NovelToon NovelToon
Pembalasan Jiwa Yang Tertukar

Pembalasan Jiwa Yang Tertukar

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / CEO
Popularitas:5.1k
Nilai: 5
Nama Author: my name si phoo

​Diandra, seorang CEO tangguh, dikhianati oleh adik tirinya sendiri dan didorong dari lantai delapan hingga koma. Namun, maut belum menjemputnya. Jiwa Diandra terbangun di dalam tubuh Gia, seorang siswi SMA yang tewas setelah disiksa dan dibunuh oleh kekasihnya, Ferdian, beserta geng perundungnya.

​Terjebak dalam identitas baru yang rapuh, Diandra bersumpah akan menuntut balas. Ia tidak hanya akan menghancurkan Ferdian di sekolah, tapi juga merancang kejatuhan adik tirinya yang kini mengincar nyawa Pratama, suaminya sendiri.

​Tantangan terbesar Diandra bukan hanya kemiskinan Gia, melainkan meyakinkan Pratama bahwa jiwa istrinya ada di dalam tubuh gadis remaja tersebut. Di tengah skeptisisme sang suami, Diandra harus berpacu dengan waktu sebelum rencana pembunuhan berikutnya merenggut satu-satunya orang yang ia cintai.

​"Gia mungkin sudah mati, tapi Diandra baru saja dimulai."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my name si phoo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 13

Suasana di koridor sekolah yang baru saja tenang setelah penangkapan Kinanti kembali memanas.

Dari arah gerbang utama, terdengar langkah kaki yang tergesa-gesa namun sarat akan ketegasan.

Beberapa mobil mewah berwarna hitam legam tampak terparkir sembarangan di depan lobi sekolah, dan dari sana muncul sosok yang membuat siapa pun yang melihatnya akan menahan napas.

Pratama melangkah masuk ke dalam gedung sekolah dengan wajah yang mengeras seperti batu karang.

Matanya yang tajam memancarkan kilat amarah yang sangat pekat.

Di belakangnya, Diko dan dua orang pengacara berpakaian rapi mengikuti dengan langkah cepat.

Pratama baru saja menerima laporan dari tim keamanannya yang mengawasi Gia dari jauh bahwa gadis itu sempat diborgol atas tuduhan palsu.

Mendengar kabar bahwa raga istrinya diperlakukan seperti kriminal, darah Pratama langsung mendidih. Ia tidak terima.

"Di mana Kepala Sekolah?!" suara Pratama menggelegar di sepanjang koridor, membuat para guru dan murid yang berpapasan langsung menepi dengan wajah pucat.

Pratama berjalan lurus menuju ruang kelas Gia. Tepat di ambang pintu, ia melihat Kepala Sekolah yang masih berdiri gemetar di depan Diandra (Gia).

"Pak Pratama?" Kepala Sekolah terbelalak, mengenali sosok konglomerat yang menjadi salah satu penyumbang dana terbesar bagi yayasan sekolah ini.

"Ada angin apa Pak Pratama mendadak datang ke—"

"Hentikan semua omong kosong ini!" potong Pratama dengan suara rendah namun penuh penekanan yang mengancam.

Ia melangkah maju, langsung berdiri di depan Diandra, memposisikan dirinya sebagai perisai hidup bagi istrinya.

Pratama menatap tajam ke arah pergelangan tangan Diandra yang tadi sempat memerah akibat gesekan besi borgol.

Rahangnya mengencang menahan amarah yang meledak-ledak.

"Siapa yang memberi Anda hak untuk menggeledah dan memborgol anak ini tanpa bukti yang valid?" tanya Pratama dengan nada sedingin es.

"Anda tahu apa yang baru saja Anda lakukan? Anda baru saja mencoreng nama baik seseorang yang sangat penting."

Kepala Sekolah langsung berkeringat dingin, ia terbata-bata mencoba menjelaskan.

"Maaf, Pak Pratama. Tadi itu hanya kesalahpahaman. Kami menerima laporan palsu dari siswi bernama Kinanti, tapi sekarang masalahnya sudah selesai dan Kinanti sudah dibawa polisi—"

"Masalah ini belum selesai sebelum saya menyetujuinya," sela Pratama dengan angkuh.

Ia membetulkan letak jasnya, lalu berbalik sedikit untuk melirik Diandra dengan tatapan melembut sejenak, sebelum kembali menatap Kepala Sekolah dengan binar mata yang mematikan.

"Dia adalah murid yang bekerja di perusahaan saya," ucap Pratama dengan lantang, memastikan seluruh orang di dalam kelas termasuk Ferdian mendengarnya dengan jelas.

"Gia adalah Konsultan Khusus IT yang berada di bawah pengawasan langsung saya di Pratama Group. Dokumen kontraknya sah secara hukum. Tindakan gegabah Anda yang memborgolnya atas tuduhan tak berdasar bukan hanya menghina Gia, tapi juga merupakan penghinaan besar bagi korporasi saya!"

Mendengar pernyataan itu, seluruh kelas langsung gempar.

Mulut mereka terbuka lebar karena syok. Ferdian yang duduk di sudut ruangan merasa dunianya runtuh seketika.

Anak SMA miskin yang selama ini mereka rundung, ternyata adalah seorang konsultan khusus di perusahaan raksasa dan dilindungi langsung oleh sang CEO.

Kepala Sekolah hampir saja berlutut karena lemas.

"K-Konsultan di Pratama Group?"

"Benar," sahut salah satu pengacara Pratama sambil melangkah maju dan menunjukkan sebuah dokumen resmi. "Dan kami bisa saja menuntut pihak sekolah atas tindakan tidak menyenangkan dan pencemaran nama baik terhadap klien kami."

Diandra yang berdiri di belakang tubuh kekar Pratama hanya bisa tersenyum tipis.

Ia melipat kedua tangannya, menikmati bagaimana suaminya itu mengintimidasi orang-orang yang mencoba mengusik kedamaian mereka.

"Jadi, Pak Kepala Sekolah," ucap Diandra dari balik punggung Pratama dengan nada menyindir,

"apakah proses penyelidikan terhadap kaki tangan Kinanti bisa dipercepat? Karena seperti yang Pak Pratama bilang kalau waktu seorang konsultan sangat mahal."

Kepala Sekolah menganggukkan kepalanya berulang kali dengan cepat, wajahnya sudah sepucat kertas.

"Baik, Pak Pratama, Gia. Saya berjanji akan mempercepat seluruh proses penyelidikan ini. Hari ini juga tim kedisiplinan akan memeriksa rekaman CCTV dan menginterogasi semua pihak yang terlibat. Saya pastikan dalang lainnya akan menerima sanksi terberat!"

Mendengar jaminan itu, Pratama tidak sudi membuang waktu lebih lama lagi di tempat ini.

Ia menoleh ke arah Kepala Sekolah dengan tatapan yang masih sedingin es.

"Saya pegang janji Anda. Dan sekarang, saya harus membawa Gia ke rumah sakit untuk memeriksa pergelangan tangannya yang terluka akibat kecerobohan institusi ini."

"Silakan, Pak. Silakan. Saya memberikan izin sepenuhnya untuk Gia," jawab Kepala Sekolah dengan nada memohon, merasa lega karena sang konglomerat akhirnya memilih untuk pergi.

Pratama memegang pundak Diandra dengan lembut, menuntunnya keluar dari ruang kelas melewati koridor yang mendadak senyap karena para murid terkesima melihat pemandangan tersebut.

Anita yang melihat dari jauh hanya bisa tersenyum lega, sementara Ferdian tampak seperti mayat hidup di bangkunya, tahu bahwa tamat sudah riwayatnya.

Pintu mobil sedan mewah itu tertutup rapat, mengisolasi mereka dari kebisingan dunia luar. Begitu mobil mulai melaju membelah jalanan kota, sekat pembatas antara kursi kemudi dan kursi belakang perlahan naik, memberikan privasi penuh.

Ketegangan dan kemarahan yang tadi terpancar di wajah Pratama runtuh seketika.

Pria itu berbalik, dan tanpa aba-aba, ia langsung menarik tubuh mungil Gia ke dalam dekapan hangatnya.

Ia memeluk istrinya dengan sangat erat, seolah takut sosok di depannya akan menghilang lagi.

"Syukurlah kamu baik-baik saja. Syukurlah," bisik Pratama dengan suara yang bergetar hebat.

Kedua tangannya mendekap punggung Diandra, menumpahkan segala ketakutan yang sempat menghantui dadanya saat mendengar kabar istrinya diborgol.

"Maafkan aku karena terlambat datang melindungimu."

Diandra tertegun sejenak di dalam pelukan suaminya.

Aroma maskulin yang familier dan detak jantung Pratama yang berdegup kencang menyalurkan rasa aman yang begitu besar ke dalam lubuk hatinya.

Perlahan, ia menyandarkan kepalanya di dada bidang Pratama dan membalas pelukan itu dengan lembut.

"Mas, aku tidak apa-apa," ucap Diandra dengan suara yang pelan namun penuh ketenangan, berusaha meredakan kepanikan suaminya.

"Lihat aku, aku sama sekali tidak terluka. Borgol itu bahkan tidak bisa menyakitiku. Kamu tahu sendiri kan seberapa kuatnya istrimu ini?"

Pratama melonggarkan pelukannya sejenak, lalu meraih kedua pergelangan tangan Diandra.

Ia mengusap kulit yang sedikit memerah akibat gesekan besi tadi dengan ibu jarinya, penuh dengan rasa sesal dan kasih sayang.

"Aku tahu kamu kuat, Diandra. Tapi melihatmu berada di tempat seperti itu, mengenakan seragam ini, dan diperlakukan tidak adil, membuatku hampir kehilangan akal sehat," tutur Pratama sambil menatap dalam ke manik mata istrinya.

Diandra tersenyum manis—sebuah senyuman tulus yang hanya ia tunjukkan pada Pratama.

"Ini hanya bagian dari sandiwara, Mas. Mereka pikir mereka bisa menginjak Gia si anak yatim piatu, tanpa tahu bahwa mereka sedang membangunkan singa yang sedang tidur. Dan hari ini, kita sudah membuktikannya, bukan?"

Pratama menganggukkan kepalanya dan ia langsung melajukan mobilnya.

1
Anne Soraya
lanjut
Tian Selli
lanjutannya mana ya
Tian Selli: judul nya apa?
total 2 replies
cici
seru kali smpek yg baca ikut panik tiap episode
Susi Nugroho
Lanjutannya di tunggu
my name is pho: iya kak 🥰
total 1 replies
Dede Dedeh
lanjuttt
Asra
waah, makin menarik aja, next kak🙌💖
my name is pho: terima kasih kak 🥰
total 1 replies
Asra
semangat n ditunggu up nya lagi kak
my name is pho: siap kak🥰
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!