NovelToon NovelToon
Di Dua Dimensi Cinta Dan Kehidupan Realita

Di Dua Dimensi Cinta Dan Kehidupan Realita

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Dikelilingi wanita cantik / Dunia Masa Depan
Popularitas:4
Nilai: 5
Nama Author: Silviriani

Hanya anak muda yang ingin mendapatkan kebaikan dalam hidupnya, mencintai wanita tapi tak seorangpun menginginkannya. Cakka, fisik tubuhnya memanglah idaman semua kaum hawa. Namun wajahnya? terdapat bintik-bintik merah yang timbul dari kulit yang seharusnya menjadi rupa pertama dari setiap pertemuan. Selain itu, kulit wajahnya seperti lelehan plastik yang tak bisa terbentuk rapih mengikuti rahang. Buruk rupa, itu sebutan orang-orang untuk Cakka. Sejak kecil, sejak ia lahir kedunia. Hidupnya nelangsa, bukan karena wajahnya saja tapi karena ayah ibunya pergi lebih dulu darinya. Belum lagi Gempa, yang berhasil menghancurkan rumah tempat berlindungnya dan merenggut sang nenek yang mengasuhnya sejak kecil. Sedih, kesepian, dan sebatang kara. Itu yang Cakka alami ketika usianya beranjak sebelas tahun. Apakah Cakka akan berputus asa dengan hidup yang terus menerus di uji? Apakah wajah Cakka akan tetap seperti itu untuk melanjutkan hidup? Simak ceritanya Di Dua Dimensi!.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Silviriani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Setelan Jas

Cakka membuka pintu begitu kasar, sehingga tarikannya membuat benturan yang cukup keras ke tembok kamar. Cakka ingin menegur orang itu. Ingin marah karena aktivitasnya diganggu.

"Mau apa lagi sih?!"

Namun kenyataannya yang datang ke kamar Cakka bukanlah penghuni rumah BV. Tapi dia CEO, dia orang yang membawa Cakka datang ke sini. Kleo, menatap Cakka begitu tajam.

"Kamu kesal saya bangunkan?" Tanya Kleo sembari memangku kedua lengannya.

Cakka terdiam dan dia hanya bisa menggelengkan kepala, pelan.

"Mandi sekarang! Aku tunggu di bawah, yang rapih!" Ucap Kleo menyuruh Cakka untuk segera bersiap.

Entah kenapa Cakka tak bisa berbicara sepatah kata pun di depannya, tak bisa mengadu begitu saja tentang kejadian yang sudah menimpanya tadi pagi. Ia hanya menuruti perkataan bosnya itu. Melanjutkan langkah yang sempat tertunda menuju kamar mandi.

Menggosok tubuhnya menggunakan tenaga dalam, berbalut busa harum yang bisa membersihkan daki hitam di bagian tengkuk leher, siku lengan dan lutut. Peralatan mandi seperti pasta gigi, shampo, dan sabun, sudah tersedia di sana. Jadi Cakka tidak perlu merasa kerepotan harus mencari semua peralatan itu di luar. Selama ia membersihkan diri hatinya tak bisa berhenti berdebar, cepat dan gelisah.

Ada apa ya hari ini?

Terdiam sejenak sembari menatap lantai yang perlahan busanya meluruh ke arah lubang pembuangan air.

Aulia! Iya! Aku harus tanya Aulia!.

Cakka menyelesaikan mandinya, meraih handuk dan menutupi sebagian tubuhnya dari pinggang hingga ke lutut. Sedikit tergesa Cakka keluar kamar mandi sembari memanggil nama perempuan yang selalu berusaha menyelamatkannya, dalam hal apapun.

"Aulia! Aulia! Aulia!"

Tubuhnya berputar, mencari sosok yang sekarang tiba-tiba menghilang begitu saja dikamarnya.

"Aulia!" Lagi Cakka memanggilnya.

Namun yang muncul bukan Aulia! Melainkan bosnya, Kleo. Tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu, Kleo membuka pintu kamar Cakka.

Crak!!!!

"Siapa Aulia? Kamu bawa perempuan ke sini?"

Lagi-lagi Cakka hanya diam, ia baru menyadari bahwa suaranya bisa membuat orang lain curiga akan kehadiran Aulia yang tidak bisa dilihat oleh sembarang orang. Cakka berusaha mencari alibi. Tapi, semua terasa buntu.

Kleo melangkah, menuju Cakka. Kini tepat dia berada di hadapan pria muda yang baru saja ditolongnya, Kleo memberi pesan atau sebuah peringatan.

"Belum juga debut tapi kamu sudah berani membawa perempuan ke sini. Cakka, fans kamu itu rata-rata nanti akan perempuan. Mereka akan memperhatikan kamu, dari gerak-gerik dan penampilan. Jangan sampai mereka mendengar nama perempuan yang begitu spesial di pikiran kamu!"

Cakka hanya bisa menghela nafas dan mengangguk patuh.

"Mana perempuan itu? Suruh keluar sekarang! Jangan sembunyi!"

Dengan suara lirih Cakka berkata, "Sepertinya dia pergi pak." Kleo menghela nafas dan menggaruk kepalanya yang tak gatal "Kalau ada apa-apa saya tidak mau bertanggung jawab! Orang lain tidak boleh tahu kalau kamu ada disini! Fans kamu pastinya akan ada yang fanatik, tidak menutup kemungkinan mereka bisa menyebarkan alamat rumah kamu, lalu mengganggu mu secara terang-terangan!"

"Ya pak, maaf"

Mendengus kesal dan marah, namun untungnya masih tertahan. Kleo tidak meledak-ledak. Ia memanggil ajudannya. Bernama Rendi.

"Ren! Bawakan baju Cakka!"

Dari bawah sana terdengar sahutan dari sang ajudan "Baik bos!" Tak lama setelah itu, baju yang diperuntukkan untuk Cakka, datang. Setelan jas berwarna biru dongker. Ajudan itu menyimpannya tepat di atas kasur.

"Semuanya sudah lengkap, tinggal dipakai bos!"

Kleo mengangguk tegas, perlahan pandangannya kembali pada Cakka yang berdiri namun bahunya sedikit bungkuk. Menghargai sang CEO dan agak sedikit takut.

"Pakai baju itu! Urusan make up nanti di studio" ucap Cleo.

Tubuh tambun sedikit pendek itu meninggalkan Cakka untuk berganti pakaian, pun dengan sang ajudan. Ia mengikuti langkah bosnya. Ditutup pintu kamar rapat. Cakka langsung menyambar setelan jas yang sudah disediakan, dengan gerakan cepat ia pakai, sesekali ia rapihkan agar tak ada lipatan ganda atau tampilan yang kurang memuaskan.

Setelah selesai, Cakka turun dari kamarnya. Nampak dibawah sana semua sudah berkumpul, mengenakan setelan jas juga, namun warna yang berbeda.

Tak! Tak! Tak!

Suara kaki Cakka begitu terdengar renyah saat menuruni anak tangga dan itu yang membuat semua orang tertuju padanya, termasuk Obit dan ozy.

Nafas terengah-engah, permohonan maaf pun Cakka sampaikan "Maaf menunggu lama" Kleo menaikan kedua alisnya. Dia melihat setelan jas itu begitu cocok ditubuh Cakka.

"It's okay! Lain kali kalau pakai baju satu menit harus sudah selesai, ya!"

"Baiklah, semuanya. Sudah lengkap? Tidak ada yang tertinggal kan?" Tanya Kleo pada anak-anak penghuni rumah Bv.

Pun mereka serempak saling tengok dan menggelengkan kepala.

"Ok! Jadi hari ini kalian akan ada sesi pemotretan! Baju yang kalian kenakan akan masuk kedalam gambar yang beresolusi tinggi. Usahakan harus bersih sampai selesai pemotretan, kalau ada yang tercoreng entah itu karena minyak atau yang lainnya. Saya tidak akan segan-segan menjadikannya hutang! Mengerti?"

"Mengerti!" Jawab mereka, kompak.

"Ya sudah, tunggu apalagi. Kita naik ke mobil" ucap sang CEO pada mereka yang akan menjadi artis.

Cakka, Ozy, Obit, Debo, Alvin, Gabriel, Deda, Agil, dan Rio. Berjalan pelan dibelakang sang bos. Mereka mengikuti arahan ajudan untuk menaiki mobil yang sudah terparkir didepan rumah BV.

mobil itu berukuran hitam dan besar. Kapasitas enam belas orang. Belum lagi perlengkapan lain seperti sepatu cadangan dan kemeja putih yang menggantung, untuk siapa saja yang membutuhkan.

Satu persatu masuk dan yang terakhir naik, Cakka. Dia duduk paling belakang. Sebenarnya Cakka tidak mempermasalahkan hal itu hanya saja ia merasa ada ketidak harmonisan dan saling di antara mereka. Terbilang cuek dan masih mempertahankan egonya masing-masing.

Mobil pun melaju begitu cepat namun tenang, perjalanannya cukup jauh dan sedikit memakan waktu. Cakka melihat pemandangan yang begitu indah di sepanjang jalan, ia terkagum dengan pepohonan yang berjajar rapi di trotoar.

"Kalau di Katumbiri.. pasti pohonnya sudah ditebang" gumam Cakka yang ternyata terdengar oleh Alvin "Kenapa ditebang? Pohon kan sumber udara baik" Cakka tersenyum ternyata ada orang yang mengajaknya bicara setelah kejadian tadi pagi. Pun ia sedikit membungkukkan punggungnya agar suaranya lebih terdengar oleh Alvin.

"Katanya... pohon yang berumur namun pendek tubuhnya itu bisa mendatangkan bala, makanya di desaku, pohon yang tingginya segitu ditebang" tutur Cakka.

"Heuh! Orang kampung kebanyakan mitos!" Ketus Alvin.

"Maklum sekolahnya juga nggak sampai SMA!" Gabriel.

Seketika orang-orang yang ada di dalam mobil tertawa ringan namun tidak dengan Cakka. Ia tersinggung dan kembali duduk menyandarkan bahunya ke punggung kursi.

Tahu begitu ngapain aku jelasin!

Membuang tatapannya ke jalanan lagi, sembari sesekali meremas jari-jarinya karena ada rasa gugup yang datang melanda hati Cakka. Tiba-tiba di tengah perjalanan Obit meminta izin untuk berhenti sejenak.

"Izin mau buang air sebentar!" Ucap obit pada ajudan.

Mendengar hal itu tentunya diizinkan, dan mobil yang akan menuju studio harus terparkir di sebuah minimarket. Sepuluh menit menunggu akhirnya Obit datang juga. Ternyata ia membawa sebuah spidol berwarna putih permanen. Dan secara tiba-tiba Obit bertukar duduk dengan Alvin.

Sebenarnya Cakka memiliki firasat buruk tentang Obit, namun ia buang jauh-jauh pikiran jelek itu.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!