NovelToon NovelToon
Saat Aku Memilih Pergi

Saat Aku Memilih Pergi

Status: sedang berlangsung
Genre:Poligami
Popularitas:6.4k
Nilai: 5
Nama Author: santi damayanti

Nadia Tujuah tahun menikah dengan Raka
mengurus Ibu mertuanya dengan baik
mengurus anak adopsi dengan baik
selalu bersabar karena dia hanyalah anak yatim piatu
Namun tepat di usia pernikahannya yang ke tujuh
Raka malam menikah lagi Dengan Ratna Sepupunya sendiri

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon santi damayanti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Menunggu suami pulang

“Nadia, suamimu selingkuh.”

Pesan itu muncul di layar ponsel tepat ketika Nadia sedang mengaduk opor ayam yang sudah tiga kali ia hangatkan.

Tangannya berhenti sesaat.

Lalu ia menggeleng pelan.

“Sindi, hentikan omong kosongmu. Rumah tanggaku baik-baik saja.”

Tanpa berpikir panjang, Nadia memblokir nomor sahabat lamanya itu.

Ponsel diselipkan kembali ke balik kerudung bergo yang dikenakannya.

“Hama pengganggu tidak boleh ada dalam rumah tanggaku,” gumamnya lirih, seolah sedang meyakinkan diri sendiri.

Pandangan Nadia beralih ke jam dinding.

Pukul sembilan malam.

Jarum jam bergerak pasti, tetapi Raka belum juga pulang.

Nadia menghela napas panjang.

Ia melangkah ke teras. Gerimis turun tipis, membasahi halaman rumah yang tampak lengang.

“Kenapa beberapa hari ini Mas Raka pulang malam terus?” bisiknya.

Tak ada jawaban selain suara air hujan.

Nadia menoleh ke kamar Nanda.

Anak kecil itu tidur dalam posisi melintang. Bantal dan guling berserakan ke mana-mana.

Senyum tipis terbit di bibir Nadia.

Dengan hati-hati, ia membetulkan posisi tidur Nanda, lalu menarik selimut hingga menutupi dada anak itu.

Jari-jari Nadia menyentuh rambut Nanda dengan lembut.

Ada rasa hangat yang selalu hadir setiap kali menatap wajah polos itu.

Terdengar batuk dari kamar ibu mertuanya.

Nadia segera menuju dapur, mengambil segelas air hangat dan obat.

Begitu masuk, ia mendapati Yuni menatapnya dengan wajah masam.

“Lama banget, sih.”

“Maaf, Bu. Tadi Nanda belum saya selimuti.”

“Sudah, sini.”

Nadia menyodorkan obat.

Namun, sebelum meminumnya, Yuni berkata dengan suara datar yang menusuk.

“Kamu tak kunjung punya anak. Tak berguna sekali.”

Kalimat itu sudah berkali-kali Nadia dengar.

Tetap saja, rasanya seperti pisau yang mengiris tempat yang sama.

“Menurut dokter, saya normal, Bu.”

Yuni mendengus.

“Jadi menurutmu Raka yang tidak normal? Kalau Raka tidak normal, tidak mungkin dia—”

Kalimat itu terputus.

Nadia mengernyit.

Namun, Yuni buru-buru menelan obat, lalu mengibaskan tangan.

“Pergilah.”

Nadia memilih diam.

Ia keluar dari kamar dengan dada yang terasa sesak.

Dulu, perempuan itulah yang paling bersemangat menjodohkannya dengan Raka.

Kini, tak pernah ada senyum hangat yang tersisa.

Di dapur, Nadia mencuci gelas bekas ibu mertuanya, lalu meletakkannya di rak.

Jam dinding kembali ia lirik.

Pukul sembilan lewat tiga puluh.

Tangannya meraih ponsel.

Ragu.

Nadia tahu, akhir-akhir ini Raka akan marah jika ia bertanya:

“Mas pulang kapan?”

“Mas di mana?”

Hal-hal sederhana yang belakangan justru sering memancing emosi suaminya.

Namun, rasa khawatir lebih besar daripada rasa takut.

Nadia menekan tombol panggil.

Ponsel Raka tidak aktif.

Dadanya semakin gelisah.

Ia kembali berdiri di teras.

Angin malam menyentuh kulitnya.

“Kalau memang tidak pulang, setidaknya beri kabar,” gumamnya. “Aku sudah memasak makanan kesukaanmu, Mas.”

Nadia hendak kembali masuk ke kamar.

Esok adalah hari yang panjang. Ia perlu beristirahat.

Baru dua langkah, suara mobil terdengar dari kejauhan.

Jantung Nadia berdebar.

Ia berbalik dan menatap ke arah gerbang.

Mobil Raka memasuki halaman rumah.

Nadia merasa lega. Seketika, seluruh kekhawatirannya luruh.

Raka sudah pulang.

Ia mengambil payung dan berlari kecil ke gerbang.

Nadia membuka gerbang rumah.

Mobil Raka masuk ke garasi.

Nadia menutup gerbang, lalu mengikuti suaminya ke teras.

Raka turun dari mobil. Wajahnya tampak lelah, tetapi matanya tetap tertuju pada layar ponsel.

Nadia berjongkok, membuka sepatu suaminya.

Tak ada sapaan.

Tak ada senyum.

Tak ada tatapan.

Seolah kehadirannya tidak berarti.

Setelah sepatu terbuka, Raka berdiri. Masih fokus pada ponselnya, ia melangkah masuk ke rumah.

“Mas, kenapa pulang malam terus?” tanya Nadia pelan.

Raka berhenti melangkah.

Ia menoleh dengan sorot mata dingin.

“Kalau suami pulang, harusnya ditanya sudah makan atau belum. Bukan diinterogasi.”

Nadia menunduk.

“Maaf, Mas.”

“Aku capek, Nadia. Jangan bebani aku dengan pertanyaan yang tidak penting.”

Sakit.

Meski sudah berulang kali mendengarnya, tetap saja terasa sakit.

“Aku hanya khawatir.”

“Aku capek!”

Suara Raka meninggi.

Nadia terdiam.

Raka berjalan menuju kamar Nanda.

Namun, begitu melihat anak itu, ekspresinya berubah.

Wajah kerasnya melunak.

Ia mencium kening Nanda, lalu mengeluarkan boneka kecil dari saku dan meletakkannya di samping bantal.

Nadia menatap pemandangan itu dengan dada menghangat.

Mungkin, pikirnya, Raka memang hanya lelah.

Raka keluar dari kamar. Wajahnya kembali dingin.

“Mas mau makan dulu atau mandi?”

Tak ada jawaban.

Ia langsung masuk ke kamar, mengganti pakaian kerja dengan kaus hitam dan celana jeans.

“Mas, baju tidur sudah aku siapkan.”

Raka justru menyemprotkan parfum.

“Mas mau ke mana lagi?”

“Meeting.”

“Jam segini?”

Tatapan Raka tajam.

“Aku manajer operasional, Nadia. Kerjaku tidak mengenal waktu.”

“Besok saja, Mas.”

“Nadia!” bentaknya. “Diam dan jangan ikut campur. Kamu tidak tahu apa-apa.”

Raka melangkah keluar.

“Mas, makan dulu.”

“Malas.”

“Kenapa?”

“Karena kamu bawel.”

“Tapi aku sudah masak makanan kesukaanmu.”

“Buang saja.”

Kalimat itu menghantam dada Nadia.

Ia bahkan tidak sanggup menjawab.

Raka menatapnya dengan kesal.

“Kalau kamu menawarkannya dari tadi, mungkin aku masih mau makan. Sekarang seleraku sudah hilang.”

Pintu terbuka.

Suara klakson terdengar.

Nadia tersentak.

Ia berlari ke teras.

“Cepat buka pintunya! Malah bengong.”

“Mas pulang lagi, kan?”

“Cepat buka!”

Suara itu membuat tangan Nadia gemetar.

Ia membuka gerbang tanpa sempat mengambil payung.

Gerimis membasahi jilbabnya.

Mobil Raka melaju menjauh.

Nadia berdiri lama di sana.

Memandangi jalan yang semakin gelap.

Setelah titik merah lampu belakang mobil itu lenyap, ia menggigit bibir.

Menahan sesuatu yang terasa perih di dada.

Di dapur, opor ayam masih mengepulkan aroma santan dan rempah.

Makanan yang dimasaknya sejak sore hanya ditatap tanpa disentuh.

Nadia duduk perlahan.

“Sebenarnya apa salahku?”

Untuk sesaat, terlintas keinginan untuk menyerah.

Namun, bayangan wajah Nanda hadir begitu saja.

Anak itu.

Alasan terbesar mengapa ia bertahan.

“Ini semua salahku,” bisiknya.

“Mas Raka bekerja keras. Aku justru curiga.”

Besok, ia berjanji pada diri sendiri, akan meminta maaf.

Nadia masuk ke kamar.

Seragam kerja Raka tergeletak di lantai.

Ia memungutnya, hendak memasukkannya ke keranjang cucian.

Seperti biasa, ia memeriksa saku satu per satu.

Tangannya menemukan dua lembar struk.

Yang pertama dari sebuah restoran.

Rp850.000.

Nadia mengerutkan dahi.

Makan malam semahal itu?

Lembar kedua membuat jantungnya nyaris berhenti.

Struk dari toko emas.

Satu set perhiasan.

Rp25.000.000.

Napas Nadia tercekat.

“Perhiasan untuk siapa?”

Matanya memanas.

Kemarin, saat Nadia meminta uang untuk study tour Nanda, Raka berkata tidak punya uang.

Jari-jari Nadia bergetar.

Pesan Sindi tiba-tiba kembali terngiang.

“Nadia, suamimu selingkuh.”

Nadia menoleh ke kalender di dinding.

13 Juni.

Dua hari lagi, hari ulang tahun pernikahan mereka.

Ia memejamkan mata.

Lalu memaksakan senyum kecil.

“Mungkin … ini kejutan untukku.”

1
falea sezi
🤣🤣 goblok aja klo. masih sayang anak haram
Anonim
Lanjut up thor seru
Anonim
Tobat lah sama kebegoan si nadia
Anonim
Yeay emang enak di jadikan pengasuh gretongan,jadi cewe ko oon sih gampang di boongin
Listiyawati Rinda
lanjut kak
Suanti
nadia prgi dri rmh tinggal gugat cerai raka
raka tak bakal setuju cerai kan kamu
nadia terlalu bego sdh tau di jdi kan keluarga toxin jdi baby sister gratis tetap mau bertahan di dlm rmh demi nanda ank selingkuh raka/ ratna 🤭
Anonim
Sumpah nadia bloon nya kebangetan thor,jangan buat perempuan jadi bodoh thor buat pinteran dikit gitu🤭
Suanti
mungkin isi flashdisk tentang ratna melahirkan nanda 🤭 ayok nadia nonton flashdisk nya biar tau apa isi nya 🤣
Inarrr Ulfah
KLO benr percuma kamu mati2an bertahan demi Nanda,,jgn bodoh nadia
Inarrr Ulfah
bukti Nanda anak nya Ratna dan Raka...
Adinda
mungkin bukti kalau nanda anaknya ratna
falea sezi
cepet urus cerai😒 jangan bego klo Nanda anak Ratna g usa di bawa ngapain ngurus anak jalang
Suanti
nadia klu mau prgi dari rmh sendri aja klu bawa nanda pasti di cari sama raka karna bawa ank nya 🤭
lLy trililly
udh nadia bruan pergi
falea sezi
🤣🤣 goblok mau pergi ya pergi cerai dlu ngapain ngajak anak angkat goblok nya🤣
Anonim
Ampun deh gemes banget sama si nadia bloon nya belum ilang,biarin aja nanda sama bapak nya biar si nanda tau beda nya ibu sama bapak kek mana kalau ngurusin anak
Adinda
tes DNA Makanya biar tau
Suanti
nadia mau prgi. prgi aja sendri ngapain bawa nanda yg ada nanti kamu di lapor kan sm keluarga toxin menculik ank 🤭
Machmudah: setuju, toh kl Nanda ditinggal sm mereka aman2 saja, mereka sayang Nanda cm caranya didiknya sj yg gak banget.....udah pergi aja Nadia lepasin aja para toxic itu
total 1 replies
siswati etty
tunggu apa lagi Nadia .....polos apa bodoh sih ....keluar rumah gak akan dianggap kalah klo kamu punya rumah sendiri dah cepet pindah dah gak diinginkan jd gk perlu maksa tinggal meski ada alasan krn Nanda
Suanti
segera keluar dri rmh nadia kalau lama2 di rmh raka yg ada kamu lihat ratna bermesraan sm raka pasti kamu sakit hati 🤭
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!