Setelah patah hati dimanfaatkan teman sendiri, Alana Aisyah Kartika dikejutkan dengan tawaran yang datang dari presdir tempatnya bekerja, Hawari. Pria itu menawari Lana menikah dengan anak satu-satunya, Alfian Abdul Razman yang lumpuh akibat kecelakaan. Masalahnya, Fian yang tampan itu sudah menikah dengan Lynda La Lune yang lebih memilih sibuk berkarier sebagai model internasional ketimbang mengurus suaminya.
Hawari menawari Lana nikah kontrak selama 1 tahun dengan imbalan uang 1 milyar agar bisa mengurus Fian. Fian awalnya menolak, tapi ketika mengetahui istrinya selingkuh, pria itu menjadikan Lana sebagai alat balas dendam. Lana pun terpaksa menikah karena selain takut kehilangan pekerjaan, adiknya butuh biaya untuk kuliah.
Namun, kenyataan lain datang menghadang. Fian ternyata bukan anak kandung Hawari melainkan anak seorang mafia Itali yang menghilang sejak bayi.
Mampukah Lana bertahan dengan pria galak, angkuh, dan selalu otoriter ini? Lalu, bagaimana nasib mereka ketika kelu
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ingflora, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 16. Identitas
Lana sedikit canggung melihatnya. "Mas udah pulang? Kok gak bilang assalamu'alaikum?"
"O iya, assalamu'alaikum." Pria itu tersenyum simpul mendengar istrinya mengingatkan.
"Waalaikumsalam."
"Oh iya. Aku ada sesuatu untukmu." Pria bule itu mengeluarkan sesuatu dari kantong celananya. Sebuah kotak perhiasan kecil.
Lana yang tengah melihat suaminya dari pantulan kaca, segera berbalik dan berdiri dengan kedua mata membola.
Fian membuka kotak itu dan mengeluarkan isinya. Sebuah kalung emas dengan liontin berlian berwarna pink.
Lana terperangah. Ia menutup mulutnya yang terbuka karena terkejut. "Mas, ini bagus sekali ...."
"Biar aku pakaikan." Pria itu melingkarkan kalung itu di depan leher Lana dan mengaitkannya di belakang.
Lana melihat kalung itu pada pantulan cermin. "Tapi ini tidak bisa dilihat orang, Mas karena nanti ditaruh di dalam kerudung."
"Ngak papa. Yang penting kamu suka."
"Suka, Mas." Lana kembali melihat kalung itu pada cermin. Berliannya sangat jernih dan berkilau. Ia sampai tersenyum memandangnya. "Terima kasih." "Pasti harganya mahal. Kenapa Mas Fian tiba-tiba baik ya." Diliriknya pria itu.
"Ayo, naik ke mobil. Jangan sampai ayah dan ibuku menunggu kita."
"Iya, Mas." Lana memasukkan kalung itu ke dalam kerudung dan kemudian mengikuti suaminya keluar.
***
Fian keluar kamar mandi dengan hanya mengenakan celana piyama. Ia meletakkan handuknya di leher.
Tentu saja tubuh atletisnya terlihat jelas dan membuat Lana malu menatapnya. Ia jadi buru-buru berbaring dan menutup tubuhnya dengan selimut karena tidak ingin berkhayal terlalu jauh.
"Hei, kenapa kamu buru-buru tidur?"
"Kan sudah malam. Mau apa lagi?" Lana membelakangi suaminya.
"Jangan dong! Kan belum olahraga malam."
"Mas mau olahraga? Ya gak papa."
"Lho, aku mau olahraga sama kamu kok." Pria itu menarik lengan istrinya.
"Eh?" Lama tidak paham.
Fian sudah naik ke atas ranjang. Lekuk tubuh yang sedikit berotot terpampang jelas di depan mata.
Lana menelan ludah. "Mas mau apa?"
"Ya mau kamulah! Mau apa lagi?"
"Kita melakukan 'itu'? Bukankah sudah dites, Mas sehat."
Fian malah tertawa. "Ya harus dilatih, gak bisa berhenti gitu aja."
"Dilatih?" Bola mata polos Lana melebar.
Fian senang sekali menggodanya. "Kamu gak mau? Atau gak suka padaku?"
"Bukan gitu." Lana merengut malu-malu.
Pria itu menarik dagu istrinya. "Jadi mau ya."
Lana menatap mata elang pria itu dan mengangguk dengan tersipu. Di dalam hati, ia bertanya-tanya. Apakah pria ini sudah jatuh cinta padanya?
***
Di sebuah ruangan besar, sebuah meja panjang dipenuhi dengan para tamu. Mereka ramai berbicara. Tuan rumah yang berada di ujung meja panjang, duduk dengan senyum di kulum dan mulai memukul gelasnya dengan sendok. Dentingannya membuat semua orang di meja itu menoleh padanya. "Dengarkan aku."
Suara orang mengobrol seketika lenyap. Tamu-tamu penting menatap Adrian dengan penuh rasa ingin tahu.
"Kalian pasti tahu, kenapa aku undang ke sini." Adrian melirik istrinya di kiri yang sedari tadi tersenyum. Juga anaknya, Giorgio yang sejak tadi menyombongkan diri dengan jas mahal yang dipesan istrinya. Lalu ia memantapkan diri untuk memberi pengumuman. "Saat ini aku memikirkan untuk mengumumkan penerusku agar aku bisa mengarahkannya menjalankan bisnis yang sudah keluarga Fiore jalani sejak turun temurun di keluarga mafia ini. Untuk itu ...."
Seorang wanita pelayan bergerak mundur dan memposisikan dirinya di sudut ruangan. Ia mengeluarkan benda kecil mirip sedotan pendek dari saku celemek dan memasukkannya ke dalam mulut. Ujung mulutnya terbuka sedikit. Ia mengarahkannya pada gelas Adrian.
Terdengar bunyi telepon berdering. Ternyata itu bunyi ponsel Adrian. Ia sedikit kesal dan menghela napas, berusaha bersabar. Kenapa ada orang yang mengganggunya di saat penting begini?
Namun, saat ia melihat siapa yang menelpon, ia segera mengangkatnya. "Beritanya harus bagus atau kamu telah sangat menggangguku!" ucapnya tegas. Setelah mendengarkan, sedetik kemudian wajahnya berubah senang. "Ok, aku akan ke sana sekarang!"
Seketika ia berdiri. "Anakku sudah ditemukan! Anakku sudah ditemukan!" Ia mengepalkan kedua tangannya ke atas dengan gembira. Pria itu bahkan tersenyum lebar. "Dia ada di luar negeri, karena itu aku akan menjemputnya!"
Viviana tampak kesal, apalagi Giorgio. Giorgio menatap ibunya minta penjelasan tapi wanita itu hanya bisa merengut saja.
Pelayan yang ada di sudut ruangan terkejut dan mengeluarkan benda itu dari mulut lalu menyimpannya. "Alessandro ditemukan? Ini bukan akal-akalannya Viviana lagi 'kan? Aku harus selidiki ini." Pelan ia keluar dari ruangan dan bergegas ke dapur. Dari sana ia menyelinap keluar pagar melewati penjaga. Lalu bergerak ke samping dan masuk ke sebuah mobil yang terparkir di sana. Sambil menjalankan mobil, ia menguliti wajahnya. Ternyata wanita itu adalah Sophie!
***
Fian mendongak dan terkejut melihat siapa yang datang. "Ayah?" Ia yang tengah memeriksa berkas, menegakkan tubuhnya menyambut Hawari. "Tumben pagi-pagi."
"Apa Ayah mengganggu?" Pria paruh baya itu mendekat dan tersenyum tipis.
"Tidak, Ayah. Bagaimana kabar Ibu?" Fian berdiri dan mengancingi jasnya. Ia menemani sang ayah di sofa.
"Ibu baik. Ada yang mau Ayah bicarakan dengan kamu." Hawari meletakkan sebuah kotak kayu seukuran telapak tangan di atas meja.
Seketika Fian tahu apa yang akan dibahas ayahnya karena ia mengenali kotak itu. "Ayah, aku bilang sudah ...." Ia memiringkan kepalanya karena enggan mendengarkan.
"Fian, ini asal usulmu. Apa kamu tidak ingin tahu siapa ayahmu?"
Fian mencondongkan tubuhnya ke depan. "Ayahku hanya Ayah saja. Aku tidak ingin tahu siapa pun di luar sana."
"Fian ... bagaimana kalau ayah kandungmu mencarimu?"
"Aku tak mau tau." Fian bersandar ke belakang sambil memegang dahinya. Percakapan ini akan jadi panjang bila Hawari mulai bicara.
"Apa kamu tidak kasihan padanya? Mungkin ia sedang sakit dan membutuhkanmu? Pergilah cari dia."
"Ayah, itu tak mungkin. Kalau dia benar mencariku, sudah lama dia menemukanku. Dia pasti tidak sungguh-sungguh ingin bertemu denganku. Buktinya ibuku terbunnuh. Kalau aku kembali, apa ada jaminan dia menginginkanku?" Di dalam hati yang terpatri, kematian sang ibu kandung pasti gara-gara sang ayah menikah lagi, walaupun itu masih dalam dugaan saja.
"Karena itu, kamu harus bertemu dia. Toh, kalau memang dia tidak menginginkanmu, selalu ada kami tempat kamu kembali."
Fian tertunduk.
"Setidaknya ayah tidak merasa bersalah telah memisahkan kamu dengan orang tuamu. Saat itu, ibu kandungmu datang pada kami di hotel dan meminta pertolongan. Kebetulan Ibu baru saja kehilangan bayi. Ayah membawa Ibu ke Itali sebenarnya untuk menghiburnya, tapi saat bertemu ibumu dan kamu, gairrah hidupnya kembali bangkit."
"Karena itu, Fian gak mau Ibu sedih. Fian gak mau cari mereka karena kalau mereka menahan Fian, Ibu pasti sedih." Fian kembali mencondongkan tubuh ke depan.
"Dan kalo mereka tidak menginginkanmu, kamu yang akan bersedih? Sampai kapan kamu akan terus menduga-duga seperti ini, Fian?"
Fian kaget karena Hawari tahu isi hatinya.
"Kamu sebenarnya ingin tahu, kan? Kenapa ibumu dibunnuh dan kenapa mereka belum menemuimu? Lebih baik kamu mencarinya, Fian, agar kamu tahu cerita utuhnya. Jangan sampai kamu menyesal kemudian."
Fian terdiam saat Hawari bangkit.
"Ayah pulang dulu. Ayah hanya minta kamu pikirkan."
Setelah kepergian Hawari, Fian menatap ke arah kotak kayu itu. Apa yang harus dilakukannya? Ia tidak mencari karena memikirkan perasaan ibu angkatnya, tapi benarkah ia salah bila tak mencari ayah kandungnya? Benarkah pria itu mencarinya?
Bersambung ....
mau pakai baju terruutp