Dunia akan hancur ketika kita tidak menemukan pemilik hati yang sebenarnya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sonya_860, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 17
"Aaaa lepasin gue! Lepas-sin!"
"Diam." Suara itu terdengar begitu mutlak, tegas, dan dingin, memotong protes Ziva dalam sekejap.
"Turunkan gue, brengsek! Lo mau bawa gue ke mana?!" teriak Ziva sambil memukuli punggung kokoh Mahendra dengan kepalan tangan mungilnya. Tubuhnya yang mungil terasa sangat ringan dalam dekapan Mahendra, membuat perlawanannya tampak sia-sia.
"Diamlah kalau kamu tidak ingin terjatuh!" ancam Mahendra dengan nada rendah yang berwibawa.
Seketika Ziva terdiam kaku. Ia melirik ke bawah, dan benar saja, Mahendra tengah menaiki anak tangga menuju lantai paling atas. Nyalinya menciut. Ia tidak bisa membayangkan jika dirinya terjatuh dari ketinggian ini hanya karena ia terlalu banyak bergerak.
Mahendra yang merasakan Ziva mendadak jinak langsung menyunggingkan senyum pongah. Ia merasa telah berhasil menaklukkan gadis liar ini, meski sebenarnya Ziva hanya takut pada hukum gravitasi.
Tepat saat Mahendra ingin membuka pintu rooftop, pintu itu terbuka dari dalam. Seorang pemuda berseragam sama dengan mereka muncul dan seketika mematung melihat sang 'pangeran es' sekolah sedang menggendong seorang gadis.
"Bo-Bos..." Pemuda itu menunduk kaku saat Mahendra menatapnya dengan tajam seolah-olah keberadaannya baru saja mengganggu pemandangan indah.
"Ke mana?" tanya Mahendra singkat.
"Ah... itu, mau ke kantin, Bos."
Mahendra melirik Ziva yang masih berada dalam gendongan koalanya. Ziva yang merasa diperhatikan hanya mendelik ketus. "Apa liat - liat?!"
"Mau nitip apa, hm?" tanya Mahendra dengan nada yang tiba-tiba melunak. Sangat lembut, hingga pemuda di depan mereka hampir menjatuhkan rahangnya karena tidak percaya Mahendra bisa bicara semanis itu.
Ziva, yang dasarnya memang suka makan dan tidak tahu malu dalam urusan perut, langsung mencerocos tanpa beban. "Bakso, mie ayam, batagor, cilok, cilung, martabak, siomay, es krim cokelat, es boba. Udah."
Mahendra menoleh kembali pada anak buahnya.
"Pesan semuanya."
"Ah... iya, baik Bos! Gue ke kantin dulu!" Pemuda itu langsung melesat pergi sebelum aura Mahendra kembali mendingin.
Ceklek.
Mahendra memasuki area rooftop yang luas dan sepi. Ia melangkah menuju sofa single yang terletak di sudut ruangan yang teduh. Tanpa menurunkan Ziva, Mahendra duduk di sofa tersebut dengan Ziva yang masih duduk menyamping di pangkuannya.
"Lepas! Gue bisa duduk di kursi sana!" Ziva memberontak saat lengan kekar Mahendra justru semakin erat melingkar di pinggangnya.
"Di sini saja, Sayang."
"Nggak mau! Lepasin tangan lo! Mau apa sih lo bawa gue ke sini, hah?" tanya Ziva kesal.
"Bicaranya yang sopan, Sayang. 'Aku-Kamu', bukan 'Gue-Lo'."
"Apa hak lo ngatur-ngatur omongan gue? Ogah banget! Emang lo bapak gue? Kita nggak kenal ya! Jangan sok akrab!" sentak Ziva berani.
Rahang Mahendra mengetat. Ia mengeram rendah, tanda emosinya mulai tersulut. "Gue nggak suka dibantah!" Mahendra menatap Ziva dengan mata elangnya yang sangat tajam.
Ziva menelan ludah susah payah. Bulu kuduknya berdiri melihat kemarahan yang tersirat di wajah Mahendra. "Ya... ya biasa aja dong ngelihatnya," cicit Ziva sambil memalingkan wajah, merasa terintimidasi berada di tempat sepi berdua saja dengan cowok posesif ini.
"Turuti kemauan gue!" tekan Mahendra sekali lagi.
"Mulai sekarang lo pacar gue, milik Mahendra. Lo nggak boleh dekat-dekat dengan cowok lain selain gue, mengerti baby girl?" Ia menekan pinggang Ziva, mempertegas kepemilikannya.
"I-iya..." jawab Ziva terbata. Jantungnya berdegup kencang antara takut, gugup, dan bingung. Nada bicara Mahendra tadi bukanlah sebuah ajakan, melainkan sebuah proklamasi hak paten yang tidak bisa diganggu gugat.
"Good baby," Mahendra mengusap kepala Ziva dengan senyum tipis yang nyaris tak terlihat.
Tak lama kemudian, pintu rooftop kembali terbuka. Anak buah Mahendra tadi datang dengan dua kantong plastik besar berisi penuh makanan. Setelah meletakkannya di atas meja, ia segera kabur tanpa ingin mengganggu waktu 'berdua' bosnya.
"Ini semua buat gu—aku?" tanya Ziva cengo saat melihat tumpukan makanan di depannya. Ia tadi hanya asal sebut, tapi Mahendra benar-benar membelikan semuanya.
"Iya Sayang, ada yang kurang?"
Ziva menggeleng cepat. Bahkan ini sudah terlalu banyak. "Cara ngabisinnya gimana?" tanyanya polos.
"Makan secukupnya, Sayang. Kalau sudah kenyang, nggak usah dipaksa," jawab Mahendra lembut sambil mengusap pucuk kepala Ziva. Ziva turun dari pangkuan Mahendra dan duduk lesehan di karpet, ia segera meraih plastik bakso yang aromanya sangat menggoda.
"Mau kemana?" tanya Ziva saat Mahendra berdiri.
"Ambil mangkok, Sayang. Tunggu sebentar."
"NO! Nggak usah ambil mangkok!" tolak Ziva cepat.
"Mau makan di plastiknya langsung, nggak mau pakai mangkok." Ziva sudah bersiap menggigit sudut plastik tersebut.
"Eh, mau ngapain Sayang? Itu masih panas!" Mahendra dengan sigap merebut plastik bakso itu.
"Ih, balikin bakso Ziva! Ziva mau kasih lubang di plastiknya pake gigi!"
"Pakai gigi?" Mahendra terperangah. Ia belum pernah melihat gadis seberantakan ini saat makan. Namun, bukannya jijik, ia justru merasa itu unik.
"Biar aku saja yang buka." Mahendra menyobek ujung plastik itu dengan tangannya secara hati-hati agar kuahnya tidak tumpah.
"Ini, biarkan dingin dulu sedikit."
Sambil menunggu baksonya hangat, Ziva mulai menyerbu es boba cokelatnya. "Ah, segerrr!" serunya senang. Ia kemudian melahap batagor, cilok, dan cimol sekaligus hingga pipinya menggembung seperti hamster.
"Jadi udah bwoleh makan bwakso?" tanya Ziva dengan mulut penuh.
"Ditelan dulu, Sayang." Mahendra tersenyum melihat cara makan Ziva yang apa adanya. Baginya, kejujuran Ziva saat makan jauh lebih menarik daripada gadis-gadis lain yang selalu menjaga image di depannya.
Ziva mulai menikmati baksonya sambil menonton video di ponsel Mahendra yang ia pinjam. Mahendra dengan sukarela menyerahkan ponsel mahalnya tanpa ragu. Ia hanya bisa mengernyit bingung saat melihat Ziva menonton dua bocah botak kembar.
"Tuyul?" gumam Mahendra.
"Ini bukan tuyul! Ini Upin dan Ipin tahu!" protes Ziva tak terima kesukaannya dihina.
"Upil Ipil?"
"Upin Ipin, bukan Upil Ipil!" Ziva mendengus kesal lalu kembali asyik menyeruput kuah baksonya.
Uhuk! Uhuk!
"Astaga Sayang, pelan-pelan! Minum ini dulu!" Mahendra panik dan segera memberikan air putih.
Ia membawa Ziva kembali ke pangkuannya, mengusap leher gadis itu dengan lembut. "Masih sakit?"
"Udah nggak, cuma tenggorokannya panas," keluh Ziva manja tanpa sadar.
"Sudah, jangan dimakan lagi baksonya." Mahendra menjauhkan plastik bakso yang tersisa setengah.
"Aaa... sayang kalau nggak dihabisin! Nanggung!" pinta Ziva memohon dengan mata bulatnya.
"No, Sayang. Kamu baru saja tersedak, aku tidak mau kamu kenapa-kenapa." Mahendra tetap pada pendiriannya dan membuang sisa bakso itu ke tempat sampah terdekat.
"Dasar orang kaya menyebalkan! Bakso gue dibuang..." batin Ziva menjerit pilu.
Mahendra yang melihat Ziva merengut hanya bisa terkekeh pelan. Ia menyandarkan kepalanya di bahu Ziva, menghirup aroma vanila yang menenangkan dari leher gadis itu. "Jangan marah, hm? Nanti pulang sekolah tunggu di parkiran."
"Kenapa?"
"Aku antar kamu pulang. Kita pulang bareng, Sayang."
"Nggak perlu, aku bawa motor sendiri!" tolak Ziva mentah-mentah.
"Aku akan menyuruh orangku membawa motormu ke rumah. Pokoknya kamu pulang denganku." Mahendra menatapnya dalam.
"Tunggu di parkiran, atau aku yang akan menjemputmu ke kelas dan menggendongmu lagi di depan semua orang? Pilih mana?"
Ziva bergidik membayangkan Mahendra menggendongnya di koridor yang ramai. "Oke, parkiran! Puas lo?!"
"Good girl. Jangan coba-coba kabur, atau kamu tahu akibatnya," bisik Mahendra posesif, membuat Ziva hanya bisa menggerutu dalam hati tentang betapa malangnya nasibnya karena terjebak dengan singa posesif seperti Mahendra.