NovelToon NovelToon
27 Hari Setelah Melahirkan

27 Hari Setelah Melahirkan

Status: tamat
Genre:Romansa pedesaan / Cerai / Ibu susu / Tamat
Popularitas:1.6M
Nilai: 5
Nama Author: Septi.sari

Ibarat luka jahitan saja belum sepenuhnya kering. Tepat 27 hari setelah kematian bayinya, Hana dikejutkan dengan surat gugatan cerai yang Dzaki layangkan untuknya.

Status Whatsaap Mona-sahabat Hana, tertulis "First day honeymoon". Dan Hana yakin betul, pria menghadap belakang yang tengah Mona ajak foto itu adalah suaminya-Dzaki.

Sudah cukup!

Hana usap kasar air matanya. Memutuskan keluar dari rumah. Kepergian Hana menjadi pertemuanya dengan sosok bayi mungil yang tengah dehidrasi akibat kekurangan Asi. Dengan suka rela Hana menyumbangkan Asinya pada bocah bernama~Keira, bayi berusia 2 bulan yang di tinggalkan begitu saja oleh Ibunya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Septi.sari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 11

Pagi harinya, tepatnya pukul 06.15 pagi.

Hana sudah selesai membuat sarapan. Dua menu harian sudah siap, yakni tumis kangkung, sambel bawang, dan tak lupa crispy udang. Sebelum nanti ia akan pergi untuk mencari loker, melihat makananya sudah siap pun, hatinya menjadi tenang.

Setidaknya, makanan itu akan cukup untuk dirinya makan saharian nanti.

"Sudah siap, saatnya mandi," gumam kecil Hana sambil cuci tangan. Setelah mengeringkan tanganya, ia berbalik.

Deg!

Hana tersentak, ketika melihat Dzaki sudah berdiri di samping meja, dan mata pria itu tampak kelaparan memandang menu masakan buatanya tadi.

Wajah Dzaki terangkat melihat kearah Istrinya. Namun cepat-cepat Hana membuang muka, bersikap acuh, lalu melanjutkan jalanya masuk kedalam kamar.

Dzaki hanya mampu menelan ludah kasar. Ia mengacak rambutnya sekilas, lalu segera menjatuhkan tubuhnya di atas kursi.

Sejujurnya, pria berusia 28 tahun itu pulang dengan kesadaran hatinya sendiri. Selama tinggal dengan Mona, setiap pagi Dzaki tidak pernah di buatkan sarapan, bahkan segelas kopi saja tidak ada.

"Sayang aku mau kerja," Dzaki mencium pipi Mona sekilas ketika wanita itu tengah duduk santai sambil bermain hp. Namun ketika dirinya beranjak menuju meja makan, disana sama sekali tidak ada apa-apa. Jelas saja Dzaki terkejut. "Loh... Ini kamu memang nggak masak?"

Denga suar lembut, tetap santai, Mona berkata, "Mas... Nanti kamu makan aja ya diluar! Aku kemarin 'kan baru pasang nail art. Ya nggak bisa lah buat masak."

Lamunan Dzaki buyar, ketika melihat deritan pintu tertutup. Reflek aja dirinya menoleh. Mata Dzaki terbuka lebar, hingga membuat dahinya berkerut lebih dalam.

"Kamu mau kemana, Hana?" protesnya ketika melihat sang Istri sudah dalam keadaan rapi hendak pergi keluar.

Hana menghentikan langkahnya. "Itu bukan urusan kamu sekarang, Mas! Ingat, aku bukan lagi istrimu. Seharusnya kamu pun malu, masih berdiam disini lebih lama!"

Kalimat Hana sukses menghantam dada Dzaki pagi ini. Tanganya hanya mampu terkepal tanpa pasti. Hatinya tetiba bergemuruh, hingga dadanya kini tampak ikut berdetak kuat. Selepas itu, barulah ia juga bersiap menuju ruang tengah, menyambar jasnya cepat, lalu ikut menyusul Istrinya keluar.

*

*

Motor Hana sudah berhenti didepan sebuah cafe, yang diluarnya tertulis kalimat membuka loker.

Dengan senyum mengembang, langkah penuh harap itu, Hana berjalan masuk untuk bertanya di kasar.

"Maaf Mbak... Apa disini masih mencari pekerja? Soalnya tadi di depan ada tulisan loker yang tertera," tanya Hana dengan sopan.

Wanita berjilbab hitam itu terpaksa menjawab, "Maaf ya, Mbak... Itu pihak kami lupa menghapus tulisanya. Soalnya sudah dimasuki 2 orang, 1 minggu yang lalu," sekali lagi wanita tadi menangkupkan kedua tangan didada.

Pagi ini Hana harus menelan kecewa kembali. "Ya udah Mbak, terimakasih!" ucapnya dengan memaksakan senyum.

Tidak ingin menyerah, setiap ada toko yang bertulisan 'Dibuka Loker' pasti ia masuki, meski lagi-lagi hasilnya nihil.

Dengan bermodalkan ijazah SMA, Hana sejak tadi sudah masuk ke cafe, toko buku, toko bunga, toko kue, namun tak ada satupun yang membuka loker.

Merasa lelah, hampir pukul 11.00 siang itu Hana memilih duduk terlebih dulu didepan teras toko kue. Wanita cantik itu mengibaskan tanganya kearah wajah, benar-benar merasa lelah, apalagi hari ini panasnya sangat cetar.

"Ya Allah... Sulit banget cari kerjaan saat ini. Nggak mungkin lagi 'kan, aku harus bilang Mas Madha. Kakaku juga nggak selamanya terus ngebantu aku. Tapi kalau pun tahu aku dijalanan kaya gini, pasti habislah...." gunam hati Hana yang beberapa kali menghela napas dalam.

Di sebrang jalan, seorang pria yang tak lain Danish, ia rupanya sejak tadi mengikuti motor Hana dari lampu merah pertama. Pria itu duduk tenang, namun pandanganya mengikat tubuh Hana.

"Dalam keadaan seperti itu, dia sudah kesana kemari mencari loker? Kasian juga...." batin Danish yang masih sibuk menatap kearah Hana.

Drttt?!

Gawai didalam saku bergetar kuat. Bukan milik Danish, tapi milik Rio-sang sopir.

"Hallo, ada apa Bu?" tanya Rio-sopir pribadi Danish dengan sopan.

Sementara di sebrang, Bu Ana menahan kesal, "Hallo, Rio... Danish kemana sih? Saya telfoni hampir 100 kali tapi nggak satu pun di angkat. Kemana dia?"

Dengan polosnya Rio menjawab, "Pak Danish sedang diam aja bu, ini lagi sama saya didalam mobil."

Dengan dahi berkerut dalam, Bu Ana semakin dibuat gila oleh ucapan sopir putranya itu. "Diam gimana sih kamu ini, Rio?!"

"Iya diam aja, Bu... Pak Danish suruh saya berhentiin mobil didepan cafe. Dan, orangnya sedang fokus menatap kearah cafe. Tapi saya rasa, Pak Danish sedang merhatiin wanita sih Bu. Karena sejak tadi itu saya disuruh mengikuti motor wanita," jabar Rio begitu rinci.

Lagi-lagi Bu Ana di buat frustasi sendiri. "Ya udah, Rio... Kamu mendingan kasihkan aja deh sama Danish. Ibu mau omong."

Rio mengangguk patuh meskipun Bu Ana tak melihatnya. Seketika itu ia menoleh kebelakang, "Loh... Ini kemana Pak Danish?" pria berusia 39 tahun itu menatap cemas, namun ketika matanya mengedar, putra Majikannya itu sudah duduk disamping wanita disebrang.

"Bu, maaf... Pak Danish malah sudah pergi," katanya dengan wajah melas.

Bu Ana menepuk jidatnya sendiri. "Ya udah, Rio... Saya matikan dulu! Nanti bilangi sama Danish, suruh telfon balik saya!"

Panggilan terputus.

Sementara didepan cafe itu, Hana masih tak menyangka akan bertemu sosok pria, yang waktu lalu ia pernah menyusui bayinya.

"Saya lihat, kamu sejak tadi keluar masuk dari toko ke toko... Apa kamu sedang membutuhkan sesuatu?" tanya Danish memberanikan diri.

Hana tersenyum simpul, sedikit tertunduk. "Saya sedang cari loker aja, Pak Danish."

"Loker?" kening Danish bahkan sampai berkerut dalam. "Jadi, kamu mau cari kerjaan gitu?"

Hana mengangguk. Wajahnya terangkat, membenarkan kalimat lawan bicaranya. "Benar, Pak Danish. Tapi... Sepertinya saya kurang beruntung, karena lokernya sudah di tutup."

Danish manggut-manggut mencoba mengerti. Ia kembali teringat ucapan Ibunya waktu lalu. "Dan, sepertinya Keira cocok deh sama Asinya Hana. Daripada dia memberikan Asinya ke rumah sakit, bagaimana kalau kamu suruh dia jadi Ibu susu buat Keira?"

"Apa dia bersedia? Bagaimana aku menawarinya?" Danish bergeming, berperang kuat dengan isi kepalanya.

Hana bahkan sampai menghalau tanganya didepan wajah pria itu. "Pak... Pak Danish baik-baik saja 'kan?"

Danish yang tersadar, suaranya menjadi terbata, "O-o... Iya, bagaimana?"

Hana bahkan sampai terkekeh sendiri. "Pak Danish ngalamun ya? Maaf!"

Danish bahkan sampai salah tingkah sendiri dengan ledekan itu. Entah karena saking panasnya, atau merasakan sesuatu dalam jantungnya yang terpompa cepat, wajah putih itu sampai bersemu kemerahan.

"Kamu ini bisa saja... Saya cuma lagi mikirin, karena setiap hari Keira selalu menangis terus," kata Danish tersenyum getir. Sementara Hana masih sibuk menyimak. "Oh ya... Hana, kamu 'kan lagi cari kerjaan? Bagaimana kalau kamu jadi Ibu susu Keira saja?" tanyanya dengan wajah semula-datar.

1
Lintang Edgar
kebanyakan Deg 😄
Rita Juwita
luar biasa...
Sukaesih Esih
Luar biasa
Siti Saodah
aduuuuh thor aku lagi sedih loh ini baca cerita Hana ma Denis eeh tiba tiba jadi ngakak gara" kekonyolan lukman
Siti Saodah
lagian si Hana gampang banget Nerima bapak nya,,udah jelas dia di pake buat bayar urang sana tuh aku aku geleh da
Siti Saodah
ah kalo memang Hana mau nolak bisa aja,,kan udah tau kalo Denis mau pulang dan udah nyatain cinta nya
Siti Saodah
🤣🤣🤣jadi kaya orang gila aku baca thor
Siti Saodah
dasar wanita sialan jalang udah salah masih juga malah nyalahin. orang lain
Siti Saodah
harus nya si Anas kalo emang gak suka sama sanas jangan mau waktu di suruh nikahin dia
Siti Saodah
sinting itu si Zaki cari wanita yang lagi cantik nya aja
Siti Saodah
dasar bego ngapain Zaki harus cemburu ma Hana,,kan situ yang buang karna tergoda janda gatel
Siti Saodah
semoga aja anak nya Bu Sofi sakit beneran,,tega nya bohongin ortu
ratih haerunnisa
Agak heran dan sedikit maksa menurut aku. karyawan kantor yg nyambi taxi online, berarti kan ga tinggi bgt ya jabatannya. karena kurang gajinya dia nyambi, tapi langsung naik jabatan jadi direktur. ga di demo sama petinggi lain kah? 😄😄😄😄
Ig:@septi.sari21: nyamhi taxi online itu hanya alibi Dzaki buat nutupi perselingkuhanya dengan Hana kak. bisa di pahami ya sejak awal dzaki sudah sering antarin Mona ke luar kota. 😍
total 1 replies
Ummee
apa Mona balas dendam ya krn cintanya ditolak kakaknya Hana
Ummee
lah... brarti dzaky tadi kepedean dong bilang rumah itu utk Hana, padahal emang milik Hana
Siti Saodah
dasar bodoh curhat sama pelakor meskipun gak tau tapi kan dia udah curiga sama si Mona harus nya cari tau dulu
Siti Saodah
terang aja si Mona enak d lihat dia kan janda beda lagi kalo istri mu kan gak kemana mana
🌹🪴eiv🪴🌹
terimakasih untuk tulisan indah mu thor
Ig:@septi.sari21: maciiihh akak 😍😍❤
total 1 replies
🌹🪴eiv🪴🌹
aku kira jodoh Lukman si Cantika he he
ternyata dia punya niat terselubung 😵
Rikarico
ternyata si Ardan tak sperti yg diharapkan
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!