NovelToon NovelToon
TERSESAT DI DESA MISTERIUS

TERSESAT DI DESA MISTERIUS

Status: sedang berlangsung
Genre:Misteri / TKP / Hari Kiamat
Popularitas:74.1k
Nilai: 5
Nama Author: Cublik

Semua bermula saat regu berjumlah enam anggota mahasiswa hendak bertolak ke sebuah perkampungan pelosok demi tugas KKN, mereka menolak ikut rombongan bus kampus, memilih menaiki mobil pribadi.

Sampai pertengahan jalan, sang sopir berbelok arah, mencari jalur alternatif agar cepat sampai tujuan, tapi malah memasuki wilayah tidak terdaftar pada peta digital maupun konvensional.

Keanehan, kejanggalan mulai terjadi kala sang waktu merambat memasuki malam hari. Langit berangsur-angsur berubah warna layaknya api menyala.

Ada apa sebenarnya? lantas bagaimana dengan nasib para mahasiswa, termasuk Candra Kanti, gadis pendiam yang dapat merasakan aura mistis disekitarnya ...?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cublik, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Terperangkap : 23

“Teman kalian yang tiga lagi, mana?” bu Sasmi mengedarkan pandangannya ke halaman samping rumah.

Abeer mengelap keringat pada pelipis, deru napasnya sedikit berisik. Sedari tadi sibuk mencari alasan agar jalan-jalan bersama pak Aan tidak cepat usai.

“Mereka sedang di kamar, Ahwaya kurang enak badan, Bu,” Sambara berusaha memberikan alasan.

“Sejak kapan?” Bu Sasmi berjalan menuju bangunan mirip indekos.

“Mampus dah,” gerutu Abeer pelan sekali.

Pak Aan tengah membantu Tejo menurunkan gulungan jerami kering dari bak pickup.

“Pak, jerami untuk pakan apa? Apa ada hewan ternak lagi?” Abeer penasaran, tumpukan batang padi dalam panggulan pelayan sepertinya berat.

Tejo yang menjawab, dia juga memanggul jerami. “Untuk persiapan pakan hewan, kami berencana mau berburu lagi.”

Mereka berjalan cepat menuju gudang penyimpanan alat tani serta barang-barang sudah tidak dipakai.

“Bu, punya benang jahit tidak? Bagian selangkangan celana yang saya kenakan koyak,” cegah Sambara.

“Sekarang?” ia urung naik ke atas teras.

“Iya. Ini coba dengar robekannya.” Sambara melebarkan kaki sedikit bertenaga.

Bu Sasmi pun percaya setelah mendengar sendiri, enggan meneliti. Dirinya berbelok, masuk ke dalam rumah dari pintu belakang.

Abeer mengendap-endap pergi ke belakang, ingin memeriksa tiga orang kurang kerjaan.

Ahwaya, Aji, terus mencoba menyadarkan Kanti, menepuk-nepuk pipi si gadis masih betah memejamkan mata.

“Kalian gila, ya? Kenapa lagi tu si Cupu? Kurang kerjaan banget!” Abeer memperlihatkan rasa tidak sukanya.

Memiliki tubuh sedikit tambun, membuat Abeer mudah berkeringat, dan kulitnya cepat gatal-gatal. Melakukan aktivitas yang memicu keluarnya peluh sangat dihindarinya.

“Daripada elu protes mulu, mending jaga keadaan. Gua mau bopong Kanti masuk ke kamarnya!” Aji menyusupkan tangan pada ketiak dan bawah lutut gadis kesayangannya.

“Sialan!” meskipun mengumpat, Abeer tetap bersedia. Dia memperhatikan gudang yang bersebelahan dengan kamar mandi habis dilahap api.

“Buruan!” Tangan Abeer terangkat memberi kode.

Aya menyamai langkah Aji agar tubuh lemas Kanti sedikit tertutupi. Saat berhasil mencapai pintu kamar, mereka sama-sama menghela napas lega sembari masuk.

Kanti dibaringkan diatas tilam. Aji memeriksa denyut leher serta pergelangan tangannya. “Masih teratur. Terus kenapa dia gak juga sadarkan diri?”

Ahwaya mengernyitkan dahi, berusaha berpikir keras, berakhir frustasi. “Aku sama sekali buta soal gituan, Ji. Gimana kalau Kanti gak juga siuman?”

Hust!

“Jangan ngomong seperti itu. Aku yakin Kanti baik-baik saja, gak lama lagi sudah sadar,” rasa optimis yang dia sendiri meragukannya.

“Kalian ini sukanya bikin masalah, menyusahkan diri sendiri. Eh … malah melibatkan aku dan Sambara juga. Kalau sampai mertuanya Tejo tahu, terus marah, yang ada kira diusir, mau tinggal dimana coba?” Abeer masih menaruh kepercayaan sepenuhnya kepada keluarga bu Sasmi.

Aya mengatupkan mulutnya, urung membocorkan praduga Kanti yang tidak percaya pada keluarga Tejo.

“Udah sana lu keluar lagi! Lakuin apa yang sekiranya bermanfaat. Cegah anggota keluarga bu Sasmi masuk kesini. Jadilah sedikit berguna, Abeer!” sindir Ahwaya.

“Makin ngelunjak lu ya!” Abeer meradang, dia memiliki pribadi mudah tersinggung dan emosional.

“Dia perempuan! Pecundang elu sampai nyakitin Aya!” hardik Aji, mencegah langkah Abeer mempersempit jarak hendak menyerang Aya.

“Bangke!” umpat Abeer, lalu keluar dari dalam kamar.

“Lain kali, cobalah tahan diri jangan terpancing emosi. Kita gak tahu siapa kawan dan siapa lawan. Disaat mendesak, terpojok, merasa terancam, semua hal bisa kebalikannya. Jadi, pinter-pinter membaca situasi, Aya,” Aji menasehati temannya.

“Maaf, Ji. Aku kalut, takut dengan semua ini. Tiba-tiba tersesat di desa misterius, mengalami kejadian aneh, hilangnya Mayang, dan pernyataan Kanti yang bilang dia udah meninggal, rasanya ….” suaranya menghilang tergantikan air mata.

Aji pun iba, bersimpati. Didekatinya Aya, ditepuk-tepuk pelan pundaknya sebagai dukungan, menyatakan kalau dirinya tidak sendirian menghadapi situasi aneh ini.

Kanti belum juga sadarkan diri, dan raganya dijaga oleh Ahwaya.

Sementara Aji duduk di teras kamar, menghindari dicurigai berkumpul satu ruangan dalam waktu sangat lama.

Sambara bersungut-sungut, jarinya sudah tiga kali tertusuk jarum jahit. “Seumur-umur baru kali ini gua megang jarum sialan.”

Pemuda berambut potongan rapi, mencoba mendalami peran. Duduk di teras samping rumah bu Sasmi, menjahit celana robek. Dia sendiri memakai handuk, pakaian ganti bersih belum kering.

.

.

“Gimana keadaan Ahwaya, Aji, sudah baikan?” Tejo menghampiri pemuda duduk di bangku kayu panjang, dia juga ikutan duduk sedikit berjarak.

Aji tidak langsung menjawab, mencerna dulu pertanyaan tiba-tiba tadi. “Sudah mendingan, Pak. Mungkin efek kelelahan sama seperti Kanti beberapa waktu lalu yang masuk angin.”

“Biar ibu lihat.” Bu Sasmi sudah berdiri pada batas pintu tidak tertutup rapat.

‘Darimana arah datangnya?’ Aji kebingungan, perasaan dia tidak ada melihat sosok bu Sasmi disekitar sini, tiba-tiba sudah berdiri pada batas pintu kamar Aya.

“Bu, Aya tidur di kamar Kanti,” seru Aji sengaja membesarkan volume suaranya, berharap Ahwaya mendengar.

Tangan kanan bu Sasmi yang sudah menyentuh pintu tinggal mendorongnya, turun lagi. Dia menyamping dan berjalan anggun ke kamar Kanti.

Dibelakang bu Sasmi, tubuh Aji menegang meskipun sudah semaksimal mungkin berusaha tenang.

Daun pintu didorong, lalu sang pemilik rumah masuk diikuti menantunya dan Aji.

‘Syukurlah,’ Aji mengelus dada kala mendapati Aya tertidur tepat di samping Candra Kanti yang belum juga siuman.

Bu Sasmi memeriksa kening kedua gadis yang terlelap, secara bergantian. “Mereka meriang, gejala mau demam. Biar saya rebuskan ramuan herbal penurun panas sebelum suhu badan keburu naik.”

“Iya, Bu. Terima kasih,” ucap Aji terdengar tulus.

“Biarkan mereka istirahat, jangan diganggu!” Bu Sasmi keluar dari dalam kamar, tidak melihat Aya yang mengacungkan jempol jari tangan ke Aji. Dia hanya pura-pura tertidur.

***

Jiwa Kanti seperti seseorang kelelahan berlari berkilo-kilo meter jauhnya. Dia termenung, menyadari kalau aksinya sia-sia dalam mencari jalan keluar.

Kanti masih terperangkap di lorong lebar hampir dua meter dengan ketinggian atap tanah sekitar dua meter juga.

“Berpikir Kanti! Tempat ini seperti tak asing, terutama lampu obor menyala itu,” ia memaksakan diri untuk berpikir keras, berusaha menggali ingatan.

“Nyai, dimana engkau?” gumamnya seraya tetap waspada memperhatikan sekitar. Suara-suara seperti bunyi dengkuran, auman sudah tidak terdengar lagi.

Kanti berdiri cepat kala mendengar bunyi besi berderik seperti pintu berat didorong maupun ditarik. Kemudian cahaya lorong remang-remang berubah terang benderang seperti nyala api sama dengan langit desa Latu abang.

Jiwa kelelahan itu mundur teratur, pada ujung lorong yang sebenarnya tidak berujung, sepasang bola mata biru jernih layaknya permukaan air laut tertimpa cahaya matahari – bergerak maju mendekatinya.

“Kenapa?” gumamnya. Punggung Kanti menabrak dinding, padahal tadi tempatnya berdiri lorong panjang.

Bertambah sempit jarak Kanti dengan sepasang bola mata biru, bertambah jelas siluet pemilik netra membius itu.

Akhhh!

.

.

Bersambung.

1
Betri Betmawati
siapa yg dincar sama siluman anjing itu
lanjut Thor
Teh Qurrotha
sereeeemmmmmm ihhh
Secret Admire
Aksata.. siapakah dirimu Aksata?🤭
Monica Lora
demi apa kanti menikmati sentuhan si kekasihku 🤭
Engkar Sukarsih
iih... takut...
Secret Admire
😭 semoga segera ada pertolongan buat Kanti dan teman temannya 😭
Secret Admire
🥹 semoga Kanti dan teman temannya selamat 😭 meskipun sedikit harapan 😭
Aprisya
huuuufffff ati2 kanti🥰🥰
𝐂𝐄𝐑𝐈𝐓𝐀 𝐊𝐈𝐓𝐀🍉
mana ? ga ada yang jaga yak?
𝐂𝐄𝐑𝐈𝐓𝐀 𝐊𝐈𝐓𝐀🍉
waduh 😳
Iis Dawina
ya Allah aku kebangun JM 3..ada notif langsung bc..tp bc nya sumpah deh ikut tegang tahan napas
Siti Umaroh
thor bikin mreka ber 5 kompak dan jangan ada korban lgi thorrrrr semangat upnya
Siti Umaroh
thor jangan BKIN Sambara SMA Aya mati thorrr
Siti Umaroh
semoga GK ada yg meninggal lgi thorrr semangatt
Siti Umaroh
Thor BKIN Sambara SMA Aya tetep hidup thorrrrr plisss suka bgt sma perannyah
Siti Umaroh
Thor plis slametin Aya SMA Sambara suka bgt sma peran mereka
Siti Umaroh
up thorrr semangat jangan buat Sambara SMA Aya mati thorrr
Marlina Prasasty
jgn aya dan aji,,, kalau ebeer biarkan saja
Ayani Lombokutara: 🤣🤣🤣 sitambun beleguk
total 1 replies
𝒚𝒂𝒚𝒖𝒌 𝒋ᷟ𝒖ⷽ𝒐ᷟ𝒔ⷽᴛ⑅⃝ˢ🐈
betul target selnjutnya siapa ya
ngeri kali
💕𝘛𝘢𝘯𝘵𝘪 𝘒𝘪𝘵𝘢𝘯𝘢💕
𝒔𝒆𝒎𝒐𝒈𝒂 𝑲𝒂𝒏𝒕𝒊 𝒅𝒂𝒏 𝒕𝒆𝒎𝒂𝒏"𝒏𝒚𝒂 𝒃𝒊𝒔𝒂 𝒔𝒆𝒍𝒂𝒎𝒂𝒕 𝒅𝒂𝒏 𝒎𝒆𝒓𝒆𝒌𝒂 𝒈𝒂𝒌 𝒋𝒅 𝒌𝒐𝒓𝒃𝒂𝒏 𝒃𝒆𝒓𝒊𝒌𝒖𝒕𝒏𝒚𝒂
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!