NovelToon NovelToon
Ketika Cinta Berbohong

Ketika Cinta Berbohong

Status: sedang berlangsung
Genre:Selingkuh / Wanita perkasa / Konflik etika / Kehidupan di Kantor / Penyesalan Suami
Popularitas:515
Nilai: 5
Nama Author: Elrey

Keluarga Arini dan Rizky tampak sempurna di mata orang lain – rumah yang nyaman, anak yang cerdas, dan karir yang sukses. Namun di balik itu semua, tekanan kerja dan harapan keluarga membuat Rizky terjerumus dalam hubungan selingkuh dengan Lina, seorang arsitek muda di perusahaannya. Ketika kebenaran terungkap, dunia Arini runtuh berkeping-keping. Novel ini mengikuti perjalanan panjang mereka melalui rasa sakit, penyesalan, dan usaha bersama untuk memulihkan kepercayaan yang hancur, serta menemukan makna cinta yang sesungguhnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Elrey, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

ARINI MENCOBA BANGKIT DARI RASA SAKIT PENGKHIANATAN

Beberapa hari setelah mendengar bahwa Rizky telah mulai mencari bantuan profesional, Arini merasa terdorong untuk juga mengambil langkah yang sama.

Rasa sakit dan kecewa yang selama ini ia tahan sendiri mulai terasa semakin berat, dan ia menyadari bahwa ia tidak bisa mengatasinya sendirian.

Dengan dukungan dari ibunya, ia menghubungi sebuah komunitas pendukung untuk korban pengkhianatan dan mendaftarkan diri untuk mengikuti sesi konseling serta kelompok diskusi.

Hari pertama ia datang ke kantor komunitas tersebut, hati Arini berdebar kencang. Ia merasa canggung dan takut untuk berbagi cerita pribadinya dengan orang lain yang tidak dikenal.

Namun ketika ia memasuki ruangan yang hangat dan penuh dengan tanaman, ia melihat wajah-wajah yang penuh dengan pengertian dan rasa sakit yang sama dengan yang ia rasakan.

"Saya adalah Bu Dewi, fasilitator yang akan menemani kalian hari ini," ujar seorang wanita berusia sekitar lima puluhan dengan senyum ramah.

"Silakan duduk dimana saja yang membuat kalian merasa nyaman. Di sini, kita semua adalah keluarga yang saling mendukung satu sama lain."

Arini memilih tempat duduk di sudut ruangan, dekat dengan jendela yang memberikan sinar matahari alami.

Seiring berjalannya waktu, semakin banyak orang datang dan mengisi ruangan. Setelah semua orang duduk, Bu Dewi memulai sesi dengan meminta setiap orang untuk memperkenalkan diri dan berbagi sedikit tentang mengapa mereka datang ke sana – jika mereka merasa siap untuk itu.

Saat giliran Arini tiba, ia merasa suara dirinya sedikit gemetar. "Nama saya Arini. Saya datang ke sini karena saya baru saja mengetahui bahwa suami saya telah berselingkuh. Saya merasa sangat sakit hati, bingung, dan tidak tahu bagaimana cara untuk melanjutkan hidup saya."

Setelah ia berbicara, beberapa orang di dalam ruangan memberikan dukungan dengan cara tersendiri – beberapa mengangguk dengan pengertian, beberapa memberikan senyum hangat, dan salah satu wanita bahkan memberikan ia sapuan lembut di pundaknya sebagai bentuk dukungan.

Selama sesi kelompok yang berlangsung selama dua jam, Arini mendengar cerita-cerita dari orang lain yang telah melalui atau sedang melalui pengalaman yang sama dengan dirinya.

Ada yang telah melalui perceraian, ada yang memilih untuk memberikan kesempatan kedua pada pasangannya, dan ada juga yang masih dalam proses memutuskan apa yang terbaik untuk diri mereka sendiri.

Setiap cerita yang ia dengar membuat Arini merasa lebih tidak sendirian dalam perjuangannya.

Ia belajar bahwa rasa sakit, kemarahan, dan kebingungan yang ia rasakan adalah hal yang normal, dan bahwa tidak ada jadwal yang pasti untuk pulih dari luka hati akibat pengkhianatan.

Setelah sesi kelompok selesai, Arini berkonsultasi secara pribadi dengan Bu Dewi.

Ia bercerita secara lebih rinci tentang perasaan-perasaannya – bagaimana ia merasa terluka dan tidak percaya, namun juga masih mencintai Rizky dan ingin memberikan kesempatan pada keluarga mereka untuk kembali bahagia.

"Pulih dari pengkhianatan bukanlah proses yang mudah, Arini," ujar Bu Dewi dengan suara yang lembut dan penuh pengertian.

"Kamu perlu waktu untuk menyembuhkan luka hatimu, dan itu tidak apa-apa. Yang terpenting adalah kamu membuat keputusan yang terbaik untuk dirimu sendiri dan untuk anakmu, bukan karena tekanan dari orang lain atau rasa takut akan kesendirian."

Bu Dewi memberikan beberapa saran praktis untuk membantu Arini bangkit dari rasa sakitnya – antara lain fokus pada diri sendiri dan anaknya, melakukan aktivitas yang ia nikmati untuk meningkatkan mood dan kepercayaan diri, serta belajar untuk menetapkan batasan yang sehat dalam hubungan dengan Rizky.

"Sangat penting untuk tidak terburu-buru dalam membuat keputusan besar," tambah Bu Dewi. "Berikan dirimu waktu yang cukup untuk memahami perasaanmu dan memastikan bahwa kamu benar-benar siap untuk melangkah maju – baik itu bersama pasanganmu atau sendiri."

Setelah pulang dari komunitas tersebut, Arini merasa seperti ada beban yang sedikit terangkat dari pundaknya.

Ia merasa lebih jelas tentang apa yang harus dilakukan dan bagaimana cara mengatasi perasaan-perasaan yang selama ini menghantui dirinya.

Di rumah, ibunya sedang menunggu dengan secangkir teh hangat dan kue kering yang dibuatnya sendiri.

Arini segera berbagi tentang pengalamannya di komunitas tersebut, bagaimana ia merasa lebih tidak sendirian, dan apa saja yang ia pelajari dari sesi tersebut.

"Ia benar sekali, sayang," ujar ibunya dengan senyum hangat. "Kamu perlu fokus pada diri sendiri dan Tara terlebih dahulu. Hanya ketika kamu merasa kuat dan bahagia sendiri, kamu bisa membuat keputusan yang benar untuk masa depanmu."

Mulai dari hari itu, Arini mulai membuat beberapa perubahan dalam hidupnya. Ia menyempatkan waktu setiap pagi untuk melakukan yoga dan meditasi untuk membantu dirinya tetap tenang dan fokus.

Ia juga mulai kembali mengejar hobi lama yang telah ia tinggalkan karena kesibukan dengan bisnis dan keluarga – melukis dan membuat kerajinan tangan.

Pada hari Minggu pagi, ia membawa Tara ke sebuah studio seni yang menyelenggarakan kelas melukis untuk anak-anak dan orang tua.

Mereka menghabiskan seluruh pagi untuk melukis bersama – Tara dengan penuh semangat membuatkan lukisan keluarga mereka, sementara Arini melukis pemandangan alam yang membuatnya merasa tenang dan damai.

"Seni adalah cara yang bagus untuk mengekspresikan perasaan kita yang sulit diungkapkan dengan kata-kata," ujar instruktur studio seni kepada Arini ketika melihat hasil karyanya.

"Kamu memiliki bakat yang luar biasa. Kamu harus terus mengembangkannya."

Arini tersenyum dengan rasa syukur. Ia merasa bahwa melukis telah membantu ia mengeluarkan perasaan-perasaan yang selama ini ia sembunyikan dalam hati.

Hasil lukisannya bahkan ia tampilkan di sudut dapur tempat ia bekerja, memberikan sentuhan warna dan keindahan pada ruangan kerjanya.

Sementara itu, bisnis kue Arini juga mulai menunjukkan perkembangan yang pesat.

Kemasan baru yang didasarkan pada ide dari Lina sangat disukai oleh pelanggan – banyak yang mengatakan bahwa kemasan tersebut lebih menarik dan ramah lingkungan.

Beberapa toko makanan kesehatan bahkan telah menghubungi ia untuk menjajakan produknya secara rutin.

Pada suatu sore, Rizky datang menjenguk mereka seperti biasa. Ia langsung melihat perubahan pada Arini – wajahnya tampak lebih cerah, dan ia terlihat lebih percaya diri dan bahagia. Ia melihat lukisan-lukisan yang diletakkan di sekeliling ruangan dengan kagum.

"Kamu masih bisa melukis dengan sangat baik ya," ujar Rizky dengan senyum kagum. "Saya hampir lupa betapa berbakatnya kamu dalam hal ini."

Arini tersenyum dengan bangga. "Saya baru saja mulai kembali melukis beberapa waktu yang lalu. Ini membantu saya untuk menenangkan pikiran dan mengekspresikan perasaan saya. Bahkan saya sedang memikirkan untuk membuka kelas melukis kecil di sini juga, mungkin untuk ibu-ibu yang ingin belajar atau untuk anak-anak yang menyukai seni."

Rizky mengangguk dengan penuh dukungan. "Itu adalah ide yang sangat bagus sayang. Kamu harus melakukannya. Saya akan sangat senang membantu kamu menyusun rencana dan mencari tempat yang cocok untuk kelas tersebut."

Mereka berbicara lebih lama tentang rencana bisnis baru Arini dan bagaimana mereka bisa bekerja sama untuk mengembangkannya.

Arini merasa bahwa komunikasi mereka menjadi lebih terbuka dan jujur dari sebelumnya – mereka bisa berbicara tentang segala sesuatu tanpa rasa takut atau salah paham.

Saat malam mulai menjelang, Rizky harus kembali ke rumah lama. Sebelum ia pergi, Arini mengambil tangannya dengan lembut.

"Saya juga telah mulai mencari bantuan profesional untuk membantu saya mengatasi rasa sakit yang saya rasakan," ujar Arini dengan suara yang tenang dan jelas.

"Dan saya merasa lebih baik karena itu. Saya berpikir mungkin nanti kita bisa pergi bersama untuk sesi konseling keluarga seperti yang kamu usulkan sebelumnya."

Rizky tersenyum dengan penuh kegembiraan. Ia merasa bahwa ini adalah bukti nyata bahwa Arini juga sedang berusaha untuk memulihkan hubungan mereka. Ia mencium tangan Arini dengan penuh cinta.

"Itu akan sangat bagus sayang," ujarnya dengan suara yang penuh rasa tulus. "Saya akan menunggu kapan saja kamu merasa siap. Saya akan selalu ada untuk kamu dan Tara, tidak peduli apa pun."

Setelah Rizky pergi, Arini dan Tara duduk bersama di ruang tamu sambil melihat foto-foto lukisan mereka.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!