NovelToon NovelToon
Arsip Hati: Karena Fisika Nggak Sebercanda Itu

Arsip Hati: Karena Fisika Nggak Sebercanda Itu

Status: sedang berlangsung
Genre:Angst / Ketos / Kehidupan di Sekolah/Kampus / Teen Angst / Romantis
Popularitas:1.3k
Nilai: 5
Nama Author: salsabilah *2009

Arlan butuh bantuan buat menertibkan arsip OSIS yang berantakan demi akreditasi sekolah. Ghea, yang butuh poin tambahan karena nilai fisikanya terjun bebas, terpaksa jadi "asisten" Arlan. Masalahnya, Arlan itu disiplin tingkat dewa, sementara Ghea adalah ratu rebahan. Di antara tumpukan kertas dan debat kusir, ada rasa yang mulai tumbuh, tapi terhalang sama masa lalu Arlan yang belum selesai.


Tokoh Utama:

Arlan: Ganteng sih, tapi aslinya clueless soal perasaan. Ketua OSIS yang sok sibuk padahal sering stres sendiri.

Ghea: Cewek yang hidupnya santai banget, hobi tidur di perpustakaan, dan punya prinsip "hidup itu jangan dibawa susah."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon salsabilah *2009, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Misteri Proyek 1995 dan Penyelidikan Tengah Malam

Kembali ke Munich setelah ekspedisi Alpen seharusnya terasa melegakan, tapi bagi Ghea, pesan misterius di HP Arlan semalam rasanya seperti duri di dalam sosis bratwurst. Sepanjang perjalanan pulang di bus, Arlan hanya diam menatap ke luar jendela, sementara jarinya terus mengetuk-ngetuk layar ponsel yang menampilkan tulisan: "Proyek 1995".

"Ar, muka lo udah kayak kalkulator rusak. Berhenti mikirin pesan itu sebentar kenapa sih?" bisik Ghea sambil menyodorkan sebungkus keripik kentang.

Arlan menoleh, matanya terlihat lelah. "Ghe, ayah gue nggak pernah cerita soal tahun 1995. Yang gue tahu, tahun itu dia mulai membangun bisnisnya dari nol setelah... setelah dia berhenti jadi anak band. Tapi pesan ini bilang keberangkatan kita ke Jerman ada hubungannya sama itu."

"Mungkin itu cuma kerjaan iseng si Noni Pirang? Dia kan lagi dendam kesumat gara-gara kalah saing sama sambal ulek," tebak Ghea.

"Nggak mungkin. Elena nggak tahu soal masa lalu keluarga gue sedalam itu. Ini orang lain."

Begitu sampai di apartemen 402, mereka disambut oleh Juna yang sedang sibuk melakukan eksperimen "Lulur Salju" di balkon pakai handuk.

"Ghe! Ar! Selamat datang kembali para pahlawan Alpen!" seru Juna sambil menggigil tapi tetap bergaya. "Gimana? Elena udah jadi es mambo belum?"

Ghea langsung menarik Juna masuk ke dalam. "Jun, lupain dulu soal Elena. Kita punya masalah lebih gede. Arlan dapet pesan gelap soal bokapnya."

Ghea menceritakan soal Proyek 1995. Juna yang tadinya konyol, mendadak memasang wajah serius—yang malah terlihat makin aneh karena dia masih pakai bando telinga kucing milik Ghea.

"1995? Wah, itu tahun di mana siomay legendaris kakek gue pertama kali dapet sertifikat halal, Ghe! Tapi buat bokap Arlan... bentar," Juna mengetuk-ngetuk dagunya. "Ar, lo inget nggak koper besi tua yang selalu dibawa Pak Bagus tapi nggak pernah boleh dibuka?"

Arlan tertegun. "Koper hitam kecil yang ada di ruang arsip rumah Jakarta?"

"Iya! Pas gue lagi nyumpet di gudang waktu itu, gue sempet liat label di bawahnya. Ada angka '95' kecil banget pake spidol permanen."

Arlan langsung berdiri. "Gue harus akses database pribadi Ayah. Gue punya akses ke server kantor pusat buat laporan akreditasi kemarin, mungkin gue bisa masuk lewat sana."

Operasi penyelidikan dimulai pukul satu malam. Suasana Munich di luar sangat sunyi, hanya suara angin yang sesekali bersiul di celah jendela. Arlan duduk di depan laptopnya dengan kacamata yang memantulkan cahaya biru layar. Ghea duduk di sampingnya sambil memegang senter (padahal lampu kamar nyala, tapi menurut Ghea biar lebih berasa suasana intelnya).

Juna bertugas sebagai tim logistik: menyeduh kopi instan dan memastikan tidak ada tetangga (terutama Herr Müller) yang curiga.

"Oke, gue masuk ke server cadangan," bisik Arlan. Jarinya menari di atas keyboard secepat gerakan tangan tukang copet di pasar malam. "Gue cari folder tahun 1990-an... 1993... 1994... ketemu. PROJEKT_1995_MUNCHEN."

Ghea menahan napas. "Buka, Ar! Buka!"

Arlan memasukkan kata sandi. Access Denied.

Dia mencoba lagi. Nama Mama Arlan. Access Denied.

Dia mencoba tanggal lahirnya sendiri. Access Denied.

"Coba masukin 'Gitar Gondrong 69'!" usul Juna asal.

Arlan mendengus, tapi dia mencoba memasukkan nama band lama ayahnya: "THE_VIBE_95".

CLICK.

Layar laptop menampilkan sebuah dokumen yang dipindai secara kasar. Isinya bukan soal bisnis properti atau investasi saham. Dokumen itu berisi foto-foto sebuah laboratorium tua di Munich dan daftar nama peneliti. Di baris paling bawah, ada nama yang bikin jantung Arlan seolah berhenti berdetak.

"Research Participant: Hendra (Subject A-1) & Markus Schmidt (Head Scientist)."

"Ayah... Ayah bukan cuma peneliti di sini? Dia jadi subjek riset?" suara Arlan bergetar.

Ghea membaca baris selanjutnya. "Ar, liat ini. 'Tujuan Riset: Pengembangan Algoritma Kognitif pada Embrio dengan Stimulasi Fisika Kuantum'. Apa maksudnya ini?"

Arlan terdiam lama, wajahnya pucat pasi. Dia menyandarkan punggungnya ke kursi dengan lemas. "Ghe... sekarang gue tahu kenapa gue dipanggil 'Robot' sejak kecil. Dan kenapa gue bisa ngitung rumus lebih cepet daripada anak seumuran gue."

"Maksud lo...?" Ghea menutup mulutnya dengan tangan.

"Ayah dan Profesor Schmidt—ayahnya Elena—ngelakuin eksperimen ke gue sebelum gue lahir. Mereka mau menciptakan anak dengan kecerdasan di atas rata-rata menggunakan teknologi yang mereka temuin tahun 1995. Beasiswa gue ke sini... riset gue sama Profesor Hans... ini bukan soal prestasi gue, Ghe. Ini soal mereka mau 'mengevaluasi' produk mereka yang sudah berumur 17 tahun."

Suasana apartemen mendadak jadi sangat dingin, dan kali ini bukan karena salju di luar.

"Jadi... lo itu produk laboratorium?" tanya Juna pelan sambil memegang gelas kopinya yang mulai mendingin. "Pantesan lo nggak bisa bedain rasa siomay enak sama siomay karet, Ar. Lidah lo belum di-upgrade!"

"Juna! Jangan becanda dulu!" tegur Ghea, meskipun dia tahu Juna cuma berusaha mencairkan suasana. Ghea memegang tangan Arlan. "Ar, dengerin gue. Lo bukan produk. Lo itu Arlan. Lo yang bisa cemburu sama Kenzo, lo yang bisa panik pas gue jatuh di Alpen, dan lo yang punya perasaan ke gue. Mesin nggak bisa ngelakuin itu."

Arlan menatap Ghea. "Tapi semua kecerdasan ini, semua yang Ayah banggain dari gue... itu semua hasil rekayasa, Ghe. Tanpa itu, mungkin gue cuma cowok biasa yang nggak punya masa depan."

"Nggak punya masa depan? Ar, kalau lo jadi cowok biasa, mungkin kita udah jadian dari kelas satu tanpa drama ruang arsip!" seru Ghea berapi-api. "Bokap lo salah kalau dia pikir dia bisa ngatur takdir manusia pake rumus."

Tiba-tiba, ponsel Arlan berbunyi lagi. Kali ini bukan pesan, tapi panggilan suara dari nomor yang sama.

Arlan mengangkatnya dan menyalakan speaker.

"Halo, Arlan," suara di seberang sana sangat berat dan berwibawa. Itu suara Profesor Hans, tapi nadanya tidak seramah biasanya. "Saya lihat kamu sudah berhasil membuka folder itu. Pintar. Memang kamu adalah hasil terbaik kami."

"Profesor Hans? Jadi Anda juga terlibat?" tanya Arlan dingin.

"Saya adalah asisten Markus Schmidt dulu. Dan sekarang, saya yang bertanggung jawab untuk memastikan kamu menyelesaikan fase terakhir riset ini di Jerman. Datanglah ke laboratorium pusat besok pagi. Sendiri. Jika tidak, beasiswa Ghea dan izin tinggal Juna akan saya cabut detik ini juga."

Panggilan terputus.

"Wah, gila! Ini mah udah kayak film sci-fi yang biasa gue tonton sambil makan kacang!" seru Juna panik. "Kita harus gimana? Apa kita kabur aja ke Belanda pake sepeda?"

Ghea berdiri, dia mengikat rambutnya tinggi-tinggi. "Nggak ada yang kabur. Arlan, lo bakal dateng ke sana. Tapi lo nggak bakal sendiri."

"Tapi Prof. Hans bilang sendiri, Ghe. Dia bakal celakain kalian."

"Gue asisten lo, kan? Dan Juna adalah... eh... objek riset ilegal kita. Kita punya rencana," Ghea menatap Juna. "Jun, lo masih punya stok petasan yang lo bawa di koper?"

"Masih ada dua, Ghe. Satunya 'Kembang Api Naga' yang bunyinya bisa bikin satu kelurahan budek."

"Bagus. Ar, besok lo masuk lewat pintu depan. Gue dan Juna bakal masuk lewat ventilasi udara yang pernah gue lewati pas operasi penyelamatan Juna kemarin. Kita bakal pasang kamera dan rekam semua pengakuan mereka."

Arlan menatap kedua sahabatnya itu. Dia merasa beruntung, di tengah kenyataan pahit bahwa dia mungkin sebuah "eksperimen", dia punya dua orang "variabel acak" yang tidak bisa dihitung oleh rumus manapun: kesetiaan.

Keesokan paginya, Arlan berdiri di depan pintu laboratorium pusat. Dia memakai jas labnya, wajahnya kembali kaku seperti robot, tapi kali ini itu adalah topeng pelindungnya.

Di dalam, Profesor Hans sudah menunggu bersama Elena yang terlihat sangat dingin.

"Selamat datang, Arlan. Mari kita mulai evaluasi akhir dari 'Proyek 1995'," ucap Profesor Hans sambil menunjuk sebuah kursi yang penuh dengan sensor kabel.

Sementara itu, di dalam saluran ventilasi yang sempit dan berdebu, Ghea sedang merayap sambil menahan bersin. Di belakangnya, Juna merayap sambil menggerutu.

"Ghe... kenapa sih pahlawan selalu lewat lubang yang bau tikus?" bisik Juna.

"Diem, Jun! Fokus! Kamera udah nyala?"

"Udah! Resolusi 4K! Muka Profesor Hans yang keriput bakal kelihatan jelas pas dia masuk penjara!"

Operasi penyelamatan identitas Arlan dimulai. Ini bukan lagi soal nilai Fisika atau akreditasi sekolah. Ini adalah perjuangan untuk membuktikan bahwa manusia lebih besar daripada sekadar data dan algoritma.

Ghea mengintip dari balik jeruji ventilasi. Dia melihat Arlan mulai dipasangi sensor. Hatinya berdegup kencang. Tunggu ya, Ar. Tikus Akreditasi lo udah dateng buat ngacak-ngacak laboratorium ini!

1
Esti 523
aq vote 1 ya ka ug syemangad
Huzaifa Ode
👍🏻
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!