Dalam gelap kematian, Nayla menemukan cahaya—bukan menuju surga, tapi kembali ke awal. Terlahir sebagai bayi dengan ingatan utuh akan pengkhianatan yang merenggut nyawanya, Nayla bersumpah: sejarah tidak akan terulang.
Andre, suami yang menusuk dari belakang. Vania, sahabat yang racun manis di bibir. Rio, dalang di balik semua fitnah. Mereka semua juga kembali—dan mereka sudah memulai lebih dulu.
Tapi takdir mempertemukan Nayla dengan Rasya. Cowok misterius dengan mata yang terlalu tua untuk usianya. Dia sopir Nayla di kehidupan sebelumnya. Dia pengagum diam-diam yang tidak pernah berani bicara. Dan dia membawa bukti—bukti yang bisa menyelamatkan Nayla jika tidak terlambat satu menit.
Sekarang, di kehidupan kedua ini, Rasya tidak akan membiarkan apapun menghalangi. Bukan kematian. Bukan takut. Bukan perbedaan kelas.
Kali ini, dia akan menjadi pahlawan dalam cerita Nayla—bukan lagi bayangan di kaca spion.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ashbabyblue, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Penangkapan — dan Pengkhianatan
Hari Kamis, pukul 10.00. Jam pelajaran Kewarganegaraan.
Pak Andi mengajar dengan tenang, seolah tidak ada yang salah. Tapi di belakang meja gurunya, handphone-nya terus bergetar. Sesekali dia melihat ke arahku—tatapan penuh arti.
Usai pelajaran, Pak Firmansyah memanggilku ke ruang guru.
"Nayla, kamu tahu soal alat perekam di ruang guru?"
Deg.
"Alat perekam, Pak? Maksudnya?"
"Aku tidak tahu. Tapi ada yang memasang alat perekam di sini. Dan aku curiga... kamu tahu siapa pelakunya."
"Saya tidak tahu, Pak."
"Awas kalau kamu bohong." Pak Firmansyah menatapku tajam. "Kamu sudah terlibat masalah hukum. Jangan tambah lagi."
Setelah keluar dari ruang guru, aku buru-buru mencari Rasya.
"Ras, dia curiga."
"Siapa?"
"Pak Firmansyah. Dia tahu soal alat perekam."
"Tidak mungkin. Aku pasang di tempat yang tidak terlihat."
"Tapi dia curiga."
Rasya menghela napas. "Kita cabut alatnya hari ini."
"Tapi rekamannya—"
"Sudah aman. Aku simpan di cloud."
---
Pukul 14.00 — Jam Pulang
Rasya masuk ke ruang guru saat semua guru sudah pulang. Aku berjaga di depan pintu.
"Ras, cepat."
"Dua menit lagi."
"Awas kalau ketahuan—"
"Nay, tolong jangan tegang terus. Aku sudah biasa."
Tapi tepat saat Rasya keluar dari ruang guru, Pak Firmansyah muncul dari balik pintu.
"Rasya."
Rasya membeku.
"Nak, kamu sedang apa di ruang guru?"
"Saya... mengambil buku, Pak. Lupa."
"Buku?" Pak Firmansyah mendekat. "Buku apa?"
Rasya mengeluarkan sebuah buku dari balik jaketnya—beliau sudah siap dengan alibi.
"Buku sosiologi, Pak. Saya pinjam kemarin."
Pak Firmansyah mengambil buku itu, membolak-baliknya. "Tidak ada yang aneh?"
"Tidak, Pak."
Pak Firmansyah menatap Rasya lama. Lalu mengembalikan buku itu.
"Hati-hati, Nak. Jangan sampai terlibat hal-hal yang tidak baik."
"Iya, Pak."
Kami pergi.
Di lorong, Rasya menghela napas lega.
"Beruntung aku bawa buku."
"Lo hebat."
"Aku tahu."
---
Malam Itu — Chat dengan Inspektur Widi
Nayla (19.00): "Bu, kami punya rekaman Pak Firmansyah dan Pak Andi."
Inspektur Widi (19.01): "Tentang apa?"
Nayla (19.01): "Tentang rencana mengeluarkan saya dari sekolah. Atau... lebih buruk."
Inspektur Widi (19.02): "Kirimkan."
Aku mengirim file rekaman.
Inspektur Widi (19.10): "Ini cukup untuk memeriksa Pak Firmansyah. Tapi kami butuh waktu."
Nayla (19.10): "Berapa lama, Bu?"
Inspektur Widi (19.11): "Satu atau dua hari. Selama itu, jaga diri kalian."
Rasya (19.11): "Kami akan berusaha."
---
Hari Jumat, pukul 08.00. Sekolah seperti biasa — sampai mobil polisi datang.
"Densus," kata Inspektur Widi, turun dari mobil bersama beberapa anak buahnya. "Kami mau bicara dengan Pak Firmansyah."
Semua murid bergemuruh.
Pak Firmansyah pucat pasi. "A-ada apa, Bu?"
"Tersangka kasus pencucian uang dan konspirasi kriminal. Silakan ikut."
Pak Firmansyah tidak melawan. Dia hanya menatapku—sekilas—sebelum masuk ke mobil polisi.
"Nayla, ini karena kamu," bisiknya sebelum pintu tertutup.
Aku tidak menjawab.
---
Setelah Penangkapan
"Pak Firmansyah ditangkap!" berita menyebar seperti api.
"Aku nggak percaya."
"Katanya dia korupsi."
"Tapi dia baik banget, loh."
Bisik-bisik di mana-mana.
Sasha mendekatiku. "Nay, kamu tahu ini bakal terjadi?"
"Aku tahu."
"Dan kamu nggak bilang siapa-siapa?"
"Inspektur Widi yang minta diam."
Sasha menghela napas. "Pusing, ah. Dunia ini kompleks banget."
"Iya."
---
Pak Andi Menghilang
Setelah Pak Firmansyah ditangkap, Pak Andi tidak masuk sekolah.
"Pak Andi izin sakit," kata Bu Dewi.
Aku tidak percaya.
"Ras, dia kabur."
"Atau bersembunyi."
"Kita harus cari."
"Nanti. Densus yang urus."
"Tapi—"
"Nay." Rasya meraih tanganku. "Kita bukan polisi. Kita sudah melakukan cukup banyak. Biarkan mereka yang ahli menanganinya."
Aku menghela napas.
"Iya. Kamu benar."
---
Tiga Hari Kemudian
Inspektur Widi (14.00): "Pak Andi tertangkap."
Nayla (14.01): "Di mana, Bu?"
Inspektur Widi (14.01): "Di pelabuhan. Dia mau kabur ke luar negeri."
Rasya (14.02): "Terima kasih, Bu."
Inspektur Widi (14.02): "Kalian hebat. Tanpa kalian, kasus ini tidak akan terungkap."
Sasha (14.03): "Jadi kami pahlawan?"
Inspektur Widi (14.03): "Kalian saksi. Tapi ya, kalian juga pahlawan."
Sasha (14.04): "COBA KAMU LIAT, AKU DI BILANG PAHLAWAN!"
---
Malam Itu — Perayaan Kecil di Rumah Sasha
"Gila, kita berhasil!" teriak Sasha sambil membuka pizza.
"Nggak sepenuhnya berhasil," kataku. "Dr. Hendra masih bebas."
"Tapi anak buahnya sudah ditangkap. Itu kemajuan besar."
Rasya mengangguk. "Sasha benar. Kita harus rayakan kemenangan kecil."
"Ciye, Rasya bisa bilang 'rayakan'." Aku tersenyum. "Biasanya mah jutek terus."
"Aku belajar dari kamu."
Kami tertawa.
Malam itu, untuk pertama kalinya dalam beberapa minggu, aku tidur dengan tenang.