Malam yang seharusnya menjadi hari paling bahagia bagi Adrian berubah menjadi mimpi buruk ketika ia mendapat kabar bahwa calon istrinya, Liana, mengalami kecelakaan fatal. Saat tiba di lokasi kejadian, Adrian terkejut menemukan Liana meninggal bersama seorang pria bernama Jamie, yang ternyata adalah kekasih Fatma.
Fatma, seorang ustadzah yang salehah, hancur mengetahui pria yang dicintainya telah berselingkuh dengan wanita yang bahkan tidak dikenalnya. Di tengah duka dan amarah, Adrian melampiaskan kesalahannya kepada Fatma dan menuduhnya tidak mampu menjaga Jamie. Meski Fatma menegaskan bahwa dirinya juga korban pengkhianatan, Adrian yang dipenuhi emosi membuat keputusan nekat: pada malam yang sama ia memaksa Fatma untuk menjadi istrinya.
Dari tragedi yang menyatukan dua hati yang sama-sama terluka, dimulailah kisah penuh konflik, luka, dan takdir yang tak pernah mereka bayangkan sebelumnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my name si phoo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 30
Langkah kaki Fatma menuju ruang makan mendadak terhenti ketika mendengar suara langkah kecil yang tergesa-gesa dari arah koridor kamar tamu.
,Sesosok anak perempuan mungil dengan jilbab instan bermotif bunga-bunga berlari kecil menghampirinya.
Itu Aisyah, adik bungsu Adrian yang masih duduk di bangku kelas lima sekolah dasar.
Gadis kecil itu sengaja diajak oleh kedua orang tuanya dari kota, namun sejak tadi ia diminta menunggu di kamar tamu agar tidak menyaksikan ketegangan pembacaan syarat oleh Abah.
Di kedua tangan mungilnya, Aisyah mendekap erat sebuah boneka beruang rajut berwarna cokelat muda yang tampak sangat bersih dan terawat.
"Mbak Fatma!" panggil Aisyah, wajahnya yang polos menengadah menatap Fatma dengan binar mata yang jernih.
Fatma langsung berlutut perlahan, menyamakan tingginya dengan mantan adik ipar kecilnya itu, mengabaikan sedikit rasa ketat di punggungnya.
"Iya, Aisyah sayang? Ada apa?"
Aisyah menyodorkan boneka beruang itu ke depan dada Fatma dengan kedua tangannya.
"Mbak Fatma, ini boneka untuk Mbak Fatma," ucap Aisyah tulus, senyum giginya mengembang.
"Kata Mama, Mbak Fatma kemarin habis sakit dan harus disuntik di rumah sakit. Aisyah tahu disuntik itu pasti sakit sekali. Jadi, boneka ini buat temani Mbak Fatma tidur ya? Supaya Mbak Fatma nggak nangis lagi dan cepat sembuh. Ini boneka kesayangan Aisyah, tapi sekarang buat Mbak Fatma aja."
Mendengar ucapan polos dan penuh kasih dari bocah kelas lima itu, dada Fatma seketika bergemuruh oleh rasa haru yang luar biasa.
Air mata yang sejak tadi ia tahan akhirnya lolos juga, membasahi pipinya.
Anak sekecil Aisyah tidak tahu apa-apa tentang kebiadaban kakaknya, namun ketulusan hatinya menjadi obat penawar yang sangat sejuk bagi trauma Fatma.
Mama Adrian yang berdiri di belakang mereka langsung menutup mulutnya, ikut menangis melihat pemandangan itu.
Beliau merasa sangat teriris karena di satu sisi putranya telah menghancurkan hidup Fatma, namun di sisi lain putri kecilnya justru membawa cinta yang begitu tulus.
Fatma menerima boneka itu, mendekapnya erat ke dadanya, lalu memeluk tubuh mungil Aisyah dengan tangan kirinya yang bebas.
"Terima kasih banyak ya, Aisyah sayang. Bonekanya cantik sekali. Mbak Fatma suka," bisik Fatma di telinga Aisyah, suaranya bergetar menahan tangis bahagia.
"Mbak Fatma janji akan jaga boneka ini baik-baik."
Aisyah mengangguk ceria, lalu menghapus air mata di pipi Fatma dengan jempol kecilnya.
Kehadiran Aisyah sore itu seolah menjadi pelangi kecil di tengah badai yang baru saja berlalu di pondok pesantren tersebut.
Sementara di kediaman utama penuh dengan kehangatan dan air mata haru, atmosfer di ujung kompleks pesantren justru berbanding terbalik.
Para santri senior telah mengantar ketiga lelaki itu menuju sebuah bangunan semen beratap genting tanah liat yang biasa disebut
Kamar Pengabdian—tempat khusus bagi para musafir atau calon santri yang harus membersihkan diri dari penyakit hati sebelum diizinkan menuntut ilmu.
Kamar itu sangat sederhana. Ukurannya tidak terlalu besar, hanya ada tiga buah kasur busa tipis tanpa ranjang yang dihamparkan langsung di atas lantai ubin berwarna abu-abu.
Sebuah lemari kayu kecil berkaki pincang berdiri di pojok ruangan untuk menampung pakaian mereka.
Begitu pintu kayu tua itu berdecit terbuka, Adrian—meski tangan kanannya masih terbungkus perban dan digendong penopang—langsung bergerak cepat.
Dengan langkah tergesa-gesa menggunakan sisa tenaganya, ia merebahkan diri di atas kasur tipis yang letaknya paling pojok, tepat berbatasan dengan dinding.
"Ini tempatku!" ucap Adrian ketus, langsung mengeklaim posisi strategis yang paling jauh dari pintu masuk.
Sifat dominan dan tidak mau kalahnya sebagai mantan bos besar masih membekas, seolah takut kasur terbaik itu direbut oleh yang lain.
Ustaz Damar yang baru saja meletakkan tas jinjing sederhananya di dekat pintu hanya melirik kelakuan Adrian lewat sudut mata.
Beliau menarik napas panjang, lalu melipat kedua tangannya di depan dada sembari menggelengkan kepala.
"Dasar anak kecil," ucap Ustaz Damar dengan nada datar namun sarat akan sindiran menohok.
Beliau tidak berniat berdebat.
Bagi Ustaz Damar, tidur di mana saja tidak menjadi masalah selama tempat itu suci untuk bersujud.
Beliau memilih kasur yang berada di bagian tengah, membiarkan kasur yang paling dekat dengan pintu diisi oleh Bryan.
Bryan sendiri hanya diam. Pemuda berbadan tegap itu meletakkan ransel hitamnya dengan rapi di sudut ruangan, lalu berdiri di dekat jendela kecil yang menghadap langsung ke arah dapur umum santri.
Tatapannya dingin, namun matanya terus mengawasi gerak-gerik Adrian yang kini mulai memejamkan mata di atas kasur pojoknya.
Di dalam kamar yang sempit dan berbau kayu lembap itu, perang dingin di antara tiga pria yang memperebutkan hati Fatma resmi dimulai dari sebuah perebutan posisi kasur lantai.
Malam harinya, setelah santap malam bersama keluarga Abah usai, suasana di halaman ndalem utama kembali diselimuti keharuan.
Kedua orang tua Adrian beserta Aisyah dan Hakam bersiap untuk berpamitan kembali ke kota.
Di sinilah garis batas yang nyata itu ditarik; Fatma tetap tinggal di pesantren untuk menyembuhkan diri, sementara Adrian harus menetap di kamar pengabdian untuk menebus kesalahannya.
Di bawah temaram lampu teras ndalem, Adrian berdiri dengan pakaian santrinya yang masih terasa asing.
Laki-laki yang biasanya angkuh itu kini melangkah mendekati kedua orang tuanya dengan kepala tertunduk.
Sret.
Adrian meraih tangan kanan papanya, lalu membungkuk dalam dan mencium punggung tangan pria paruh baya itu dengan takzim.
Setelah itu, ia melakukan hal yang sama pada mamanya, mencium punggung tangan wanita yang melahirkannya itu dengan penuh
penyesalan.
Kedua orang tua Adrian tersentak. Mereka sedikit terkejut melihat perubahan sikap putra sulung mereka yang biasanya keras kepala dan jarang menunjukkan gestur se-tawaduk ini, apalagi di depan umum.
Papa Adrian mengembuskan napas berat, lalu menepuk pundak kiri Adrian yang tidak diperban dengan pelan.
"Jika Allah berkehendak, pasti nanti Fatma akan menjadi istrimu lagi setelah semua ini selesai. Tapi kalau tidak. kamu harus legowo, Adrian. Kamu harus ikhlas menerima ketetapan-Nya," ucap sang Papa dengan nada yang sangat bijak namun penuh penekanan.
Adrian menelan ludah, dadanya terasa sesak, namun ia mencoba menekan egonya dalam-dalam.
"Inggih, Pa..." ujar Adrian lirih, menggunakan bahasa Jawa halus yang jarang ia ucapkan sehari-hari, sebagai bentuk rasa hormat tertingginya.
Mama Adrian tak mampu membendung air matanya lagi.
Beliau maju selangkah, mengelus pipi putranya yang masih menyisakan bekas lebam.
"Perbaiki dirimu di sini, Le. Mama rida kamu belajar agama dari nol di sini. Jadilah laki-laki yang tahu cara memuliakan wanita," ucap sang Mama dengan suara parau.
Hakam yang berdiri di dekat mobil hanya memperhatikan dari jauh dengan tatapan datar, sementara Aisyah melambaikan tangan kecilnya.
Setelah jabat tangan terakhir itu, mobil yang membawa keluarga Adrian perlahan bergerak membelah kegelapan malam pesantren, meninggalkan Adrian yang terpaku menatap kepergian mereka dengan tekad baru yang mulai tumbuh di hatinya.
Abah yang sejak tadi menyaksikan perpisahan keluarga itu dari ambang pintu ndalem melangkah maju.
Sorot mata sepuhnya menatap Adrian dengan ketegasan yang tak bisa ditawar.
"Lekas istirahat. Besok pagi jam tiga kalian sudah harus berada di masjid pondok," ucap Abah, suaranya berat dan berwibawa memecah keheningan malam.
Adrian yang masih berdiri di halaman tersentak. Kepalanya menoleh cepat ke arah Abah dengan mata sedikit membelalak.
Sebagai seorang pengusaha yang terbiasa terjaga hingga larut malam dan baru terbangun saat matahari hampir terbit, ritme kehidupan pesantren terasa seperti kejutan budaya yang luar biasa baginya.
"Jam tiga, Abah?" tanya Adrian memastikan, nadanya terdengar sangsi dan sedikit tidak percaya.
"Bukan jam lima subuh?"
Sebelum Abah sempat menjawab, sebuah suara lembut yang sangat ia kenali terdengar dari arah teras.
Fatma berdiri di sana, bersandar pada pilar kayu dengan selimut tipis yang melingkari bahunya.
Meskipun wajahnya masih pucat, tatapan matanya tampak begitu tenang.
"Iya, jam tiga, Mas," jawab Fatma, menyela dengan nada datar namun pasti.
Itu adalah kali pertama Fatma kembali memanggilnya dengan sebutan 'Mas' setelah talak dijatuhkan, namun bukan sebagai bentuk kepatuhan seorang istri, melainkan sebagai seorang yang memberi tahu aturan main di rumahnya sendiri.
"Di sini, sepertiga malam adalah waktu untuk bangun, membersihkan hati lewat tahajud, dan bermunajat sebelum subuh tiba. Jika jam tiga Mas belum siap, itu artinya Mas belum siap untuk berubah," lanjut Fatma, kalimatnya begitu menohok langsung ke relung dada Adrian.
Adrian tertegun, lidahnya mendadak kelu. Ia melirik Ustaz Damar dan Bryan yang ternyata sudah berdiri tidak jauh di belakangnya.
Ustaz Damar tampak tersenyum tipis—panggilan jam tiga pagi adalah makanan sehari-harinya—sementara Bryan hanya memasang wajah datar, siap menerima instruksi apa pun.
"Inggih, Abah. Kami permisi ke kamar," ucap Ustaz Damar takzim, memecah kecanggungan.
Dengan hati yang bergemuruh dan rasa kantuk yang mulai dipaksakan, Adrian akhirnya berbalik arah melangkah menuju Kamar Pengabdian bersama dua saingannya.
Di belakangnya, Fatma menatap punggung mantan suaminya itu pergi, berharap bahwa dinginnya embun sepertiga malam esok bisa benar-benar mengikis sisa-sisa keangkuhan yang ada di dalam jiwa pria itu.
lanjut thor🙏
bikin jengkel aja thor 😡😡