NovelToon NovelToon
Istri Pengganti

Istri Pengganti

Status: sedang berlangsung
Genre:Konflik etika / Selingkuh / Pengantin Pengganti / Pengganti / Pengantin Pengganti Konglomerat / Cinta Murni
Popularitas:2.3k
Nilai: 5
Nama Author: Purpledee

Noari Liora, gadis sederhana yang hidup dalam keterbatasan, tiba-tiba ditarik masuk ke dunia mewah keluarga Van Bodden, ketika Riana, sepupu perempuan kaya yang pernah menyakitinya di masa lalu, justru memintanya menjadi istri pengganti untuk suaminya, Landerik.

Di tengah rasa iba, dan desakan keadaan, Noa menerima tawaran itu. Pernikahan yang seharusnya hampa justru menyeretnya ke dalam lingkar emosi yang rumit, cinta, kehilangan, luka dan harapan.

Ketika Riana meninggal karena sakit yang dideritanya, Noa dituduh sebagai penyebabnya dan kehilangan pegangan hidup. Dalam rumah megah yang penuh keheningan, Noa harus belajar menemukan dirinya sendiri di antara dinginnya sikap Landerik, dan kehadiran Louis, lelaki hangat yang tanpa sengaja membuat hatinya goyah.

Akankah Noa bertahan di pernikahan tanpa cinta ini?
Atau justru menemukan dirinya terjebak dalam perasaan yang tidak pernah ia duga?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Purpledee, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 30. Perhatian kecil

Seharian Noa memilih berdiam diri di dalam kamar. Tirai jendela kamarnya dibiarkan setengah tertutup, membiarkan cahaya siang masuk samar, cukup untuk menerangi ruangan tanpa benar-benar mengusir rasa hampa yang menyelimutinya. Ia menghabiskan waktunya duduk di tepi tempat tidur atau memandangi balkon, pikirannya melayang tanpa arah.

Noa hanya keluar dari kamarnya ketika Matilda memintanya memastikan Landerik makan dan meminum obat tepat waktu. Setiap kali itu terjadi, langkah Noa pelan dan berhati-hati, seolah takut kehadirannya akan membuka kembali sesuatu yang seharusnya tetap terkubur. Ia menyiapkan air, menyerahkan obat, memastikan piringnya habis lalu kembali pergi tanpa banyak kata.

Landerik pun bersikap sama. Ia menerima semuanya dengan diam, tidak bertanya, tidak menyinggung apa pun yang terjadi malam itu. Tatapannya tenang, sikapnya dingin namun sopan, seakan kejadian di pesta, di kamar hotel, dan malam panjang penuh kegelisahan itu tidak pernah ada.

Di antara mereka terbentang kesepakatan tak terucap, malam itu disimpan, dilipat rapi, dan dikunci rapat, meski bayangannya masih tinggal, menggantung, dan perlahan menggerogoti hati keduanya.

Di keesokan paginya, saat Noa hendak turun untuk sarapan, langkahnya terhenti di anak tangga terakhir. Ia cukup terkejut melihat Landerik sudah berpakaian rapi, setelan gelap yang sempurna, rambut tertata rapi, wajahnya kembali pada ketenangan dingin yang biasa ia lihat. Noa tidak langsung duduk. Ia berdiri beberapa langkah dari meja makan, menatap Landerik dengan raut khawatir.

“Apa kau akan pergi bekerja hari ini?” tanyanya pelan.

“Iya,” jawab Landerik singkat sambil merapikan manset kemejanya. “Banyak pekerjaan yang harus kuselesaikan. Aku tidak bisa menundanya.”

“Tapi kata dokter kau harus banyak istirahat,” Noa menyela, nadanya refleks meninggi sebelum ia sendiri menyadarinya. Landerik berhenti bergerak. Ia terdiam beberapa detik, lalu mengangkat pandangannya menatap Noa, tatapan yang tenang, namun sulit dibaca.

“Kalau begitu,” suaranya rendah dan datar, “kenapa kau tidak membantuku saja di kantor, memastikan agar aku tidak kelelahan. hm?” Noa tertegun. Kata-kata itu membuatnya membeku di tempat.

“A-aku?” tanyanya ragu, hampir tidak percaya dengan apa yang baru saja ia dengar.

“Ya,” jawab Landerik singkat. “Setidaknya aku tidak bekerja sendirian, dan kau bisa memastikan aku tidak melanggar saran dokter.”

Noa menelan ludah. Ia tidak tahu apakah tawaran itu sekadar solusi praktis, bentuk kepercayaan, atau sesuatu yang lebih rumit dari itu.

...♡...

Hari itu, untuk pertama kalinya, Noa pergi ke kantor bersama Landerik. Begitu mereka melangkah masuk ke gedung tinggi berlapis kaca itu, Noa bisa merasakan puluhan pasang mata tertuju padanya. Tatapan penuh rasa ingin tahu, bisik-bisik yang tertahan, dan ekspresi terkejut tak mampu disembunyikan oleh para pegawai. Nama Van Bodden selalu membawa sorotan, dan kini, kehadiran Noa di sisi Landerik menjadi sesuatu yang tak terduga.

Landerik melangkah cepat, nyaris tanpa menoleh ke belakang. Langkahnya panjang dan pasti, seolah dunia di sekitarnya hanya piguran. Noa harus sedikit mempercepat langkah agar tidak tertinggal, jemarinya menggenggam tali tas dengan gugup.

Di samping Landerik berjalan seorang wanita yang anggun dan mencolok, Mora. dia sekretaris pribadi Landerik. Beberapa menit lalu, Mora baru saja diperkenalkan kepadanya dengan senyum profesional. Noa sempat tertegun saat itu, Mora cantik, tubuhnya proporsional dengan balutan setelan kerja yang pas, sikapnya percaya diri, dan auranya begitu kuat. Sekilas, Noa mengerti mengapa semua orang menghormati dan sekaligus memperhatikannya.

Kini Mora berbicara cepat, menjelaskan jadwal dan beberapa berkas yang harus ditandatangani, sementara Landerik menanggapi dengan anggukan singkat. Noa berjalan sedikit di belakang mereka, merasa seperti tamu di dunia yang asing, dunia yang rapi, dingin, dan penuh hirarki.

Ia menarik napas pelan, berusaha menenangkan diri. Hari itu bukan hanya tentang menemani Landerik bekerja. Itu adalah langkah pertamanya memasuki kehidupan baru dan asing, kehidupan yang mau tidak mau, kini menjadi bagiannya.

Landerik mulai tenggelam dalam pekerjaannya. Di sisi lain ruangan, Mora pun sibuk dengan tugasnya. Namun Noa merasa ada sesuatu yang janggal, gerak-gerik Mora terasa terlalu manis, terlalu sengaja, seperti seorang wanita yang pandai memancing perhatian. Naluri Noa sebagai sesama perempuan perlahan terbangun.

Di sampingnya, Landerik tetap fokus pada berkas-berkas dan komputer di hadapannya.

“Apa kau bosan?” tanya Landerik tanpa mengalihkan pandangan dari layar.

“T-tidak, hanya sedikit,” jawab Noa pelan.

Landerik terkekeh kecil. Untuk pertama kalinya, Noa melihat sisi lain dari dirinya, bukan sosok dingin dan berwibawa, melainkan seorang pria yang bisa tertawa ringan.

“Ada yang ingin aku katakan,” ujar Noa hati-hati, pandangannya melirik ke arah Mora. “Tapi jangan terlalu dipikirkan atau diambil hati.”

“Apa?” tanya Landerik singkat.

“Sepertinya ada yang aneh dengan sekretarismu. Dia sedikit…”

“Dia memang wanita yang menggoda,” potong Landerik tenang. “Bagi siapa pun laki-laki yang melihatnya.”

Noa langsung menatapnya tajam.

“Tapi tidak bagiku,” lanjut Landerik tanpa ragu.

...♡...

Menjelang siang, seluruh karyawan berbondong-bondong menuju kafetaria untuk makan siang. Noa pun ikut turun, mengambil beberapa makanan, ia memilih dengan cermat, memastikan ada menu ringan yang cocok untuk Landerik, terutama karena pria itu masih harus meminum obatnya.

Saat Noa kembali ke ruang kerja, langkahnya sempat terhenti. Mora sudah lebih dulu berada di sana. Di atas meja Landerik tersaji makan siang yang tertata rapi, dan Landerik tampak menatapnya tapi belum ia makan, ia tenang seperti tak ada yang aneh.

Dada Noa mengencang. Ada rasa kesal yang tiba-tiba muncul, tajam namun tertahan. Ia tahu perasaan itu tidak sepenuhnya beralasan, Mora memang sekretarisnya, dan mungkin itulah tugasnya. Namun tetap saja, ada sesuatu yang membuat Noa merasa tersisih. Tatapan Mora sempat bertemu dengan tatapan Noa. Seulas senyum tipis terukir di wajah wanita itu, seolah menyadari sepenuhnya apa yang dirasakan Noa.

Noa membalasnya dengan senyum kecil, senyum yang dipaksakan. Ia tidak berkata apa pun. Noa memilih duduk di sofa, meletakkan nampan di pangkuannya, lalu memakan makanan itu sendiri. Setiap suapan terasa hambar, dipenuhi rasa kesal yang tidak bisa ia keluarkan, karena untuk saat ini, ia bahkan tidak tahu apakah ia punya hak untuk merasa seperti itu.

Landerik baru menyadari keberadaan Noa ketika ia berdiri dari kursinya, mengambil gelas air untuk menelan obatnya. Pandangannya singgah sekilas pada Noa, pada nampan di pangkuannya, pada cara Noa menunduk, menyuap makanan tanpa ekspresi.

Ada sesuatu yang tidak selaras. Ia melirik meja kerjanya yang tersedia makanan buatan Mora, lalu ia melihat Noa. Tanpa berkata apa pun, Landerik menutup kotak makan yang sudah disiapkan Mora.

“Maaf, aku akan makan siang bersama istriku,” katanya singkat.

Mora menoleh, sedikit terkejut. “Tapi, Pak—”

“Kau bisa kembali bekerja,” potong Landerik tenang, nadanya tidak tinggi namun cukup tegas untuk mengakhiri percakapan. Mora terdiam sesaat, lalu mengangguk profesional sebelum beranjak pergi. Hak sepatunya menjauh, menyisakan keheningan yang canggung namun lega.

Landerik kemudian berjalan mendekat ke arah Noa. Ia berhenti di depan sofa, menatap makanan di pangkuan Noa.

“Kau repot-repot mengambilkannya untukku, kenapa kau makan?” tanyanya.

Noa terkejut, ia menatap Landerik "M-maaf, aku akan ambilkan yang lain..." Tanpa berkata-kata Landerik mengambil makanan Noa, lalu memakannya.

Noa mengangguk kecil. “Aku harus segera makan dan minum obat, banyak pekerjaan yang harus aku lakukan.” kata Landerik lalu makan dengan lahap.

Setelah itu tanpa ragu, Landerik mengambil botol obat dari saku jasnya, dan meminumnya, Tanpa aladan yang jelas Noa terus menatap Landerik.

“Terima kasih,” ucapnya singkat.

Noa tertegun. Ia tidak menjawab, hanya menatap pemandangan itu,s ebuah gestur sederhana, nyaris sepele, namun entah mengapa membuat dada Noa menghangat.

“Aku terbiasa diurus orang lain,” lanjut Landerik datar.

“Tapi hari ini… aku lebih nyaman seperti ini.”

Noa menunduk, menyembunyikan senyum tipis yang hampir muncul.

Landerik tidak berkata apa-apa lagi. Ia kembali ke mejanya, membuka berkas-berkas pekerjaan, seolah tidak terjadi apa pun. Namun bagi Noa, satu hal menjadi jelas, tanpa sadar, Landerik baru saja menenangkan hatinya dengan cara yang paling tidak mencolok, namun paling tepat.

To Be Countinue…

1
Kam1la
hati2 Laderick bisa tergoda Mora
Kam1la
💪💪💪 lanjut , Noa
Kam1la
Tidak... Noa!!🤭
Deii Haqil
ow.. no, Noa..🙈💪💪
Miu Nuha.
rasany nyesek ya, harus menahan diri demi mewujudkan keinginan orla 🤧
Miu Nuha.
paham banget kalo mau nentuin kapan meninggoynya 😩😩😩
Deii Haqil
lanjut lagi..hemhemhem🤭
Kam1la
makin seru nnih ....! semangat up. dan jangan lupa mampir di Terlambat Mencintaiku...😍
Deii Haqil
makin seru😊 lanjut kak💪
Afriyeni
setidaknya kamu punya hak untuk itu saat ini noa. sebab landerik juga tidak punya kuasa untuk menekan mu.
Afriyeni
Riana, noa dan landerik adalah orang orang yg tengah bermain di atas luka masing masing
PURPLEDEE ( ig: _deepurple ): ouh suka bnget kata-kata nya kak😭
total 1 replies
Deii Haqil
keren kak, mantap! semagat nulisnya😁
PURPLEDEE ( ig: _deepurple ): makasih dh mampir kak🤗
total 1 replies
Kam1la
lanjutkan...
Deii Haqil
jangan lupa ngopi. kak. semangat😁
Kam1la
alur yang bikin nyesek..... semangat berkarya Kak !!
PURPLEDEE ( ig: _deepurple ): makasih kak🤗
total 1 replies
Kam1la
semangat 2.....up😍
Deii Haqil
lanjut baca, kasian juga Riana😭
ss
Kak semangat yahh...
PURPLEDEE ( ig: _deepurple ): makasih dh mampir kak🤗
total 1 replies
Kam1la
sedih....
PURPLEDEE ( ig: _deepurple ): wah... makasih dh mampir kak🤗
total 1 replies
Miu Nuha.
kekny si ibu gk dpt perlakuan baik dari keluarga Landerik 🤔 ,, jadi nikah gk nih...
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!