NovelToon NovelToon
Tirai Sutra Tuan Muda Cang

Tirai Sutra Tuan Muda Cang

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Fantasi / Kultivasi
Popularitas:445
Nilai: 5
Nama Author: 𝐍𝐞𝐳𝐮𝐤𝐨 i

Klan Jenderal Cang yang agung berdiri di ujung jurang kehancuran. Titah rahasia Kaisar Yan telah turun, mengincar nyawa setiap anggota keluarga yang memegang kendali militer. Sebagai pewaris tunggal, Cang Qixuan memilih jalan yang paling dibenci dunia demi menyelamatkan klannya: menjadi sampah. Ia menenggelamkan diri dalam lautan arak, judi, dan wanita, menghamburkan emas kekaisaran seolah debu. Di balik cemoohan rakyat dan tawa meremehkan musuh-musuhnya, Qixuan merajut Jaring Bayangan. Setiap keping emas yang ia lempar di rumah bordil adalah investasi intelijen; setiap aib yang ia ciptakan adalah perisai pelindung. Berawal dari kultivasi yang hancur, ia memanjat kembali dari dasar jurang kekuasaan, menelan penghinaan untuk kelak menelan seluruh Kekaisaran Yan.


Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon 𝐍𝐞𝐳𝐮𝐤𝐨 i, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

bab 31 aset beracun dari benua Timur dan utusan cawan kekosongan

Lautan Awan Spiritual yang memisahkan Benua Tengah dengan wilayah luar biasanya dipenuhi oleh badai spasial yang sanggup mengoyak jiwa. Namun hari ini, tiga sosok berjubah putih dengan sulaman benang emas berbentuk timbangan surgawi melesat menembus badai tersebut seolah sedang berjalan di atas karpet sutra.

Mereka adalah Tiga Utusan Pajak Surgawi (Heavenly Tax Envoys) dari Sekte Titah Langit. Ketiganya berada di tahap puncak ranah *Jiwa Baru (Nascent Soul)*, dan pemimpin mereka, seorang pria paruh baya bernama Ling Feng, telah setengah langkah menginjak ranah *Domain Bumi*.

Tugas Utusan Pajak Surgawi sangatlah sakral di Benua Tengah. Mereka tidak diutus untuk bertarung dalam duel hidup dan mati. Mereka diutus untuk memberikan hukuman mutlak berupa perampasan fondasi.

Di tangan Ling Feng, melayang sebuah artefak kuno berbentuk cangkir perunggu yang permukaannya dipenuhi ukiran iblis menelan matahari. Artefak itu adalah *Cawan Kekosongan (Void Chalice)*. Benda pusaka kelas Kaisar yang memiliki satu hukum alam absolut: Menghisap dan menelan segala bentuk energi murni, batu spiritual, dan urat bumi dalam radius ratusan kilometer, lalu menyimpannya di dalam dimensi hampa yang mustahil dihancurkan dari luar.

"Udara di luar Benua Tengah benar-benar menjijikkan," keluh Utusan Yun Qi, mengibaskan debu awan dari lengan bajunya dengan wajah penuh kejijikan. "Qi alam di sini begitu tipis hingga membuat meridianku gatal. Membayangkan kita harus turun ke daratan Benua Timur yang seperti selokan berlumpur ini benar-benar merendahkan martabat kita."

"Tahan keluhanmu, Yun Qi," sahut Ling Feng datar, matanya menatap lurus ke arah cakrawala di mana benua fana berada. "Kaisar Surgawi Taiyi memberikan titah yang sangat jelas. Pemuda bernama Cang Qixuan itu mengandalkan kekayaan ekstrem untuk meruntuhkan Guntur Suci dan mengalahkan Jenderal Huangpu Ye. Kita akan menggunakan Cawan Kekosongan ini untuk menghisap habis seluruh urat bumi di bawah kotanya, menyedot setiap butir batu spiritual di perbendaharaannya, lalu membiarkan lintah darat itu menangis darah karena jatuh miskin dalam semalam."

Utusan ketiga, Zhao Hai, tertawa sinis. "Menghukum pedagang sombong dengan kemiskinan absolut jauh lebih menyiksa daripada memenggal kepalanya. Aku tidak sabar melihat wajah angkuhnya hancur saat seluruh emas dan batu spiritualnya terbang masuk ke dalam cawan ini."

Ketiga utusan itu mempercepat laju mereka. Dalam waktu kurang dari setengah hari, mereka telah menembus batas atmosfer Benua Timur, langsung menuju jantung kekuasaan baru dunia bawah: Ibukota Jinling.

Namun, ketika mereka tiba di atas langit ibukota, pemandangan yang tersaji di bawah mereka membuat ketiga utusan itu mengernyitkan dahi.

Ibukota Jinling tidak terlihat seperti kota fana yang miskin. Tembok baja spiritual yang mengelilingi kota memancarkan cahaya hitam yang kokoh. Di pusat kota, Menara Teratai Emas menjulang menembus awan dengan kemegahan yang menyaingi istana-istana di Benua Tengah. Yang lebih mengejutkan lagi, *Formasi Tirai Sutra Emas* yang biasanya melindungi kota itu dari serangan udara... terbuka lebar.

Tidak ada perisai. Tidak ada pasukan naga bersayap yang mencegat mereka. Ratusan armada kapal terbang yang ditakuti itu tampak terparkir rapi di pangkalan barat, mesin-mesinnya mati seolah sedang berlibur. Kota itu benar-benar membiarkan langitnya terbuka, seakan mengundang tamu dari atas untuk masuk tanpa halangan.

"Apakah mereka menyadari kedatangan kita dan menyerah sebelum bertarung?" gumam Yun Qi dengan senyum meremehkan. "Tampaknya bocah itu tahu bahwa melawan Sekte Titah Langit adalah usaha yang sia-sia."

"Jangan lengah," peringat Ling Feng, matanya memicing menatap Menara Teratai Emas. "Mungkin ini jebakan formasi ilusi. Tapi apa pun itu, Cawan Kekosongan tidak peduli pada jebakan fisik atau magis. Ia menelan segalanya secara absolut. Kita mulai dari atas menara itu. Titik pusat berkumpulnya energi spiritual kota ini."

Ketiga utusan itu melayang turun, berhenti tepat di atas ketinggian lima ratus meter dari puncak Menara Teratai Emas.

Ling Feng mengangkat Cawan Kekosongan tinggi-tinggi. Ia dan kedua rekannya serentak mengalirkan qi *Jiwa Baru* mereka ke dalam artefak kuno tersebut.

*WUUUSSSSH!*

Seketika, angin puyuh spiritual meledak dari dalam cangkir perunggu itu. Langit siang di atas Jinling mendadak mendung, tersapu oleh pusaran gravitasi penyedot yang sangat mengerikan. Pusaran itu tidak menghisap udara atau benda fisik seperti batu dan kayu, melainkan secara spesifik menargetkan entitas spiritual murni: qi alam, batu spiritual, emas, dan inti urat bumi.

Pemandangan yang memukau sekaligus menakutkan terjadi. Dari dalam tanah ibukota, dari brankas-brankas Kamar Dagang Katak Emas, dan dari ruang bawah tanah Menara Teratai Emas, ribuan hingga jutaan batu spiritual tingkat atas melesat menembus atap bangunan! Batu-batu bercahaya itu terbang ke udara layaknya sungai bintang yang mengalir terbalik menuju langit, tersedot langsung ke dalam mulut Cawan Kekosongan.

"Hahahaha! Lihatlah kekayaan kotor ini!" Zhao Hai tertawa terbahak-bahak melihat jutaan batu spiritual mengalir tanpa henti ke dalam pusaran artefak mereka. "Banyak sekali! Pantas saja dia bisa membeli pasukan bayaran di Benua Atas! Tapi sekarang, semua ini adalah milik perbendaharaan Titah Langit!"

"Tarik fondasi kotanya! Sedot *Inti Urat Bumi Tingkat Surga* miliknya!" perintah Ling Feng dengan mata menyala penuh keserakahan.

Daya hisap Cawan Kekosongan dilipatgandakan. Tanah Jinling sedikit bergetar. Sebuah pilar cahaya energi bumi yang sangat pekat mulai tertarik ke atas dari dasar menara, mengalir perlahan menuju cawan. Itu adalah nyawa spiritual ibukota. Jika inti itu tersedot habis, Jinling akan berubah menjadi gurun pasir mati yang tak bisa ditumbuhi rumput sekalipun.

Di balkon puncak menara, Cang Qixuan duduk dengan sebelah kaki bersilang di atas lutut yang lain. Ia memegang sebuah cangkir teh pualam, dengan santai membiarkan teh di dalamnya beriak pelan akibat resonansi gravitasi dari langit.

Putri Yan Ling berdiri di belakangnya, menatap nanar sungai batu spiritual yang beterbangan dari perbendaharaan bawah tanah mereka menuju langit. Jantungnya berdetak kencang, nyaris melompat dari dadanya.

"T-Tuanku!" Yan Ling memekik tertahan. "Itu adalah artefak penyedot mutlak! Mereka menjarah brankas utama kita! Jutaan batu spiritual yang kita kumpulkan dari Benua Atas sedang dihisap habis! Mengapa Anda mematikan perisainya dan membiarkan mereka melakukannya?!"

Qixuan menyesap tehnya, wajahnya menunjukkan ketenangan yang membuat orang normal bisa gila melihatnya. Ia mendesah pelan, menikmati aroma daun teh musim semi.

"Yan Ling, tenanglah. Kepanikanmu merusak pemandangan liburanku," tegur Qixuan lembut. "Berapa kali aku harus mengajarimu tentang prinsip dasar ekonomi perbankan? Apa yang terjadi jika seseorang menyerap sejumlah besar aset dari entitas asing tanpa memeriksa kualitas aset tersebut terlebih dahulu?"

Yan Ling tertegun, otaknya yang brilian di bidang birokrasi tiba-tiba menangkap arah pembicaraan majikannya yang selalu tidak lazim. "Mereka... mereka mengambil alih aset tanpa proses audit?"

"Tepat," Qixuan menyeringai, matanya memancarkan kilatan predator yang sedang melihat mangsanya masuk ke dalam kandang baja. "Dalam dunia fana, itu disebut menerima 'Aset Beracun' (*Toxic Asset*). Di dunia kultivasi, itu disebut bunuh diri massal yang sangat mewah."

Qixuan meletakkan cangkir tehnya, lalu perlahan bangkit berdiri. Jubah sutra hitamnya berdesir ditiup angin pusaran.

Ia tidak repot-repot berteriak. Ia menggunakan *Koin Timbangan Surga* yang tersimpan di dalam bajunya sebagai medium untuk menyalurkan perintah spiritualnya.

Di angkasa, Ling Feng yang sedang memegang Cawan Kekosongan merasa sangat puas. Sudah lebih dari dua ratus juta batu spiritual yang masuk ke dalam dimensi hampa cawan tersebut. Cawan yang biasanya memancarkan cahaya perunggu kini berdenyut terang benderang akibat kelebihan muatan energi positif.

"Bocah itu bahkan tidak berani keluar untuk melawan kita!" ejek Yun Qi, melihat Qixuan yang hanya berdiri di balkon. "Dia pasti menangis melihat gunung uangnya pindah ke tangan kita. Mari kita hisap habis urat buminya sekarang!"

Namun, tepat ketika pilar energi urat bumi hendak menyentuh bibir Cawan Kekosongan, sesuatu yang sangat aneh terjadi.

Jutaan batu spiritual bercahaya cerah yang telah masuk dan berkumpul di dalam Cawan Kekosongan... mendadak berubah warna. Cahaya suci dan murni dari batu-batu itu memudar dalam sepersekian detik, digantikan oleh warna hitam pekat yang mengeluarkan hawa dingin sedingin neraka lapisan terdalam.

"A-Apa ini?!" Ling Feng tersentak kaget, tangannya yang memegang dasar cawan mendadak membeku. Lapisan es hitam menjalar dengan kecepatan gila dari cawan tersebut, merambat menutupi lengan jubahnya.

Batu-batu spiritual yang mereka hisap bukanlah batu spiritual murni. Qixuan telah menggunakan hukum pertukaran dari *Koin Timbangan Surga* sejak berhari-hari yang lalu untuk merendam sebagian besar cadangan perbendaharaannya dengan *Air Kegelapan (Yin)* purba dari dalam Dantiannya, serta racun *Embun Pemutus Dao* racikan Gu Lie.

Qixuan telah memalsukan neraca keuangannya. Ia dengan sengaja membiarkan musuhnya menghisap ratusan juta aset beracun yang mematikan ke dalam pusaka terkuat mereka!

"Cawan Kekosongan adalah artefak yang menampung energi," suara Qixuan menggema di udara, tenang, jernih, dan penuh dengan aura dominasi yang absolut. "Namun, cangkir sebaik apa pun akan pecah jika kau menuangkan lahar dan racun dingin ke dalamnya secara bersamaan. Kau datang ke rumahku untuk mencuri, Kakek-kakek Tua? Aku baru saja mentransfer seluruh utang energi negaraku langsung ke tenggorokan kalian."

Di dalam Cawan Kekosongan, dua ratus juta batu spiritual yang telah terkontaminasi energi Yin purba meledak secara internal. Ruang dimensi hampa di dalam cawan itu tidak sanggup menahan anomali elemen yang menolak untuk diseimbangkan.

*KRAAAK... PRANGGGG!*

Artefak kelas Kaisar yang tidak bisa dihancurkan dari luar itu hancur berkeping-keping dari dalam.

Ledakan balik (*backlash*) energi yang sangat dahsyat menyapu ketiga Utusan Pajak tersebut dari jarak nol sentimeter. Karena mereka sedang menghubungkan qi *Jiwa Baru* mereka pada cawan tersebut, ledakan Yin purba itu langsung memukul mundur (rebound) menghantam Dantian mereka.

"AAARRRGGGHHH!"

Ling Feng, Yun Qi, dan Zhao Hai menjerit melengking. Energi Yin yang luar biasa ekstrem membekukan meridian utama mereka, sementara racun Pemutus Dao mencairkan fondasi qi mereka. Tubuh mereka yang sedetik lalu melayang dengan penuh kesombongan surgawi kini lumpuh total, jatuh berhamburan dari langit ibukota layaknya tiga ekor burung gagak yang tersambar petir.

*Bruk! Bruk! Bruk!*

Ketiga ahli puncak *Jiwa Baru* itu jatuh berdebum ke pelataran balkon Menara Teratai Emas, tepat di depan ujung sepatu bot zamrud Cang Qixuan. Tulang-tulang mereka patah akibat benturan fana karena qi pelindung mereka telah mati total. Darah berwarna kehitaman keluar dari mulut, hidung, dan mata mereka.

Dari atas langit, sisa-sisa batu spiritual yang telah dinetralkan racunnya oleh ledakan tadi jatuh kembali layaknya hujan komet kecil, menghujani ibukota Jinling dengan rintik-rintik harta yang langsung dipungut kembali oleh formasi pengumpul milik menara. Tidak ada satu keping koin pun yang terbuang percuma.

Qixuan memandang ketiga utusan yang sedang mengerang sekarat di kakinya dengan tatapan belas kasihan yang sangat palsu. Ia berjongkok perlahan, membuka kipas gioknya dan mengipas-ngipas wajah Ling Feng yang sudah sebiru mayat.

"Pelajaran pertama dalam bisnis perbankan, Utusan," Qixuan berbisik dingin, sementara *Inti Emas Kegelapan*-nya mulai berputar, mengunci ruang di sekitar mereka agar ketiga jiwa itu tidak bisa melakukan evakuasi proyeksi. "Selalu lakukan audit internal sebelum kalian melakukan *hostile takeover*. Kalian menyedot asetku tanpa melihat neraca racun yang kusisipkan di dalamnya. Keserakahan yang bodoh membuat kalian menelan pisau yang disembunyikan di dalam roti."

"I-Iblis..." rintih Ling Feng, giginya bergemeretak menahan hawa dingin yang merobek jiwanya. "Kaisar Surgawi... tidak akan... melepaskanmu... Kami adalah utusan resmi surga..."

"Surga kalian memiliki tingkat inflasi kesombongan yang terlalu tinggi," Qixuan mendesah. "Tapi jangan khawatir. Aku tidak akan membunuh kalian begitu saja. Dantian tingkat puncak *Jiwa Baru* kalian memiliki energi yang sangat berkualitas. Pabrik meriamku di bawah tanah sedang membutuhkan 'baterai organik' tambahan untuk menjaga stabilitas pendinginan laras. Kalian bertiga akan menghabiskan seribu tahun ke depan dengan diikat di depan tungku pandai besiku, diperas qi-nya setiap hari hingga jiwa kalian mengering menjadi ampas."

Mata Zhao Hai dan Yun Qi membelalak penuh horor absolut. Disedot sebagai baterai hidup?! Ini jauh lebih mengerikan daripada kutukan penyiksaan neraka mana pun!

Qixuan menjentikkan jarinya.

"Leng Yue, bawa sampah-sampah ini ke bengkel bawah tanah. Serahkan pada Hong Lian. Beritahu dia bahwa aku baru saja mendapatkan tiga sistem pendingin ruangan gratis."

Dari balik bayangan, Leng Yue muncul. Zirah peraknya bergemerincing. Ia tidak menahan kekagumannya melihat bagaimana majikannya mengalahkan tiga ahli puncak dewa tanpa perlu mengangkat satu jari pun. "Sesuai perintah, Tuanku!" Leng Yue menarik rantai pengikat yang terbuat dari es spiritual, melilit leher ketiga utusan tersebut seperti anjing, lalu menyeret mereka pergi.

Yan Ling melangkah mendekat, matanya menatap hujan batu spiritual yang kembali tersusun rapi masuk ke dalam brankas menara secara magis.

"Taktik yang luar biasa mengerikan, Tuanku," bisik Yan Ling, masih berusaha menenangkan detak jantungnya. "Namun, dengan hancurnya utusan ini, Kaisar Surgawi Taiyi pasti akan mengetahui bahwa kita melawan balik secara langsung. Tidak akan ada lagi utusan yang datang. Yang datang selanjutnya adalah invasi penuh dari seluruh elit Sekte Titah Langit."

Qixuan bangkit berdiri, berjalan ke tepi balkon. Ia menatap horizon luas di mana matahari sore perlahan tenggelam, mewarnai langit dengan warna merah saga yang menyerupai lautan darah.

"Biarkan mereka datang, atau lebih baik, kita yang datang kepada mereka," Qixuan tersenyum miring. "Waktu bermain petak umpet telah usai, Yan Ling. Benua Tengah telah kehilangan jenderalnya, naga-naganya, dan utusannya. Mata uang kita telah mencekik leher sekte-sekte bawahannya. Fondasi mereka mulai lapuk dari dalam."

Qixuan merapatkan mantel sutranya. "Mari kita periksa perkembangan 'mesin kiamat' kita di bawah. Aku ingin melihat apakah dewa perang bermata tiga itu sudah sepenuhnya dilebur."

Seribu meter di bawah Menara Teratai Emas, suhu di dalam Ruang Tempa Bawah Tanah telah melampaui batas kewajaran ruang dimensi. Jika bukan karena lapisan array (formasi) penahan panas kelas Surga yang dipasang berlapis-lapis, tanah ibukota di atasnya pasti sudah meleleh menjadi padang lava.

Di pusat bengkel industri neraka tersebut, sebuah kuali peleburan berukuran raksasa setinggi gedung lima lantai berdiri kokoh. Kuali itu ditempa menggunakan tulang naga bumi yang dicampur dengan meteorit es, satu-satunya wadah yang bisa menahan panas absolut yang sedang digodok di dalamnya.

Di dalam kuali itu, patung emas raksasa—yang berasal dari serangan pamungkas Jenderal Huangpu Ye yang diubah massanya oleh Koin Timbangan Surga—sedang direbus dalam lautan *Api Inti Bumi*.

Hong Lian melayang di depan kuali tersebut, mengendalikan suhu dengan palu raksasanya yang terus-menerus diketukkan pada dinding kuali, menciptakan ritme sonik yang mencegah emas itu menguap dan memaksa energi inti mataharinya terkompresi.

Qixuan dan Yan Ling melangkah keluar dari lift spiritual. Hawa panas langsung membuat Yan Ling harus mengaktifkan lapisan pelindung qi-nya agar kulitnya tidak melepuh. Qixuan, di sisi lain, justru menarik napas dalam-dalam, menyerap hawa panas itu ke dalam *Inti Emas Kegelapan*-nya seperti menghirup udara segar pegunungan.

"Bagaimana progresnya, Sang Teratai Pandai Besi?" tanya Qixuan, suaranya menembus deru gemuruh kuali.

Hong Lian mendarat di hadapan Qixuan, wajahnya memancarkan ekstasi gila. "Tuanku! Ini adalah keajaiban mutlak dari alkimia dan penempaan yang menyatu! Emas dari patung itu bukan sekadar logam. Hukum Dao Matahari yang terperangkap di dalamnya memberontak saat dipanaskan, namun energi *Pertukaran Setara* dari koin Anda terus menekannya hingga tidak memiliki jalan keluar selain memadat!"

Hong Lian menunjuk ke bagian bawah kuali, di mana sebuah celah kristal memperlihatkan inti dari proses tersebut.

Alih-alih meleleh menjadi cairan emas biasa, seluruh tubuh patung raksasa itu sedang dikompresi, menyusut dengan kecepatan ekstrem akibat penempaan termal. Ukuran tiga ratus meternya mengecil menjadi seukuran bola raksasa, lalu menyusut lagi menjadi seukuran kereta, hingga akhirnya memadat menjadi sebuah inti bola kristal emas seukuran kepala manusia yang memancarkan cahaya seolah mengandung matahari sejati di dalamnya.

"Inti Matahari Buatan tingkat Kaisar," bisik Hong Lian dengan suara serak karena terlalu bersemangat. "Hamba telah membelah inti itu menggunakan formasi pembelahan jiwa. Tidak sepuluh ribu, tidak dua puluh ribu... tapi cukup untuk menenagai **LIMA PULUH RIBU** laras *Meriam Kiamat Timbangan Surga* tanpa sedikit pun pengurangan kualitas pemusnahnya!"

Qixuan tersenyum lebar. Matanya berkilat menatap ribuan laras meriam raksasa yang sudah berbaris rapi di parit-parit penyimpanan, menunggu untuk dipasang di atas armada kapal terbang.

"Kerja luar biasa, Hong Lian," puji Qixuan. "Dengan sumber tenaga dari Inti Matahari buatan Jenderal Benua Tengah ini, kita tidak hanya menembakkan energi. Kita menembakkan arogansi mereka sendiri langsung ke tenggorokan kaisar mereka."

"Meriam-meriam itu akan selesai dirakit dan dipasang di atas armada dalam waktu kurang dari dua minggu, Tuanku," lapor Hong Lian, matanya menyala. "Tiga Utusan Pajak yang baru saja Anda kirim ke bawah sini juga sangat membantu. Hamba memasang Dantian mereka pada generator pendingin sistem sentral. Qi Yin es murni yang keluar dari tubuh sekarat mereka mampu mendinginkan laras meriam kita dalam hitungan detik setelah ditembakkan."

Qixuan tertawa pelan. "Mendaur ulang dewa menjadi sistem pendingin. Benua Tengah pasti bangga melihat efisiensi dari pejabat mereka. Persiapkan semuanya, Hong Lian. Saat armada ini selesai, kita tidak akan menginvasi perbatasan mereka. Kita akan langsung membuka portal spasial menuju jantung ibukota Sekte Titah Langit."

Sementara mesin perang Qixuan bersiap untuk melancarkan kiamat fisik, di jantung Benua Tengah, tepatnya di Ibukota Titah Langit, invasi yang jauh lebih sunyi namun tak kalah mematikan telah mencapai titik matangnya.

Di dalam sebuah paviliun mewah yang tersembunyi di balik gemerlapnya distrik elit dewa, Mo Chen duduk dengan anggun di balik meja giok panjang. Ruangan itu kedap suara, dilapisi oleh formasi penangkal deteksi dari kaisar surgawi manapun.

Di hadapan Mo Chen, duduk lima belas tetua tinggi dari berbagai divisi Sekte Titah Langit. Ada pengawas persenjataan, kepala distribusi pil spiritual, penjaga gerbang dimensi, hingga bendahara utama paviliun pusaka. Semuanya adalah pejabat yang telah disuap, dipaksa, atau dijebak menggunakan manipulasi ekonomi dan pil tingkat dewa buatan Qixuan.

Mo Chen meletakkan sebuah cawan arak di atas meja. Matanya yang kosong menyapu kelima belas tetua yang tampak gugup namun dipenuhi keserakahan tersebut.

"Tuan-tuan yang terhormat," suara Mo Chen terdengar halus, seperti bisikan iblis di malam hari. "Bank Sentral Kekaisaran Bayangan menghargai kerja sama Anda selama tiga bulan terakhir. Berkat Anda, tiga puluh persen dari cadangan logam *Baja Bintang* yang seharusnya dikirim ke gudang militer pusat telah dialihkan ke rute armada kami. Sepuluh formasi pelindung di batas timur ibukota ini memiliki celah keamanan yang kodenya kini ada di tangan saya."

Tetua Liu, pengawas persenjataan yang pertama kali menandatangani kontrak jiwa dengan Mo Chen, menelan ludah. Kultivasinya telah naik ke tahap menengah *Domain Bumi*, namun ketakutannya pada pria berpakaian hitam di depannya ini jauh melampaui rasa takutnya pada Kaisar Surgawi Taiyi.

"T-Tuan Mo," bisik Tetua Liu, keringat dingin membasahi dahinya. "Kami telah melakukan semua yang kau minta. Kapan kau akan menghapus kontrak jiwa kutukan di tubuh kami? Kami tidak bisa terus mengelabui mata Kaisar Surgawi! Jika dia menggunakan *Mata Surgawi*-nya, dia akan menyadari defisit anggaran dan material ini!"

"Kaisar kalian sudah menyadarinya, Tetua Liu," Mo Chen tersenyum tipis, sebuah senyuman yang membuat suhu ruangan anjlok. "Tiga hari yang lalu, Kaisar Surgawi Taiyi memerintahkan audit besar-besaran terhadap seluruh kas militer sekte. Besok fajar, tim Inkuisitor Langit akan memeriksa setiap pembukuan kalian."

Kepanikan meledak di ruangan itu. Beberapa tetua langsung berdiri, wajah mereka sepucat kertas kematian.

"A-Audit?! Matilah kita!" jerit salah satu bendahara. "Jika mereka menemukan kekosongan miliaran kristal bintang yang kita tukarkan dengan pil dari konsorsiummu... jiwa kita akan dicabut dan disiksa di dalam api penyucian selama ribuan tahun!"

Mo Chen mengangkat tangannya dengan santai, memberi isyarat agar mereka duduk. Gravitasi bayangannya memaksa kelima belas tetua itu kembali ke kursi mereka.

"Tenanglah, rekan-rekan bisnis," Mo Chen mengeluarkan lima belas buah cincin spasial kecil, melemparkannya ke atas meja. "Tuan Muda Qixuan adalah majikan yang sangat dermawan. Beliau tidak pernah membiarkan mitra kerjanya mati kelaparan, apalagi ditangkap oleh auditor bodoh."

"A-Apa ini?" tanya Tetua Liu, gemetar saat mengambil salah satu cincin.

"Di dalam setiap cincin itu, terdapat *Token Evakuasi Bayangan* dan modal awal sebesar lima juta batu spiritual tingkat atas yang telah disamarkan auranya," jelas Mo Chen. "Malam ini, kalian semua harus mengaktifkan token itu. Token itu akan membuka portal kecil yang langsung menuju ke Benua Timur, di luar yurisdiksi Benua Tengah. Tinggalkan jabatan kalian, tinggalkan ibukota ini, dan jadilah warga kehormatan di Jinling."

Para tetua itu saling berpandangan. Meninggalkan sekte supremasi untuk menjadi pelarian di benua fana? Jika itu terjadi seratus tahun lalu, mereka lebih baik mati. Namun sekarang, pilihan mereka hanyalah mati disiksa esok pagi, atau lari dengan membawa kekayaan seumur hidup ke wilayah Dewa Kekayaan.

"T-Tapi... jika lima belas pejabat tinggi kabur di malam yang sama... Sekte Titah Langit akan mengalami kelumpuhan birokrasi mutlak besok pagi!" seru salah satu tetua, menyadari dampak dari eksodus massal ini.

"Itulah tepatnya yang dibeli oleh Tuan Muda dengan pil-pil tersebut," Mo Chen berdiri, berjalan menuju pintu keluar bayangan. Ia menoleh dari balik bahunya, matanya memancarkan ketiadaan absolut. "Runtuhnya sebuah dinasti surgawi tidak dimulai dengan ledakan meriam. Ia dimulai ketika para penopang takhtanya memilih untuk membawa lari uang kas negara di malam hari."

Mo Chen melangkah ke dalam kegelapan dan menghilang tanpa jejak, meninggalkan para dewa korup Benua Tengah itu untuk mencabut pilar-pilar kekaisaran mereka sendiri.

Keesokan paginya, ketika Kaisar Surgawi Taiyi memerintahkan sidang agung untuk memulai audit perbendaharaan... lima belas kursi penting di Balairung Kesempurnaan Surgawi ditemukan kosong melompong. Rantai komando militer, aliran logistik, dan kode pertahanan gerbang ibukota lumpuh total dalam semalam akibat pengkhianatan terkoordinasi paling masif dalam sejarah Benua Surgawi.

Dan dari arah timur, badai kiamat yang sesungguhnya mulai berlayar melintasi awan, siap menghancurkan sisa-sisa kesombongan surga yang kini telah keropos dari dalam.

Tuan Muda Pemboros tidak hanya membangkrutkan kantong mereka; ia telah membeli kesetiaan punggawa mereka. Papan catur Benua Tengah kini sepenuhnya dikuasai oleh Sang Dewa Kekayaan. Babak final pembantaian hanya tinggal menunggu pelatuk meriam ditarik.

1
Sang Alang
cerita sebagus ini koq kurang peminatnya
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!