Pulang dari rumah sakit sehabis melahirkan, Alena di kejutkan sebuah Lingerie Merah yang tergeletak di atas ranjang adiknya. Alena terkejut bukan tanpa alasan. Sementara Tiyas - adiknya itu masih lajang. Lalu, Tiyas gunakan untuk apa pakaian vulgar itu.
Setelah Alena menyelidiki, ternyata Lingerie itu Tiyas gunakan untuk memuaskan....????
Tak hanya hati Alena yang hancur. Masa depan putranya juga ikut terpatah. Di tengah himpitan masalah ekonomi, datanglah sosok Juragan cukup matang bernama~Danu Albiru. Pria berusia 38 tahun itu tidak hanya menawarkan pernikahan KONTRAK. Tapi membantu Alena bangkit, menjamin masa depan putranya.
Akankah Alena tetap mempertahankan pernikahannya dengan Dewantara? Ataukan bersedia cerai, dan memilih tawaran menggiurkan Juragan Danu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Septi.sari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 13
Dewan sudah menghempaskan tangan Tiyas. Pria itu membalikan badan, namun dalam hitungan detik itu tangisan Putranya berhenti. Di dalam, Alena lansung menyusuinya.
"Mas... Apa lagi? Delan udah nggak nangis! Ayo pulang!" Tiyas kembali menarik lengan Iparnya, hingga langkah Dewan hanya mengikuti saja.
Mobil Dewan sudah melaju kembali. Keduanya saling diam, wajah Tiyas sejak tadi menahan resah.
"Mas... Gimana kalau Pabrikmu sampai di sita? Kamu emangnya masih punya tabungan lagi buat hidup kita?"
"Uangku sudah habis di tangan kamu, Tiyas! Sekarang aku nggak mau tahu... Kamu harus jual rumah yang aku belikan di Semarang waktu lalu!" Dewan menoleh sekilas. Tatapanya lurus sangat kuat.
Tiyas tak terima. Ia bahkan sampai menyerongkan duduknya. "Nggak, Mas! Itu rumahku satu-satunya. Bagaimana kalau kita punya anak? Lebih baik kamu ikhlaskan pabrikmu itu, Mas! Toh... Mbak Alena juga sudah nggak mau sama kamu-"
"DIAM!" Sentak Dewan hingga Tiyas melonjak kaget. "Aku punya Putra dengan Alena. Dan pernikahan kita SAH secara hukum dan agama."
Tiyas mendesah kasar, melipat kedua tanganya di dada, lalu menatap lurus ke depan.
"Lalu, kamu pikir dengan kamu minta sertifikat itu Mbak Alena akan kasih? Nggak akan, Mas! Lebih baik kita pindah saja ke Semarang. Biarkan Pabrikmu di sita," kesalnya.
Pikiran Dewan seolah buntu. Rasanya terlalu panas hanya untuk berpikir saja.
****
Pagi itu, kebetulan Delan sudah terlelap. Alena tak dapat diam, bagaimana nasib Pabriknya dan para pekerja setelah masalah itu. Setelah menitipkan sang Putra pada pengasuhnya, Alena bergegas mengganti pakaiannya.
Ia yang biasanya hanya di rumah duduk manis menggunakan daster. Kini berdiri di depan kaca dengan penampilan barunya.
Kaos panjang, di padukan celana kain hitam. Alena memakai topi sebagai pelindung kepalanya dari terik matahari. Dengan tekad dan upayanya, ia harus mengambil alih kepemimpinan suaminya. Biarkan saja pria itu dengan dunia gundiknya.
"Mbak, mau saya antarkan?" Mukti sudah keluar dari gudang samping rumah. kini menurunkan standar motor matic yang akan Majikannya gunakan.
Alena menolak, "Nggak usah! Kamu datain saja barang yang mau di kirim nanti. Saya hanya cek Pabrik bentar kok."
Selepas itu, Alena langsung melajukan kembali motornya. Meskipun tubuhnya belum pulih sepenuhnya. Dan sisa jahitan masih terasa linu. Namun apa boleh buat, semua tuntutan akan ia jalani dengan ikhlas.
"Ya Allah, Non...." Mbok Minah keluar dengan tergopoh-gopoh. Tanganya masih melambai-lampai ke depan. Sementara Mukti menoleh. "Mukti... Non Alena belum pulih, kenapa di biarkan naik motor sendiri?! Habis melahirkan aja belum ada 2 minggu."
Mukti menimpali, baru ingat juga. "Iya, Mbok... Tadi sudah mau tak anterin tapi Non Lena nggak mau."
Mbok Minah hanya mampu mengurut dadanya. Sebagai sesama wanita, ia tahu betul apa yang di rasakan Majikannya itu. "Kasian kamu, Non...."
Di jalan, ternyata sejak tadi ada sebuah mobil jeep yang kini mengikuti laju motor Alena sampai pabrik. Pria itu tampak antusias, dan lebih memilih meparkirkan mobilnya di sebrang jalan dekat pohon besar.
Di ujung desa itu, terdapat pabrik cengkeh berdiri sangat megah. Sekililing Pabrik itu di tanami hektaran pohon cengkeh milik Dewantara. Namun sayangnya, Pabrik dan lahan itu sedang berada di ujung tanduk kepemilikan.
Beberapa pekerja memiliki tugas masing-masing. Sebagian wanita dan pria berada di dalam Pabrik untuk mengolah hasil kebun itu. Ada juga Ibu-ibu yang berada di luar tengah memanen cengkeh yang sudah masak.
"Saya denger-denger dari warga, Juragan itu lagi pergi dari rumah, Yem," gumam Ibu-Ibu sambil memetik beberapa cengkeh di depanya.
Ibu-Ibu yang membawa timba kecil itu menyahut. Bahkan sampai menghentikan aktivitasnya. "Oh, pantas sudah beberapa hari nggak ke Pabrik. Emangnya pergi kenana sih?"
"Ada yang lihat, Juragan itu ada main sama Iparnya. Adiknya Mbak Lena sendiri. Kasihan saya," balasnya.
Ibu-Ibu tadi sampai mengutut dadanya, "Ya Allah... Tega bener itu adiknya."
Baru akan masuk, langkah Alena menggantung di dekat gerbang. Kedua pekerjanya itu memanen cengkeh yang berada di sekitar pagar pabrik. Jadi ucapan mereka dapat Alena dengar dengan rinci.
Tersadar ada seseorang, pekerja tadi menoleh. Cukup syok.
"Ada Mbak Lena," bisik Ibu-ibu memakai caping. "Eh, Mbak Lena... Sudah ke Pabrik?"
Alena mencoba tersenyum, meskipun rasanya menyakitkan. Ternyata, perselingkuhan Suami dan Adiknya sudah banyak di kecam para warga desa.
"Mari, Bu... Saya masuk dulu," pamit Alena. Baru akan melangkah lagi, tiba-tiba dari belakang ada suara seseorang memekik kencang.
"Juragan... Ada ulerrrr!!!!" Pekik anak buah Danu yang tadi bersandar pada pohon.
Pria muda itu sampai melonjak kaget, berusaha mengusap pakaiannya, memastikan ular tadi tidak merambat di badannya.
Danu yang sejak tadi fokus menatap Alena, kini meraup wajah frustasi karena ulah Anak buahnya. Sementara itu Alena menoleh, matanya memicing.
"Fadliiii... Kamu brisik banget! Saya jadi ketahuan," tekannya sambil menatap belakang.
Namun di saat ia menoleh,
Deg!
Alena sudah ada di depanya, tengah menyipitkan mata sambil bersedekap dada. "Pak Danu mau ngapain? Mau jadi penguntit? Atau...." Alena memajukan badanya sedikit. "Mau kepoin saya?!"
Danu menelan ludahnya kasar. Reflek kakinya mundur secara kaku. Di tatap sangat dekat, tiba-tiba jantungnya berpacu sangat kuat. Tanpa sadar, kedua tangan pria dewasa itu memegang dadanya.
Lalu, tak lama itu Danu berdehem kecil.
"Ehem! Kamu itu nggak usah ke ge'eran ya! Siapa yang kepoin kamu. Memangnya hanya kamu wanita tercantik se Gunung Kidul?" Cibirnya berwajahkan angkuh.
Alena juga tak kalah mengecam. "Lalu... Kalau nggak ngepoin saya? Pak Danu mau ngapain ke sini?"
Mendadak saja isi kepala Danu tak bekerja. Apalagi di bawah terik matahari yang mulai naik, siluetnya terpancar menusuk wajah Alena. Paras ayu itu semakin bersinar. Di tambah semilir angin yang membawa terbang anak rambutnya. Danu hampir saja kegilangan konsentrasinya.
"Saya... Saya ya, ya biasa lah, survei pabrik ini. Kamu jangan berlagak lupa. Sebentar lagi Pabrik ini akan berpindah ke tangan saya!" tekannya.
Sejenak, Alena bergeming. Wajahnya berubah datar. Lalu memalingkan wajahnya sambil membuang napas.
"Satu lagi, Alena... Sertifikat Pabrikmu ini... Sudah lama juga Juragan gadaikan pada saya. Atau begini saja... Saya memiliki tawaran menarik bagi kamu," Danu menaikan sebelah alisnya.
Alena kali ini menatap dengan serius. "Katakan apa?"
"Saya akan mengembalikan Sertifikat Pabrikmu, dan menganggap semua dana saham dan hutang-hutang suamimu lunas, jika kamu bersedia....."
Danu menjeda kalimatnya sejenak. Pria matang 38 tahun itu menatap kedua irish mata Alena tak berkedip.
"Bersedia apa? Bisa nggak sih, nggak usah belibet?!" kecam Alena.
"Galak banget!" cibir Danu, namun cukup pelan. "Bersedia... Menjadi Istri kontrak saya. Bagaimana?"
emang mulutnya lemes banget
maka kamu harus melepaskan alena
aku bingung mau komen apa tentang Fauzan ini🤔🤔
jangan kecewakan perempuan lain,,
jika dihatimu masih ada Alena
maka buang jauh jauh yaa