NovelToon NovelToon
Datang Tanpa Dicari

Datang Tanpa Dicari

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / GXG
Popularitas:553
Nilai: 5
Nama Author: Benrycia_

Area GxG ya~
******
Satu sekolah, beda kelas, tapi ributnya bisa tiap hari. Kara dan Narisa, dua anak SMA yang sepertinya lahir tanpa kemampuan berdamai.
Awalnya semua biasa saja. Sampai suatu hari... mereka menikah.
Iya. Menikah.
Kok bisa?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Benrycia_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 27

Seminggu kemudian.

Hari ini Minggu, tepat diadakannya final turnamen basket antar sekolah. Sejak pagi area sekolah yang jadi tuan rumah sudah ramai dipenuhi murid, guru, sampai orang tua yang datang mendukung masing-masing tim.

Suara teriakan supporter bersahut- sahutan memenuhi lapangan indoor. Ada yang bawa banner, ada yang sibuk mukul botol plastik, bahkan ada yang sudah teriak duluan padahal pertandingan belum mulai.

Narisa tadinya sama sekali tidak tertarik datang.

"Rame. Panas. Berisik." komentarnya waktu masih rebahan di rumah.

Tapi pagi tadi Nuri tiba-tiba muncul sambil pakai sunglasses besar dan baju yang terlalu niat untuk ukuran nonton basket sekolah.

"Mama sama papa mau ikut nonton. Ayo siap-siap."

"Lah? Ngapain?"

"Penasaran. Kata Eka si Kara itu ketua tim. Pasti jago banget.,"

"Dia bukan main basket, ma. Dia cuma teriak-teriak nyuruh orang."

"Itu juga perlu buat ngasih arahan."

Narisa meringis. " Males ah, ma.'

"Buruan. Mama mau liat mantu mama main."

"Jangan ngomong gitu. Bikin geli."

Dan karena mamanya sudah heboh sendiri ngajak pergi, Narisa akhirnya pasrah ikut.

Sekarang dia duduk di tribun bersama Nuri dan Taslim. Di sebelahnya ada Eka dan Irwan yang sejak tadi sibuk memperhatikan pemanasan tim di lapangan,

Eka bahkan sudah teriak duluan padahal pertandingan belum dimulai.

"ARAAA! JANGAN SONGONG MAINNYA!"

Beberapa murid langsung menoleh. Narisa malah melongo.

"Tante semangat banget."

Eka menoleh santai. "Harus. Anak gw kudu digituin biar menang."

Narisa mengernyit lalu menoleh ke lapangan. Di bawah sana, Kara yang sedang stretching langsung melirik ke tribun dengan wajah datar. Begitu melihat Eka dadah dua tangan sambil teriak lagi, dia malah pura-pura tidak kenal.

Narisa sempat kepikiran ikut teriak. Tapi untungnya dia masih punya harga diri.

Ya kali gw nyorakin santen.

Pertandingan akhirnya dimulai beberapa menit kemudian. Dan jujur saja... Narisa lumayan kaget.

Kara yang biasanya urakan, bacot, dan nyebelin mendadak berubah serius di lapangan. Gerakannya cepat, operannya rapi, dan beberapa kali berhasil mencuri bola sampai tribun sekolah mereka heboh sendiri.

"WOYYY KETUA KEREN!"

"DEFENSE! DEFENSE!"

Narisa memperhatikan cukup lama.

Tuh anak jago juga.

Bahkan Harum yang biasanya kelihatan absurd pun jadi beda di lapangan. Fokus, cepat, dan lumayan garang waktu rebut bola.

"Tan," panggil Narisa tiba-tiba sambil menoleh ke Eka. "Kara tingginya berapa sih?"

Eka yang lagi fokus nonton langsung mengernyit.

"Lah, lo bininya masa gak tau?"

Narisa mendecih. "Nanya doang."

Eka menyipit ke arah lapangan.

"Dia... berapa ya?" Dia mikir cukup lama. "Seratus tujuh puluh mungkin. Apa nambah lagi ya? Udah lama juga gak ngukur."

"Oh." Narisa mengangguk pelan, "Berarti beda tipis Sama aku."

Eka langsung ngakak keras.

"Tipis dari mana? Lo itu upil jagung!"

Narisa langsung melotot. "Tante jahat banget."

"Ya emang kecil."

"Aku 162 tau. Ideal itu."

"Tetep upil jagung."

Narisa cuma bisa mendelik kesal. Padahal menurutnya tinggi segitu sudah normal. Tapi ya percuma juga debat. Eka sendiri tinggi, Irwan apa lagi. Tidak heran kalau gen itu turun ke Kara sekalian sama nyebelinnya.

Sementara itu Taslim dan Irwan lebih fokus tepuk

tangan tiap tim HASEM berhasil mengambil bola. Nuri malah sibuk membandingkan tinggi Narisa dengan botol minum di tangannya.

"Kamu kurang lebih segini."

Narisa langsung menoleh cepat.

"Aku sama mama hampir sama ya. Jangan ikut menghina."

Nuri dan Eka langsung tertawa tanpa dosa.

-

Setelah pertandingan yang dimenangkan SMA HASEM, para orang tua pulang ke rumah masing-masing.

Tadinya Nuri dan Taslim mau membawa Narisa ke rumah mereka, tapi cewek itu langsung menolak mentah-mentah.

"Santen bilang cuma nyampe sore," katanya sambil melipat tangan.

Nuri menoleh dari kursi depan, "Beneran?"

"Iya, ma. Kalau dia bohong, aku acak-acak kamarnya."

"Ya jangan gitu juga." Nuri terkekeh kecil. "Kalau dia belum pulang, telepon mama aja."

"Iya, ma."

Begitu sampai rumah, Nuri dan Taslim tidak lama- lama tinggal. Narisa berdiri di depan pagar sambil melambaikan tangan asal sebelum akhirnya masuk ke dalam rumah.

Sepi.

Dia langsung melempar badan ke kasur sambil melirik jam dinding.

Baru jam dua siang. Masih aman, pikirnya.

Awalnya dia masih santai. Tiga puluh menit pertama habis buat scroll video tidak jelas. Tiga puluh menit berikutnya mulai berguling ke kanan kiri seperti ulat kepanasan.

"Kenapa selalu gw yang sendirian di rumah sih?" gerutunya sambil menatap langit-langit.

"Kenapa gak sekali-kali dia yang nungguin gw."

Hening.

Narisa langsung bangkit duduk sendiri.

"Ih, ngapain juga gw nungguin santen."

Dia mengacak rambutnya frustrasi, lalu mendadak berdiri. Keputusan impulsif khas Narisa akhirnya muncul.

Beberapa menit kemudian dia sudah berdiri di dapur sambil membuka kulkas. Puding buatan Nuri masih tersusun rapi di dalam. Narisa mengambil beberapa cup, memasukkannya ke kotak makanan milik Femi, lalu keluar rumah tanpa pikir panjang.

Pagar rumah tetangganya tidak dikunci. Narisa masuk begitu saja sambil membawa kotak di tangan.

Tok. Tok. Tok.

Tidak lama kemudian pintu terbuka. Eri sedikit terkejut melihat Narisa berdiri sambil tersenyum manis.

"Halo, kak. Mau anter ini." kata Narisa sambil mengangkat kotaknya.

"Oh." Eri menerimanya perlahan. " Mau masuk dulu?"

Dia sebenarnya mengira Narisa bakal menolak seperti biasanya. Ternyata cewek itu malah mengangguk santai.

"Boleh, kak."

Eri diam sepersekian detik sebelum akhirnya menyingkir memberi jalan. Begitu Narisa masuk ke ruang tamu, suara dari dalam langsung terdengar.

"Siapa, yank?"

Narisa spontan berhenti jalan.

Yank?

Dia berkedip pelan.

"Ada Risa," jawab Eri sambil lewat.

Narisa akhirnya lanjut masuk sambil berusaha terlihat biasa saja.

Di ruang tengah, Femi yang tadi rebahan langsung buru-buru duduk tegak. Dia masih memakai tanktop dan hotpants rumahan.

"Bentar ya," katanya cepat sambil langsung masuk kamar.

Narisa bahkan belum sempat menjawab.

"Duduk aja dulu," kata Eri sambil membuka kulkas.

"Mau minum apa?"

"Apa aja asal dingin."

"Air putih dingin?"

"Yang ada rasanya kalau bisa."

Eri melirik datar. "Teh?"

" Soda ada, kak?"

Hening dua detik.

"Ada."

Narisa langsung duduk santai di karpet tebal depan televisi. Tidak lama kemudian, Femi keluar lagi sudah memakai kaos rumah dan celana panjang santai.

"Maaf ya. Tante gak nyangka ada tamu," kata Femi sambil duduk di dekat Narisa.

"Emang gerah banget, Tan. Aku aja rasanya pengen telanjang." jawab Narisa cuek.

Eri yang datang membawa nampan berisi gelas, es

batu, dan dua kaleng soda langsung diam sejenak. Anak ini bicaranya blak-blakan banget, pikirnya.

Femi malah tertawa ringan.

"Emangnya kamu biasa begitu di rumah? Bukannya ada sepupu kamu ya?"

"Iya. Eh, tapi ogah juga aku buka-bukaan depan dia. Anaknya gak punya adab."

Femi kembali tertawa, kali ini lebih keras. Narisa ikut cekikikan sendiri.

"Aku becanda, Tan," lanjutnya santai. "Kita mah di kamar masing- masing terus."

"Oh..." Femi mengangguk pelan. "Tapi tante penasaran deh. Orang tua kalian di mana? kok masih SMA udah tinggal berdua."

Narisa langsung berpikir cepat, tapi tangannya tetap menerima gelas dari Eri.

"Orang tua kita di luar kota. Dulu ngekost. Baru sekarang bisa nyewa rumah."

"Oh gitu.. " Femi mengangguk, walau masih terlihat penasaran, "Tapi sering ada yang datang deh ke rumah kalian."

Narisa hampir keselek soda.

"Itu.. "

"Mi, kamu kebanyakan nanya," tegur Eri pelan.

Femi langsung menghela napas kecil.

"Maaf ya, Risa. Tante emang suka kepo."

"Gak apa-apa kok."

Narisa kembali minum, tapi matanya diam-diam bergantian melirik Femi dan Eri. Lalu tanpa dosa dia tiba-tiba bertanya,

"Tadi aku kira kak Eri pacarnya tante."

Ruangan langsung hening. Femi membeku. Eri bahkan terdiam sambil memegang gelas.

Narisa yang melihat reaksi mereka malah bingung sendiri.

"Lah?" Dia berkedip polos. "Bukan ya?"

Femi langsung tertawa agak terlalu cepat.

"Bukan dong. Tante sama Eri keluarga."

"Ohh." Narisa mengangguk-angguk kecil. "Soalnya tadi manggilnya yank."

Femi berdeham kecil. "Cewek kan biasa manggil begitu."

Narisa terlihat menerima jawaban itu begitu saja. Tapi beberapa detik kemudian dia kembali menatap keduanya bergantian.

"Tapi cocok sih."

"Hah?"

Kali ini Eri hampir tersedak. Narisa malah terkekeh puas sambil menyeruput sodanya lagi.

"Aku boleh sering main ke sini gak, Tan?"

"Boleh dong," jawab Femi cepat. "Tante di rumah terus kok."

"Kak Eri?"

"Dia kerja."

"Oh, jadi kak Eri kepala rumah tangganya?"

"Heh!" Femi langsung refleks. "Tante juga kerja dari rumah."

Narisa melongo. "Lah, aku salah ngomong lagi?"

Eri akhirnya tertawa kecil. "Susah ya ngobrol sama dia"

"Iya," jawab Femi sambil memijat pelipis. "Tapi lucu," Narisa hanya nyengir tanpa rasa bersalah.

Namun diam-diam, matanya masih memperhatikan mereka berdua. Entah kenapa, semakin dilihat... mereka sama sekali tidak terasa seperti saudara.

Jam delapan malam Narisa masih betah di rumah Femi. Pemilik rumah pun terlihat tidak keberatan. Mereka bahkan sempat main kartu sampai Eri menyerah karena Narisa curang terang-terangan tapi tetap ngeles.

Narisa tadi ikut membantu masak, meski lebih banyak nyomot sosis. Intinya Narisa numpang makan malam.

Saat suasana mulai hening, Femi akhirnya buka suara.

"Kalau sepupu kamu gak pulang, kamu nginep sini aja," katanya santai.

Eri ikut mengangguk. "Tidur sama Femi kalau gak berani sendirian,"

Narisa berpikir sebentar. "Aku gak enak banget, kak."

"Yaudah, mau ditemenin di rumah kamu aja?" tawar Femi lagi.

Narisa menghela napas panjang sambil melirik ponselnya. Dari tadi dia gengsi buat menghubungi Kara duluan. Masa iya dia yang nyari? Emang dia satpam rumah?

Saat Narisa masih sibuk perang batin dengan harga dirinya sendiri, ponselnya tiba-tiba bergetar. Kara menelepon.

Narisa langsung mengangkat dengan muka jutek.

"Lo ke mana aja, peak?! katanya balik sore!"

"Gw udah di rumah. Lo di mana?"

"Gw di rumah Tante Femi."

Tut.

Narisa langsung mematikan panggilan lalu melipat tangan dengan wajah sewot.

Femi dan Eri saling pandang.

"Sepupu kamu udah pulang?" tanya Femi hati-hati.

"Udah, Tan. Kesel banget. Udah dibilangin aku tuh penakut, masih aja ninggalin sampe gelap."

"Mau dianter pulang?" tawar Eri.

Narisa menggeleng cepat. "Kalau ke sana doang aku berani. Yang gak berani tuh kalau rumahnya kosong terus air galon bunyi sendiri."

"Bunyi air galon kan emang normal," kata Eri datar.

"Ih, kak. Jangan dibahas. Nanti aku inget."

Tok. Tok. Tok.

Ketukan pintu mendadak terdengar. Ketiganya langsung bangkit. Begitu pintu dibuka, Kara sudah berdiri di depan dengan hoodie hitam dan muka lelah. Matanya langsung mencari Narisa di belakang Eri.

"Ayo pulang."

Narisa langsung mendelik.

"Ayo pulang," ulangnya mengejek. "Enak banget tuh jidat ngomong. Gak sekalian aja lo balik subuh,"

Kara menghela napas panjang. Lelah habis tanding belum hilang, sekarang disambut emak-emak kos dalam tubuh Narisa.

"Beli jajan mau?"

Narisa pura-pura mikir sambil manyun. Karena tidak sabaran, Kara langsung mendecih.

"Yaudah kalau gak mau, gw balik."

Belum juga dia muter badan, Narisa langsung nyamber keluar.

"Lo tuh gak punya perasaan banget, anjir!"

"Sstt!" Kara buru-buru mengangkat tangan, "Tetangga, goblok. Lo rusuh amat."

Narisa baru sadar Femi dan Eri masih nonton drama mereka dari pintu. Wajahnya langsung berubah manis.

"Tante, kak Eri, aku pulang dulu ya. Makasih udah nampung aku." katanya sopan sekali. Palsunya sampai mengkilap.

"Maaf dia udah ngerepotin," timpal Kara datar.

"HEH."

Femi ketawa kecil. " Seru kok. Main lagi aja kapan-kapan."

"Oke, Tante. Bye bye."

Narisa dadah dua tangan. Sementara Kara sudah jalan duluan tanpa nengok sama sekali.

Sampai di rumah, Narisa langsung mandi. Kara rebahan di sofa sambil nonton TV setengah merem. Baru lima belas menit tenang, Narisa sudah nongol lagi dengan rambut setengah basah.

"Ayo."

Kara membuka satu mata, lalu bangkit mengambil jaket. Sebelum keluar, Narisa tiba-tiba bertanya,

"Lo ada duit?"

"Ada kok."

Narisa langsung santai lagi. Kara tidak bilang kalau tadi Irwan diam-diam transfer uang hadiah kemenangan.

Jam sembilan malam, dua remaja itu duduk di trotoar sambil makan kebab. Kendaraan lewat satu-satu di depan mereka. Jalanan mulai sepi, angin malam lumayan dingin, dan entah kenapa suasananya malah nyaman.

"Minggu depan kayaknya gw bakal pulang malem terus," kata Kara tiba-tiba.

Narisa yang lagi ngunyah langsung menoleh.

"Kok gitu? Lo latihan apaan lagi?"

"Bukan latihan." Kara menelan minumnya dulu. " Gw dapet kerja."

"Hah? Kerja apaan?"

"Freelance di kafe."

Narisa langsung menatap lebih serius.

"Seriusan? Emang lo gak bakal kecapean?"

"Ya pasti capek."

"Lah terus kenapa nyari penyakit, njir. Belum juga gajian udah tipes."

Kara melirik sekilas. "Gw gak enak kalau terus- terusan minta. Si bos peak itu juga gak ngasih bulanan."

"Terus gw gimana?"

"Lo?" Kara berpikir sebentar. "Lo gak ribut soal jam pulang gw aja udah syukur."

"Gw serius, santen." Narisa menendang pelan sepatu Kara pakai ujung sandalnya. "Yaudah nanti pengeluaran rumah bagi dua aja. Kalau mama mulai pelit, gw nyari kerja juga."

"Ya gak usah."

"Lah?"

"Kalau gw udah ada gaji, biar gw aja."

Narisa langsung menyipit curiga.

"Jangan sok tanggung jawab lo. Masih bocah juga."

Kara diam sebentar sambil meremas bungkus kebab kosong di tangannya.

"Iya sih," gumamnya pelan. " Tapi kayaknya emang harus belajar dari sekarang."

"Maksudnya?"

Kara menoleh sebal.

"Otak lo lemot amat, Bonar."

"Ya gw gak paham, njir. Omongan lo tiba-tiba kayak bapak-bapak."

Kara mendesah malas. "Lo tau gw belok kan?"

"Terus lo bangga?"

Ctak.

Kara langsung nyentil dahi Narisa.

"Tai babi. KDRT lo ya? Awas lo," ancam Narisa sambil mengusap dahinya.

"Makanya dengerin dulu," Kara mendecak. "Maksud gw, kemungkinan besar gw bakal hidup sama cewek. Jadi ya.. gw belajar dari sekarang."

Narisa mengernyit. "Kan sama-sama cewek. Emang harus ada kayak kepala rumah tangga gitu? Kayak kak Eri sama Tante Femi?"

"Hah?"

"Kak Eri kerja, Tante Femi di rumah... kerja juga. katanya."

Kara terdiam sebentar. Dia memang sudah lama menebak hubungan tetangga mereka itu, tapi tidak menyangka Narisa bisa tahu juga.

"Ya... anggep aja begitu."

"Jadi ceritanya lo mau nafkahin gw?" tanya Narisa polos.

Kara mengangkat bahu santai. "Asal lo tau diri. Gw cuma freelance. Jangan mentang-mentang bini terus lo jadi kalap."

Narisa langsung melotot. "Najis banget mulut lo."

Kara hanya diam, menatap lurus ke depan.

Suasana kembali hening beberapa saat. Bungkus kebab di tangan Narisa mulai penyok diremas-remas sendiri.

"Lo tadi keren sih,"

Kara menoleh.

"Maksud gw tim SMA kita," lanjut Narisa cepat. "Tapi lo sama Harum emang lumayan jago."

"Iya dah."

Narisa diam lagi. Kali ini lebih lama.

"Kalau nanti kita lulus... kita masih tinggal bareng gak sih?" tanyanya pelan.

"Mungkin kan syarat buat biaya pendidikan."

"Terus abis kuliah kita cerai?"

"Ya mana gw tau," Kara mengangkat bahu santai.

"Tapi kalau lo nempel terus, yang ada malah gak bisa pisah."

Narisa langsung mendelik. "Najis. Kapan gw nempel."

"Gw bilang kalau."

"Mimpi dulu baru tidur."

"Kebalik, bego."

Narisa mendecih malas.

"Terus sekarang aja," lanjut Kara, "Gw pulang telat dikit udah dicarin."

"Gw gak nyariin."

"Iya-iya."

Kara membuang bungkus kebab ke tong sampah dekat trotoar, lalu bangkit berdiri.

"Udah yuk. Mending pulang sebelum ada begal."

"Amit-amit bacot lo."

Meski ngomel, Narisa tetap ikut bangkit dan naik ke motor.

Sepanjang perjalanan pulang, Narisa diam.

Aneh. Biasanya dia suka jaga jarak. Tapi sekarang tangannya malah nyaman melingkar di pinggang Kara. Kepalanya ikut bersandar santai di punggung cewek itu.

Di otaknya masih berputar kalimat tadi.

Tapi kalau lo nempel terus, yang ada malah gak bisa pisah.

Nempel berarti suka kan? Lah terus kalau dia nyaman begini..

Mata Narisa membelalak sendiri di balik helm.

"Dih, najis! Najis! Najis! Naj-"

"WOY!" Kara sampai setengah teriak. "Lo kenapa sih? Ngagetin aja!"

"Gak ada!"

Beberapa detik kemudian dia malah makin menempel di punggung Kara sambil manyun bingung.

Kenapa rasanya mirip waktu dulu dia nyender ke Cakra?

Lalu satu pikiran tolol muncul begitu saja di kepalanya.

Jangan-jangan Kara... futa.

.

1
Suka GL
Seru deh
Zye Rava
Aduh knp bos bramantyo kepo nikah segender ya mana anak orang lgi yang dinikahkan. agak lain ini orang 🤣
Inayah🥰
Ceritax ga kalah seru sm yg satux thor 😍 yg ini dua2x bar2
Felafel
Ceritamu seru semua thor next ya💪
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!