NovelToon NovelToon
Darah Pocong Perawan

Darah Pocong Perawan

Status: sedang berlangsung
Genre:Kutukan / Misteri / Horor / Hantu / Mata Batin / Iblis
Popularitas:513
Nilai: 5
Nama Author: Celoteh Pena

Yitno... Ya namanya adalah Suyitno, seorang laki-laki berusia 36 tahun yang tak kunjung menikah. Ia adalah pemuda baik, tetapi hidupnya sangat miskin dan serba kekurangan.
Baik itu kekurangan ekonomi, pendidikan, wajah dan masih banyak hal lainnya yang membuatnya merasa sedikit putus asa dan berkecil hati. Ia tinggal bersama ibunya yang seorang janda.
Ia pemuda yang rajin dan tak malu bekerja apapun. Iman dan mentalnya berubah semenjak ia menghitung usianya, dan melihat teman-teman sekampungnya yang semuanya sudah berkeluarga. Ia malu, ia pun ingin menikah tetapi tak ada seorang gadis pun yang mau dengannya.
Semua gadis seperti menghindarinya, entah karena Ia miskin, atau karena ia tak rupawan, atau mungkin karena keduanya. Hingga suatu hari ia bertemu dengan seorang kakek yang akan merubah hidupnya.
apakah yang akan dilakukannya? ikuti terus kisahnya..

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Celoteh Pena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Nembak

Mak..mamak tau gak perempuan yang di rumah bude Sri itu?" Ucap Yitno kepada ibunya yang menemaninya tutup warung malam itu.

"Oh janda canteek yang ayu mbuwanget mirip Sandra dewi itu, Yit? Ngapa dia?"

"Besok aku mau nganterin dia ke pasar Mak. Dia mau cari tempat buat buka salon."

"Hah..?? Gak salah denger mamak? Kok dia mau di anterin kamu? Jangan-jangan matre perempuan itu, Yit. Hati-hati kamu." Ucap ibunya..

"Mamak ini ngomong apa lho, gak gitu Mak. Aku tau banget perempuan itu walaupun aku baru kenal. Bude Srii cerita banyak soal dia sama aku Mak, kayaknya bude Sri gak bohong."

"Emang Sri cerita apa aja soal perempuan itu sama kamu?"

Yitno lalu menceritakan semua yang ia tahu soal Weni kepada ibunya.

"Hmm..jadi kayak gitu, kasihan juga. Ya begitulah kalau jadi janda resikonya, selalu di pandang salah. Dandan di bilang kecentilan, gak dandan di bilang janda dekil. Serba salah lah pokoknya.

Tiap langkah jadi salah aja, terutama di mata para istri. Untung mamak janda tuwek jadi aman dari fitnah. Tapi dulu pertama saat mamak jadi janda anyaran, maksudnya pas lagi meniti karir jadi janda ya mamak juga kayak gitu Yit, banyak di curigai, ke rumah pak RT cuma mau nyerahin KK buat ngambil bantuan aja, udah di sangka yang nggak-nggak sama warga." Ucap ibunya

"Gimana kalau aku menyelamatkannya Mak?"

"Hah..? Gimana maksudmu? Nyelametin apanya?"

"Ya tak rabi Mak."

"Ya gak papa, kalau dia mau sama kamu. Tapi kayaknya gak mau lho Yit..dia lho cantik. Biasanya janda cantek gitu nyari yang ngganteng, minimal ya berduit kalo gak ngganteng. Lah kamu?"

"Asem mamak ini, bukannya ndukung anaknya malah jatuhin mentalku."

"Bukanya jatuhin mental, mamak cuma gak pengen harapan kamu terlalu besar, kalau berharap jangan berlebihan. Ya kalau mau berusaha dulu ya gak papa."

"Hmm...tapi aku gak ada baju bagus Mak, kaos ku jelek semua."

"Emm besok kamu mau pergi Jam berapa sama dia?"

"Jam sembilan Mak."

"Ya udah pagi-pagi mamak ke pasar beliin baju buat kamu. Kamu buka warung aja. Sebelum jam sembilan mamak udah pulang."

"Wih, masok..iya Mak. Sama celana ya Mak."

"Celana laki-laki itu mahal..!!"

"Aku juga gak punya celana panjang Mak, beli aja. 200 ribu cukup gak Mak, celana sama kaos?"

"Cu..cukup kayaknya, di cukup-cukupinlah." Yitno kemudian memberikan uang kepada ibunya..

Keesokan harinya, Yitno buka warung seperti biasanya. Ia buka warungnya jam setengah tujuh pagi, setelah ia memberi makan ikan dan mandi. Ibunya sudah tak ada di rumah. Mungkin sudah pergi kepasar.

Tepat pukul setengah sembilan ibunya sudah datang membawa baju dan celana baru untuknya. Segera Yitno mengganti pakaiannya.

***

Tepat pukul sembilan pagi, Weni datang ke warung Yitno

"Buk, emm mas Yitno nya mana ya?" Tanya Weni kepada ibu Yitno yang berada di warung.

"A..ada di belakang, di rumah..bentar ya.."

"Yit...!! Yit...!!" Teriak ibunya memanggil

"Ngapa Mak?"

"Ada yang nyariin kamu!" Ucap ibunya sembari mengedipkan matanya menggoda anaknya.

"Eeehh..mbak, mau berangkat sekarang?" Ujar Yitno kepada Weni

"Iya mas, bisa mas? Sibuk gak?"

"Nggak kok, ya udah yuk. Mak aku pergi dulu."

"Iya.. hati-hati"

"Mas yang bawa motornya ya. Buk, aku minta tolong mas Yitno nganterin aku bentar.." ucap Weni sopan kepada ibu Atmo

"Ohh.i..iya iya gak papa."

Roda dua sepeda motor matic melaju perlahan melewati jalanan aspal berbatu kampung itu.

Yitno begitu gugup membonceng Weni, seumur hidupnya itu kali pertama dirinya membonceng wanita setelah 36 tahun usianya. Sepanjang perjalanan Yitno yang pemalu sama sekali tak mengajak Weni mengobrol.

"Ini udah jalan lintas 'kan mas? di daerah mana ya mas yang bagus buat buka salon?"

"Agak deket pasar aja mbak, di sini masih sepi." Yitno terus melajukan sepeda motor milik Weni tersebut.

Setiap kios kosong di pinggir jalan yang mengarah ke arah pasar mereka tanyakan. Dan tak ada yang cocok. Weni tak menyangka jika sewa kios di daerah itu begitu sangat mahal. Hingga siang hari mereka mencari kios, dan akhirnya mereka memutuskan untuk beristirahat terlebih dahulu sekedar minum es.

"Mas makan ya, aku yang bayarin kok. Mas kan udah nganterin aku."

"Boleh mbak, tapi aku aja yang bayarin gimana?" Jawab Yitno

"Lho kok gitu? Kan aku yang minta tolong."

"Gak boleh sama mamakku, kalau di traktir perempuan yang bukan muhrimnya. Ya udah aku gak usah makan, mbak kalau laper mbak makan aja. Hayo gimana kita makan bareng aku yang bayarin, apa aku cuma nontonin mbak makan? Hahaha." Jawab Yitno

"Hahaha...ya udah mas yang bayarin." Akhirnya Mereka berdua makan bersama..

"Kayaknya aku gak jadi usaha di sini mas, sewanya terlalu mahal. Gak boleh nginep lagi di dalem kios, gak boleh di jadiin tempat tinggal. Lha aku harus ngontrak rumah lagi, jadi tambah biaya." Ucap Weni membuka obrolan

"Emm sebenernya buka di kampung juga gak papa lho mbak, gak harus di lintas. Sekarang kan zaman udah maju. Mbak promo di medsos. Kasih harga, pangsa pasarnya ABG dulu aja. Mereka 'kan suka yang murah."

Sejenak Weni menghentikan sendok yang akan mau meluncur ke mulutnya. Ia seperti membenarkan ucapan lelaki dekil di depannya itu.

"Tapi aku gak mungkin juga tinggal di rumah mbak Sri mas, gak enaklah apa kata orang. Emang ada rumah yang di kontrakan di sekitar lingkungan mas?"

"Iya ya, Jarang orang kampung nyewain rumah mbak."

"Ma..maaf mas, umur mas Yitno berapa? Kalau boleh tau? Gak di jawab juga gak papa kok mas." Tanya Weni

"36 mbak, lha mbak Weni sendiri berapa?"

"33 mas."

"Anaknya mbak Weni kelas berapa, sekarang?"

"Baru mau masuk SMP ini mas, baru lulus SD, baru selesai ujian. Libur makanya kesini. Aku bingung makanya ini jadi keputusan yang krusial mas. Pikirku kalau ada tempat usaha di sini anakku langsung ku daftarin sekolah disini aja nanti, jadi gak ndadak pindah sekolah."

"Iya juga ya mbak.."

"Kok manggil aku mbak terus lho mas Yitno ini, panggil Weni aja mas, tua mas Yitno lho.."

"Hehehe..gak biasa manggilnya, Malu.."

"Emm..mas kenapa kok belum nikah? Apa gak mau nikah?"

"Be..belum dapet...dapet jodoh mbak.." jawab Yitno panik

"Gak nyari paling mas nya.."

"Iya paling, udah minder duluan."

"Minder? Minder kenapa mas? Hmm tau aku..mas pemalu ya? Gak berani sama cewek? Hahaha.."

"Ya itu salah tiga nya mbak.."

"Hahaa terus salah satu dan dua nya apa mas?"

"Ya yang pertama masalah ekonomi, dulu aku sama mamak bener-bener orang gak punya, kerjaku serabutan, kadang kerja kadang nggak. Mamak ya gitu cuma buruh gosok pakaian kadang mijit, kadang nandur padi.

Eh giliran aku udah punya warung, sekarang minder karena usia. Udah malu deketin perempuan faktor usialah. Yang ketiga ya mungkin bener kata mbak, aku kurang berani dan gak percaya diri.

"Ohh..emm tapi mas orangnya baek kok menurutku, pinter lagi, kalem dan gak neko-neko."

"Hahaa pinter dari Hongkong.."

"Beneran mas, cara mas mengevaluasi suatu masalah menurut penilaian ku itu bagus lho..contoh masalah promosi salon yang mas bilang tadi. Aku belum kepikiran masalah itu malahan."

"Ohh itu mungkin karena aku orangnya pemikir aja, bukan berarti pinter. Beda tipis masalah itu mbak."

"Emm..gitu ya, mas kalau pengen nikah, mau perempuan yang kayak mana?"

"Dengan usiaku saat ini, mana mungkin aku punya hak memilih mbak..mbak... Yang penting dia mau gak masalah aku. Yang penting tau sifatnya aja. Udah cocok ya udah."

"Emm..kalau sifatku..? Ma..maksudku anu mas sifatku jelek apa bagus?"

"Bagus, aku suka, wanita tangguh, sopan. Maaf mbak..tolong jangan tersinggung.. emm aku mau ngomong. Kalau aja mbak mau jadi istriku, aku lebih mau mbak." Ucap Yitno sedikit ragu tapi penuh keseriusan.

Weni terdiam membisu...menatap Yitno

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!