NovelToon NovelToon
Sisa Rasa Yang Terlarang

Sisa Rasa Yang Terlarang

Status: sedang berlangsung
Genre:Drama / Perjodohan / Cinta Seiring Waktu / Diam-Diam Cinta
Popularitas:1.3k
Nilai: 5
Nama Author: HebiKage

Usai memutuskan hubungan dua setengah tahun dengan Reza, Tari merasa lelah dengan drama cinta dan tekanan keluarga. Belum sembuh sepenuhnya, ia dipaksa ibunya mengikuti kencan buta—dan takdir malah mempertemukannya dengan Aldo, adik kandung mantan pacarnya sendiri.

Wajahnya mirip, tapi sikapnya sangat berbeda: lebih dingin, lebih tajam, dan seolah menyimpan rahasia serta dendam tersembunyi. Pertemuan yang dipaksa keluarga perlahan membangkitkan perasaan yang tak seharusnya ada. Di tengah gosip lingkungan dan luka lama yang mulai terbuka kembali, Tari dihadapkan pada satu pertanyaan berat:

Apakah ia berhak merasakan bahagia di samping orang yang masih terikat erat dengan masa lalunya yang menyakitkan?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon HebiKage, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Hari Pertama Di Negeri Orang

Suara nada dering ponsel memecah keheningan pagi. Aku terbangun kaget.

Pukul tepat enam pagi.

Seluruh tubuhku terasa kaku dan berat, seolah baru saja menempuh perjalanan jauh semalaman. Bukan karena kasurnya yang kurang nyaman—kasur ini cukup empuk dan engan untuk berbaring. Melainkan karena hawa dingin yang menyelinap masuk melalui celah‑celah kecil di pinggiran jendela, membuat udara di dalam ruangan terasa sedingin lemari pendingin raksasa.

Aku menarik selimut hingga menutupi sebagian wajah, berguling ke sisi lain kasur, dan berusaha keras kembali memejamkan mata. Namun ponsel itu berbunyi lagi. Dan lagi. Dan lagi. Tak mau diam.

“Bangun, Tari. Hari ini adalah hari pertamamu masuk kuliah. Kamu tidak boleh terlambat,” bisikku pada diri sendiri sebagai pengingat.

Aku menghela napas panjang, lalu perlahan melepas selimut yang menghangatkanku. Saat duduk di tepi kasur, telapak kakiku menyentuh permukaan lantai kayu yang sedingin es—membuatku langsung menggigil hebat.

“Sepotong karpet hangat… aku harus segera membelinya,” gumamku berjanji.

Aku berjalan tergesa ke kamar mandi, membasuh seluruh wajah dengan air yang mengalir dingin—ternyata tak ada air hangat yang keluar di apartemen ini, atau mungkin aku belum paham cara mengatur kerannya dengan benar. Saat menatap cermin, terbayanglah wajahku yang tampak agak pucat, dengan lingkaran gelap yang cukup tebal di bawah mata. Namun aku tak mau membiarkan hal itu merusak semangatku.

“Tak apa‑apa. Hari ini pasti akan menjadi hari yang indah dan menyenangkan,” ucapku pelan sambil berusaha tersenyum pada bayanganku sendiri.

***

Pukul tujuh pagi, aku sudah berdiri siap di depan cermin.

Aku mengenakan jaket tebal berwarna biru tua—hadiah istimewa dari Aldo sebelum aku berangkat ke sini. Waktu itu dia tersenyum sambil diam‑diam memasukkan jaket itu ke dalam koperku. “Pakai ini agar tetap hangat saat berada di Melbourne,” katanya saat aku baru menyadarinya.

Di leherku tergantung syal berwarna kelabu pemberian Mama. “Ikatkan terus di leher supaya kamu tak mudah masuk angin di tempat yang dingin itu,” pesannya sambil matanya berkaca‑kaca menahan rindu saat perpisahan dulu.

Dan di dada, terselip kalung dengan liontin berbentuk buku kecil—hadiah dari Aldo yang selalu mengingatkanku, di mana pun aku berada, aku takkan pernah benar‑benar sendirian.

Aku menatap tajam pantulanku di cermin kecil yang menempel di dinding.

“Kamu pasti bisa menjalani semuanya, Tari. Kamu perempuan yang kuat,” kataku tegas, menguatkan hati sendiri.

Aku mengambil tas ransel, memasukkan laptop, buku catatan, serta botol minum ke dalamnya. Saat memeriksa ponsel, ada satu pesan masuk yang dikirimkan tepat pukul lima pagi waktu Melbourne—berarti pukul satu pagi di Jakarta. Pengirimnya: Aldo.

“Selamat pagi, Tari. Semoga hari pertamamu berjalan lancar dan penuh kesan indah. Aku sangat menyayangimu.”

Senyumku mengembang seketika. Aku segera membalas pesannya.

“Selamat pagi juga, Aldo. Terima kasih banyak untuk doanya. Aku pun sangat menyayangimu. Istirahatlah yang nyenyak di sana.”

Setelah pesan terkirim, aku memasukkan ponsel ke saku jaket, lalu melangkah keluar menutup pintu apartemen rapat‑rapat.

***

Pukul tujuh lewat tiga puluh menit pagi, aku mulai berjalan menuju kampus.

Kampus Universitas Melbourne hanya berjarak sekitar sepuluh menit jalan kaki dari tempat tinggalku. Sepanjang jalan, mataku dimanjakan pemandangan gedung‑gedung tua bergaya Victoria yang indah: dinding‑dinding dari bata merah yang kokoh, jendela‑jendela besar berbingkai kayu putih, serta taman‑taman kecil yang tertata rapi di halaman depan rumah penduduk.

Pepohonan di pinggir jalan tampak sedang gugur daun—sesuai ciri khas musim dingin di belahan bumi selatan ini. Lembaran‑lembaran daun berwarna coklat kemerahan berserakan di atas trotoar, membentuk hamparan karpet alami yang indah. Aku sengaja menginjak beberapa tumpukan daun kering itu, mendengar suara berderak halus di bawah sepatuku—suara sederhana yang entah mengapa terasa sangat menyenangkan hati.

Di sekitarku, banyak mahasiswa yang berlalu‑lintang: ada yang berjalan tergesa seolah takut terlambat, ada yang berjalan santai sambil menikmati alunan musik dari ponselnya, ada pula yang duduk diam di bangku taman sambil tenggelam dalam buku bacaannya.

“Inilah kampus impianku yang selama ini kunanti‑nanti,” batinku berbisik penuh rasa syukur.

***

Pukul tepat delapan pagi, aku sampai di depan Gedung Arts West.

Bangunan ini tampak sangat modern dan berbeda jauh dari gaya gedung‑gedung tua di sekitarnya. Dindingnya sebagian besar terbuat dari kaca bening yang besar, atapnya menjulang dengan struktur geometris yang rumit dan unik, serta di halaman depan berdiri sebuah patung bentuk abstrak yang indah namun sulit aku pahami maknanya.

Begitu melangkah masuk ke dalam, udara hangat langsung menyambut kulitku—sangat kontras dengan hawa dingin yang menusuk tulang di luar sana.

“Syukurlah hangat. Sekarang aku bisa melepas jaketku sebentar,” pikirku lega.

Aku mencari ruang kuliah sesuai jadwal yang ada di tanganku: Ruang 301, di lantai tiga. Aku berjalan menuju lift, menekan tombol naik, lalu menunggu pintu terbuka.

Saat pintu lift terbuka, di dalamnya sudah ada seorang gadis muda berambut pendek sebahu, berkulit putih bersih, dan bermata biru yang jernih. Ia tersenyum ramah kepadaku saat aku melangkah masuk.

“First day?” tanyanya dengan nada akrab.

Aku sedikit terkejut karena ia berbicara kepadaku. “How did you know?”

Gadis itu tersenyum makin lebar. “Your face, you look nervous.”

Aku tertawa kecil mendengarnya. “Is it that obvious?”

“A little bit,” jawabnya sambil mengulurkan tangan menyapa. “I'm Sarah. Second year. Bachelor of Arts."

Aku menjabat tangannya dengan senang hati. “Tari. First year. Master of Creative Writing.”

“Ah, a writer! Cool.” serunya antusias.

Tak lama kemudian lift berhenti di lantai tiga. Kami melangkah keluar bersamaan.

“Which room?” tanya Sarah.

“301.”

“Same! I have a class there too. What subject?”

“Creative Writing Workshop.”

Sarah tampak gembira. “Same! We're classmates.”

Hatiaku pun terasa lebih tenang. Senang rasanya sudah memiliki teman baru tepat di hari pertama masuk.

***

Pukul delapan lewat lima belas menit, aku sudah duduk di kursi ruang 301.

Ruangan ini tidak terlalu besar—cukup menampung sekitar tiga puluh orang saja. Kursi‑kursi kayu disusun melingkar setengah lingkaran, menghadap ke arah papan tulis putih dan layar proyektor di dinding depan. Sarah duduk tepat di sebelahku. Perlahan ruangan mulai penuh oleh mahasiswa lain yang datang berdatangan—berbagai latar belakang: ada yang berasal dari negara‑negara Asia, ada pula dari Eropa, dan tentu saja mahasiswa asli Australia sendiri.

“Tari, where are you from?” tanya Sarah di sela‑sela menunggu dosen datang.

“Indonesia. Jakarta,” jawabku bangga.

“Ah, Jakarta! I've heard it's very crowded,” ucapnya antusias.

“Very. And hot.,” timpalku sambil tersenyum mengingat suasana rumah.

Sarah tertawa renyah. “Melbourne is the opposite. Cold and quiet.”

“I'm still getting used to it,” akuku jujur.

“You will. Give it a few weeks,” hiburnya menenangkan.

***

Pukul delapan lewat tiga puluh menit, seorang wanita paruh baya masuk ke ruangan.

Ia berambut pirang sebahu, mengenakan kacamata berbingkai tebal, dan tersenyum ramah menyapa kami semua. Berpakaian sweter berwarna coklat tua dan celana jeans biru—terlihat santai dan akrab, sangat berbeda dengan kesan formal para dosen yang biasa kutemui di kampus dulu di Indonesia.

“Good morning, everyone,” sapanya lembut namun tegas. “I'm Professor Williams. Welcome to Creative Writing Workshop.”

Ia memandangi satu per satu wajah kami di ruangan itu, dan sejenak pandangannya berhenti tepat padaku.

“I see some new faces. And some old faces,” katanya sambil tersenyum. “This semester, we will focus on writing about... love.”

Beberapa mahasiswa tertawa kecil mendengar tema yang terasa begitu luas dan dekat itu.

“Love in all its forms. Romantic love. Familial love. Self-love. And sometimes, forbidden love,” lanjut Profesor Williams dengan nada serius namun hangat.

Jantungku seketika berdebar lebih kencang.

Cinta terlarang…

Kalimat itu langsung mengingatkanku pada satu kisah yang paling kusimpan rapi di hati: kisahku dan Aldo.

“Your first assignment,” sambung Profesor Williams, suaranya terdengar jelas di seluruh ruangan, “is to write a short story about forbidden love. Maximum 2000 words. Due next week.”

Aku menggigit bibir bawahku pelan, menahan gejolak hati yang tiba‑tiba muncul.

Aku tahu persis apa yang akan kutulis. Tentang Aldo. Tentang kami berdua.

***

Pukul sepuluh lewat tiga puluh menit pagi, jam kuliah selesai.

Sarah mengajakku pergi makan siang di kantin kampus. Tempatnya sangat luas—kira‑kira dua kali lipat lebih besar dari kantin kampusku dulu di Depok. Berbagai macam hidangan tersaji di sana: ada sushi segar, pasta beraneka rasa, roti lapis, salad, dan tentu saja, beragam jenis kopi yang harum wanginya memenuhi udara.

“Aku akan memesan roti lapis isi ayam,” kataku sambil melihat daftar menu yang tertera.

“That's good. The chicken sandwich here is delicious,” puji Sarah.

Kami mengambil pesanan, membayar harganya, lalu duduk bersebelahan di meja dekat jendela. Di luar kaca, rintik hujan tipis mulai turun—khas cuaca Melbourne yang sering berubah‑ubah dalam sekejap.

“Tari, can I ask you something?” tanya Sarah tiba‑tiba dengan nada hati‑hati.

“Sure.”

“Have you ever experienced forbidden love?”

Aku agak terkejut mendengar pertanyaannya. “Why do you ask?”

Sarah menatapku lekat. “Because your face changed when Professor Williams mentioned it. You looked... sad. Or maybe nostalgic.”

Aku terdiam sejenak, membiarkan kenangan berputar sebentar di kepala, lalu mengangguk perlahan.

“Yeah,” jawabku pelan namun tegas. “I have.”

“Tell me,” pintanya lembut.

Aku pun mulai bercerita. Tentang Aldo. Tentang bagaimana kami pertama kali dipertemukan dan dijodohkan oleh kedua orang tua kami. Tentang fakta bahwa dia adalah adik kandung dari mantan kekasihku. Tentang segala pandangan dan pendapat orang yang menyatakan bahwa hubungan kami itu salah dan tak pantas diperjuangkan. Namun di balik semua itu, kami tetap jatuh cinta satu sama lain.

Sarah mendengarkan dengan penuh perhatian, tak sekalipun memotong cerita atau mengalihkan pandangan dariku.

Setelah aku selesai bercerita, ia menarik napas pendek.

“Wow,” katanya pelan. “That's... intense.”

“It was,” jawabku lembut.

“And you're still together?” tanyanya ingin tahu.

“Hubungan jarak jauh. Dia masih tinggal di Jakarta. Sedangkan aku ada di sini,” jelasku.

“Long distance is hard.”

“Memang berat. Tapi aku percaya kekuatan kami berdua sanggup melewati semuanya,” jawabku mantap.

Sarah tersenyum bangga kepadaku. “You're strong, Tari.”

Aku menggeleng pelan. “Aku sebenarnya tidak sekuat itu. Aku hanya… tidak mau menyerah pada keadaan.”

***

Pukul satu siang, aku kembali berjalan pulang menuju apartemen.

Hujan masih turun rintik‑rintik. Aku membuka payung lipatku yang berwarna merah marun—payung yang sama yang kubawa dari Jakarta—lalu berjalan cepat menembus udara yang makin dingin itu.

Sesampainya di dalam ruangan, aku melepas jaket dan syal, menggantungnya rapi di belakang pintu, lalu merebahkan diri sejenak di atas kasur.

Hari pertamaku kuliah telah berakhir dengan indah.

Aku telah mendapatkan teman baru yang baik hati.

Dan tugas pertamaku sudah jelas: menulis tentang cinta terlarang.

Dan aku tahu, tulisan itu akan seluruhnya berisi tentang Aldo.

Aku membuka laptop, menyalakannya, dan membuat dokumen kosong baru. Jari‑jariku mulai bergerak di atas papan ketik tanpa ragu.

Forbidden Love

Oleh Tari Winata

Untuk Aldo… satu‑satunya orang yang mengajariku percaya, bahwa cinta yang dianggap terlarang pun tetap layak diperjuangkan sampai kapan pun.

Kisah ini bermula di sebuah kafe sederhana di sudut kota Jakarta, pada suatu sore saat langit sedang mendung dan siap menurunkan hujan…

Kata‑kata itu terus mengalir keluar dari hatiku, deras dan tak terbendung persis seperti aliran air sungai saat musim penghujan. Tulisan itu berjalan lancar, seolah setiap kalimatnya sudah tertata rapi di kepalaku sejak lama.

***

Pukul delapan malam, ponselku bergetar di atas meja.

Di layar tertulis: Panggilan Video dari: Aldo

Aku segera menggeser tombol hijau untuk mengangkatnya. Wajah Aldo tampak jelas di layar—dia berada di ruang tamu apartemennya, dan aku bisa melihat deretan rak buku kesayangannya yang berdiri tegak di belakangnya.

“Tari… bagaimana hari pertamamu kuliah di sana?” tanyanya lembut.

“Semuanya berjalan baik. Aku sudah mendapat teman baru, namanya Sarah. Dia sangat ramah dan baik hati,” ceritaku bersemangat.

“Syukurlah. Aku senang sekali mendengarnya, berarti kamu tidak kesepian di sana,” jawabnya lega.

“Aldo…” panggilku pelan.

“Ya?”

“Aku sangat merindukanmu.”

Aldo tersenyum—senyum yang terlihat rapuh namun penuh kasih, senyum yang selalu membuat dadaku terasa sesak karena rindu.

“Dan aku pun sangat merindukanmu, Tari, lebih dari yang bisa kau bayangkan.”

Aku menatap matanya lekat melalui layar. “Aldo… aku sedang menulis cerita tentang kita berdua.”

“Tentang kita?” ulangnya sedikit terkejut.

“Iya. Untuk tugas kuliah pertamaku. Temanya cinta terlarang,” jelasku jujur.

Aldo terdiam sejenak, seolah sedang memikirkan kata‑kata yang pas untuk menjawab.

“Tari… aku… aku tak tahu harus berkata apa untuk itu,” ucapnya akhirnya dengan suara lembut.

“Kamu tak perlu mengatakan apa‑apa, Aldo. Kamu hanya perlu tetap ada di sana… menjadi sumber inspirasi terbesarku,” kataku tegas namun lembut.

Aldo kembali tersenyum lebih tenang. “Kalau begitu, aku akan berusaha menjadi inspirasi terbaik bagimu selamanya.”

“Aku sangat menyayangimu, Aldo.”

“Dan aku pun sangat menyayangimu, Tari. Sampai ke bintang‑bintang di angkasa dan kembali lagi ke sisimu.”

Kami berdua terdiam sejenak, hanya saling memandang dalam diam melalui layar ponsel yang menjadi jembatan penghubung kami malam itu.

“Aldo, aku harus segera tidur. Besok masih ada jadwal kuliah lagi pagi‑pagi sekali,” kataku berat hati.

“Baiklah. Selamat malam, Tari. Istirahatlah yang nyenyak.”

“Selamat malam, Aldo.”

Aku menutup sambungan telepon, lalu merebahkan diri kembali di atas kasur. Mataku menatap langit‑langit kamar apartemenku di Melbourne.

Di saat yang sama, ribuan kilometer jauhnya di Jakarta, aku yakin Aldo pun sedang berbaring menatap langit‑langit kamarnya sendiri.

Bentuk dan warnanya mungkin berbeda.

Namun cinta dan rindu yang kami miliki tetap sama, menyatu di tempat yang sama: di dalam hati kami berdua.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!