Xu Natalia, wanita yang diam-diam mengangkat keluarga Li dari rakyat biasa menjadi bangsawan, justru dihina saat suaminya, Li Adrian, pulang dari perang membawa istri lain. Tanpa banyak kata, ia memilih bercerai dan pergi hanya dengan harga dirinya.
Tak ada yang tahu wanita yang mereka remehkan adalah putri kaisar dari negeri seberang sekaligus ahli pengobatan yang mampu mengubah takdir.
Bagaimanakah saat keluarga Li tahu identitas Natalia?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yulianti Azis, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Desa Lino
Rombongan Pangeran Kedua Yuhuang Tian akhirnya tiba di Desa Lino menjelang senja setelah mereka melakukan perjalanan cukup lama yaitu selama 4 hari.
Langit terlihat berwarna kelabu, seakan ikut berduka atas nasib desa itu. Bau anyir bercampur busuk langsung menyeruak begitu mereka melewati gerbang kayu yang hampir roboh.
Natalia lamgsung turun dari kuda putih miliknya, sambil menatap ke depan yang desa itu sangat sunyi. Wulan meringis melihat desa itu begitu juga dengan yang lain.
Natalia menghentikan langkahnya. Matanya membelalak, napasnya tercekat melihat kondisi di hadapannya.
Di sepanjang jalan desa, tubuh-tubuh terbaring lemah. Beberapa mengerang pelan, sementara yang lain hanya bisa menatap kosong tanpa tenaga. Kulit mereka pucat kehijauan, sebagian bahkan dipenuhi bercak hitam yang mengerikan.
“Ya Dewa .…” bisik Wulan dengan suara gemetar. Tangannya refleks menutup hidung, namun matanya tak bisa berpaling dari penderitaan itu.
Natalia menelan ludah. Wajahnya yang biasanya tenang kini dipenuhi rasa prihatin yang mendalam.
“Ini … jauh lebih parah dari laporan,” ucapnya pelan.
Seorang wanita tua merangkak mendekati rombongan. Tangannya gemetar saat mencoba meraih ujung pakaian Natalia.
“Tolong … selamatkan kami .…” suaranya serak, hampir tak terdengar.
Natalia segera berlutut di hadapannya. Tangannya dengan hati-hati memeriksa denyut nadi wanita itu.
“Nadi lemah, suhu tinggi … dehidrasi parah,” gumamnya.
Wulan berjongkok di sampingnya. “Nona, apa ini penyakit biasa?”
Natalia menggeleng pelan. “Tidak. Ini bukan wabah biasa.”
Tak jauh dari mereka, Wu Reno memperhatikan dengan sorot mata tajam. Ia kemudian melangkah mendekat.
“Nona Natalia,” katanya serius, “sebenarnya wabah apa ini?”
Natalia berdiri perlahan. Matanya menyapu seluruh desa yang dipenuhi penderitaan.
“Kita belum tahu,” jawabnya tenang. “Tapi kita akan cari tahu. Tapi kalian tidak boleh menyentuh langsung, kalian harus menggunakan sarung tangan, kita belum tahu apa yang kita hadapi sekarang.”
Wu Reno lamgsung memgangguk mengerti.
Pangeran Kedua Yuhuang Tian berdiri beberapa langkah di belakang, wajahnya dingin dan tak terbaca. Ia hanya mengamati setiap gerakan Natalia tanpa berkata sepatah kata pun.
Natalia menarik napas dalam. Ia lalu menoleh pada para prajurit yang berdiri kaku.
“Kita butuh area bersih,” katanya tegas. “Dirikan tenda di sisi timur desa. Jauh dari penduduk yang sudah terinfeksi parah.”
Para prajurit saling pandang. Tak satu pun bergerak.
Wulan mengerutkan kening. “Kalian tidak dengar perintah Nona?”
Salah satu prajurit tampak ragu. “Kami hanya menerima perintah dari Yang Mulia Pangeran.”
Suasana mendadak hening.
Natalia tidak marah. Ia hanya menatap mereka datar, lalu beralih menatap Yuhuang Tian.
Pangeran itu melangkah maju satu langkah. Tatapannya tajam menyapu para prajuritnya.
“Lakukan, apapun yang dikatakan nona Natalia, kerjakan segera,” ucapnya singkat.
Seketika itu juga para prajurit bergerak cepat. Tanpa berani membantah, mereka segera menuju lokasi yang ditunjuk.
Wulan menghela napas lega. “Akhirnya.”
Natalia tidak membuang waktu. Ia berbalik dan berjalan menuju salah satu rumah kosong yang tampak masih cukup utuh.
“Wulan, ikut aku.”
“Baik, Nona.”
Begitu masuk ke dalam rumah, Natalia memastikan tidak ada orang lain di sana. Ia menutup pintu rapat-rapat.
Wulan menatapnya penuh pengertian. “Nona akan mengambilnya sekarang?”
Natalia mengangguk pelan. Ia mengangkat tangannya, lalu dalam sekejap sebuah cahaya tipis berpendar di sekelilingnya. Dari ruang dimensi tersembunyi miliknya, satu per satu alat medis modern mulai muncul.
Kotak peralatan steril, sarung tangan, masker, termometer digital, hingga alat suntik dan botol cairan infus.
Wulan sudah terbiasa melihat ini, namun tetap saja ia tak bisa menyembunyikan rasa kagumnya.
“Setiap kali melihatnya tetap terasa luar biasa,” gumam Wulan.
Natalia hanya tersenyum tipis. “Ini warisan dari Ibu.”
Ia segera mengenakan sarung tangan dan masker. Gerakannya cepat dan terlatih.
“Kita harus bekerja cepat. Penyakit ini menyebar melalui kontak … kemungkinan juga udara.”
Wulan langsung ikut mengenakan perlengkapan yang diberikan Natalia.
“Perintah selanjutnya, Nona?”
Natalia membuka kotak alatnya. “Kita mulai dari pasien yang masih sadar. Aku perlu sampel darah dan memeriksa gejala secara detail.”
Tak lama kemudian, mereka keluar dari rumah itu dengan membawa peralatan.
Langkah Natalia terhenti sejenak ketika menyadari tatapan Wu Reno dan Pangeran Kedua tertuju padanya.
Wu Reno menyipitkan mata. “Peralatan itu… aku belum pernah melihatnya sebelumnya.”
Natalia tetap tenang. “Memang tidak banyak yang tahu.”
Wu Reno melangkah mendekat. “Itu bukan alat medis biasa. Dari mana kau mendapatkannya?”
Sejenak hening.
Wulan menegang, namun Natalia hanya menjawab dengan nada datar.
“Ini buatan ibuku.”
Wu Reno mengernyit. “Ibumu?”
Natalia mengangguk. “Beliau seorang tabib … dengan metode yang sedikit berbeda.”
Penjelasan itu terdengar sederhana, namun cukup untuk menutup rasa penasaran, setidaknya untuk sementara.
Wu Reno masih tampak curiga, namun tidak bertanya lebih jauh.
Di sisi lain, Yuhuang Tian tetap diam. Tatapannya tajam, seolah mencoba menembus setiap rahasia yang Natalia sembunyikan. Namun ia tidak mengatakan apa pun.
Natalia kembali fokus pada pekerjaannya. Ia mendekati seorang pemuda yang masih setengah sadar. Dengan hati-hati, ia memeriksa kondisi tubuhnya.
“Wulan, catat. Demam tinggi, ruam hitam di lengan, napas cepat.”
“Sudah, Nona.”
Natalia kemudian mengambil sampel darah menggunakan alat suntik modernnya. Gerakannya begitu halus hingga hampir tak terasa oleh pasien.
Wu Reno memperhatikan dengan serius. “Metodemu … sangat berbeda.”
Natalia tidak menoleh. “Selama bisa menyelamatkan nyawa, metode apa pun tidak penting.”
Ia kemudian berdiri. Matanya semakin tajam.
“Ini bukan sekadar wabah biasa. Ada kemungkinan ini infeksi yang sangat kuat atau bahkan sesuatu yang bermutasi.”
Wulan terkejut. “Bermutasi?”
Natalia mengangguk pelan. “Aku belum bisa memastikan. Tapi pola penyebarannya terlalu cepat.”
Angin sore berhembus dingin, membawa suara rintihan dari seluruh penjuru desa.
Natalia mengepalkan tangannya. “Kita tidak punya banyak waktu.”
Di kejauhan, tenda-tenda mulai berdiri. Para prajurit bekerja cepat di bawah perintah Pangeran Kedua.
Yuhuang Tian akhirnya berbicara, suaranya dingin dan rendah. “Berapa lama kau butuh untuk menemukan jawabannya?”
Natalia menoleh, menatapnya lurus. “Secepat mungkin.”
Tatapan mereka bertemu. Dua sosok dengan kekuatan dan rahasia masing-masing. Natalia akhirnya memutuskan tatapannya, lalu kembali fokus pada rakyat desa yang tengah merintih.
itu siapa punya hak
hadeh dasar ya kko manusia serakah