"Saat KKN di desa terpencil, Puri Retno Mutia dan Rendra Adi Wardana diserang kesurupan misterius. Puri merasakan sakit keguguran dan dendam seorang gadis bernama Srikanti yang dulu jatuh cinta dan hamil oleh Abi Manyu, tapi difitnah dan ditinggalkan hingga meninggal. Sementara Rendra merasakan rasa bersalah yang tak terjangkau dari masa lalu. Ternyata, mereka adalah reinkarnasi Srikanti dan Abi Manyu. Akankah sumpah dendam Srikanti terwujud di zaman sekarang? Atau bisakah mereka putus rantai tragedi yang terulang?"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Siti Gemini 75, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kemana Hilangnya Rendra
Karena ini terlalu berbahaya," jawab Puri dengan nada lirih. "Aku takut kalau kamu akan celaka kalau tahu yang sebenarnya."
Rendra terdiam sejenak, menatap Puri dengan tatapan yang sulit diartikan. Ia seolah sedang menimbang-nimbang sesuatu di dalam hatinya.
"Baiklah," kata Rendra akhirnya. "Aku nggak akan memaksamu untuk cerita kalau kamu belum siap. Tapi, berjanjilah padaku, kalau ada apa-apa, kamu harus cerita padaku. Jangan mencoba untuk menghadapinya sendirian."
Puri mengangguk pelan. "Aku janji," jawabnya.
Rendra tersenyum tipis dan mengulurkan tangannya ke arah Puri. Puri menyambut uluran tangan Rendra dan menggenggamnya erat. Genggaman tangan Rendra terasa hangat dan menenangkan, seolah memberikan kekuatan dan dukungan padanya.
"Ayo, kita kembali ke yang lain," kata Rendra. "Mereka pasti sudah menunggu kita."
Puri mengangguk dan mengikuti Rendra keluar dari ruangan itu. Mereka berjalan kembali ke pendopo, tempat teman-teman mereka sedang berkumpul.
Namun, saat mereka tiba di pendopo, mereka tidak melihat seorang pun di sana. Api unggun sudah padam, dan suasana di sekitar bale pasanggrahan tampak sepi dan sunyi.
"Ke mana mereka semua?" tanya Ayu dengan nada bingung.
"Mungkin mereka sudah tidur," jawab Rio dengan nada cuek.
"Tapi, biasanya mereka selalu menunggu kita sebelum tidur," sanggah Dina.
Puri merasakan firasat buruk. Ia merasa ada sesuatu yang tidak beres.
"Coba kita cari mereka di kamar masing-masing," kata Puri.
Mereka mulai mencari teman-teman mereka di kamar masing-masing, namun mereka tidak menemukan seorang pun. Kamar-kamar itu tampak kosong dan tidak berpenghuni.
"Ini nggak mungkin," kata Fahri dengan nada panik. "Ke mana mereka semua pergi?"
Tiba-tiba, Puri menyadari sesuatu. Ia menyadari bahwa ada satu orang yang tidak ada di sana.
"Rendra!" seru Puri dengan nada panik. "Di mana Rendra?"
Mereka semua saling berpandangan dengan tatapan bingung dan khawatir. Mereka baru menyadari bahwa Rendra tidak ada bersama mereka sejak tadi.
"Rendra ke mana, ya?" tanya Ayu dengan nada cemas.
"Aku nggak tahu," jawab Puri dengan nada putus asa. "Tadi dia bersamaku, tapi sekarang dia menghilang."
Puri merasa bersalah. Ia merasa bertanggung jawab atas menghilangnya Rendra. Ia seharusnya tidak membiarkan Rendra pergi sendirian setelah percakapan mereka yang menegangkan tadi.
"Kita harus mencari Rendra," kata Puri dengan nada tegas. "Kita nggak bisa membiarkannya menghilang begitu saja."
Mereka semua setuju untuk mencari Rendra. Mereka membagi diri menjadi beberapa kelompok dan mulai menyusuri setiap sudut dan pelosok Desa Sidomukti.
Puri mencari Rendra dengan hati yang
hancur dan penuh penyesalan. Ia terus memanggil nama Rendra, berharap Rendra akan mendengar panggilannya dan kembali padanya.
Namun, semakin lama, harapan Puri semakin menipis. Ia tidak menemukan jejak apa pun yang dapat membantunya menemukan Rendra.
Saat hari mulai gelap, mereka semua berkumpul kembali di bale pasanggrahan dengan tangan hampa. Mereka tidak berhasil menemukan Rendra.
"Kita harus melaporkan ini ke polisi," kata Fahri dengan nada cemas.
"Jangan dulu," kata Puri dengan nada tegas. "Aku yakin Rendra tidak menghilang begitu saja. Pasti ada sesuatu yang terjadi padanya."
"Maksudmu apa?" tanya Ayu dengan nada bingung.
"Aku yakin, menghilangnya Rendra ada hubungannya dengan misteri bale pasanggrahan ini," jawab Puri dengan nada
yakin. "Kita harus mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi sebelum melaporkan ini ke polisi. Kalau kita melibatkan polisi, kita mungkin tidak akan pernah menemukan Rendra."
"Tapi, ini terlalu berbahaya, Puri," kata Dina dengan nada takut. "Kita nggak tahu apa yang sedang kita hadapi."
"Aku tahu," jawab Puri dengan nada serius. "Tapi, kita tidak punya pilihan lain. Rendra adalah teman kita. Kita harus melakukan apa pun untuk menyelamatkannya, meskipun itu berarti kita harus mempertaruhkan nyawa kita sendiri."
Puri menatap teman-temannya satu per satu dengan tatapan penuh tekad. Ia berharap mereka semua akan mendukung keputusannya.
Setelah terdiam sejenak, teman-temannya mengangguk setuju. Mereka tahu, Puri benar. Mereka tidak bisa membiarkan Rendra menghilang begitu saja.
"Baiklah," kata Ayu. "Kita akan membantumu, Puri. Kita akan mengungkap misteri bale pasanggrahan ini dan menyelamatkan Rendra."
Puri tersenyum tipis. Ia merasa sedikit lega karena teman-temannya bersedia membantunya. Namun, di lubuk hatinya yang paling dalam, ia merasakan ketakutan yang luar biasa. Ia tahu, mereka telah memasuki sebuah permainan yang sangat berbahaya, dan mereka mungkin tidak akan pernah keluar dari permainan itu hidup-hidup.
\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*