Mayor Elara Vanya, seorang agen elit yang terpaksa menggunakan daya tarik dan kecerdasannya sebagai aset, dikirim dalam misi penyusupan ke Unit Komando Khusus yang dipimpin oleh Kolonel Zian Arkana, pria dingin yang dicurigai terlibat dalam jaringan pengkhianatan tingkat tinggi. Elara harus memilih antara menyelesaikan misi dan mengikuti kata hatinya, yang semakin terjerat oleh Kolonel Zian.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rhiy Navya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Misteri Palung Biru
Suara logam yang berderit di bawah tekanan ribuan ton air menjadi musik latar yang mengerikan di dalam kapal selam Nautilus-X. Elara Vanya berdiri di depan jendela observasi kecil berbahan akrilik setebal tiga puluh sentimeter. Di luar, kegelapan abadi Samudra Pasifik hanya sesekali dipecah oleh kilatan cahaya dari ubur-ubur bioluminesensi yang lewat.
"Kedalaman 7.000 meter dan terus turun," suara Zian Arkana terdengar dari kursi pilot. Dia mengenakan setelan selam taktis yang lebih ringan, namun matanya tetap waspada menatap sonar. "Elara, kau harus duduk. Tekanan di luar sana bisa meremukkan kapal ini jika ada satu saja baut yang longgar."
Elara berbalik, wajahnya tampak pucat di bawah lampu merah interior kapal selam. "Aku tidak bisa berhenti memikirkan apa yang dikatakan Aegis, Zian. Jika di Andes ada satu makhluk purba, dan di sini ada satu lagi... apa yang sebenarnya sedang kita bangunkan?"
"Kita tidak sedang membangunkan mereka, Elara," sahut Aegis melalui sistem audio kapal. "Kita sedang memastikan mereka tidak pernah bangun. Berdasarkan pemindaian seismik yang aku curi dari satelit Council, sarkofagus di Palung Mariana berada di dalam sebuah kuil bawah air yang disebut 'The Abyssal Vault'. Tekanan di sana mencapai delapan ton per inci persegi."
"Kael, bagaimana dengan dukungan permukaan?" tanya Elara ke arah layar komunikasi.
"Buruk," jawab Kael dari kapal induk Phoenix di atas. "Badai kategori 4 sedang terbentuk tepat di atas posisi kalian. Armada Council—apa yang tersisa dari mereka—sedang bergerak menuju koordinat ini. Mereka mengerahkan 'Leviathan II', kapal perusak kelas berat yang dilengkapi dengan torpedo penghancur kapal selam."
"Jadi kita berlomba dengan waktu dan torpedo," gumam Zian. "Sempurna."
Tiba-tiba, sebuah guncangan hebat menghantam Nautilus-X. Sensor alarm berbunyi melengking, mengisi kabin sempit itu dengan cahaya kuning berkedip.
"Apa itu?! Kita dihantam?" Elara segera mencengkeram pegangan kursi.
"Bukan torpedo," Aegis menjawab dengan nada yang tidak biasa, seolah-olah dia sedang memproses data yang mustahil. "Ada sesuatu yang besar... sesuatu yang hidup, baru saja menabrak kita dari bawah. Ukurannya melebihi paus sperma, namun memiliki tanda panas mekanis."
Zian menyalakan lampu sorot luar yang sangat kuat. Cahaya putih memotong kegelapan laut dalam, mengungkapkan pemandangan yang membuat darah mereka membeku. Di luar sana, seekor makhluk mekanis raksasa berbentuk seperti cumi-cumi—'Kraken-Bot'—sedang melilitkan tentakel bajanya ke badan kapal selam mereka. Mata sensor merahnya menatap langsung ke arah jendela tempat Elara berdiri.
"Penjaga gerbang Council," desis Zian. "Mereka tidak ingin kita mencapai kuil itu."
"Zian, lepaskan muatan listrik ke lambung kapal!" perintah Elara.
Zian menekan tombol darurat. Gelombang listrik berkekuatan tinggi merambat di seluruh permukaan luar Nautilus-X. Kraken-Bot itu bergetar hebat, tentakelnya melepaskan cengkeraman sesaat, namun ia segera kembali menyerang dengan lebih ganas, mencoba menusuk ruang mesin kapal selam dengan bor raksasa di bagian kepalanya.
"Lambung kapal mulai retak! Sektor 4 mengalami kebocoran!" teriak Aegis.
"Aku harus keluar," kata Elara tiba-tiba.
"Apa?! Kau gila?" Zian menoleh dengan mata terbelalak. "Tekanan di luar sana akan menghancurkanmu dalam satu detik!"
"Gunakan setelan 'Aegis-Deep-Sea' yang dikembangkan ayahku," Elara menunjuk ke arah sebuah peti logam di pojok ruangan. "Setelan itu menggunakan teknologi pergeseran molekuler untuk menetralkan tekanan luar. Aku harus menghancurkan inti sensor Kraken-Bot itu dari dekat, atau kita semua akan mati tenggelam di sini."
Zian ragu sejenak, namun melihat retakan di kaca akrilik yang mulai menjalar, dia tahu tidak ada pilihan lain. Dia membantu Elara masuk ke dalam setelan hitam ramping yang tampak seperti kulit kedua, namun terbuat dari serat karbon dan titanium yang diperkuat.
"Elara... jika kau tidak kembali dalam lima menit, aku akan meledakkan reaktor kapal ini untuk menghancurkan makhluk itu bersamaku," kata Zian serius.
Elara menyentuh helm Zian. "Aku akan kembali. Kita masih punya janji untuk makan malam di daratan, ingat?"
Pintu airlock terbuka. Elara terlontar keluar ke dalam kegelapan samudra. Dalam setelan Aegis, dia merasa seperti berada di dalam gelembung energi. Dia bisa melihat segalanya melalui sensor termal di helmnya. Kraken-Bot itu terlihat seperti monster dari mimpi buruk, raksasa logam yang mencoba menghancurkan satu-satunya harapan mereka.
Elara menggunakan pendorong jet kecil di kakinya untuk meluncur menuju kepala makhluk itu. Dia mencabut 'Vibro-Spear', tombak bergetar frekuensi tinggi yang didesain khusus untuk membelah baja di bawah air.
Kraken-Bot menyadari kehadirannya. Salah satu tentakel besarnya menyambar ke arah Elara. Elara melakukan manuver berputar di air, menghindari serangan itu hanya beberapa inci, dan mendarat tepat di atas mata sensor merah makhluk itu.
"Sekarang!" teriak Elara (meskipun suaranya hanya terdengar oleh Aegis).
Dia menghujamkan tombaknya ke pusat sensor. Percikan listrik biru meledak di bawah air. Kraken-Bot itu berontak hebat, tubuh raksasanya berputar-putar di kegelapan, menyeret Elara bersamanya. Elara terus bertahan, menghujamkan pisaunya ke celah-celah mesin makhluk itu.
Tiba-tiba, Kraken-Bot itu mengeluarkan raungan ultrasonik yang memekakkan telinga. Inti energinya mulai tidak stabil.
"Elara! Cepat kembali! Dia akan meledak!" suara Zian terdengar panik di telinganya.
Elara melepaskan pegangannya dan memacu pendorong jetnya sekuat tenaga menuju Nautilus-X. Di belakangnya, bola api biru raksasa muncul di dasar laut saat Kraken-Bot itu hancur. Gelombang kejutnya melemparkan Elara kembali ke arah pintu airlock kapal selam dengan keras.
Zian segera menarik Elara masuk dan menutup pintu kedap air tepat saat air mulai membanjiri lorong.
Di dalam kabin, Elara melepas helmnya, napasnya tersengal-sengal. Zian langsung memeluknya erat, mengabaikan fakta bahwa setelan Elara masih basah dan dingin.
"Kau berhasil," bisik Zian. "Kau benar-benar berhasil."
"Kita belum selesai," kata Elara, menunjuk ke arah sonar. "Lihat."
Di layar sonar, tepat di bawah mereka, sebuah struktur raksasa yang bercahaya mulai terlihat. Bentuknya seperti piramida terbalik yang tertanam di dasar palung. Itulah 'The Abyssal Vault'. Namun, yang membuat mereka terdiam bukan hanya ukurannya, melainkan banyaknya tanda kehidupan di sekitarnya.
"Aegis... itu bukan hanya sarkofagus, kan?" tanya Elara.
"Bukan, Elara," suara Aegis terdengar muram. "Itu adalah kota. Sebuah garnisun militer kuno yang telah diaktifkan kembali oleh sinyal yang dilepaskan di Andes. Dan mereka sedang mempersiapkan sesuatu... sebuah peluncuran."
Dari puncak piramida terbalik itu, sebuah pilar cahaya biru melesat ke atas, menembus ribuan meter air hingga mencapai permukaan samudra. Langit di atas Samudra Pasifik, yang tadinya dipenuhi badai, kini berubah menjadi pusaran energi raksasa.
"Mereka tidak sedang membangunkan makhluk purba," gumam Elara dengan ngeri. "Mereka sedang memanggil armada."
Zian memegang tangan Elara, matanya menatap kuil bawah laut yang megah sekaligus menakutkan itu. "Maka kita harus menghentikan panggilan itu, sebelum apa pun yang ada di balik cahaya itu tiba di sini."
Unit Phoenix kini berada di titik terdalam di bumi, menghadapi rahasia yang telah terkubur selama jutaan tahun, sementara di atas mereka, dunia sedang menunggu dengan napas tertahan.