Rani, seorang pembalap motor berjiwa bebas, menentang keras perjodohan yang diatur ayahnya dengan seorang ustadz tampan bernama Yudiz. Meskipun penolakan itu tak digubris, pernikahan pun terjadi. Dalam rumah tangga, Rani sengaja bersikap membangkang dan sering membuat Yudiz kewalahan. Diam-diam, Rani tetap melakoni hobinya balapan motor tanpa sepengetahuan suaminya. Merasa usahanya sia-sia, Yudiz akhirnya mulai mencari cara cerdik untuk melunakkan hati istrinya dan membimbing Rani ke jalan yang benar.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my name si phoo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 12
Sarah meletakkan baskom besar berisi kelapa parut dan air itu tepat di depan kaki Rani.
Senyumnya tampak manis, namun matanya memancarkan ketidaksukaan yang nyata.
"Mbak Rani, maaf ya, kami semua sedang sibuk memotong daging. Tolong peras santannya ya? Ini untuk kuah gulai syukuran nanti. Sayang kalau Mbak cuma duduk-duduk saja sementara yang lain berkeringat," ucap Sarah dengan nada halus yang dibuat-buat.
Rani menatap baskom itu, lalu menatap tangannya yang diperban.
"Tapi Sarah, tanganku sedang luka. Kata Mas Yudiz dan dokter, tidak boleh kena air."
Nyai Salmah yang sedang mengawasi dari kejauhan langsung menoleh.
"Hanya memeras santan, Rani. Jangan terlalu manja jadi perempuan. Luka kecil begitu jangan dijadikan alasan untuk malas-malasan di rumah mertua."
"Umi!" Lilis mencoba memprotes, namun Nyai Salmah segera memotongnya.
"Lilis, jangan ikut campur. Kamu pergi ke gudang sekarang, ambil karung tepung gandum yang baru sampai. Stok di dapur kurang," perintah Nyai Salmah tegas.
Lilis menatap Rani dengan rasa khawatir, namun ia tidak berani membantah perintah ibunya.
Dengan berat hati, Lilis melangkah menuju gudang di bagian belakang pondok.
Sepeninggalnya Lilis, suasana dapur menjadi semakin menekan.
Sarah dan beberapa santriwati lainnya berdiri melingkar, memperhatikan Rani dengan tatapan mencibir.
"Ayo Mbak, keburu siang. Atau jangan-jangan Mbak memang tidak pernah menyentuh dapur sama sekali?" sindir santriwati lain sambil tertawa kecil.
Rani menggigit bibirnya kuat-kuat. Perasaan sesak menyerang dadanya.
Bukan karena ia takut bekerja, tapi karena rasa sakit hati dianggap sebagai pemalas di depan banyak orang.
Dengan tangan gemetar, ia mulai melepas perban putihnya pelan-pelan, memperlihatkan kulit kemerahan yang masih melepuh.
Rani memasukkan tangan kanannya ke dalam baskom berisi air kelapa itu.
"Sssshhh!" Rani merintih pelan. Rasa perih yang luar biasa langsung menusuk hingga ke syaraf saat air masuk ke sela-sela lukanya.
Air matanya mulai mengalir tanpa bisa dibendung, jatuh menetes ke dalam baskom santan.
Ia meremas parutan kelapa itu dengan tenaga yang tersisa, sementara rasa pedihnya terasa seperti disayat sembilu.
Di depannya, Sarah dan teman-temannya justru saling berbisik sambil tertawa terbahak-bahak.
"Lihat tuh, masa peras santan saja sampai menangis. Lebay banget sih!"
"Mungkin dia kangen sirkuit, makanya air matanya keluar," sahut yang lain disambut tawa yang makin pecah.
Rani mendongakkan kepalanya dengan pandangannya yang kabur karena air matanya .
Ia melihat wajah-wajah yang penuh kebencian dan rasa puas di atas penderitaannya.
Kesabaran Rani yang selama ini ia jaga demi Yudiz mendadak putus.
"CUKUP!!"
Rani langsung berdiri dan tanpa aba-aba, ia mengangkat baskom besar berisi santan yang sudah tercampur air matanya itu, lalu...
BYUUUURRRR!
Rani menyiramkan seluruh isi baskom itu ke arah Sarah dan kawan-kawannya.
Seketika, serambi dapur menjadi kacau. Baju-baju gamis mereka yang rapi kini basah kuyup dan penuh dengan ampas kelapa.
"ASTAGHFIRULLAH! RANI!" teriak Nyai Salmah histeris.
Sarah menjerit kaget, mencoba membersihkan ampas kelapa dari wajah dan hijabnya.
"Mbak Rani gila ya?!"
"Iya! Aku gila karena kalian!" teriak Rani dengan suara serak.
"Kalian bilang aku manja? Kalian tertawa di atas lukaku? Ambil ini santannya! Kalian yang paling butuh karena otak kalian lebih butuh dicuci daripada kuah gulai ini!"
Rani membuang baskom kosong itu hingga menimbulkan suara gaduh.
Ia berlari keluar dari serambi dapur dengan air mata yang masih mengalir deras.
Ia tidak peduli ke mana kakinya melangkah, ia hanya ingin pergi sejauh mungkin dari tatapan mereka.
Ia sampai di area perkebunan di belakang pondok.
Di sana terdapat sebuah pohon rambutan yang cukup tinggi dan rimbun.
Tanpa pikir panjang, dengan kemampuan atletisnya sebagai pembalap trail, Rani memanjat pohon itu dengan lincah meskipun tangannya perih luar biasa.
Ia duduk di dahan yang cukup tinggi, bersembunyi di balik dedaunan yang lebat, sambil memeluk lututnya dan terisak keras.Ia merasa jika dunia ini begitu jahat padanya.
Lilis yang baru saja kembali dari gudang terpaku di ambang pintu dapur.
Ia menyaksikan detik-detik saat Rani menyiramkan santan itu dan mendengar makian Sarah.
Dengan tangan gemetar, Lilis yang memang sejak tadi sudah menaruh curiga pada gelagat Sarah, diam-diam merekam kejadian itu dari balik pilar.
Ia tidak tahan lagi dan tanpa mempedulikan teriakan Nyai Salmah yang masih histeris, Lilis berlari menjauh dan segera mengirimkan video berdurasi satu menit itu kepada Yudiz.
Di kantor pusat perusahaannya, Yudiz baru saja keluar dari ruang rapat besar.
Ia melonggarkan dasinya, wajahnya tampak lelah. Ponselnya bergetar di saku jas. Saat melihat pesan dari Lilis, jantungnya berdegup kencang.
Yudiz membuka video itu dengan rahangnya yang mengeras seketika.
Ia melihat dengan jelas bagaimana Rani meringis kesakitan memasukkan tangan yang terluka ke dalam baskom, mendengar tawa ejekan Sarah, dan puncaknya, kemarahan Rani yang meledak.
Wajah Yudiz yang biasanya teduh berubah menjadi sangat dingin.
Ada kemurkaan yang tertahan di matanya. Tanpa berkata apa-apa pada sekretarisnya, Yudiz menyambar kunci mobil dan melesat menuju pondok dengan kecepatan tinggi.
Sementara itu, di pondok pesantren, kegaduhan masih terjadi.
Nyai Salmah masih memarahi Sarah yang menangis karena bajunya kotor, namun suasana mendadak hening saat Kyai Abdullah berjalan masuk ke area dapur dengan wajah sangat serius.
"Apa yang terjadi di sini? Suara gaduh ini terdengar sampai ke depan!" tanya Kyai Abdullah dengan suara yang berwibawa namun tegas.
Lilis muncul di samping ayahnya, air matanya menetes.
"Abi, mereka jahat sama Mbak Rani. Umi memaksa Mbak Rani memeras santan padahal tangannya luka bakar, dan Sarah menertawakannya."
Kyai Abdullah menatap baskom yang terbalik dan ampas kelapa yang berserakan.
Beliau memejamkan mata sejenak, menghela napas panjang yang penuh kekecewaan.
"Salmah, sudah kukatakan jangan memberi dia tugas berat. Di mana Rani sekarang?"
"Dia lari ke belakang, Abi! Dia kurang ajar, dia menyiram kami!" keluh Sarah sambil terisak.
Kyai Abdullah tidak mempedulikan ucapan Sarah. Beliau menoleh ke arah pengawal pondok.
"Segera panggil Dokter Rizal ke sini. Katakan ini darurat. Dan Lilis, cari Mbakmu sampai ketemu!"
Tak lama kemudian, deru mesin mobil sport milik Yudiz terdengar masuk ke halaman pondok dengan pengereman yang kasar.
Yudiz turun dengan langkah lebar, wajahnya memancarkan aura yang membuat para santri yang berpapasan dengannya langsung menunduk ketakutan.
Yudiz langsung menuju dapur, namun matanya mencari ke sekeliling.
"Di mana istriku?" tanyanya dengan suara rendah yang menusuk.
Kyai Abdullah menghampiri putranya yang sedang emosi
"Tenang, Yudiz. Abi sudah meminta Lilis mencarinya. Dokter juga dalam perjalanan."
Yudiz menatap Sarah dengan tatapan yang begitu tajam hingga gadis itu berhenti menangis karena ketakutan.
"Jika sampai luka istriku memburuk atau dia mengalami trauma. Aku sendiri yang akan memastikan kamu tidak akan pernah menginjakkan kaki di pondok ini lagi, Sarah."
Yudiz kemudian berbalik, mengabaikan ibunya yang mencoba bicara.
Ia mengikuti firasatnya dan langkah kakinya menuju ke arah perkebunan belakang.
Ia tahu, Rani yang liar dan terluka akan mencari tempat yang tinggi untuk bersembunyi.
Di bawah pohon rambutan tua, Yudiz berhenti. Ia mendengar isakan kecil dari balik dedaunan.
"Rani..." panggil Yudiz lembut, suaranya kini kembali penuh kasih.
"Turunlah, Sayang. Abi di sini. Maafkan Abi yang terlambat melindungimu."
Di atas pohon, Rani tersentak. Ia melihat ke bawah dan mendapati suaminya menatapnya dengan mata yang berkaca-kaca.
"Abi, tanganku perih..." bisik Rani dari atas dahan, suaranya serak karena terlalu banyak menangis.
Yudiz merentangkan tangannya di bawah pohon.
"Turunlah, perlahan-lahan.Aku akan menangkapmu. Dokter sudah datang, kita obati tanganmu lagi, ya?"
Perlahan, Rani turun dengan sisa tenaganya. Begitu kakinya menyentuh tanah, Yudiz langsung memeluknya erat, membiarkan tangisan Rani tumpah di dada kemejanya yang mahal.
Di saat yang sama, Kyai Abdullah dan Dokter Rizal datang mendekat ke arah mereka.
"Bawa dia ke beranda, Yudiz. Biarkan dokter memeriksa keadaannya," perintah Kyai Abdullah dengan nada penuh penyesalan.