NovelToon NovelToon
MAHAR UNTUK SANG PELAKOR

MAHAR UNTUK SANG PELAKOR

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Penyesalan Suami / Crazy Rich/Konglomerat
Popularitas:4.5k
Nilai: 5
Nama Author: gendiz

Amira membawa Lista masuk ke hidupnya sebagai sepupu dan sahabat. Namun, Lista justru keluar sebagai pencuri suaminya.

​Diceraikan saat hamil dengan mahar yang menghina, Amira dipaksa pergi dengan tangan hampa. Tapi mereka lupa satu hal: Amira adalah pemilik takhta yang sesungguhnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon gendiz, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 10: PANGGILAN DI SEPERTIGA MALAM

PANGGILAN DI SEPERTIGA MALAM

​Kegelapan di dalam kamar bawah tanah itu terasa begitu pekat, seolah-olah dinding beton di sekeliling Amira sedang perlahan bergerak merapat untuk menghimpit tubuhnya. Satu-satunya sumber cahaya di ruangan pengap itu hanyalah pendar biru pucat dari layar ponselnya yang retak. Di atas layar kaca yang tergores itu, nama Pak Sanusi (Pengacara Ayah) berkedip-kedip, menanti keputusan dari ujung jemari Amira yang sedari tadi bergetar hebat.

​Di atas langit-langit kamarnya, sayup-sayup masih terdengar langkah kaki halus yang bergeser di atas lantai marmer lantai atas, disusul suara pintu kamar yang tertutup rapat. Kehangatan palsu dan ciuman menjijikkan antara suaminya dan Lista di sudut dapur tadi seolah masih membekas di pelupuk mata Amira, membakar seluruh sisa harga diri dan cinta yang pernah ia agungkan selama tiga tahun pernikahan ini.

​Amira memejamkan mata erat-earat. Setitik air mata dingin akhirnya lolos, membasahi pipinya yang masih terasa agak kebas akibat hantaman map merah Ibu Ratna tadi pagi. Ia menghirup napas sedalam-dalamnya, merasakan pasokan oksigen yang tipis di paru-parunya, lalu mengembuskannya dengan perlahan. Bersamaan dengan helaan napas itu, ia menekan tombol hijau di layarnya.

​Panggilan tersambung.

​Suara nada sambung yang monoton berbunyi di dalam kesunyian malam. Tut... Tut... Jantung Amira berdegup begitu kencang, berpacu dengan rasa cemas yang mendadak menyerang dinding dadanya. Ini sudah pukul setengah satu malam. Apakah seorang pengacara tua yang sudah pensiun seperti Pak Sanusi akan mengangkat telepon dari masa lalu di jam seperti ini?

​Pada nada sambung yang kelima, suara klik terdengar. Sambungan terhubung.

​"Halo... Assalamualaikum," sebuah suara bariton yang berat, serak khas orang tua yang terbangun dari tidur, namun tetap terdengar berwibawa menyapa dari seberang telepon.

​Mendengar suara itu, tenggorokan Amira mendadak tercekat. Air matanya yang sempat tertahan kini kembali merebak. Suara itu adalah suara yang sama yang dulu selalu mendampingi almarhum ayahnya saat bisnis keluarga mereka masih berjaya, sebelum seluruh aset dialihkan untuk mendukung rintisan usaha Aris.

​"Wa... Wa'alaikumussalam. Pak Sanusi... Ini Amira," bisik Amira dengan suara yang bergetar menahan isak tangis.

​Hening sejenak di seberang sana. Terdengar suara keresek selimut yang disibak, menandakan pria tua itu langsung bangkit dari posisi berbaringnya begitu mengenali nama sang penelepon.

​"Amira? Nduk? Ini kamu?" Nada suara Pak Sanusi berubah drastis, kini penuh dengan keterkejutan dan rasa khawatir yang mendalam. "Ya Allah, Amira... ke mana saja kamu selama ini? Kenapa baru menghubungi Bapak sekarang? Dan... kenapa suaramu menangis seperti itu, Nduk? Ada apa? Apa terjadi sesuatu denganmu?"

​Rentetan pertanyaan penuh perhatian dari Pak Sanusi justru membuat pertahanan mental Amira runtuh. Selama tiga tahun ini, di rumah mewah keluarga Pratama, ia selalu dihujani makian, sindiran, dan kata-kata kasar. Mendengar seseorang yang tulus menanyakan kabarnya rasanya seperti disiram air dingin di tengah padang pasir. Amira membekap mulutnya sendiri dengan tangan kiri, mencoba meredam suara tangisnya agar tidak menembus langit-langit kamar bawah.

​"Pak... Amira butuh bantuan Pak Sanusi," ucap Amira setelah berhasil menguasai dirinya sedikit. "Amira... Amira sudah tidak kuat lagi di sini, Pak."

​"Astagfirullah. Tenang, Amira. Tenang dulu. Tarik napasmu, Nduk," tuntun Pak Sanusi dengan suara kebapakan yang menenangkan. "Bapak masih memegang amanah almarhum ayahmu. Bapak tidak pernah melupakan janji Bapak untuk menjagamu jika sesuatu yang buruk terjadi pada pernikahanmu. Sekarang katakan pada Bapak, apa yang dilakukan si Aris itu padamu?"

​Amira meremas kain daster lamanya di bagian perut, tempat di mana janin kecilnya yang baru berusia beberapa minggu sedang bersembunyi. "Mas Aris... dia berselingkuh, Pak. Dengan Lista, sepupuku sendiri. Mereka sudah terang-terangan di dalam rumah ini, di depan Ibu Ratna. Dan mereka... mereka mengalihkan semua jalur bisnis yang dulu aku bangun ke atas nama Lista. Mereka menganggap aku bodoh, mandul, dan tidak berguna."

​Di seberang telepon, terdengar helaan napas berat dan geram dari Pak Sanusi. Suara ketukan jemarinya di atas meja kayu menandakan pria tua itu sedang menahan amarah yang meledak-ledak.

​"Dasar tidak tahu untung!" desis Pak Sanusi tajam. "Aris itu lupa ya, siapa yang menyuapinya modal saat dia merangkak dari bawah? Dia lupa tanah siapa yang dia pakai untuk mendirikan pabrik megahnya di pinggir kota itu?!"

​Amira tertegun sejenak. "Pak... soal tanah pabrik itu, apakah sertifikat aslinya masih aman di tangan Pak Sanusi?"

​"Aman! Sangat aman di dalam brankas rahasia kantor hukum Bapak, Amira," jawab Pak Sanusi dengan tegas, tak ada lagi sisa-sisa kantuk di suaranya. "Ayahmu itu orang yang visioner, Nduk. Beliau tahu sifat serakah keluarga Pratama sejak dulu. Makanya, sebelum beliau wafat, tanah seluas dua hektar tempat pabrik utama Snack Pratama berdiri itu sengaja tidak dimasukkan ke dalam aset perusahaan bersama. Statusnya adalah sewa pakai atas nama pribadi kamu, Amira Shinta! Dan masa kontrak sewa pakai cuma-cuma itu akan habis tepat dalam waktu tiga bulan lagi!"

​Mendengar fakta hukum itu, sebuah kilatan dingin mendadak melintas di mata Amira. Selama ini ia terlalu naif, terlalu percaya pada konsep "suami-istri adalah satu kesatuan" hingga ia melupakan senjata raksasa yang sengaja ditinggalkan almarhum ayahnya untuk melindunginya.

​"Tiga bulan lagi, Pak?" tanya Amira memastikan.

​"Benar. Tiga bulan lagi. Jika kamu tidak menandatangani perpanjangan kontrak sewa pakai tersebut, secara hukum Aris tidak boleh menginjakkan kaki di atas tanah itu, dan seluruh bangunan pabrik di atasnya bisa kita segel secara legal! Dia harus memindahkan seluruh mesin produksinya, yang artinya... bisnisnya akan lumpuh total dalam semalam," jelas Pak Sanusi dengan detail legalitas yang membuat dada Amira mendadak terasa lapang.

​Amira memejamkan mata, merasakan detak jantungnya yang mulai melambat dan mendingin. Rasa sedihnya kini perlahan menguap, digantikan oleh kalkulasi strategi yang pekat. Aris, Lista, Ibu Ratna... kalian pikir kalian bisa mengusirku setelah kalian kenyang memakan hasil keringatku? Kita lihat saja siapa yang akhirnya akan terusir tanpa alas kaki.

​"Pak Sanusi," ucap Amira, suaranya kini tak lagi bergetar. Nada suaranya berubah menjadi datar, tegas, dan dingin—sebuah nada suara yang belum pernah didengar oleh siapa pun di rumah keluarga Pratama. "Amira minta Pak Sanusi siapkan semua dokumennya. Jangan tunjukkan senjata kita dulu sekarang. Biarkan Mas Aris dan Lista merasa berada di atas angin. Biarkan mereka meluncurkan proyek jalur distribusi Jawa Timur yang baru itu menggunakan modal mereka sendiri."

​Pak Sanusi terdengar terkekeh pelan di seberang sana, sebuah kekehan penuh kepuasan. "Iya, Nduk. Bapak paham maksudmu. Kita biarkan mereka menginvestasikan seluruh sisa uang mereka ke sana, menumpuk utang ke vendor-vendor baru, dan saat mereka merasa sudah berada di puncak sukses..."

​"Kita akan tarik karpet di bawah kaki mereka sampai mereka jatuh ke dasar neraka kemiskinan," potong Amira dengan kalimat yang dingin menembus sumsum tulang.

​"Bagus. Kamu benar-benar anak harimau milik ayahmu, Amira. Lalu, apa rencanamu dalam waktu dekat ini?" tanya Pak Sanusi.

​Amira mengusap perutnya lagi dengan lembut. "Amira akan tetap bertahan di rumah ini selama beberapa minggu ke depan, Pak. Amira akan berpura-pura menjadi istri yang depresi, lemah, dan pasrah agar mereka tidak curiga. Tapi Amira butuh Pak Sanusi memantau pergerakan finansial kantor Aris di balik layar. Bisakah?"

​"Tentu bisa. Bapak masih punya banyak jaringan auditor senior di dinas pajak dan perbankan. Apapun yang terjadi di dalam rekening Aris dan sekretaris ularmu itu, Bapak akan tahu dalam hitungan jam. Besok pagi, Bapak akan kirimkan orang kepercayaan untuk menemuimu secara rahasia di pasar saat kamu berbelanja subuh," ujar Pak Sanusi menutup rencana mereka.

​"Terima kasih banyak, Pak Sanusi. Tolong... rahasiakan pertemuan kita dari siapa pun."

​"Pasti, Nduk. Jaga dirimu baik-baik di sana. Ingat, kamu tidak sendirian sekarang."

​Setelah mengucapkan salam, Amira mematikan sambungan telepon. Ia meletakkan ponselnya di atas lantai, lalu merebahkan tubuhnya kembali ke atas kasur busa yang tipis. Di dalam kegelapan yang sunyi itu, Amira menatap langit-langit kamar dengan tatapan mata yang tajam bagai elang malam.

​Pagi akan segera tiba dalam beberapa jam lagi. Amira tahu, ia harus kembali memakai topengnya—menjadi Amira yang kusam, lelah, dan tertindas di depan Ibu Ratna dan Lista. Namun di dalam rahimnya, ada sebuah rahasia besar yang sedang tumbuh, dan di dalam kepalanya, jaring-jaring balas dendam yang mematikan baru saja resmi ditenun.

​Keesokan paginya, pukul lima subuh.

​Suasana di luar rumah masih berkabut tipis saat Amira melangkah keluar dari pintu belakang dengan jilbab instan dan gamis cokelat mudanya yang sederhana. Udara dingin menusuk tulang, namun fokusnya tidak goyah. Seperti biasa, ia harus berjalan kaki menuju ujung kompleks untuk mencari ojek atau taksi menuju pasar tradisional sebelum Ibu Ratna bangun dan mulai menuntut sarapan pagi.

​Sesampainya di pasar tradisional yang ramai, bau amis ikan dan riuh teriakan para pedagang sayur langsung menyambut Amira. Ia berjalan di antara genangan air becek, menjinjing kantong plastik berisi sayuran dengan kepala tertunduk.

​Saat ia sedang berdiri di depan lapak penjual daging ayam milik Bu Siti, seorang pria paruh baya mengenakan jaket ojek online lusuh dan topi pet hitam tiba-tiba berdiri di sampingnya, berpura-pura sedang memilih potongan sayur.

​Tanpa menoleh ke arah Amira, pria itu berbisik dengan suara yang sangat rendah, hampir tenggelam di antara suara tawar-menawar pasar.

​"Neng Amira? Saya utusan Pak Sanusi. Ini berkas laporan keuangan kuartal pertama kantor suami Anda yang berhasil disadap semalam. Ada hal yang sangat darurat di dalam sini."

​Pria berjaket ojek itu dengan gerakan yang sangat cepat dan terlatih, menyelipkan sebuah amplop cokelat tebal berukuran kecil ke dalam kantong plastik hitam besar berisi sayur bayam yang sedang dipegang oleh Amira.

​Jantung Amira berdesir kencang. Ia mencengkeram erat plastik bayamnya. "Darurat? Soal apa, Pak?" bisik Amira tanpa merubah posisi pandangannya dari potongan daging ayam di depannya.

​Pria itu membetulkan posisi topinya, menyembunyikan wajahnya dari keramaian pasar sebelum membisikkan kalimat terakhir yang membuat seluruh tubuh Amira seketika mendadak kaku dan membeku di tempat.

​"Sekretaris suami Anda, Lista... dia baru saja menandatangani pengajuan pinjaman dana jaminan perusahaan sebesar lima miliar rupiah ke bank swasta menggunakan tanda tangan digital palsu atas nama Anda sebagai komisaris pasif. Dan uang itu... dialirkan ke rekening luar negeri yang tidak diketahui."

Amira terpaku di tengah hiruk-pikuk pasar dengan kantong plastik berisi laporan korupsi raksasa di tangannya. Kelicikan Lista ternyata jauh lebih cepat dan lebih nekat daripada yang ia duga; sang pelakor tidak hanya mengincar posisi istri, tapi sedang bersiap untuk merampok seluruh aset perusahaan dan menjebak Amira sebagai kambing hitam secara hukum.

1
partini
semua orang kalau udah tersudut bilang nya khilaf
gendiz: ya kaaan kak 🤭
total 1 replies
partini
,👍👍👍👍
falea sezi
sejauh ini muter wae. lahh😕
gendiz: makasih ya sudah mau baca, semoga next bab enggak kerasa muter alurnya
total 1 replies
partini
busettt dari dari bab 1 Ampe yg ini Amira apes Thor, kata jadi Badas eh malah kaya gini
gendiz: makasih ya masukkan nya , semoga nanti next bab alurnya gak membingungkan lagi,🤭
total 3 replies
gendiz
bisa mereka dari segi cerita
gendiz
up
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!