NovelToon NovelToon
Terlambat Mencintaiku

Terlambat Mencintaiku

Status: sedang berlangsung
Genre:Identitas Tersembunyi / Penyesalan Suami
Popularitas:5.1k
Nilai: 5
Nama Author: indah yuni rahayu

Zizi menjalani pernikahan tanpa cinta. Suaminya mengabaikan, keluarganya menghina, dan rumah yang seharusnya melindungi justru menjadi tempat paling sunyi.

Ketika kesabarannya habis, Zizi memilih pergi dan mematikan rasa.

Dengan identitas baru dan bantuan seorang teman lama, Zizi kembali sebagai perempuan yang tak tersentuh.

Ia mendekati mantan suaminya—bukan untuk balas rindu, melainkan untuk membalas luka. Kepercayaan dibangun, ambisi dipancing, lalu dihancurkan perlahan.

Saat penyesalan datang dan kebenaran terungkap, semuanya sudah terlambat.
Karena mencintainya baru sekarang
adalah kesalahan yang tak bisa ditebus.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon indah yuni rahayu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Latihan Presentasi Direksi

Pagi itu, layar ponsel Dara bergetar untuk kesekian kalinya.

Nama yang muncul di sana, Danu. “Aku di lobi,” tulisnya singkat.

Dara menarik napas panjang di depan cermin. Bahunya ditegakkan. Tatapannya sendiri terasa asing—lebih tegas, lebih dewasa dari dirinya beberapa bulan lalu. Tapi di balik mata yang mantap itu, jantungnya berdetak terlalu cepat.

Ia tahu, waktu bermain-main sudah selesai.

Hari ini bukan hanya soal presentasi. Ini tentang haknya bersuara, di ruangan yang selama ini dikuasai orang-orang yang meremehkannya, terutama Bram.

Dara mengambil blazer biru tua, memakainya perlahan. “Kamu nggak akan kabur, Ra,” gumamnya pada diri sendiri. “Kamu akan berdiri.”

Ia menuruni tangga. Danu berdiri dekat pintu kaca, kedua tangan di saku, wajahnya serius namun matanya memancarkan keyakinan penuh.

“Kita mulai,” katanya tanpa basa-basi. “Simulasi negosiasi dulu. Anggap aku Bram.”

Dara tertawa gugup. “Serem amat pembukaannya.”

“Karena dia memang akan keras.” Danu menatapnya lekat. “Dan kamu harus lebih keras—tanpa kehilangan elegan.”

Di ruang meeting kosong itu, kursi-kursi disusun seperti rapat dewan. Danu duduk, sengaja menyilangkan tangan, alis terangkat—persis gaya Bram ketika merendahkan orang.

“Baik,” katanya dingin. “Presentasikan kenapa usulanmu layak dipertimbangkan. Waktumu lima menit. Dan aku… tidak akan mudah dibuat terkesan.”

Dara menelan ludah. Lalu ia berdiri dan menarik napas panjang. Di depannya, layar presentasi menyala. Di balik kaca ruangan, langit pagi menggantung pucat, seolah ikut menahan napas bersamanya.

Suara Danu kembali terngiang.

“Kalau kamu dipotong saat bicara, jangan panik. Diam sebentar. Tatap mata lawanmu. Lalu lanjutkan. Kamu yang pegang kendali ruangan, bukan mereka.”

Suaranya keluar, jernih.

“Terima kasih atas waktunya. Saya akan langsung ke inti.”

Danu memperhatikannya.

Ada sesuatu yang berubah.

Tak ada lagi Dara yang ragu-ragu.

Yang berdiri di depannya kini adalah perempuan yang siap dipertanyakan keras, dan tak akan roboh hanya karena suara dinaikkan.

Tiga malam terakhir mereka latihan sampai larut. Publik speaking. Simulasi negosiasi. Danu memerankan direktur yang sinis, komisaris yang skeptis, dan investor yang dingin—semuanya sekaligus. Dara bahkan sempat hampir menangis karena ditekan terus–menerus.

Di akhir simulasi, Danu bersandar. “Kamu siap,” katanya pelan.

“Bram akan mencoba memotongku,” balas Dara.

“Biarkan.” Danu tersenyum tipis. “Kamu bukan Dara yang dulu.”

Kini kalimat itu menjadi jangkar keberaniannya.

.

.

Semua latihan public speaking, jeda napas, cara mengunci kontak mata—semua yang semalam mereka ulang telah berbaris rapi dalam kepalanya.

Dara menatap pintu ruang rapat yang tertutup.

Di baliknya, masa depannya menunggu.

Dan konfrontasi itu… tinggal menunggu waktu.

.

.

Rapat pun dimulai lagi.

Dara berdiri di depan ruang rapat eksekutif. Pintu kaca besar itu memantulkan bayangannya: setelan jas hitam sederhana, rambut pendek tegas, tatapan yang tidak lagi ragu.

Di balik pintu, dewan direksi menunggu.

Beberapa menatap dengan sopan, beberapa menyilangkan tangan dengan tatapan menilai. Bram—direksi senior yang sejak tadi dingin—terlihat bersandar di kursinya dengan senyum tipis yang sulit dibaca.

Dara melangkah masuk.

Suara langkah hak sepatunya memecah hening.

“Selamat pagi,” ucapnya tenang.

Beberapa orang menjawab. Beberapa hanya mengangguk singkat.

Ia tidak memaksa mereka menyukai dirinya. Ia hanya perlu mereka mendengarnya.

Slide presentasi menyala di layar besar. Grafik naik-turun, proyeksi pasar, dan jalur ekspansi terpampang jelas. Dara memulai pemaparan—suaranya stabil, jelas, ritmenya mantap. Setiap data ia kuasai, setiap kemungkinan ia siapkan jawabannya.

Di sisi ruangan, ada Rama. Bukan sebagai ayah. Sebagai sesama pemimpin perusahaan. Ia melihat hal yang jarang muncul pada orang seusia Dara luka yang ditempa menjadi keteguhan.

Dara selesai menjelaskan satu bagian strategi besar.

“Intinya sederhana,” katanya menutup sesi, “kita tidak bisa hanya bertahan. Kita harus berani tumbuh. Jika kita hanya bermain aman, kita akan kalah oleh mereka yang berani mengambil langkah lebih dulu.”

Bram mengangkat alis.

“Keberanian itu bagus,” ucapnya, nada suaranya halus namun dingin, “tapi perusahaan bukan arena eksperimen anak muda. Risiko sekecil apa pun bisa menghantam ratusan karyawan.”

Dara menoleh padanya. Tatapannya tidak melawan, tapi juga tidak mundur.

“Saya setuju,” jawabnya pelan. “Itulah mengapa saya tidak datang membawa nekat. Saya membawa perhitungan.

Setiap poin yang Dara ajukan, Bram memotongnya dengan kalimat halus namun tajam, “Apakah tidak terlalu berisiko untuk pengalaman Anda yang masih… minim?”

“Atau mungkin kita kembalikan saja keputusan strategis pada komisaris?”

“Menurut saya, keputusan sebesar ini sebaiknya dipertimbangkan orang yang lebih… matang.”

Direksi lain diam.

Sebagian setuju.

Sebagian mengamati.

Sebagian hanya menunggu siapa yang jatuh lebih dulu.

Dara menggenggam pulpen di tangannya.

Ia mengingat malam-malam di kafe bersama Danu.

Kalimat sederhana: “Pemimpin bukan yang paling keras suaranya, tapi yang paling tenang ketika diprovokasi.”

Ia tersenyum kecil.

“Baik,” katanya tenang. “Kalau Bapak meragukan keputusan saya, kita uji saja dengan angka.”

Ia menekan remote.

Grafik naik turun muncul. Data yang detail. Bukan wacana. Bukan emosi.

Bram sempat terdiam sepersekian detik, ini bukan gadis yang bisa didikte.

“Jika program ini berhasil,” lanjut Dara, “kita naik 18 persen dalam tiga kuartal. Jika gagal… saya mundur.”

Ruangan hening.

Tantangan terlempar.

Bram menyipitkan mata.

“Dan,” Dara menambahkan lembut,

“Jika sistem yang Bapak pimpin terbukti menghambat operasional selama tiga bulan terakhir, saya akan minta Bapak menjelaskan langsung di depan komisaris.”

Tidak meninggikan suara.

Tidak marah.

Hanya menempatkan cermin di hadapan Bram.

Bram tersenyum tipis.

Untuk pertama kalinya ia melihatnya bukan sebagai anak kecil.

Tetapi sebagai lawan.

Bukan Zizi yang dulu menunduk.

Ini Dara Valencia.

Ruangan itu kembali senyap.

Lalu Suara tepuk tangan terdengar.

Satu.

Dua.

Disusul yang lain.

Tidak riuh.

Tapi tulus.

Ketika rapat ditutup, sebagian direksi menghampiri Dara. Ada yang menjabat tangannya. Ada yang sekadar mengangguk menghormati. Beberapa masih dingin, tapi kini lebih berhati-hati.

Bram melewatinya tanpa banyak bicara. Hanya berhenti sebentar di sampingnya.

“Perjalananmu masih panjang, Nona CEO,” katanya rendah. “Kita lihat… seberapa lama kamu bisa bertahan.”

Dara tersenyum tipis.

“Bukan soal bertahan,” balasnya tenang. “Ini tentang memimpin.”

Bram menatapnya sepersekian detik—lalu pergi.

Di ambang pintu, Dara berhenti. Tarikan napas panjang ia simpan dalam dada.

Shinta mendekatinya lebih dulu.

“Ternyata rambut pendek cocok sekali,” katanya lembut.

Dara tertawa kecil. “Mama…”

Rama menyusul. “Kau tidak hanya terlihat kuat,” ucapnya pelan. “Kau memang kuat.”

Untuk sesaat, Dara bukan CEO. Ia hanya anak yang berdiri di antara kedua orang tuanya, memeluk rasa hangat yang lama hilang.

Lalu ia mengangkat dagunya lagi.

Masih ada masa lalu yang belum selesai.

Masih ada seseorang bernama Arman yang suatu hari… akan melihat siapa yang ia lepaskan.

Dan hari itu akan datang.

Cepat atau lambat

1
Ma Em
Arman dan Bu Anggun kaget setelah tau Zizi atau Dara menjadi orang sukses wanita yg selalu diacuhkan dan selalu dihina dan diremehkan sekarang jadi wanita yg sangat berkelas tdk tersentuh , menyesalkan Arman dan Bu Anggun karena sdh membuang berlian .
Kam1la: iya kak.... menyesal banget!
total 1 replies
PURPLEDEE ( ig: _deepurple )
Semangat terus kak🤗
Kam1la: ok Kak.. pasti !
total 1 replies
PURPLEDEE ( ig: _deepurple )
halo aku mampir lagi kak 🤗
PURPLEDEE ( ig: _deepurple )
halo👋
Kam1la: halo, juga Kak !!
total 1 replies
PURPLEDEE ( ig: _deepurple )
Halo aku mampir lagi kak🤗
Miu Miu 🍄🐰
ayo Zizi bikinlah si congcorang itu menyesal
Miu Miu 🍄🐰
lanjut kak Thor makin seru😍
Kam1la: mampir juga Kak, di karya author yang lain, ayah anakku CEO amnesia
total 2 replies
Ma Em
Mampir Thor cerita awal saja sdh membuat hati panas , semoga Zizi bisa sukses dan balas perbuatan Arman dan keluarganya hingga menyesal seumur hdp nya 💪💪👍👍😘😍
Kam1la: terima kasih Kak, mampir juga donk di karya author Ayah Anakku CEO AMNESIA, semoga terhibur....
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!