menceritakan seorang raja kehidupan yang tertarik dengan sang ratu kematian yang dia baca di sebuah buku legenda sang ratu kematian yang sangat cantik dan dingin
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon leona athena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 32: surat kedatangan sang ratu kematian
Bab 32
Beberapa hari telah berlalu, dan suasana di dalam serta di sekeliling Kastil Kerajaan kingdom of Srenity terasa semakin hidup dan mempesona. Kastil yang biasanya sudah tampak indah dan megah, kini berubah menjadi tempat yang seolah dihiasi oleh tangan para dewa. Di setiap sudut taman luas yang mengelilingi bangunan utama, bunga-bunga bulan yang sangat dinanti-nanti akhirnya mulai bermekaran sepenuhnya. Kelopak-kelopak bunga itu berwarna putih bersih, berkilau lembut seolah memantulkan cahaya remang dari bulan purnama, dan memancarkan aroma harum yang manis namun menenangkan, terhampar ke seluruh penjuru angin kerajaan. Kerajaan kingdom of Srenity memang dikenal sebagai negeri yang selalu tenang, bahagia, dan penuh dengan keceriaan; penduduknya hidup rukun, langitnya selalu cerah, dan kehangatan seolah tak pernah lepas dari udara yang dihirup setiap orang. Namun, bagi Raja Xavier, keindahan yang ada di hadapannya saat ini terasa jauh lebih istimewa, seolah alam pun turut bersorak menyambut kabar yang selama ini ia nanti dengan sepenuh hatinya.
Xavier berdiri di tepi jendela kamarnya yang besar dan terbuka, matanya menatap lekat-lekat ke arah taman yang sedang mekar itu, namun pikirannya melayang jauh melampaui batas-batas kerajaannya. Di dalam dadanya, perasaan rindu dan ketidaksabaran bergelora menjadi satu, semakin kuat dari hari ke hari. Ia terus menunggu, menghitung waktu, berharap setiap detik yang berlalu akan segera membawa kabar yang ia inginkan—kabari bahwa sang Ratu, Elara, akan datang mendatanginya. Wanita yang menjadi pujaan hatinya itu memimpin Kerajaan Obsidian impire, sebuah negeri yang sangat berbeda jauh dari kerajaan kingdom of Srenity. Jika kerajaan kingdom of Srenity penuh cahaya dan kebahagiaan, maka Obsidian impire adalah negeri yang gagah, kokoh, dan penuh dengan kekuatan magis kuno dan aura kematian yang mencekam namun indah dan disegani oleh seluruh kerajaan yang ada di dunia. Perbedaan itu justru yang membuat rasa kagum dan cinta Xavier semakin bertumbuh besar, karena baginya, Elara adalah pelengkap yang sempurna bagi segala sesuatu yang ada pada dirinya.
Malam itu, ketika langit sudah berubah menjadi biru tua yang pekat dan bintang-bintang berkelap-kelip indah, Xavier masih terjaga. Ia belum bisa memejamkan matanya, hatinya berdebar kencang seolah ada firasat bahwa sesuatu yang besar akan segera terjadi. Udara malam yang sejuk berhembus masuk ke dalam kamar, membawa serta wangi bunga bulan yang semakin pekat. Tiba-tiba, terdengar suara ketukan pelan namun berat di kaca jendela kamarnya. Tok... tok... tok... Bunyi itu teratur dan terdengar sengaja, bukan sekadar suara angin atau ranting pohon yang tersangkut. Xavier tersentak kaget, namun seketika itu juga jantungnya berpacu lebih cepat dari sebelumnya. Ia segera melangkah mendekati jendela, dan di sana, di atas bingkai kayu jendela yang lebar, seekor burung gagak berukuran sangat besar sedang bertengger dengan anggun.
Bulu-burung burung itu hitam legam seperti malam yang paling gelap, namun memancarkan kilauan halus saat terkena cahaya bulan, menandakan bahwa ia bukanlah hewan biasa. Ini adalah utusan khusus dari Kerajaan Obsidian impire, makhluk setia yang bertugas menjaga gerbang kerajaan dan menjadi perantara pesan bagi Ratu Elara sendiri. Dengan cakarnya yang kuat namun berhati-hati, burung gagak itu memegang erat selembar surat yang digulung rapi. Xavier segera membuka daun jendela lebar-lebar, mempersilakan makhluk itu masuk, dan burung itu pun terbang turun perlahan hinggap di atas meja kerja Raja. Tanpa membuang waktu, Xavier mengambil gulungan surat itu dengan tangan yang sedikit gemetar karena gembira. Di bagian luar gulungan itu, tertera stempel lilin berwarna merah tua yang sudah membeku, tercetak indah dengan gambar bunga mawar yang sangat cantik—lambang kebesaran milik Ratu Elara, tanda bahwa pesan ini asli dan langsung datang dari wanita yang ia cintai.
Dengan hati-hati, Xavier memecahkan segel lilin itu dan membuka lembaran kertas tebal di dalamnya. Matanya menyapu setiap baris tulisan yang tertulis dengan tinta hitam pekat, tulisan tangan yang tegas namun tetap memiliki kelembutan tersendiri. Semakin ia membaca, semakin lebar senyum yang terukir di wajah tampannya, dan kebahagiaan meluap-luap memenuhi seluruh isi dadanya. Di dalam surat itu, Elara menuliskan bahwa ia telah menerima undangan yang sebelumnya dikirimkan oleh Xavier, dan ia memutuskan untuk memenuhinya. Sang Ratu menyatakan bahwa dalam waktu dekat ini, ia akan segera berangkat menuju Kerajaan kingdom of Srenity, datang berkunjung untuk melihat langsung negeri yang begitu sering diceritakan oleh Raja Xavier, serta ingin mengenal lebih dekat tentang negeri yang dikenal penuh kedamaian itu.
Rasa bahagia yang dirasakan Xavier saat itu begitu besar hingga sulit diungkapkan dengan kata-kata. Ia merasa seolah dunia di sekelilingnya berputar lebih indah dari biasanya. Tanpa sadar, ia mendekap surat itu ke dadanya, lalu berbalik arah dan memeluk tubuh besar burung gagak yang masih diam di meja itu dengan penuh rasa syukur dan kegembiraan. Burung itu hanya diam membiarkan dirinya dipeluk, matanya yang hitam dan tajam menatap lurus ke arah Raja dengan pandangan yang penuh kebijaksanaan.
Setelah melepaskan pelukannya, burung gagak itu mengepakkan sayapnya sedikit, mengeluarkan suara serak namun terdengar tegas dan berwibawa, persis seperti sosok yang mengerti betul beratnya tugas yang diembannya. “Namaku Charon,” ucap burung itu, suaranya berat dan bergema pelan di dalam kamar yang hening. “Ratu Elara ku akan segera menginjakan kakinya ke tanah kerajaanmu, Raja Xavier. Dengarkan pesanku ini baik-baik: jangan pernah membuatnya kecewa, jangan sampai membuat hatinya sedih atau terluka dan jangan pernah sesekali kau berniat menghianati nya. Ketahuilah, ini adalah pertama kalinya seumur hidup beliau melangkahkan kaki keluar dari wilayah Kerajaan Obsidian impire dengan niat bertamu bukan berniat membawa dan membunuh . Beliau sangat berhati-hati dan baru mempercayaimu cukup besar untuk berani melakukan perjalanan ini.dan asal anda tau yang mulia jika kau melanggar semua nya bukan hanya kematian yang menghampiri mu tapi juga dengan banyak kutukan dan jiwa mu akan tersegel di dalam neraka sampai masa penebusan dosa mu di anggap selesai”
Kalimat-kalimat itu terucap dengan sangat serius, penuh dengan peringatan dan kesetiaan yang mendalam kepada tuannya. Xavier mengangguk pelan, matanya menatap tajam ke arah Charon, menunjukkan ketulusan dan kesungguhan hatinya. “Aku mengerti, Charon. Terima kasih atas peringatanmu. Demi apa pun, aku berjanji akan menjaganya dengan segenap jiwa ragaku, membuatnya merasa lebih bahagia daripada saat ia berada di kerajaannya sendiri,” jawab Xavier dengan suara rendah namun tegas, seolah mengucapkan sumpah setia yang tak akan pernah ia ingkari.
Charon hanya mengangguk kecil seolah puas mendengar janji itu. Kemudian, ia melebarkan kedua sayapnya yang sangat besar dan kokoh, menciptakan hembusan angin sejuk yang menyapu seluruh ruangan. Dengan satu kepakan yang kuat, burung gagak itu terbang naik ke atas, melesat keluar kembali lewat jendela yang terbuka, menghilang ke dalam gelapnya malam dan menyatu dengan bayang-bayang menuju pulang kembali ke tuannya.
Setelah kepergian Charon, suasana kamar kembali hening, namun hati Xavier terasa riang dan penuh cahaya. Ia berjalan perlahan menuju tempat tidurnya, membawa surat berharga itu bersamanya. Ia berbaring di atas kasur empuknya, namun tidak melepaskan surat itu dari pelukannya. Ia mendekap nya erat sekali ke dada, merasakan seolah-olah ia sedang memeluk Elara sendiri. Pikirannya mulai melayang membayangkan hari-hari ke depan: bagaimana ia akan menyambut kedatangan sang Ratu, bagaimana ia akan mengajaknya berkeliling menikmati keindahan taman yang penuh bunga bulan ini, dan bagaimana rasanya bisa berbicara serta melihat wajah wanita pujaan hatinya itu secara langsung, bukan lagi lewat surat-surat atau bayangan semata.
Di luar sana, di bawah sinar bulan yang bersinar terang, bunga-bunga bulan terus bermekaran, mengeluarkan aroma manis yang melayang jauh ke seluruh penjuru Kerajaan Srenity. Negeri yang dikenal selalu tenang, bahagia, dan ceria itu kini bersiap menyambut kedatangan Ratu dari negeri yang perkasa. Di dalam kamarnya, Raja Xavier tersenyum lebar dalam kegelapan malam, matanya terpejam dengan tenang, tidur dengan mimpi-mimpi indah, menanti hari pertemuan yang akan segera mengubah seluruh hidupnya selamanya.