Malam itu, di balik rimbun ilalang takdir seorang gadis muda yang baru saja lulus sekolah menengah atas itu berubah selamanya. Seorang wanita sekarat menitipkan seorang bayi padanya, membawanya ke dalam pusaran dunia yang penuh bahaya.
Di sisi lain, Arkana Xavier Dimitri, pewaris dingin keluarga mafia, kembali ke Indonesia untuk membalas dendam atas kematian Kakaknya dan mencari sang keponakan yang hilang saat tragedi penyerangan itu.
Dan kedua orang tua Alexei yang di nyatakan sudah tiada dalam serangan brutal itu, ternyata reinkarnasi ke dalam tubuh kucing.
Dua dunia bertabrakan, mengungkap rahasia kelam yang mengancam nyawa Baby Alexei
Bisakah Cintya dan Arkana bersatu untuk melindungi Alexei, ataukah takdir akan memisahkan mereka selamanya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon riniasyifa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 26
"Eh, pagi Kak Arkan!" sapa Cintya, ceria. Kenapa juga bibirnya harus refleks nyebut nyapa sih? Sekarang, pria itu pasti makin besar kepala," batinnya meronta. Jantungnya ikut nge-disco di dalam sana.
"Kenapa jantung gue jadi konser dadakan gini!" batin Cintya tambah panik, berusaha mengabaikan tatapan intens Arkana. "Jangan-jangan gue kena serangan jantung dini?! Harus segera periksa ke dokter nih, bareng May!" cerocos Cintya dalam hati.
Cintya buru-buru memalingkan muka, menggigit bibir bawahnya gugup. Tangannya meremas tali tas seolah itu adalah satu-satunya hal yang bisa diandalkan. Aroma parfum Arkana yang mahal dan mengintimidasi - masih berputar-putar di sekelilingnya, menusuk hidungnya dengan aroma citrus dan musk yang kuat.
"Hai juga, Mas," sahut May, menyikut lengan Cintya dengan senyum lebay-nya.
Devano tersenyum lebar mendengar respon salah satu dari wanita cantik itu. "Mau pada ke mana kalian pagi-pagi begini, udah pada cantik?" lanjut Devano mengedipkan sebelah matanya ke arah Cintya dan May.
"Dasar May, emang nggak bisa lihat cowok ganteng dikit, langsung baper! " batin Cintya jengkel.
May tersenyum malu-malu sambil merapikan poninya, sebelum May membuka mulut, Cintya lebih dulu menjawab. "Kerja," ketus Cintya, tanpa senyum sedikit pun. Ia benci basa-basi sama cowok modellan Devano. Pengennya cepat-cepat sampai cafe dan ngopi biar otaknya nggak lemot.
Arkana masih diam, matanya memelototi Cintya seperti ilmuwan mengamati spesimen di bawah mikroskop. Tatapan itu membuatnya merasa seperti telanjang di depan umum.
"Kerja di mana? Siapa tahu nanti kita bisa mampir ... ngopi-ngopi cantik," goda Devano, senyumnya semakin lebar.
"Cafe, Oppa! Eh, mas maksudnya," sahut May cepat, sebelum Cintya memotongnya lagi. "Eh boleh bangat ... nanti mampir ya! Dijamin ketagihan sama kopi buatan aku."
Lampu merah berganti hijau. Cintya menarik tuas gas, memacu motornya dengan kasar. Ia ingin kabur. Kabur dari tatapan Arkana, dari aroma parfumnya, dari gombalan receh Devano, dari segala sesuatu yang membuatnya merasa awkward. Tapi Devano nggak nyerah. Mobil itu bergerak perlahan, mengimbangi laju motor yang di kendarai Cintya.
"Eh, tunggu!" seru Devano, menjulurkan kepalanya keluar jendela. "Nanti aku mampir ya, ke cafe kalian? Sekalian traktiran buat si judes yang bawa motor."
Cintya menghela napas panjang mengabaikan ocehan Devano. "Ok! kami tunggu," jawab May tersenyum manis. "Bodo amat!" sahut Cintya tanpa mengalihkan pandangannya dari jalan di hadapannya.
Arkana yang punya kesabaran hanya setipis tisu yang di belah sepuluh itu akhirnya bersuara. "Jangan coba-coba menganggu gadis itu!" desisnya tajam. Nada suaranya membuat bulu kuduk Devano meremang, matanya melebar, menatap Arkana tak percaya. "Wait, wait! Sejak kapan seorang Arkana peduli sama wanita? Dan ... sejak kapan lo kenal cewek secantik mereka, apa lagi yang bawa motor, beh! Gemesin meskipun sedikit judes?" bisiknya penuh selidik, seringai nakal menghiasi wajahnya.
Arkana mendengus. "Dev, jangan bikin gue ninggalin lo di sini!" desis Arkana kesal, rahangnya mengeras.
Devano mengangkat kedua tangan, menyerah. "Oke, oke! Mulut gue dikunci. Tapi, ini menarik!" gumamnya, masih dengan seringai yang sama. "Biasanya lo cuma peduli laporan keuangan sama grafik penjualan. Ini pertama kalinya gue lihat lo tertarik sama sesuatu yang ... hidup. Apa dunia mau kiamat?"
"Bisa diam gak?!" balas Arkana tajam, matanya menyipit.
Devano mengalah. "Fine, fine! See you, cantik!" serunya sambil melambaikan tangan sebelum mobil sport itu meraung dan melesat pergi, meninggalkan bau knalpot yang menyengat dan debu yang beterbangan.
Cintya mengembuskan napas lega. "Dasar buaya kadal," gerutunya sambil memegangi dadanya.
May tertawa. "Lo kenapa kesetrum pesona oppa-oppa itu ya? Nggak heran sih! Semua cewek pasti akan klepek-klepek. Tapi, gue lebih ngeri sama tatapan Kak Arkana tadi. Kayak mau nelen orang hidup-hidup."
Cintya terdiam. Ia merasakan hal yang sama. Ada aura mengancam yang terpancar dari Arkana. Seolah pria itu menyimpan kekuatan besar yang siap meledak kapan saja. Tapi, ada sesuatu yang lain juga. Sesuatu yang membuatnya penasaran.
"Udah ah, ngapain kita jadi ngerumpiin mereka sih!" sahut Cintya, berusaha mengusir bayangan Arkana dari benaknya. "Kita harus buruan ke cafe. Kak Rico pasti udah nungguin kita."
Di cafe, aroma kopi robusta yang baru digiling memenuhi ruangan, pahit dan kuat, bercampur dengan sedikit aroma karamel dari sirup yang baru dibuka. Suara mesin kopi yang berdecit dan obrolan ringan dari pelanggan menciptakan suasana yang hangat dan akrab.
Rico, dengan gayanya yang cool seperti biasa dan rambut yang sedikit berantakan, menyambut mereka dengan senyum hangat.
"Nah, ini dia yang ditunggu-tunggu!" serunya lega. "Semangat ya hari ini! Feeling gue, cafe bakal tambah rame gara-gara kembalinya Cintya. "
Cintya tersenyum kecil menanggapi sapaan Rico. Aroma kopi yang biasanya menenangkan, kini terasa hambar. Pikirannya masih tertuju pada Arkana. Kenapa sih gue nggak bisa berhenti mikirin tuh cowok kulkas?" batinnya frustasi.
Setelahnya kedua wanita itu dengan sigap bergerak cepat. Mereka membersihkan meja, menyiapkan bahan-bahan, dan menyambut pelanggan dengan senyum ramah. Tapi, di balik senyumnya, Cintya terus melirik ke arah jendela seolah sedang menanti sesuatu.
_________&&________
Di sisi lain, di sebuah ruangan dengan desain klasik namun terasa dingin, seorang pria tua duduk di kursi kulitnya yang besar. Cahaya lampu yang redup menyoroti wajahnya yang keriput dan penuh amarah. Aroma cerutu Cohiba yang mahal memenuhi ruangan, bercampur dengan bau anyir darah yang samar.
Tangannya terkepal kuat, urat-uratnya menonjol di kulitnya yang tipis. Kuku-kukunya panjang dan kotor. Di atas meja mahoni, tergeletak sebuah kotak kayu berukir indah. Isinya adalah kepala salah satu anak buah terbaiknya, matanya menatap kosong ke arah langit-langit. Mulutnya menganga, seolah masih ingin berteriak.
Rahangnya mengeras. "Dimitri ...!" geramnya pelan, suaranya bergetar menahan amarah. "Kau akan membayar ini. Aku bersumpah, kau akan membayar semua yang telah kau lakukan! Secepatnya!"
Pria tua itu meraih gelas kristal berisi cairan berwarna coklat tua. Ia meneguknya hingga tandas, merasakan sensasi panas membakar tenggorokannya. Aroma brandy yang kuat memenuhi ruangan, bercampur dengan aroma cerutu dan bau anyir darah. Dendam membara di dalam hatinya, siap meledak dan menghancurkan siapa saja yang menghalangi jalannya.
"Tunggu saja Arkana ...," bisiknya, matanya menyala-nyala dengan amarah yang membara. "Kau akan menyesal telah menentangku."
Bersambung ....
ngga sabar nunggu paman & bunda sah.
kopi untuk mu
aku mencoba mampir di novel mu 🤗
di awal Bab ceritanya dh seru bgt ,, smg selanjutnya ceritanya bagus