“Aku benci dosen perfeksionis.”
Itu kalimat pertama yang Rhea tulis di buku catatannya setelah bertemu Arga...dosen muda favorit kampus yang terkenal dingin, disiplin, dan sulit didekati.
Sayangnya, hidup Rhea perlahan mulai dipenuhi pria itu.
Dari kelas pagi yang melelahkan, bimbingan yang selalu berubah menjadi perdebatan, hingga tatapan-tatapan kecil yang mulai terasa berbeda.
Rhea tidak pernah berniat jatuh cinta pada dosennya sendiri.
Masalahnya…Arga sendiri juga mulai merasa sulit melepaskannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Silvi Wahyu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Menggemaskan Sekali..
...****************...
Satu per satu mahasiswa mulai maju ke depan kelas sambil membawa lembar jawaban mereka masing-masing. Suasana yang tadi hening selama kuis perlahan kembali ramai oleh suara langkah kaki, kursi yang bergeser, dan keluhan pelan dari beberapa mahasiswa yang masih tidak puas dengan jawaban mereka sendiri.
Di depan kelas, Arga berdiri tenang di samping meja dosen sambil melipat kedua tangan di depan dada. Tatapannya memperhatikan mahasiswa yang bergantian mengumpulkan lembar jawaban tanpa banyak bicara. Sesekali ia hanya mengangguk kecil saat menerima kertas-kertas yang terus menumpuk di atas meja.
“Pak, saya sepertinya tidak yakin dengan nilai saya nanti.”
“Kalau sadar begitu harusnya belajar.”
Jawaban datar Arga langsung membuat satu kelas tertawa kecil.
Namun pria itu tetap terlihat tenang seperti biasa.
Sementara itu di bangku dekat jendela, Rhea masih sibuk membereskan alat tulisnya pelan. Wajahnya terlihat jauh lebih lesu dibanding biasanya, mungkin karena sejak pagi pikirannya terus dipenuhi banyak hal sekaligus.
Setelah hampir seluruh mahasiswa selesai mengumpulkan jawaban, barulah Rhea berdiri sambil membawa lembar miliknya sendiri ke depan kelas.
Langkahnya pelan mendekati meja dosen.
Arga yang sejak tadi terlihat biasa saja perlahan mengangkat pandangan saat Rhea berdiri di depannya.
Tatapannya jatuh ke wajah gadis itu beberapa detik lebih lama dari seharusnya.
Entah kenapa sudut bibir Arga sempat terangkat tipis samar melihat ekspresi Rhea yang terlihat seperti kurang tidur dan stres setengah mati. Namun sepersekian detik kemudian pria itu langsung kembali memasang wajah datarnya seperti biasa.
“Rhea.”
“Iya pak.”
“Bawa lembar jawaban ini ke ruangan saya.”
Rhea langsung berkedip pelan.
“Sekarang pak?”
“Sekarang.”
Nada suaranya tetap tenang dan tidak memberi ruang untuk menolak.
Rhea akhirnya hanya mengangguk kecil.
“Iya pak…”
Ia berbalik kembali ke bangkunya untuk mengambil tas, lalu berjalan lagi menuju meja dosen. Kedua tangannya mulai merapikan tumpukan lembar jawaban mahasiswa sebelum akhirnya membawa semua kertas itu di pelukannya.
Tak lama kemudian Arga melangkah keluar kelas lebih dulu. Dan seperti biasa...Rhea mengikuti dari belakang.
Pemandangan itu langsung membuat beberapa mahasiswa perempuan yang masih duduk bergerombol di sudut kelas saling melirik satu sama lain.
“Lihat si Rhea… makin lengket aja sama Pak Arga,” ucap salah satu mahasiswi pelan sambil menyandarkan tubuh ke kursinya, bibirnya menahan senyum kecil yang susah disembunyikan, matanya tetap mengikuti Rhea.
“Namanya juga murid kesayangan,” timpal yang lain sambil mengibaskan rambutnya pelan, nada suaranya ringan tapi jelas ada sindiran halus di dalamnya.
“Keseringan nggak sih mereka bareng gitu?” salah satu lagi mencondongkan tubuh ke depan, alisnya terangkat, suaranya sengaja diturunkan tapi tetap terdengar oleh yang lain.
“Namanya juga asdos…” jawab temannya sambil tertawa kecil, bahunya ikut naik turun seolah menganggap itu hal biasa, tapi matanya penuh rasa ingin tahu.
“Tapi dia sering banget masuk ruangan Pak Arga,” lanjut yang lain sambil melirik cepat ke arah pintu, lalu menutup mulutnya sendiri seperti baru sadar sudah terlalu jauh bicara.
Salah satu dari mereka menundukkan kepala sedikit, suaranya dipelankan sampai hampir berbisik, “Jangan-jangan…”
“Husshhh…” potong yang lain cepat sambil menyikut pelan lengannya, tapi justru sudut bibirnya masih terangkat, seolah sudah punya kesimpulan sendiri.
Di ambang pintu, Rhea yang sejak tadi melangkah keluar tiba-tiba berhenti.
Langkahnya terhenti setengah, satu kakinya sudah di luar kelas tapi tubuhnya tidak benar-benar bergerak lagi. Tumpukan lembar jawaban di pelukannya sedikit tertekan ke dada, jari-jarinya tanpa sadar mengencang sampai ujung kertasnya ikut sedikit terlipat.
Wajahnya tetap menghadap ke depan, tapi matanya kosong sesaat, seperti baru saja menangkap sesuatu yang tidak ingin ia dengar. Rahangnya menegang halus, lalu ia menelan ludah pelan, gerakan kecil yang hampir tidak terlihat tapi cukup menunjukkan bahwa ia mulai tidak nyaman.
Dari belakang, bisik-bisik itu masih samar terdengar, bercampur suara kursi yang bergeser dan tas yang ditarik, membuat ruangan terasa lebih bising dari yang sebenarnya.
Rhea menarik napas pelan, bahunya naik sedikit lalu turun lagi, berusaha menenangkan diri tanpa benar-benar berhasil. Setelah itu ia melangkah lagi, kali ini lebih cepat, langkahnya sedikit kaku, seperti ingin segera keluar dari ruang yang tiba-tiba terasa sempit.
Ekspresinya tidak berubah banyak, tapi sorot matanya sudah berbeda...lebih berat, lebih diam, seperti ada sesuatu yang mulai mengganggu dan menempel di pikirannya tanpa izin.
...****************...
Beberapa saat kemudian, langkah kaki mereka berhenti di depan ruangan Arga.
Pintu terbuka pelan, dan suasana langsung berganti... lebih tenang, lebih tertutup, dengan udara dingin khas ruangan kerja yang rapi dan teratur. Cahaya matahari masuk dari jendela samping, jatuh ke meja kerja yang penuh berkas, laptop, dan tumpukan dokumen yang tersusun lurus.
Arga masuk lebih dulu tanpa banyak bicara. Ia meletakkan tasnya di meja, gerakannya tenang dan terkontrol, lalu berdiri sejenak seperti memastikan semuanya kembali ke tempat semestinya.
Tak lama, ia berbalik.
Tatapannya langsung jatuh ke Rhea yang berdiri di belakangnya sambil memeluk tumpukan lembar jawaban.
Tanpa kata tambahan, Arga mengulurkan tangan. Ia mengambil semua kertas itu dari pelukan Rhea dengan satu gerakan singkat, lalu meletakkannya di atas meja kerja. Tertata rapi, lurus, seperti sudah terbiasa melakukan hal itu berkali-kali.
Rhea yang sejak tadi diam akhirnya perlahan mengangkat kepala. Matanya bertemu dengan Arga.
Dan untuk beberapa detik, tidak ada yang bicara.
Ruangan terasa lebih sunyi dari biasanya.
Arga menatapnya cukup lama, tidak tajam seperti di kelas, tapi juga tidak hangat. Hanya diam, seolah sedang memastikan sesuatu yang tidak ia ucapkan.
Rhea langsung menurunkan pandangannya sedikit. Bahunya kaku, jari-jarinya saling bertaut kecil di depan tubuhnya. Ada rasa tidak nyaman yang tidak sepenuhnya ia mengerti, tapi cukup membuatnya sulit bersikap santai.
“Ponselmu.” Arga menyerahkan benda itu tanpa ekspresi, membuat Rhea sempat tertegun kecil sebelum matanya benar-benar memastikan bahwa itu memang sudah kembali ke tangannya.
“Ponsel? Ah iya… ponsel. Terima kasih, Pak…” jawabnya cepat, hampir seperti refleks, lalu langsung menggenggamnya erat seolah takut benda itu akan diambil lagi kalau ia lambat bereaksi.
Arga hanya mengangguk singkat, gerakannya tenang seperti tidak ada hal besar yang baru saja terjadi.
Namun baru beberapa detik suasana terasa sedikit lebih ringan, suara Arga kembali terdengar, datar seperti biasa tapi lebih pelan,
“Lain kali jangan buka link sembarangan.”
Rhea langsung mengangkat kepala, refleks, bahunya ikut sedikit naik karena kaget kecil itu.
“P-Pak… sumpah, kemarin saya benar-benar tidak tahu. Saya cuma penasaran…” ucapnya cepat, tangan yang memegang ponsel ikut sedikit bergerak gelisah, seperti ingin menjelaskan semuanya sekaligus tapi malah berantakan sendiri.
Arga menoleh pelan, alisnya naik sedikit, tatapannya jatuh ke wajah Rhea tanpa terburu-buru,
“Hmn. Penasaran, ya?”
Nada itu terdengar datar, tapi cukup membuat Rhea langsung salah tingkah, matanya bergerak ke sana kemari sebelum akhirnya buru-buru menyela, “Eh… maksudnya bukan-...”
“Bukan apa?” potong Arga singkat, tetap tenang, tapi justru membuat Rhea makin panik.
“Ya pokoknya saya tidak ada niat apa-apa dan tidak tahu apa-apa soal link itu,” jawab Rhea cepat, suaranya sedikit meninggi di akhir karena gugup sendiri.
Arga diam sebentar, menatapnya lebih lama dari tadi, lalu menghembuskan napas pelan seolah menahan sesuatu.
“Baiklah.”
Rhea langsung mengangkat kepala, “Bapak percaya kan?”
Arga mengalihkan pandangan ke berkas di meja, jawabannya keluar singkat tanpa banyak emosi, “Sedikit.”
“Ck, Pak Argaaaa…” Rhea langsung merengek pelan, nadanya turun, bahunya ikut merosot sedikit karena kesal campur malu.
Arga berhenti sejenak, lalu menatapnya lagi. Kali ini lebih lama, lebih diam.
"Sial… menggemaskan sekali." batin Arga.
Bukan diucapkan, tapi jelas lewat tatapannya yang berubah sepersekian detik sebelum kembali datar seperti biasa.
Ia mengalihkan pandangan, lalu berkata tenang, “Sudah, kembali ke kelasmu. Datang kemari sore nanti.”
“Siap, Pak. Kalau begitu saya permisi…”
“Ya.”
Rhea mengangguk cepat, lalu berbalik keluar ruangan dengan langkah yang masih sedikit campur aduk, sementara Arga tetap berdiri di tempatnya, menatap pintu yang perlahan tertutup, tanpa mengatakan apa pun lagi.