menceritakan dua orang mantan kekasih Shinta dan Andika. yang memutuskan untuk berpisah karena perbedaan pandangan tentang masa depan Shinta yang ingin hubungan yang serius ke pelaminan dan Andika yang ingin menata karir dan memastikan finansial mencukupi. namun keduanya tidak menemukan titik tengah dari masalah itu. setahun kemudian mereka di pertemukan di perusahaan sebagai karyawan devisi pemasaran. keduanya yang awalnya tidak ingin masa lalu terungkap dan saling menjauh malah tanpa sadar Melaku kebiasaan mereka saat pacaran. dari Andika yang memperlihatkan Shinta saat kesulitan dan Shinta yang memberikan tempat bersandar saat Andika kelelahan namun itu malah membuat mereka kesal dan membuat perjanjian siapa pun yang masih melakukan kebiasaan mereka saat pacaran di anggap orang yang ingin balikan. namun kenyataannya keduanya malah terus melanggar perjanjian mereka tanpa peduli apa yang salah dari kebiasaan lama mereka saat pacaran
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Muhammad Robby Ido Wardanny, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 32
Setengah jam sudah berlalu sejak Andika dan Shinta duduk di kafe Vivi. Namun obrolan mereka masih berputar-putar tanpa arah yang jelas. Kadang membahas pekerjaan, kadang menanggapi suasana kafe, lalu berakhir diam cukup lama sebelum salah satu dari mereka kembali berbicara. Situasi itu membuat Shinta mulai frustasi sendiri.
Dia sudah mencoba beberapa topik, tetapi semuanya terasa canggung. Tidak ada lagi kenyamanan seperti dulu saat mereka masih bersama. Bahkan untuk sekadar bercanda saja terasa berat. Seolah ada tembok besar yang berdiri di antara mereka.
Andika terlihat santai sambil menyandarkan tubuh di kursinya. Sesekali pria itu menyeruput kopinya tanpa terlihat terganggu dengan suasana aneh di antara mereka. Justru Shinta yang merasa gelisah sejak tadi.
Pada akhirnya, Shinta memutuskan membahas sesuatu yang paling membuatnya penasaran.
“Aku mau tanya sesuatu,” ucap Shinta pelan.
Andika menatapnya singkat. “Tanya saja.”
“Soal Aqila.”
Andika mengangkat sebelah alisnya. “Kenapa dengan Aqila?”
Shinta memainkan sedotan minumannya sebelum menjawab. “Kenapa kalian tidak bilang saja kalau kalian cuma sepupu? Semua orang di kantor pikir kalian pacaran.”
Andika tersenyum tipis mendengar itu. Bukannya langsung menjawab, dia malah terlihat berpikir sejenak.
“Karena lebih mudah begitu.”
“Mudah bagaimana?”
Andika menatap lurus ke arah Shinta. “Aku butuh Aqila supaya terlihat seperti orang yang punya pacar.”
Shinta langsung mengernyit. “Hah?”
“Aku malas didekati perempuan.”
Jawaban itu membuat Shinta memandangnya tidak percaya.
“Alasan macam apa itu?”
Andika terkekeh kecil. “Alasan yang masuk akal.”
Shinta memutar matanya kesal. “Jadi Aqila dipakai jadi tameng?”
“Kurang lebih.”
“Kamu benar-benar aneh.”
Andika hanya tersenyum santai. “Setidaknya berhasil.”
Shinta mendecakkan lidah pelan. Dalam hati dia ingin mengatakan Andika terlalu percaya diri. Namun sayangnya dia juga tidak bisa memungkiri kenyataan itu. Mantannya memang memiliki wajah yang menarik. Tinggi, rapi, dan selalu terlihat tenang. Tidak heran banyak perempuan tertarik padanya.
Hal paling menyebalkan adalah Andika juga sadar akan itu.
“Sok ganteng,” gumam Shinta pelan.
Andika langsung mendengarnya. “Aku tidak bilang aku ganteng.”
“Tapi cara bicaramu seperti itu.”
“Kalau memang kenyataannya begitu bagaimana?”
Shinta langsung menatap tajam ke arahnya. “Narsis.”
Andika malah tertawa kecil. Suasana sempat terasa lebih ringan beberapa detik sebelum pria itu kembali membuka suara.
“Ngomong-ngomong…”
Shinta menatapnya.
“Pak Radit bilang kamu curhat soal temanmu.”
Wajah Shinta langsung berubah kaget.
“Apa?”
Andika tersenyum tipis melihat reaksinya. “Katanya temanmu mau balikan dengan mantannya.”
Shinta langsung merasa panik. Dia benar-benar tidak menyangka Pak Radit akan menceritakan itu pada Andika. Padahal waktu itu dia hanya mencari cara supaya tidak terlalu mencurigakan.
Kini malah jadi bumerang untuk dirinya sendiri.
“Itu…” Shinta mencoba mencari alasan. “Cuma cerita biasa.”
“Oh ya?”
Shinta menghela napas pelan sebelum akhirnya menyerah. “Iya, temanku memang ada yang begitu.”
Padahal sebenarnya tidak ada teman mana pun.
Itu dirinya sendiri.
Namun Shinta terlalu gengsi untuk mengaku langsung.
Andika sebenarnya tahu sejak awal. Dia mengenal Shinta cukup lama untuk menyadari kapan perempuan itu sedang berbohong. Namun pria itu memilih pura-pura tidak tahu.
“Kalau menurutku,” ucap Andika santai, “lebih baik tidak usah balikan.”
Shinta langsung menatapnya.
“Cari yang baru saja.”
Ucapan itu terasa seperti tamparan bagi Shinta.
Walau Andika tidak mengatakan langsung, Shinta tahu pria itu sedang menolak dirinya secara halus. Dadanya langsung terasa sesak.
Namun dia tetap mencoba bertahan.
“Itu hak temanku,” balas Shinta cepat. “Kalau dia masih mau berusaha memperbaiki hubungannya, ya tidak salah.”
Andika mengangguk kecil. “Tidak salah. Tapi belum tentu pintar.”
Shinta langsung mengernyit kesal. “Maksudnya?”
“Hubungan yang sudah rusak biasanya memang tidak perlu dipertahankan.”
Nada suara Andika tetap tenang, tetapi justru itu yang membuat Shinta semakin kesal. Seolah pria itu benar-benar sudah tidak peduli lagi.
“Cara pikirmu seperti pengecut,” balas Shinta tajam.
Andika tampak tidak tersinggung sama sekali. Dia malah tersenyum kecil.
“Kenapa?”
“Karena kamu memilih lari dari masalah.”
“Menghindari masalah bukan berarti pengecut.”
“Itu tetap lari.”
Andika menyandarkan tubuhnya sambil menatap Shinta lekat-lekat. “Kalau tahu sesuatu cuma bikin sakit kepala, kenapa harus dipertahankan?”
“Karena tidak semua hal selesai dengan cara dibuang.”
“And sometimes membuang sesuatu justru solusi terbaik.”
Shinta semakin kesal mendengar ketenangan Andika. Rasanya seperti berbicara dengan tembok.
Dia mencoba menahan emosinya sebelum kembali bicara.
“Hubungan itu seperti benang kusut,” ucap Shinta pelan. “Memang sulit diurai. Kadang bikin frustrasi. Tapi kalau sabar dan mau berusaha, pasti bisa diperbaiki.”
Andika tersenyum tipis setelah mendengar itu.
“Kalau benangnya kusut,” katanya santai, “kenapa tidak dipotong saja?”
Shinta langsung terdiam sesaat.
Jawaban itu terdengar sederhana, tetapi menusuk.
“Karena tidak semua hal harus diakhiri.”
“Dan tidak semua hal layak diperjuangkan.”
Tatapan mereka mulai saling bertabrakan. Tidak ada yang mau mengalah.
Suasana meja mereka berubah semakin tegang.
Di balik meja kasir, Vivi mulai panik melihat keduanya.
“Aduh…” gumam Vivi pelan. “Mereka kelihatan mau perang.”
Aqila yang berdiri di sebelahnya malah terlihat santai sambil menikmati minuman.
“Tenang saja.”
“Tenang bagaimana? Tatapan mereka sudah seperti mau saling lempar kursi.”
Aqila tertawa kecil. “Itu masih tahap debat. Belum tahap lempar barang.”
Vivi menatapnya tidak percaya. “Kamu santai sekali.”
“Karena aku sudah biasa lihat mereka begitu.”
“Tapi ini di kafe milikku.”
“Kalau mereka mulai saling mencakar, kita kabur ke ruang karyawan saja.”
Vivi langsung melotot. “Enak saja aku disuruh meninggalkan tempat usaha sendiri.”
Meski begitu, Aqila tetap menarik Vivi menjauh sedikit dari area depan. Mereka berdua masih mengawasi Andika dan Shinta dari kejauhan seperti sedang menonton drama favorit.
Sementara itu, di meja dekat jendela, perdebatan masih berlanjut.
“Temanmu itu terlalu memaksakan diri,” ucap Andika. “Kalau seseorang sudah tidak mau kembali, harusnya berhenti.”
Shinta menatapnya tajam. “Kamu bahkan tidak kenal temanku.”
“Aku cuma realistis.”
“Tidak. Kamu cuma takut.”
Andika tertawa kecil mendengar itu. “Takut apa?”
“Takut mencoba lagi.”
“Andai memang begitu, lalu kenapa?”
“Karena orang yang benar-benar peduli tidak akan gampang menyerah.”
Andika menatap Shinta beberapa detik cukup lama. Tatapannya perlahan berubah lebih dalam.
“Kamu tahu apa yang lucu?” ucapnya akhirnya.
“Apa?”
“Kamu bicara soal menghargai usaha.”
Shinta mengernyit bingung.
Andika tersenyum tipis, tetapi senyumnya kali ini terasa pahit.
“Padahal orang yang paling sering menyia-nyiakan usahaku itu kamu.”
Kalimat itu langsung membuat Shinta membeku.
Semua bantahan yang tadi ingin dia keluarkan mendadak hilang begitu saja.
Dadanya terasa sesak.
Dia tahu Andika benar.
Dulu Andika selalu berusaha mempertahankan hubungan mereka. Pria itu yang lebih sering mengalah, lebih sering menenangkan, dan lebih sering mencoba memperbaiki keadaan. Namun Shinta justru terlalu sibuk dengan emosinya sendiri.
Kini saat dia akhirnya ingin memperbaiki semuanya, Andika malah memilih menutup diri.
Ironis sekali.
Shinta menunduk pelan sambil menggenggam tangannya sendiri di bawah meja.
Untuk pertama kalinya malam itu, dia kehabisan kata-kata.
Andika juga tidak melanjutkan pembicaraan. Pria itu hanya meminum kopinya perlahan sambil menatap keluar jendela.
Hening mulai menyelimuti meja mereka.
Di kejauhan terdengar suara sendok dan gelas dari pengunjung lain. Musik pelan di dalam kafe justru membuat suasana terasa semakin menyakitkan bagi Shinta.
Dia mulai sadar satu hal.
Usahanya mungkin memang terlambat.
Andika bukan lagi pria yang dulu selalu menunggunya.
Sekarang pria itu terlihat sudah menutup rapat hatinya.
Shinta menghela napas pelan sebelum akhirnya berdiri dari kursinya.
“Aku pulang dulu.”
Andika menoleh singkat. “Hm.”
Tidak ada usaha menahan dirinya.
Tidak ada pertanyaan.
Tidak ada permintaan supaya dia tetap tinggal.
Dan itu lebih menyakitkan daripada pertengkaran mereka tadi.
Shinta mencoba tersenyum tipis walau terasa sulit.
“Terima kasih sudah datang.”
Andika hanya mengangguk kecil. “Hati-hati.”
Jawaban singkat itu membuat hati Shinta semakin terasa kosong.
Dia perlahan mengambil tasnya lalu berjalan meninggalkan meja.
Saat melewati meja kasir, Vivi langsung pura-pura sibuk sendiri.
“Eh… sudah selesai?” tanya Vivi canggung.
Shinta hanya tersenyum kecil. “Iya.”
Vivi memperhatikan wajah Shinta beberapa detik sebelum akhirnya menghela napas pelan dalam hati. Bahkan tanpa perlu bertanya, dia sudah tahu hasilnya tidak berjalan baik.
Shinta segera melangkah keluar dari kafe.
Malam terasa dingin ketika angin menerpa wajahnya.
Dia berhenti sejenak di depan kafe sambil menatap jalanan yang mulai ramai oleh lampu kendaraan.
Perasaannya terasa berat.
Selama ini dia berpikir masih punya kesempatan untuk memperbaiki semuanya. Namun malam ini dia mulai sadar kalau Andika mungkin benar-benar sudah lelah.
Dan untuk pertama kalinya…
Shinta merasa ingin menyerah.