Kael Valmont adalah pewaris sekaligus pemimpin muda Shadow Crown, organisasi mafia yang mengendalikan segalanya dari balik bayangan. Dikenal kejam dan tak terkalahkan, tidak ada yang berani mengkhianatinya.
Namun suatu malam, seseorang berhasil menyusup ke dalam organisasinya. Pengkhianatan itu membuat Kael terluka parah dan menghilang tanpa jejak.
Di sebuah desa terpencil bernama Desa Sekar, Hana, seorang dokter muda, menemukan pria misterius yang terdampar di pesisir pantai dalam keadaan sekarat. Tanpa mengetahui identitasnya, Hana berjuang menyelamatkan nyawa pria tersebut.
Saat semua orang mengira ia hanyalah korban biasa, sebuah rahasia perlahan terungkap. Seseorang sedang mencarinya. Bukan untuk menolongnya, melainkan untuk memastikan ia tidak pernah bangun lagi.
Siapa sebenarnya pria misterius yang ditemukan di tepi pantai itu? Dan rahasia apa yang tersembunyi di balik lambang mahkota hitam yang terukir di tubuhnya?
Ketika masa lalu mulai mengejarnya, Desa Sekar yang damai
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Keysa Bom, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Part 31 Naluri yang Tidak Pernah Salah
Senja mulai menyelimuti kota. Lampu-lampu jalanan perlahan menyala satu per satu, menggantikan cahaya matahari yang tenggelam di balik gedung-gedung tinggi.
Di dalam sebuah toko baju anak-anak, Kael berdiri diam di depan rak. Matanya memperhatikan beberapa pakaian berukuran kecil dengan saksama.
"Yang ini cocok," kata Teri. Wanita itu mengangkat sebuah gaun biru muda yang cantik sambil tersenyum.
"Lalu yang itu," sahut Kael pendek. Pandangannya beralih ke sudut rak, menunjuk sebuah boneka kelinci berbulu halus. Ia tahu Rani sangat menyukai boneka.
Namun sebelum Kael sempat mengambilnya, Teri justru melangkah cepat ke arah rak lain. Beberapa menit kemudian, ia kembali membawa dua buah topi dan dua masker hitam di tangannya.
"Untuk apa?" tanya Kael, sebelah alisnya terangkat heran.
"Karena sejak kita masuk kota, ada yang mengikuti," bisik Teri. Ia langsung memakai salah satu topi ke kepalanya, berpura-pura sedang merapikan rambut di depan cermin toko.
"Aku tahu," jawab Kael tanpa terkejut sedikit pun. Ia menerima topi dari tangan Teri.
"Kira-kira lima belas menit setelah masuk pusat kota," tambah Teri, matanya melirik tajam ke arah pantulan kaca luar.
"Tiga motor," timpal Kael tenang.
"Dua mobil," sambung Teri lagi.
"Kemampuan mengawasi mereka buruk," cibir Kael. Ia memakai topi tersebut, menyembunyikan tatapan matanya yang tajam di balik bayangan topi.
"Mereka sengaja menjaga jarak," bisik Teri, mulai memakai masker hitamnya.
"Tapi terlalu sering melihat ke arah kita," sahut Kael. Ia ikut mengenakan masker hitamnya dengan sekali tarikan.
"Kita pura-pura tidak tahu?" tanya Teri. Sudut matanya menyipit, menyiratkan senyum licik.
"Tuntaskan saja," jawab Kael. Sudut bibirnya di balik masker sedikit terangkat. "Sudah lama tidak ada hiburan."
Setelah membayar semua belanjaan, mereka keluar dari toko. Suasana jalanan masih ramai. Orang-orang berlalu-lalang tanpa menyadari dua orang berbahaya sedang berjalan santai di tengah keramaian.
Kael menenteng beberapa kantong belanjaan dengan langkah santai, sementara Teri berjalan di sampingnya. Mereka sengaja memancing para penguntit itu. Belok kanan masuk gang sempit, belok kiri, hingga akhirnya mereka tiba di sebuah jalan buntu yang sepi dan gelap.
Hingga akhirnya...
"Berhenti!" gertak sebuah suara kasar dari arah belakang.
Sepuluh pria berbadan kekar mendadak muncul dari berbagai sudut gelap. Mereka bergerak cepat menutup seluruh jalan keluar. Salah satu pria yang bertubuh paling besar melangkah maju sambil berkacak pinggang.
"Kalian ikut kami," perintah pria bertubuh besar itu dengan nada mengancam.
"Tidak mau," sahut Kael dingin. Ia bahkan tidak membalikkan badannya, hanya melirik sekilas dari balik bahunya.
"Kurasa kalian tidak punya pilihan!" Pria itu tertawa keras, merasa menang jumlah.
"Sebenarnya kami punya," balas Teri santai. Ia memasukkan kedua tangannya ke dalam saku jaket tanpa ada rasa takut sedikit pun di wajahnya.
Pria besar itu langsung memberi isyarat tangan. Dua anak buahnya maju dengan kasar, bersiap menarik bahu Kael dan Teri. Namun anehnya, Kael dan Teri sama sekali tidak melawan. Mereka sengaja mengalah dan mengikuti ke mana orang-orang itu membawa mereka.
Beberapa menit kemudian, mereka tiba di sebuah gudang tua yang kosong dan berdebu. Tempat itu sangat sunyi. Pintu besi besar langsung ditutup rapat dengan suara dentangan keras yang menggema, mengunci Kael, Teri, dan sepuluh pria tersebut di dalam.
"Bagus," ucap pria bertubuh besar itu sembari tersenyum puas. Ia menepuk-nepuk tangannya yang besar.
"Sekarang kita bisa bicara santai," lanjutnya lagi, menatap remeh ke arah Kael dan Teri.
Kael dan Teri berdiri diam berdampingan. Topi dan masker masih menutupi wajah mereka. Namun di balik kain hitam itu, keduanya justru sedang tersenyum tipis.
"Teri," panggil Kael tanpa menoleh.
"Hm?" sahut Teri, melirik kecil lewat sudut matanya.
"Pemanasan?" tawar Kael, menggerakkan jari-jarinya yang bebas dari kantong belanja.
Selama tiga bulan ia hanya menjadi guru SD menyembunyikan segala identitas dan insting membunuhnya saat ini cukup membuat rasa bosannya sedikit berkurang.
"Dengan senang hati," jawab Teri. Matanya berbinar penuh semangat.
"Pemanasan?!" Salah satu pria bertubuh kurus langsung tertawa mengejek mendengar obrolan itu.
"Kalian pikir ini main-main, hah?!" bentak pria lain, menyeringai lebar sambil mencabut sebilah pisau lipat dari sakunya.
"Mereka bahkan tidak sadar sedang berhadapan dengan siapa," ejek rekannya yang lain, ikut melangkah maju mengepung.
"Benar," cetus si pria besar.
"Kita sepuluh orang," timpal rekannya kasar.
"Sedangkan mereka cuma dua!" seru mereka hampir bersamaan.
Tawa ejekan menggema di dalam gudang. Tidak ada satu pun dari sepuluh orang itu yang sadar akan nasib sial mereka. Mereka mengira sedang menjebak kelinci polos, padahal mereka baru saja masuk ke kandang harimau.
"Hajar mereka!" perintah si pemimpin bertubuh besar. Ia sendiri yang maju duluan, melayangkan pukulan tangan kanan yang sangat kuat lurus ke arah wajah Kael.
Bugh! Ahk!
"Apa-apaan-" Pria besar itu bahkan belum sempat menyelesaikan makiannya.
Tepat sebelum tinju itu mengenai wajahnya, Kael menggeser kepalanya sedikit ke samping dengan sangat tenang. Tangan kirinya bergerak secepat kilat mencengkeram pergelangan tangan lawan, lalu memutarnya dengan paksa. Di saat yang sama, telapak tangan kanan Kael menghantam ulu hati pria itu dengan dorongan yang sangat keras.
Brak!
Sebelum lawan sempat jatuh, Kael memutar badannya dan membanting pria besar itu ke lantai. Tubuh raksasa itu terlempar bebas dan menghantam dinding batako gudang hingga retak, sebelum akhirnya ambruk tak bergerak lagi.
"Serang bersamaan! Jangan takut!" teriak salah satu dari mereka yang mulai panik melihat bos mereka langsung pingsan dalam sekali serang.
"Habisi mereka!" sahut yang lain. Tiga orang langsung mencabut balok kayu panjang dan menyerbu Kael secara membabi buta.
Brak! Krek!
"Sialan!" jerit salah satu penyerang.
Balok kayu pertama diayunkan keras ke arah kepala Kael, namun Kael justru merangsek maju mendekati posisi lawan. Ia menepis lengan pria itu ke atas, menghantamkan sikunya telak ke leher lawan, lalu merebut balok kayu yang terlepas.
Dengan satu gerakan cepat, Kael memukulkan balok itu ke kepala penyerang kedua sampai kayu tersebut patah jadi dua. Sisa patahan kayu di tangannya langsung ia tusukkan ke paha penyerang ketiga. Pria itu menjerit histeris sebelum tendangan memutar dari kaki Kael menghantam telak pelipisnya hingga ia langsung roboh ke lantai.
Di sisi lain gudang, Teri dikepung oleh empat orang yang membawa rantai besi.
"Tangkap dia!" seru mereka geram.
Krak! Dug!
"Argh! Kakiku!" raung dua orang sekaligus.
Saat rantai besi diayunkan ke arahnya, Teri merunduk cepat lalu berguling di lantai. Ia melakukan sapuan kaki yang sangat kuat, menghantam kaki dua orang sekaligus hingga mereka jatuh terlentang dengan suara keras.
Saat dua orang sisanya mencoba menginjak tubuhnya, Teri langsung melompat bangun dengan lincah. Ia mencengkeram bagian belakang kepala kedua pria tersebut, lalu membenturkannya satu sama lain dengan kekuatan penuh.
Suara benturan keras terdengar, dan keduanya langsung lunglai jatuh ke lantai seperti pakaian basah.
Dalam hitungan kurang dari tiga menit, gudang tua itu kembali sunyi senyap. Sepuluh pria yang tadinya sombong kini terkapar mengenaskan di lantai, mengerang kesakitan tanpa bisa melawan lagi.
"Sudah lama sekali tidak berolahraga seaktif ini," ucap Teri. Ia mengembuskan napas panjang sambil merapikan kembali topinya yang sedikit miring dengan ujung jari.
"Lumayan," sahut Kael datar. Ia menggerakkan lehernya hingga berbunyi krak pendek, lalu menepuk sisa debu di bajunya yang bahkan tidak lecet sedikit pun.
"Guru SD ternyata pekerjaan yang jauh lebih melelahkan daripada merobohkan sepuluh orang ini," lanjut Kael lagi, melirik tumpukan orang di lantai.
Teri langsung tertawa keras mendengarnya. Itu adalah tawa pertamanya malam ini yang terdengar sangat lepas.
Di antara sepuluh orang itu, hanya ada satu orang yang masih setengah sadar pria yang pahanya terluka akibat patahan kayu tadi. Ia mencoba merangkak mundur ketakutan, meninggalkan jejak darah di lantai.
Kael berjalan mendekat. Langkah kakinya terdengar begitu tenang namun terasa sangat berat dan menakutkan.
"J-jangan mendekat..." bisik pria itu. Seluruh tubuhnya gemetar hebat dan bermandikan keringat dingin.
Tatapan Kael yang biasanya ramah sebagai seorang guru desa kini telah hilang sepenuhnya. Yang tersisa hanyalah sepasang mata yang sangat dingin, tajam, dan mematikan. Kael mengambil posisi berjongkok tepat di depan wajah pria yang ketakutan itu.
"Siapa yang menyuruh kalian?" tanya Kael. Suaranya sangat rendah, namun sanggup membuat bulu kuduk pria di hadapannya berdiri tegak.
Pria itu hanya diam, mencoba menahan rasa takutnya walaupun bibirnya bergetar hebat.
"Jawab," perintah Kael lagi. Ia tidak memukul, hanya menatap lurus ke dalam mata pria itu tanpa berkedip. Tekanan dari tatapan mata Kael terasa begitu mencekik, membuat pria itu merasa ajalnya sudah sangat dekat.
"A-aku..." pria itu mulai gagap, napasnya memburu panik.
"Ulangi sekali lagi," desis Kael, memajukan wajahnya sedikit.
"K-kami hanya diperintah! Sumpah! Aku tidak tahu nama aslinya!" teriak pria itu akhirnya histeris. Ia menangis karena tidak kuat menahan rasa takut yang luar biasa.
"Kami hanya disuruh mengawasi seorang wanita dan juga mengamankan kalian agar bisa jauh dari wanita itu!
!" lanjutnya lagi dengan suara serak, membongkar semua informasi demi menyelamatkan nyawanya.
Kael dan Teri saling melirik tajam sejenak.
"Wanita?" tanya Kael, nadanya sedingin es.
"Iya!" jawab pria itu cepat.
"Siapa?" desak Kael lagi.
"D-dokter Hana!" seru pria itu ketakutan.
Kael mengerutkan alisnya dalam-dalam. "Hana?"
"Iya! Kami disuruh mengawasinya! Menunggu perintah untuk membawanya kalian sedikit menjauh!" Pria itu mengangguk cepat berulang kali.
"Kenapa?" tanya Kael, menuntut jawaban terakhir.
"Aku benar-benar tidak tahu! Kami hanya menerima perintah lewat telepon!" ratap pria itu dengan sisa tenaganya.
Kael terdiam, otaknya langsung bekerja cepat memikirkan situasi ini. Di belakangnya, wajah Teri juga berubah menjadi sangat serius. Hana? Dokter Desa Sekar yang polos dan baik hati itu? Apa hubungannya dengan musuh masa lalu mereka?
Sebelum mereka sempat bertanya lebih lanjut untuk mencari tahu siapa orang di balik telepon tersebut...
"Ugh..." Pria di hadapan Kael mendadak memucat. Matanya berputar ke atas, dan napasnya mendadak berhenti karena syok dan ketakutan tingkat dewa setelah berhadapan dengan aura menakutkan Kael.
Bruk.
Tubuh pria itu langsung ambruk dan pingsan seketika di atas lantai. Gudang tua itu kembali menjadi sangat sunyi.
"Luar biasa," puji Teri. Ia berjalan mendekat, menatap pria yang tergeletak pingsan itu sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Apa?" tanya Kael, berdiri tegak kembali dan merapikan maskernya.
"Anda bahkan tidak perlu memukulnya dua kali untuk membuat orang ini bicara, lalu pingsan karena ketakutan," kekeh Teri, mencoba mencairkan ketegangan.
"Dia pingsan sendiri karena mentalnya lemah," sahut Kael datar, kembali bersikap tenang seolah tidak terjadi apa-apa.
Namun, meskipun Kael terlihat tenang, mereka berdua tahu satu fakta penting yang baru. Orang-orang ini sama sekali tidak sedang mengincar Kael atau Teri.
Target sebenarnya adalah Hana. Dan siapa pun orang kuat yang berada di balik perintah ini, mereka telah mengambil langkah pertama untuk mengusik kehidupan Dokter Desa Sekar tersebut.
Bersambung...