Untuk pertama kalinya, ia terlihat sedikit bingung.
Wu Reno menghela napas lega. “Setidaknya tidak ditampar.”
Yuhuang Tian mengangguk pelan. “Baik.”
Natalia berbalik hendak pergi. Namun sebelum ia melangkah jauh.
“Kalau begitu,” kata Yuhuang Tian, “aku akan belajar lagi.”
Natalia berhenti sebentar. Tanpa menoleh, ia menjawab,
“Silakan. Tapi lain kali jangan tatap orang tanpa berkedip seperti itu.”
Natalia akhirnya melamgkah pergi, ia benar-benar dibuat heran dengan sikap pangeran yang dikenal Tiran itu.
aduhh, setidaknya buatlah tempat romantis 🤣 bukan disebuah desa yang baru saja terbebas dari wabah/Facepalm/