NovelToon NovelToon
Tolong Sayangi Aku

Tolong Sayangi Aku

Status: tamat
Genre:Dunia Masa Depan / Balas Dendam / Ketos / Tamat
Popularitas:12k
Nilai: 5
Nama Author: canny***

"Duniaku gelap, tapi aku tidak butuh lampu. Aku hanya butuh seseorang yang tidak memalingkan wajah saat aku memanggil 'Papa'."
Di kediaman Tenggara yang megah, Aurora Alandriana adalah sebuah anomali. Di tengah kesuksesan sang Ayah dan dominasi keempat kakak laki-lakinya—Eros, Gavin, Juna, dan Arvin—Aurora hidup seperti hantu. Baginya, rumah itu bukan tempat berteduh, melainkan sebuah pengadilan yang menghukumnya atas kesalahan yang tidak pernah ia lakukan: lahir ke dunia.
Tiap sudut rumah adalah pengingat akan kebencian. Meja makan adalah tempat penghinaan, dan lorong sekolah adalah tempat ia harus berpura-pura tidak mengenal darahnya sendiri. Terutama Arvin, kakak keempatnya yang paling dekat jarak usianya, yang memilih untuk menjadi perundung paling kejam di sekolah hanya untuk membuktikan bahwa Aurora tidak punya tempat di hidupnya.
Namun, saat sebuah rahasia besar di balik kematian sang Ibu mulai terkuak, dan saat tubuh Aurora yang rapuh mulai mencapai batas kemampuannya untuk ber

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon canny***, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 32: Klien Anonim dari Masa Lalu

Malam semakin larut, namun lampu di sudut koridor VIP Rumah Sakit Pusat Tenggara tetap menyala remang-remang. Gavin duduk bersandar di kursi besi, jemarinya bergerak cepat di atas layar Oppo milik Aurora yang sempat diamankan Juna dari kamar lamanya, lalu beralih ke ponselnya sendiri. Juna telah berhasil melacak seluruh akun digital milik adiknya, termasuk sebuah akun seni kecil di platform media sosial yang digunakan Aurora untuk memajang karya-karya gambar digitalnya.

Nama akun itu sangat sederhana, jauh dari kemegahan nama Tenggara. Di sana, Aurora hanya memajang beberapa sketsa wajah dengan pewarnaan bergaya low-light dan tekstur yang agak berpendar hangat—gaya yang seolah mencerminkan kerinduannya akan secercah cahaya di tengah kamarnya yang gelap.

Gavin menarik napas dalam-dalam. Dadanya berdenyut perih saat melihat unggahan terakhir Aurora beberapa minggu lalu: sebuah caption promosi komisi gambar yang ditulis dengan sangat sopan, namun belum mendapatkan satu pun respons atau pesanan dari siapa pun.

"Gue bakal masuk lewat sini," bisik Gavin pada dirinya sendiri.

Dengan menggunakan akun baru yang sama sekali tidak mencantumkan identitas keluarga Tenggara, Gavin menekan tombol pesan langsung (Direct Message). Tangannya yang biasa kaku kini mengetik untaian kalimat dengan sangat hati-hati, takut jika pilihan katanya terlalu formal atau justru memicu kecurigaan adiknya.

[Klien_Anonim]: Halo, selamat malam. Apakah komisi gambar digitalnya masih dibuka? Saya sangat menyukai gaya pewarnaan Anda yang hangat. Saya ingin memesan sebuah ilustrasi khusus.

Di dalam kamar rawat yang sunyi, Aurora berbaring menyamping dengan posisi meringkuk. Selang oksigen tipis di hidungnya naik turun seiring napasnya yang masih terasa berat. Sepasang matanya yang kini sudah bisa melihat kembali dengan jelas menatap nanar ke arah nakas tempat ponselnya diletakkan oleh perawat beberapa jam lalu.

Mendengar bunyi getar pendek dan pendar

cahaya dari layar ponselnya, Aurora tertegun. Dengan tangan yang masih gemetar dan punggung tangan yang dibalut perban akibat infus yang sempat terlepas, ia meraih benda persegi itu.

Mata bulatnya membaca pesan dari akun asing tersebut. Untuk pertama kalinya setelah berjam-jam tenggelam dalam histeria trauma, ada riak kecil yang muncul di dada Aurora. Bukan ketakutan, melainkan rasa tidak percaya yang bercampur dengan secercah harapan yang sangat tipis.

Ada orang yang menyukai gambarnya. Ada orang yang mau membayar karyanya.

Dengan jemari kurus yang kaku, Aurora mulai mengetik balasan.

[Aura_Art]: Selamat malam. Iya, komisinya masih dibuka. Terima kasih banyak sudah menyukai gambar saya. Anda ingin saya menggambar apa?

Di luar kaca kamar, Gavin yang melihat pergerakan adiknya langsung menegakkan punggung. Air mata pria itu nyaris menetes saat melihat balasan pesan teks tersebut. Ia segera mengetik kelanjutan rencananya.

[Klien_Anonim]: Saya ingin Anda menggambar siluet seorang gadis kecil yang sedang memegang sebuah lampu petromak di tengah kegelapan, dan di depannya ada jalan setapak yang dipenuhi bunga-bunga kecil yang mulai mekar. Berikan sentuhan cahaya keemasan yang hangat.

Untuk harganya, saya tahu Anda mencantumkan tarif standar di profil. Tapi karena saya sangat menyukai konsep ini, saya ingin membayar di muka sebesar dua puluh juta rupiah. Apakah boleh?

Aurora terbelalak di atas ranjangnya. Dua puluh juta rupiah? Angka itu terlalu besar, bahkan tidak masuk akal untuk ukuran ilustrator pemula seperti dirinya. Jantungnya berdegup sedikit kencang, memicu bunyi konstan dari alat VAD di dadanya.

[Aura_Art]: Maaf, tapi harganya terlalu mahal... Tarif saya tidak sampai seperseratus dari jumlah itu. Saya takut hasil gambar saya tidak sesuai dengan ekspektasi Anda.

Gavin tersenyum tipis dalam kepedihan yang mendalam. Adiknya tetaplah gadis yang jujur dan tulus, meskipun dunia telah memperlakukannya dengan sangat kejam.

[Klien_Anonim]: Tidak apa-apa. Bagi saya, karya Anda bernilai jauh lebih besar dari angka itu. Anggap saja ini investasi untuk bakat Anda. Saya hanya punya satu syarat.

[Aura_Art]: Syarat apa?

[Klien_Anonim]: Setiap kali Anda menyelesaikan satu tahapan sketsa, Anda harus memakan satu porsi makanan Anda di rumah sakit sampai habis. Saya ingin ilustrator saya berada dalam kondisi sehat saat mengerjakan karya saya. Bagaimana? Kita sepakat?

Aurora terpaku menatap layar ponselnya. Air matanya perlahan menetes, membasahi bantal rumah sakit. Orang asing ini... bagaimana bisa dia tahu kalau dirinya sedang berada di rumah sakit dan menolak untuk makan? Aurora tidak ingin memikirkan hal itu lebih jauh. Di dalam benaknya yang rapuh, pesan dari klien anonim ini terasa seperti uluran tangan gaib yang menariknya keluar dari lubang hitam trauma yang mengurungnya sejak siang tadi.

Untuk pertama kalinya setelah seharian menutup diri, Aurora menekan tombol bel di samping ranjangnya, memanggil perawat jaga.

Ketika perawat masuk dengan wajah cemas, Aurora menunjuk ke arah mangkuk bubur yang sudah mendingin di atas meja saji.

"Suster... tolong hangatkan buburnya. Aku... aku mau makan sekarang," ucap Aurora lirih, namun ada binar tekad yang samar di sepasang matanya.

Di balik dinding kaca koridor, Gavin, Eros, Juna, dan Arvin menyaksikan momen itu dengan dada yang bergemuruh oleh rasa haru. Arvin membekap mulutnya sendiri agar suara tangis kebahagiaannya tidak menembus celah pintu, sementara Eros menepuk pundak Gavin dengan bangga.

Gavin berhasil menembus benteng trauma itu tanpa harus menampakkan wajah monsternya. Ia menjadi cahaya di dalam kegelapan Aurora, membiarkan adiknya melangkah maju menggunakan mimpinya sendiri, meskipun ia harus tetap bersembunyi di balik bayang-bayang sebagai orang asing yang tak boleh dikenal.

1
Emily
seharusnya kalian keluarga bramantyio juga sebagai tersangka terutama biang kerok si bramantyio
Emily
wah ini bpak nya bisa di kenakan pasal menelantarkan anak
Emily
bapaknya biang keroknya udah tua Bangka kelakuan macam iblis
Emily
salah lu sendiri nyet
Emily
pesong
Emily
keluarga goblok gak waras pikirannya sinting penampilan aja mentereng
Emily
wah keluarga odgj kah
Emily
apa itu keluarga psikopat dgn anak dan saudara kandung berperilaku kejam
ArchaBeryl
Terimakasih kak untuk ceritanya
Banyak pelajaran yg bisa kita ambil dari cerita kk
sungguh sangat sedih dan menguras air mata🥹🥹🥹
ArchaBeryl
😭😭😭😭😭🥹🥹🥹🥹
Neneng Lesmana
sedih
ArchaBeryl
😭😭😭😭😭😭😭
ArchaBeryl
Alur ceritanya bagus kak
tapi gak kuat bacanya
soalnya sedih banget 😭😭🥹🥹
ArchaBeryl: Pastinya kak💪💪💪
total 1 replies
ArchaBeryl
sedih pakek banget😭😭😭😭
syina chan
hi
ArchaBeryl
sedih kak🥹🥹🥹🥹🥹
ArchaBeryl
lanjut kak tetap semangat 💪💪💪
ArchaBeryl
lanjut kak penasaran
ArchaBeryl
mana lanjutnya kak
merry
hbs in hdp dgn baik Rora nikmati kekayaan kluarga mu 😄😄😄 ,,, ksh kesempatan buat abng mu Bpk mu yg bodoh Percy takhayul itu wlpun gk mudah ya 🙏🙏🙏
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!