NovelToon NovelToon
Aku Pergi Mas

Aku Pergi Mas

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Crazy Rich/Konglomerat / CEO
Popularitas:6.5k
Nilai: 5
Nama Author: Re _ ara

Ani, seorang istri yang selama ini menganggap pernikahannya bahagia dan harmonis, tanpa sengaja menemukan ponsel suaminya, Dimas, yang tertinggal di rumah saat ia pergi bekerja. Rasa penasaran dan firasat buruk mendorongnya membuka kunci layar dan membaca isi pesan di dalamnya.

Hatinya hancur lebur saat menemukan rangkaian percakapan mesra, janji temu, dan ungkapan kasih sayang yang Dimas kirimkan kepada seorang wanita lain bernama Rina, rekan kerjanya sendiri. Di sana tertulis jelas bahwa hubungan itu sudah berlangsung berbulan-bulan, bahkan Dimas sering menjelek-jelekkan Ani dan kehidupan rumah tangga mereka di depan wanita itu, seolah-olah ia hidup dalam penderitaan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Re _ ara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 5

Nama Dimas disebutkan saja sudah cukup membuat dada Ani terasa sesak kembali. Air mata yang baru saja berhenti, kini kembali menggenang di pelupuk matanya. Ia menundukkan wajah, menatap tangannya yang saling bertautan erat di pangkuan. Bagaimana ia harus mengatakannya? Bahwa anak kesayangan wanita tua di sampingnya itu telah mengkhianati pernikahan mereka? Bahwa anaknya itu telah memiliki wanita lain, dan dengan mudahnya membuang dirinya seperti barang tak berguna?

"Ceritalah sama Ibu, Nak Ani. Anggap saja Ibu ibumu sendiri. Jangan dipendam sendiri, nanti hatimu sakit," bujuk Ibu Siti lagi, mengelus punggung tangan Ani dengan penuh kelembutan.

Kelembutan itu lah yang akhirnya meruntuhkan pertahanan terakhir Ani. Isak tangisnya pecah seketika. Ia menutup wajah dengan kedua tangan, bahunya berguncang hebat menahan tangis yang selama ini ia tahan mati-matian.

"Dimas... Mas Dimas..." Ani sulit melanjutkan ucapannya, suaranya terputus-putus karena tangis. "Dia pergi, Bu... Dia sudah pergi meninggalkan Ani."

Ibu Siti tertegun hebat. Wajahnya yang tadinya terlihat khawatir kini berubah menjadi bingung dan tak percaya. Ia mengerutkan kening, menggenggam bahu Ani dan memaksanya menoleh.

"Apa maksudmu, Nak? Meninggalkanmu? Apa maksud perkataanmu itu? Kalian cuma bertengkar kan? Nanti juga dia pulang lagi, anak laki-laki Ibu itu memang kadang keras kepala dan emosian sedikit, tapi mana mungkin dia berani meninggalkanmu. Kalian sudah menikah lima tahun, rumah tangga kalian baik-baik saja, kan? Semua orang tahu kalian pasangan yang paling serasi dan bahagia."

Ani menggeleng kuat, air matanya semakin deras mengalir membasahi pipi. Ia mengusap kasar wajahnya, berusaha menenangkan diri agar bisa bicara dengan jelas.

"Semua itu hanya sandiwara, Bu... Semua kebahagiaan yang Ibu lihat, semua keharmonisan yang orang lain puji... itu semua cuma di luar saja. Di dalamnya, sudah hancur sejak lama." Ani menarik napas panjang, lalu melanjutkan dengan suara bergetar namun tegas. "Tadi pagi, Ani menemukan ponselnya yang tertinggal di sini. Ani membaca semuanya, Bu... isi percakapannya dengan wanita lain. Rina, rekan kerjanya sendiri. Mereka sudah menjalin hubungan diam-diam berbulan-bulan lamanya. Mas Dimas sendiri yang mengakuinya, dia tak menyangkal sedikit pun. Dia bilang dia sudah tidak mencintai Ani lagi, dia bosan, dia merasa terpenjara, dan dia ingin berpisah supaya bisa hidup bersama wanita itu."

Ruangan itu seketika menjadi hening total setelah kalimat terakhir itu terucap. Ibu Siti diam terpaku, mulutnya sedikit terbuka karena keterkejutan yang luar biasa. Wajahnya perlahan berubah pucat pasi, tangannya yang tadi mengelus tangan Ani kini terasa dingin dan kaku. Ia tampak sulit mempercayai apa yang baru saja didengarnya. Anak yang ia besarkan dengan susah payah, anak yang selalu ia ajarkan tentang kejujuran dan tanggung jawab, ternyata melakukan hal sehina itu pada istrinya sendiri , istri yang begitu setia dan berbakti padanya.

"Ya Allah... Dimas... anak bodoh itu..." gumam Ibu Siti pelan, matanya mulai berkaca-kaca. Ia menutup mulutnya dengan tangan, menahan rasa sakit dan malu yang mendadak menyerang hatinya. Ia tahu betapa baiknya Ani. Selama menjadi menantu, tak pernah sekalipun Ani berbuat salah padanya atau pada keluarganya. Ani selalu ada saat mereka butuh bantuan, selalu bersikap sopan, sabar, dan penuh kasih sayang. Mendengar bahwa anaknya lah yang menyakiti wanita sebaik ini, rasanya hatinya terasa teriris perih.

"Dia... dia benar-benar mengatakannya? Dia memintamu berpisah?" tanya Ibu Siti kembali, suaranya bergetar.

Ani mengangguk lemah. "Iya, Bu. Dia sudah berniat ini sejak lama, sepertinya. Dia sudah siap dengan segalanya, bahkan dia menawarkan rumah ini dan uang bulanan untuk Ani, seolah-olah itu bisa mengganti rasa sakit ini. Dia bilang dia sudah tidak bahagia di sini, dan lebih memilih wanita itu daripada Ani, daripada rumah tangga kami."

Ibu Siti menghela napas panjang, lalu tiba-tiba ia bangkit berdiri dengan gerakan yang lebih cepat dari dugaan Ani. Wajahnya yang tadinya penuh kesedihan kini berubah menjadi merah padam menahan amarah yang meluap-luap.

"Dasar anak tidak tahu diri! Kurang ajar sekali dia!" seru Ibu Siti dengan suara tinggi, tangannya mengepal kuat menahan kemarahan. " berani sekali dia berbuat begitu padamu, Nak Ani? Padahal kamu sudah begitu baik, begitu sabar melayaninya, melayani kami sekeluarga... Dia tidak tahu beruntung punya istri sebaik kamu! Dimas itu anak bodoh, dia tidak tahu apa yang dia buang!"

Ia kembali menoleh ke arah Ani, lalu duduk kembali dan langsung memeluk tubuh menantunya itu erat-erat. Di pelukan itu, Ani kembali menangis, menumpahkan segala rasa sakit dan kekecewaan, merasa sedikit terhibur karena setidaknya ada satu orang yang memihaknya dan mengerti perasaannya saat ini.

"Maafkan dia ya, Nak... Maafkan kelakuan anak Ibu yang tak tahu aturan itu," bisik Ibu Siti sambil mengusap punggung Ani lembut, air matanya pun ikut menetes. "Ibu malu sekali, Ibu malu luar biasa. Ibu tak pernah menyangka dia akan sejauh itu melukaimu. Tapi dengar Ibu, Nak... keputusan itu belum tentu selesai. Ibu takkan membiarkan dia begitu saja. Ibu akan bicara sama dia, Ibu akan memarahi dia, Ibu akan minta dia kembali dan meminta maaf padamu. Dia tak boleh sembarangan membuangmu begitu saja."

Namun Ani perlahan melepaskan pelukan itu. Ia menatap mata wanita tua itu dengan tatapan yang sudah jauh lebih tenang dan tegas, meski masih menyisakan kesedihan.

"Terima kasih ya, Bu... Terima kasih karena Ibu masih menganggap Ani bagian dari keluarga, dan terima kasih sudah memihak Ani," ucap Ani pelan. "Tapi biarlah begitu saja, Bu. Keputusan sudah bulat. Mas Dimas sudah memilih jalannya, dan Ani pun sudah memilih jalannya sendiri. Kalau dia dipaksa kembali oleh Ibu, tapi hatinya tetap di sana... apa gunanya, Bu? Ani tak mau lagi membagi suami, Ani tak mau hidup dengan orang yang sudah tak mencintai Ani. Ani sudah lelah sakit hati."

Ibu Siti menatap Ani dengan tatapan sedih dan kagum sekaligus. Ia sadar betapa tegarnya menantunya ini, betapa berharganya wanita ini yang ternyata baru disadari nilainya saat sudah dihancurkan oleh anaknya sendiri.

"Apapun yang terjadi, Nak Ani... ingat satu hal," ucap Ibu Siti dengan sungguh-sungguh, menggenggam kedua tangan Ani erat. "Bagi Ibu, dan bagi seluruh keluarga Ibu, kamu tetaplah anak kami, tetaplah menantu kami. Kesalahan itu ada sepenuhnya di pundak Dimas, bukan di kamu. Jangan pernah merasa rendah diri, jangan pernah merasa kamu kurang apa-apa. Kamu wanita yang paling baik, dan anak bodoh itu yang rugi sudah melepaskanmu. Ibu janji, Ibu akan selalu ada di sampingmu, apapun keputusan yang kamu ambil ke depannya."

Kalimat itu menembus jauh ke dalam hati Ani, menjadi secercah cahaya kecil di tengah kegelapan yang menyelimuti hidupnya. Di tengah kehancuran rumah tangganya, di tengah pengkhianatan suaminya, ia ternyata masih mendapatkan kasih sayang dan dukungan dari ibu mertuanya. Dan itu cukup untuk menguatkan hatinya, bahwa meski ia kehilangan cinta Dimas, ia tidak kehilangan segalanya. Ia masih berharga, dan ia masih pantas dicintai.

Bersambung,,,,

1
partini
very good ani👍👍👍
partini
yah lagi penasaran ini Thor
Re _ ara: terimakasih sudah mampir ya KA 🙏🙏🙏
total 1 replies
partini
ayo ani to tunjuk kan taring mu bikin mereka nangis darah karena malu
Re _ ara: siap ka😄😄😄
total 1 replies
reza atmaja
sangat bagus .
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!